Mengenang Ibu Tien, Ibu Negara yang Tomboi dan Tolak Poligami


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Mengenang Ibu Tien, Ibu Negara yang Tomboi dan Tolak Poligami - Semua Ha...

Ibu Tien hadir sebagai salah satu pelopor organisasi wanita ini. Ia ikut 
membantu di dapur umum dan palang merah...
 |

 |

 |



Septiyanti Dwi Cahyani - Jumat, 13 Juli 2018 | 10:30 WIB


TribunnewsIbu Tien dan Presiden Soeharto


Laporan Wartawan Grid.ID, Septiyanti Dwi C

Grid.ID - Raden Ayu Siti Hartinah, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Ibu 
Tien merupakan istri dari Presiden Indonesia yang ke dua, Soeharto.

Ibu Tien menikah dengan Presiden Soeharto pada 26 Desember 1947 di Surakarta.

Ibu Tien kecil hidup berpindah-pindah mengikuti penempatan tugas ayahnya 
sebagai seorang pamong praja.

Ketika tentara Jepang datang ke Indonesia, Siti Hartinah ikut serta dalam 
Barisan Pemuda Putri di bawah Fujinkai.

BACA JUGA Lalu Muhammad Zohri, Pemenang Lari 100 Meter U-20 Dunia yang Berasal 
Dari Desa Pemenang

Pasca kemerdekaan, Barisan Pemuda Putri ini menjadi Laskar Putri Indonesia.

Ibu Tien hadir sebagai salah satu pelopor organisasi wanita ini.

Ia ikut membantu di dapur umum dan palang merah saat perang kemerdekaan 
Indonesia terjadi.

Menikah dengan Soeharto, Ibu Tien memiliki beberapa peran penting Indonesia..

Salah satunya adalah pengaruhnya terhadap kebijakan pelarangan poligami bagi 
pejabat di Indonesia yang kemudian ditegaskan dalam peraturan pemerintah.

BACA JUGA Penampakan Tetta Riyani, Teman Hidup Soleh Solihun yang Kayak Ibu Muda

Kebijakan akhirnya keluar dalam bentuk PP Nomor 10 tahun 1983 yang secara tegas 
melarang PNS berpoligami dan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Soeharto sendiri menegaskan jika ia adalah seorang pria yang setia.

"Hanya ada satu Nyonya Soeharto dan tidak ada lagi yang lainnya.

Jika ada, akan timbul pemberontakan yang terbuka di dalam rumah tangga 
Soeharto", katanya dengan tegas.

Selain itu, kehadiran Ibu Tien juga sangat menentukan dalam beberapa keputusan 
penting yang diambil Soeharto saat itu.

BACA JUGA Ratu Elizabeth II Disebut Lebih Menyayangi Meghan Markle Dibanding 
Mendiang Lady Diana

Salah satunya adalah ketika Soeharto memutuskan untuk terus menjadi tentara 
setelah ia terserang fitnah di tahun 1950-an.

Ketika Soeharto nyaris berhenti dan memilih menjadi petani atau supir taksi, 
Ibu Tien memberikan saran yang cukup menohok untuk diri Soeharto.

"Saya dulu diambil istri oleh seorang prajurit dan bukan oleh supir taksi.

Seorang prajurit harus dapat mengatasi setiap persoalan dengan kepala dingin 
walaupun hatinya panas", kata Ibu Tien.

Semasa menemani Presiden Soeharto memimpin Indonesia, Ibu Tien dikenal sebagai 
pribadi yang menyukai ketertiban dan kerapihan.

BACA JUGA Gaya Modis Sophia Latjuba dengan Ripped Jeans, Nggak Kalah Kece dari 
ABG Millennials!

Termasuk urusan rambut.

Beberapa orang menyebut jika Ibu Tien adalah sosok yang tidak menyukai pria 
dengan rambut panjang.

Dalam catatan para Wartawan Istana, sudah ada dua jurnalis yang pernah ditegur 
Ibu Tien terkait urusan rambut.

"Nanti potong ya, rambut gondrongnya", tegur Ibu Tien sebagaimana yang tertulis 
dalam buku 34 Wartawan Istana Bicara tentang Pak Harto.

Di balik keluwesannya sebagai Ibu Negara, siapa sangka jika istri Presiden 
Soeharto itu dulunya merupakan sosok yang tomboi.

Seperti yang dikutip Grid.ID dari Tribunnews (26/4/2016), ketika remaja Ibu 
Tien tumbuh menjadi gadis manis yang tomboi.

BACA JUGA Mengenal Namaaz Dining, Restoran 'Aneh' yang Jadi Favorit Raditya 
Dika dan Anisa Aziza

Hal ini disampaikan oleh adik Ibu Tien, Siti Hardjanti Wismoyo.

Meski jarang dibicarakan publik, jasa Ibu Tien akan tetap dikenang masyarakat 
Indonesia. (*)

Kirim email ke