Enggaklah. Tidak ada lagi separatisme di Papua setelah 
banyak tokoh dan anggota OPM kembali ke NKRI. 
Bahkan panglima sayap militernya terbata-bata berharap 
anaknya bisa tetap bersekolah dengan tenang setelah sering 
dikucilkan teman-temannya. Sang panglima rupanya 
menyadari bahwa perjuangan bersenjatanya di hutan hanya 
memberi nama kepada tokoh-tokoh di luarnegeri, sedangkan 
dia dan pasukannya dimusuhi masyarakat dan keluarga sendiri. 
Sejauh ini tidak/belum ada kelompok perlawanan di Papua 
yang sejantan OPM, memberontak dengan dasar ideologi 
"bukan Pancasila" dan cukup lincah berdiplomasi. Rata-rata 
kelompok kagetan yang ada, hanya menyanyikan lagu yang 
itu-itu juga. Judulnya: referendum. Tanpa reffrain politik, 
sosial, maupun budaya/adat. Cerminan dari kegusaran yang 
kering ide dan paceklik kesejahteraan/ekonomi. 

Jadi, betul, pembangunan tidak boleh berhenti. Yang penting, 
jangan cuma membangun jalan, jembatan, pelabuhan dsb 
tetapi terutama bangunlah manusianya. Manusia harus menjadi 
pusat dari pembangunan. Kalimat ini memang kedengaran klise.Sialnya, sekali 
diabaikan maka anak-cucu seterusnya hanya 
menjadi kacung di tengah bangsa lain.

--- j.gedearka@... wrote:
http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1552-membasmi-separatisme
   
Membasmi Separatisme 
   Penulis: Media Indonesia Pada: Kamis, 06 Des 2018, 05:00 WIB Editorial MI    
      
TIDAK satu negara pun di dunia yang memberi ruang gerak separatisme. Atas nama 
kedaulatan negara dan bangsa, sesuai perintah suci konstitusi, separatisme 
harus dibasmi.
 
Indonesia masih bersikap ramah terhadap separatisme dengan sebutan kelompok 
kriminal bersenjata (KKB) di Papua. Padahal, separatisme di Papua, sebenarnya, 
bukan semangat yang baru diteriakkan kemarin. Diakui atau tidak, masih ada 
semangat memisahkan diri dalam KKB yang dulunya disebut Organisasi Papua 
Merdeka (OPM).
 
Keberadaan separatisme harus dilawan demi menegakkan wibawa negara. Apalagi, 
kelompok pimpinan Egianus Kogoya itu membunuh secara brutal sejumlah pekerja PT 
Istaka Karya, Minggu (2/12) di Nduga.
 
Sekitar 40 anggota kelompok Egianus juga menyerang pos pengamanan TNI di 
Distrik Mbua, Nduga, Senin (3/12). Seorang anggota TNI, Sersan Handoko, gugur 
dalam peristiwa itu. Seorang tentara lain terluka tembak.
 
Terlepas dari KKB atau separatisme, tragedi Nduga harus diusut tuntas. Dalam 
konteks itulah kita mengapresiasi perintah Presiden Joko Widodo kepada Panglima 
TNI dan Kapolri untuk mengejar dan menangkap seluruh pelaku tindakan biadab 
tersebut.
 
Pemerintah telah mengirimkan 154 personel militer dan Polri ke Nduga. Kita pun 
sepakat dengan pernyataan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko yang menyebut 
tragedi Nduga sebagai aksi teroris yang tidak beradab. Bahkan, menurut dia, 
aksi itu bukan dilakukan pelaku kriminal biasa, tetapi oleh OPM.
 
Apa pun alasannya, pembunuhan terhadap pekerja proyek dan penyerangan terhadap 
pos TNI jelas sudah dapat dikategorikan sebagai penyerangan berskala besar.
 
Dengan melihat skala dan intensitas penyerangan itu, sudah sepatutnya militer 
bersama kepolisian bahu-membahu mengejar kelompok separatis di Papua.
 
Akan tetapi, pada sisi lain, kita juga memahami bahwa ada sensitivitas tertentu 
dalam penanganan insiden Nduga. Selama ini, pemerintah memang dinilai mengambil 
sikap berhati-hati dalam menangani berbagai kasus di Papua. Hal itu terutama 
karena pelaku penembakan di Papua kerap menggunakan isu hak asasi manusia (HAM) 
untuk menghindar dari jeratan hukum.
 
Tidak jarang, pelaku juga membawa isu HAM tersebut ke dunia internasional 
sebagai strategi untuk melindungi diri dari kejaran aparat penegak hukum.
 
Namun, dalam tragedi Nduga, kita melihat para pelaku justru telah melakukan 
pelanggaran HAM yang sangat serius sehingga alasan-alasan mereka untuk 
menggunakan isu HAM pun batal dengan sendirinya.
 
Terus terang dikatakan bahwa Papua ialah contoh sebuah tragedi yang sempurna. 
Di sana ada potensi alam luar biasa, tetapi di sana juga ada ketertinggalan 
yang luar biasa.
 
Pada masa Orde Baru, rasa ketidakadilan dan ketidakpuasan yang berkecamuk di 
hati orang-orang Papua dijawab dengan pendekatan militer. Separatisme yang bisa 
muncul setiap saat di Papua merupakan bukti paling nyata bahwa kehausan akan 
keadilan dan kemakmuran tidak bisa dibungkam dengan pendekatan militer.
 
Dalam perspektif itulah, pendekatan kesejahteraan yang dilakukan pemerintah 
saat ini patut didukung sepenuhnya. Pembangunan yang gencar dilakukan di Papua 
bertujuan memakmurkan rakyat setempat. Manajemen pembangunan di Papua 
sepenuhnya berorientasi pada kemakmuran.
 
Tugas pemerintah daerah dan tokoh masyarakat di Papua ialah menjelaskan kepada 
rakyat, termasuk mereka yang masih berlalu-lalang di pegunungan, bahwa 
pemerintah serius membangun Papua.
 Pada saat militer dan kepolisian mengejar seluruh pelaku penembakan di Nduga 
dan menumpas hingga ke akarnya, pembangunan jangan dihentikan. Pembangunan itu 
sebagai solusi memberantas separatisme.
   

Kirim email ke