Saya sangat menghargai keputusan Anda untuk memilih jadi
penonton di pilpres 2019. Secara umum, kalau Anda punya hak
pilih dan kebingungan di antara 2 atau lebih pilihan, maka
Anda tetap boleh meninggalkan bangku penonton untuk memilih
abstain.
Soal "kengerian" Jokowi dan pendukungnya memang di luar
akal sehat. Sangat tidak masuk akal. Sebab, bukankah dia sedang
memegang kekuasaan yang sah? Samasekali tidak ada alasan
untuk takut. Di posting yang lalu saya pernah bilang ketakutan
yang meneror Jokowi dan pengkutnya itu pasti ya salahnya yang
bikin pepatah 'berani karena benar' hehee...
Nah, karena Anda mengaku sebagai muslim, tidakkah Anda
terpanggil untuk ikut menjaga dan merawat kesepakatan founding
mothers & fathers (sekurangnya 68 tokoh - termasuk Siauw Giok
Tjhan) dalam membangun keberagaman dalam kebersamaan ini?
Ayolah, jangan biarkan kebohongan yang diulang-ulang itu bikin
Anda bertekuk-lutut. Adalah tugas Anda untuk mengingatkan
(bukan menggebuki!) siapa pun di sekitar Anda yang sengaja
merusak kesepakatan orangtua kita. Mereka, para orangtua itu,
hanya manusia biasa. Punya kesalahan. Tetapi prinsip kemanusiaan,keadilan, dan
kebersamaan mereka, harus dimuliakan. Setidaknya,
hargai mereka sebagai orangtua. Dan, mendiang (almarhum-almarhumah).
Soal Reuni 212, saya tidak sependapat dengan penulis artikel di
bawah (Jajang Nurjaman?) yang menyebutnya "civil disobdience".
Apanya yang pembangkangan, sedangkan massa yang sebanyak itu
bisa berkumpul dengan tertib dan damai sampai akhir acara.
Bagi yang mau kaget ya silakan saja terkaget-kaget melihat "muslim"sebanyak itu
serempak memenuhi langit di seputar Monas dengan
'Indonesia Raya' yang dinyanyikan secara khidmat. Yang pasti, bagian
tulisan Jajang yang ini memang tak terbantahkan:
Bagaimana tidak mengagetkan? Jokowi secarasistematis mencoba mematahkan
perlawanan umat
dengan strategi rangkul danpukul. Mereka yang tidak bisa dirangkul akan
menghadapi pukulan keras
yangsering disebut sebagai kriminalisasi.
dan ini:
Sejumlah akademisi dan pengamat asing menyebutJokowi anti demokrasi dan mulai
otoriter.
Dia mencoba menekan para lawanpolitik dan pengritiknya dengan cara
menakut-nakuti melalui
kriminalisasi.Korbannya selain para ulama, juga para aktivis dan pegiat medsos
yang kritis
terhadap dirinya. Namun langkah ini tidak menyurutkan perlawanan.Munculnya
sejumlah figur kritis pasca hijrahnyaHabib Rizieq menunjukkan scare management,
manajemen menakut-nakuti yangdterapkan Jokowi tidak berhasil. Kesadaran bahwa
Indonesia
adalah negarademokrasi, membuat banyak aktivis terus menggelorakan perlawanan.
--- noroyono1963@... wrote:
Harus saya akui “Aksi 212”tahun 2016 (disingkat “Aksi 212”) adalah sebuah
demo besar-besaran. “Aksi 212” merupakan manuver politik kelompok politisiIslam
berjubah ulama berselubung agama yg bermaksud menyingkirkan Jokowi
denganmenggunakan taktik mendakwa Basuki sebagai “penistaagama”. Kelompok
politisi Islam ini telah melakukan tekanan terhadap pengadilansedemikian
hebatnya sehingga berhasil membuat institusi penegak hukum itu tundukbertekuk
lutut kepada tuntutan mereka. Di bawah tekanan hebat tsb, pengadilantelah
menjatuhkan hukuman dua tahun langsung masuk penjara kepada Ahok – yg nota bene
yuridis tidak bersalah – sebagai “penista agama”. Kesewenang-wenangan yg
diderita seorang pejabattinggi negara yg bekerja dengan kesungguhan dan
kejujuran demi kepentinganmasyarakat bernama Ahok itu tentu saja –sedikit atau
banyak – berkaitan dengan status ras dan religi yg disandang-nya.Satu-satunya
“kesalahan“ Ahok adalahdia tidak bergabung dan ber-“mimikri” denganpara
politisi Islam munafik, demi kepentingan pribadinya. Sukses manuverpolitik
kelompok pendesain “Aksi 212” kendatipun merupakan victory bagi mereka,
tapi pada saat yg sama sesungguhnyalahmerupakan tragedi bagi bangsa
Indonesia.Didasarkan pada alasan prinsipiil ini saya sama sekali tidak
bersimpati pada baik “Aksi 212” maupun “Reuni 212” ygdigelar tahun ini maupun
kapan saja. Target apa yg disebut “Reuni212” tetap sama dengan “Aksi 212”,
yaitu: Menyingkirkan Pemerintah Jokowi!Walaupun saya berasal dari keluarga
PNI/Front Marhaenis (yg notabene tidakidentik dengan PDI-P), namun saya bukan
pendukung Jokowi, tapi pada saat ygsama bukan pula penetang Jokowi. Dalam
pada itu ada satuhal yg harus saya kemukakan di sini, walaupun saya adalah
seorang Muslim, tapi (sejakremaja) saya tidak pernah suka pada partai yg
memperjuangkan Syariat Islamsebagai dasar negara, seperti Masyumi dan
sejenisnya. Sepengetahuan saya, belumpernah ada presedennya di dunia inisebuah
negara didasarkan pada Syariat Islam yg“gemah ripah loh jinawi tata tentrem
kerta raharja” bagi semua warga-nya, bukan hanya bagi sejumputkaum aristokrat
merangkap pemilik modalkaliber raksasa. Jadi: Pilih Jokowi atauPrabowo? Saya
memilih menjadi sebagai seorang penonton yg tidak pernah menyukai bentuk
negaraIslam, dan di samping itu saya juga tidak menyukai kelompok yg
berindikasirasisme & diskriminasi dalam segala bentuknya. Rasisme &
diskriminasibagi saya merupakan manifestasi ketidakadilan. Adapun berita
jumlahpeserta “Reuni 212” yg oleh sementara orang dikatakan mencapai 7 juta,
akan sayapercayai apabila berita itu didasarkan pada data ”debitmeter” yg
dilengkapisinar laser (Light Amplification byStimulated Emission of Radiation)
yg ditempatkan di sejumlah titik di seputarlapangan Monas. Saya percaya,
detektor canggih saperti itu mampu mendeteksi aliranorang yg masuk ke lapangan
Mona dan sekitarnya relatif mendekati akurat. Jika perhitunganjumlah peserta
“Reuni 212” semata-mata didasarkan pada “data” kasat mata,apalagi datangnya
dari para pendukung fanatik “Reuni 212”, ya sorry, jika berita tsb saya anggap
sebagai sebuah dongengkonsumsi untuk anak-anak. Tidak lebih dan tidak kurang.
Noroyono 07/12/2018
Op vrijdag 7 december 2:32 2018 schreef bhjo@... het volgende:
Di posting yg lalu saya menggunakan kata "menakutkan" utk Reuni 212,
"NGERI!!!", ya, sami-mawon atau barangkali lebih menakutkan?
--- noroyono1963@... wrote :
NGERI!!!~ PESERTA REUNI 212 MENGIRIM PESAN KEPADA JOKOWI, BIKIN KETAR KETIR
PARAPENDUKUNGNYA
KABAR NKRI
APA pesan penting yang sampai kepada PresidenJokowi pasca Reuni 212 yang sangat
sukses? Pertama, Jokowi gagal mengkooptasisekaligus memecah soliditas umat.
Kedua, kekuasaan tidak boleh digunakan untukmenakut-nakuti rakyat. Ketiga,
Jokowi dan pemerintah tengah menghadapi pembangkangandari masyarakat (civil
disodibience).
Kubu pendukung pemerintah pasti sangat kaget denganfakta bahwa reuni 212 kali
ini dihadiri oleh peserta jumlah luar biasa besar.Ada yang menyebut lebih besar
dari Aksi 212 yang dulu diklaim mencapai 7 jutapeserta. Lepas berapapun
jumlahnya, satu hal yang tidak bisadibantah, jumlahnya benar-benar bikin kaget.
Monas dan kawasan sekitarnyabenar-benar berubah menjadi lautan putih.
Bagaimana tidak mengagetkan? Jokowi secarasistematis mencoba mematahkan
perlawanan umat dengan strategi rangkul danpukul. Mereka yang tidak bisa
dirangkul akan menghadapi pukulan keras yangsering disebut sebagai
kriminalisasi. Jokowi berhasil merangkul Kyai Ma’ruf Amin sebagaicawapres.
Ma’ruf adalah pentolan GNPF MUI. Sebagai Ketua Umum MUI, Ma’rufmengeluarkan
fatwa Ahok telah menista agama. Fatwa itulah yang mendorongserangkaian Aksi
Bela Islam (ABI) dan puncaknya adalah Aksi 212. Ma’ruf dipilih karena latar
belakangnya sebagaipengurus puncak Nahdlatul Ulama (NU). Sebagai ormas Islam
terbesar diIndonesia, Jokowi berharap mendapat dukungan dari warga nadliyin.
Melihat suasana pada reuni 212 terlihat jelasmayoritas warga yang hadir
berlatar belakang nahdliyin. Wargaberbondong-bondong memadati Monas sambil
melantunkan salawat nabi yang menjadisalah satu tradisi penting kaum nahdliyin.
Sejumlah anak cucu pendiri NU yangdikenal sebagai kubu kultural diketahui juga
hadir dalam reuni tersebut. Jokowi juga merangkul sejumlah ulama
berpengaruhyang sebelumnya menjadi pendukung Aksi 212 seperti TGB Zainul Majdi,
dan YusufMansur. Terakhir Jokowi juga berhasil merangkul Yusril Ihza Mahendra..
Semuatokoh tidak berhasil menggoyahkan konsolidasi umat. Yang terjadi mereka
malahditinggalkan umat. Figur seperti TGB, Yusuf Mansur, dan Yusril
menjadibulan-bulanan caci maki, dan bullyan di media sosial. Secara politik
merekasudah tidak ada gunanya bagi Jokowi. Baik sebagai endorser, apalagi
menjadipenarik suara (vote getter). Yusril bahkan terancam dikudeta dari posisi
KetuaUmum PBB. Mereka menjadi kartu mati. Jokowi juga tidak berhasil
melumpuhkan perlawananpara ulama. Rezim Jokowi berhasil membuat Habib Rizieq
tokoh sentral gerakan212 hijrah ke Arab Saudi, karena berbagai kriminalisasi.
Posisi Habib Rizieqbahkan semakin penting. Posisinya kira-kira mulai mirip
dengan pemimpinspiritual Iran Ayatulloh Khomenei ketika mengasingkan diri ke
Paris. Saat ini di GNPF MUI yang telah berubah menjadiGNPF Ulama muncul
sejumlah figur idola baru di kalangan umat. Figur-figurseperti Habib Bahar Bin
Smith yang memilih jalan keras, atau figur yang kocaknamun tak kalah kritis dan
nylekit ketika menyampaikan kritik model UstadzHaikal Hasan Baraas. Sejumlah
akademisi dan pengamat asing menyebutJokowi anti demokrasi dan mulai otoriter.
Dia mencoba menekan para lawanpolitik dan pengritiknya dengan cara
menakut-nakuti melalui kriminalisasi.Korbannya selain para ulama, juga para
aktivis dan pegiat medsos yang kritisterhadap dirinya. Namun langkah ini tidak
menyurutkan perlawanan. Munculnya sejumlah figur kritis pasca hijrahnyaHabib
Rizieq menunjukkan scare management, manajemen menakut-nakuti yangdterapkan
Jokowi tidak berhasil. Kesadaran bahwa Indonesia adalah negarademokrasi,
membuat banyak aktivis terus menggelorakan perlawanan. Satu poin lain yang
sampai kepada Jokowi dari Reuni212 adalah munculnya pembangkangan masyarakat.
Para peserta reuni tidak maulagi mendengarkan himbauan para pejabat, maupun
ulama yang meminta mereka untuktidak hadir. Gubernur Jawa Timur Soekarwo
misalnya telah memintawarganya untuk tidak pergi ke Jakarta. Namun ribuan warga
Jatimberbondong-bondong hadir di Monas. Nasib yang dialami oleh Ketua MUI
Jabar RahmatSyafei meminta warga Jabar tidak hadir pada reuni. Faktanya warga
Jabartercatat sebagai peserta yang paling banyak hadir di Monas, setelah
wargaJakarta. https://www.youtube.com/watch?v=x67f53nJGnM