Sebenarnya sebagai negara tetangga hal yg wajar bila Singapura menyambut 
kandidat2 yang berkunjung, biar bagaimanapun salah satu dari kedua pasangan yg 
akan memerintah nantinya.Yg nulis artikel kurang pinter, isinya bisa diartikan 
Singapura berlawanan dengan Jokowi dan meng-endorse Prabowo. Lha apa ini tidak 
akan menimbulkan efek terbalik dari yg diharapkan?


---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

Karena terlalu sibuk mengawasi langkah orang lain sampai tidak tahu langkah 
grup sendiri.
ke Singapura temui PM 
Leehttps://m.detik.com/news/berita/4259037/maruf-amin-ke-singapura-temui-perdana-menteri-lee


--- jonathangoeij@... wrote:
Sekarang Singapura mendadak jadi "the bad guy".ha ha ha ha ha imaginasi tinggi 
banget. Darimana kok bisa ada persepsi Singapura menginginkan Indonesia tetap 
terbelakang dan tidak maju? 
Kok bisa rupiah jeblok gara2 prediksi Lee Boon Keng? dst. dst.
--- djiekh@... wrote :
Dari milis lain :
MENGAPA TIBA TIBA PRABOWO DIMINTA BICARA DI FORUM INTERNATIONAL DI SINGAPORE
Dibaca daripada tidur sore soreKemenangan Jokowi pada Pilpres 2014 lalu, hingga 
kini masih kejutan besar bagi Singapura. Sebelumnya para pejabat tinggi 
Singapura sama sekali tidak yakin Jokowi berhasil menjadi Presiden Indonesia. 
Pasalnya Jokowi di kancah politik nasional Indonesia dipandang masih bau kencur 
alias belum berpengalaman.Penilaian Singapura itu didasarkan pada kekuatan 
Jokowi yang hanya didukung oleh PDIP, Nasdem, Hanura dan PKB. Tanpa didukung 
banyak partai, keluarga Cendana dan dukungan penuh SBY, mustahilah Jokowi 
menang.Dalam kalkulasi Singapura, yang menjadi menjadi Presiden RI 2014 adalah 
Prabowo. Alasannya Prabowo didukung banyak partai, keluarga Cendana dan secara 
implisit didukung juga oleh SBY. Di banding dengan Jokowi, Prabowo punya modal 
dan kekuatan besar untuk memenangkan Pilpres di Indonesia.Dalam strategi dan 
kebijakan politik luar negeri Singapura, jika Indonesia dipimpin Prabowo, maka 
Indonesia diprediksi hingga dua puluh tahun ke depan, tidak akan banyak 
berubah. Dalam analisis para pengambil kebijakan politik negeri Singa itu, 
Prabowo tidak akan mampu membuat terobosan baru untuk memajukan Indonesia..Di 
tangan Prabowo, Indonesia tetap terbelakang dan tidak maju-maju. Hal itu karena 
orang-orang di sekitar Prabowo dan lebih-lebih para elit pendukungnya adalah 
orang-orang lama yang terbiasa dengan gaya hidup priyayi dan akrab dengan 
korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).Prabowo lebih sibuk membalas budi berbagai 
ormas berbaju agama, mengamankan kekuasaannya secara otoriter dan mengembalikan 
modal yang telah dikeluarkannya..Jika keadaan Indonesia seperti itu, maka 
Singapura tetap jaya dan posisinya sebagai number one pengendali ekonomi ASEAN 
tak tergoyahkan dan tanpa takut disaingi oleh Indonesia. Investasi Singapura di 
Indonesia pun aman dan Singapura menjadi tujuan utama orang Indonesia berobat, 
berwisata, berbelanja dan menuntut ilmu.Menjelang Pilpres 2014 lalu, Singapura, 
negara-negara Eropa dan Amerika, tetap sangat yakin bahwa Prabowolah yang 
menjadi penguasa Indonesia selanjutnya. Walaupun hasil-hasil survei dalam 
minggu terakhir, posisi Jokowi Vs Prabowo sudah seimbang, Singapura tetap yakin 
bahwa Prabowo yang menang.Prediksi itu membuat Singapura lebih banyak diam, 
kurang agresif dan enggan ikut ‘bermain’ di Pilpres 2014 lalu. Namun apa yang 
terjadi kemudian? Jokowi menang meyakinkan dan langsung membuat gebrakan.. 
Hasilnya dalam beberapa bidang, Indonesia di tangan Jokowi mampu mengalahkan 
Singapura.Pertama, setelah Petral dibubarkan Jokowi, Pertamina bisa menghemat 
pengeluaran sebesar Rp. 250 miliar per hari. Dana sebesar itu tadinya masuk ke 
kantong para broker minyak, logistic, refinery, perbankan, dan ke kantong 
Singapura sebagai settlement agent. Kini Singapura kehilangan duit masuk dari 
Petral.Kedua, warga Indonesia yang biasanya memarkir duitnya secara total di 
Singapura, kini berkurang. Sejak UU Tax Amnesty, orang-orang berduit Indonesia 
sebagian di antaranya menarik duit mereka dan masuk ke Indonesia. Ada juga yang 
mengalihkannya dari Singapura ke negara lain agar lebih tersembunyi.Ketiga, 
Jokowi sukses menyulap bandara Soekarno Hatta lebih besar dan modern. Hasilnya 
Bandara Soekarno Hatta berhasil mengalahkan bandara Changi di Singapura. 
Sepanjang tahun 2017, bandara Soekarno-Hatta mencatatkan penumpang sebanyak 63 
juta penumpang. Sementara Singapura mencatatkan jumlah penumpang 62,22 
juta.Dari segi luasan, Bandara Changi yang sebelumnya terluas di Asia Tenggara, 
kini digeser oleh Bandara Soekarno Hatta. Bandara Changi luasnya mencapai 13 
kilometer persegi. Sementara, Bandara Soekarno-Hatta tercatat memiliki luasan 
18 kilometer persegi.Keempat, pelabuhan Tanjung Priok di era Jokowi sudah mampu 
melakukan fungsi transhipment dan bersaing dengan Singapura. Sebelumnya 
pelabuhan Tanjung Priok hanya mampu bertindak sebagai pelabuhan bongkar 
(destinantion port).. Lima tahun lalu, trafik container di Tanjung Priok hanya 
sekitar 6-7 juta TEUs. Sekarang di era Jokowi tumbuh dua kali lipat menjadi 
11-12 juta TEUs..Kelima, beberapa perusahaan yang dulu diambil oleh Singapura 
seperti Danamon, Indosat, meraih keuntungan besar. Namun di era kompetitif yang 
dilancarkan Jokowi, perusahaan-perusahaan Singapura itu harus berjibaku 
bersaing di Indonesia. Sebagai contoh, Indosat yang sahamnya dimiliki oleh 
Singapura, dulu sempat berjaya, kini kalah saing dengan Telkomsel.Ke depan jika 
Jokowi menjadi Presiden untuk periode kedua, maka ada beberapa hal sedang 
dicanangkan oleh Jokowi untuk menyaingi Singapura.Pertama, Jokowi akan 
memangkas tarif pajak untuk memperkuat daya saing ekonomi menghadapi Singapura. 
Undang-undang revisi tentang tarif pajak itu sedang dibuat. Jokowi mengatakan 
bahwa kalau di Singapura PPh Badan kena 17 persen, kenapa Indonesia harus 25 
persen selama ini? Kalau Singapura bisa mengapa Indonesia tidak bisa 17 
persen?Kedua, Jokowi akan membuat satu pulau surga pajak. Di pulau itu nantinya 
ditetapkan suaka pajak dan insetif pajak menarik dengan pajak nol persen. 
Wacana untuk membentuk suatu pulau surga pajak (tax haven) di Indonesia telah 
dilakukan oleh Malaysia. “Kita juga punya pulau banyak, buat satu pulau untuk 
tax heaven, kenapa tidak, misalnya. Ini juga sedang dalam proses semua,” tegas 
Jokowi soal Singapura menjadi surga pajak itu.Ketiga, Indonesia Information 
Region (FIR) sektor A yang mencakup Batam dan Natuna dipastikan akan diambil 
alih Indonesia dari Singapura pada akhir 2019 mendatang lebih cepat dari target 
2024. Hal itu telah diungkapkan dengan pasti oleh Mentri Perhubungan Budi Karya 
Awal Desember 2018 ini.Pengambil alihan kontrol wilayah udara itu bertujuan 
untuk mengembalikan harga diri Indonesia karena bisa kembali memegang kendali 
atas ruang udara terbuka. Selama ini jika Singapura melintas dengan enaknya 
wilayah kedaulatan Indonesia.Lucunya pernah ada insiden dimana Singapura 
menegur Indonesia karena dibilang melanggar wilayah udaranya padahal masih 
terbang di wilayah sendiri. Kejadian-kejadian ini tidak akan dibiarkan lagi 
oleh Jokowi jika Indonesia telah mengambil alih kontrol udara 
tersebut.Efisiensi ekonomi yang dilakukan Jokowi, membuat Singapura semakin 
takut tersaingi Indonesia. Itulah mengapa Singapura beberapa kali mengharapkan 
Jokowi lengser di tengah jalan. Pada tahun 2015 misalnya, Singapura mencoba 
menggoyang Jokowi lewat dollar yang meroket.Ekonom ternama Nanyang Business 
School Singapore, Lee Boon Keng, melempar isu menakutkan dengan mengatakan 
bahwa bahwa nilai tukar rupiah bisa ambruk hingga Rp 25 ribu/dolar AS jika 
Federal Reserve mulai melakukan normalisasi kebijakan moneternya.Pernyataan Lee 
Boon Keng itu, kemudian menimbulkan kekhawatiran di masyarakat Indonesia. Di 
bulan Juli-Agustus 2015, masyarakat Indonesia ramai-ramai membeli dollar 
Amerika. Akibatnya, nilai tukar Rupiah berhadapan dengan dollar pada akhir 
September 2015 hampir menyentuh angka Rp. 15.000 Rupiah per dollar.Pada 17 Juni 
2015, Business Times, koran milik Strait Times yang dikelola pemerintah 
Singapura secara terang menurunkan sebuah artikel berjudul ‘Indonesia, Malaysia 
at risk of repeating 1997-98 meltdown”.Isinya kurang lebih menegaskan bahwa 
Indonesia bersama Malaysia akan mengalami krisis parah seperti pada tahun 1998. 
Jelas isu ini sengaja dilempar dengan motif ekonomi. Karena jika Indonesia 
terkena krisis, Singapura bisa kembali berpesta-pora menjarah aset-aset vital 
Indonesia. Namun apa yang diharapkan Singapura itu kemudian gagal di tangan 
Jokowi.Menjelang Pilpres 2019, kini Singapura tidak bisa lagi berdiam diri. 
Mereka melihat jika Jokowi akan memimpin Indonesia lima tahun ke depan, maka 
Singapura yang kecil itu akan disaingi total oleh Indonesia. Oleh karena itu 
Singapura mencoba mendukung lawan Jokowi, Prabowo agar ketakutan Singapura 
tersaingi Indonesia tidak menjadi kenyataan.Para pejabat elit Singapura pun 
kini mencoba bermain. PM Singapura Lee Hsien Loong dalam instagramnya dengan 
bangga menggugah pertemuannya dengan Prabowo. Bahkan Loong tak segan mendoakan 
Prabowo agar menjadi Presiden RI.Bersama Arab Saudi, Australia, Inggris, 
Singapura memang dikenal sebagai proxy Amerika Serikat, sedang berusaha 
memenangkan Prabowo pada Pilpres 2019 in. Itulah sebabnya saat ada kegiatan 
212, Dubes Arab Saudi secara tidak langsung mendukung Prabowo.Ketika KKB 
membantai para pekerja jembatan di Papua, Prabowo menolak berkomentar karena 
kaum separatis Papua itu didukung oleh Partai Hijau Australia. Pun ketika 
Australia berencana memindahkan dubesnya ke Tel Aviv, Prabowo sama sekali tidak 
mengecam namun secara tidak langsung mendukung rencana Australia itu.Jelas jika 
Jokowi tetap menjadi Presiden Indonesia ke depan, maka dalam waktu lima tahun 
lagi, akan banyak kemajuan Indonesia yang membuat Singapura semakin tersaingi. 
Oleh karena itu sebelum impian buruk itu terjadi, Singapura bersama dengan 
negara proxy lainnya berusaha melengserkan Jokowi lewat Prabowo.
Sent from my iPhone

Kirim email ke