Sekarang ini pertanyaan pentingnya bukan lagi tentang 
keberadaan bangsal kerja bersama ini (sebagai tempat 
berinovasi atau isolasi?), sebab keberadaannya sudah 
menjadi fakta di mana-mana seiring tumbuh suburnya 
usaha rintisan di masyarakat. Pertanyaan penting sekarangadalah, sejauh mana 
pemerintah menangkap manfaat dari 
inisiatif Rakyat ini untuk kemudian dilindungi dan dikembangkansebagai usaha 
memajukan Rakyat / nasional. 

Kalau cuma bolak-balik pidato: "Saya ingin perbanyak usaha 
rintisan berorientasi ekspor" tanpa diikuti gerakan di sektor 
kebijakan (aturan perundangan dsb), ya salahkan saja diri sendiri 
kalau ada yang bilang itu cuma pidato kampanye. Logis sebagai 
pidato tapi tidak nalar dengan realita. 

   --- j.gedearka@... wrote:
https://news.detik.com/kolom/d-4343683/tren-coworking-space-inovasi-atau-isolasi-sosial?tag_from=wp_
 
cb_kolom_list&_ga=2.72494291.1769057870.1544817560-513101768.1544817560
 
  Jumat 14 Desember 2018, 15:06 WIB 
Kolom
 
Tren "Coworking Space": Inovasi atau Isolasi Sosial?
 Badrul Arifin - detikNews          Badrul Arifin     
      Sebuah coworking space (Foto: Istimewa)  Jakarta - Belakangan ini di 
Indonesia, khususnya di kota-kota besar mulai diramaikan dengan munculnya 
coworking space. Jumlahnya terus meningkat pesat dalam dua tahun. Dari hanya 45 
unit pada 2016, jumlah coworking space meningkat tiga kali lipat tahun lalu, 
menjadi 150 unit. Hingga Juni 2018, Data Asosiasi Coworking Indonesia 
menunjukkan, jumlah coworking space sudah sekitar 200 unit. 
 Coworking space merupakan sebuah tempat menyerupai kantor yang digunakan 
secara bersama-sama oleh pekerja dari lintas perusahaan. Ruang kerja bersama 
ini biasanya didukung oleh sejumlah fasilitas kerja seperti meja dan kursi, 
wifi, dan lain-lain, persis seperti apa yang ada di kantor konvensional. Ada 
tiga elemen yang membedakan coworking space dengan ruang kantor konvensional, 
yaitu komunitas (community), kolaborasi (collaboration), dan konektivitas 
(connectivity). 
 Munculnya coworking space dilatarbelakangi oleh tren anak muda yang mulai 
menggemari kerja-kerja kreatif, membangun usaha rintisan (start-up), dan pola 
kerja yang fleksibel. Associate Director Cushman & Herald, Christopher 
Widyastanto menyebut perkembangan tren coworking space sebagai sebuah revolusi 
karena hal tersebut mengubah cara orang bekerja menjadi lebih fleksibel dan 
memberikan peluang untuk membangun networking. Utamanya, bagi mereka yang dekat 
dengan kehidupan kerja berbasis digital dan kreatif. Ini juga didorong oleh 
perkembangan teknologi. 
 Untuk itu biasanya coworking space tak hanya menyediakan fasilitas kantor 
dasar, tapi juga menghubungkan para start-up dan investor. Konsep ini 
menawarkan budaya kolaboratif dan kooperatif bersamaan dengan kesempatan 
networking, membantu mengembangkan start-up. Bagi para start-up yang bergabung 
dalam ruang kerja bersama, akses ke jaringan dan sumber daya yang luas adalah 
salah satu daya tarik terbesar. 
 Konon, dengan coworking space kita akan lebih mudah menemukan ide-ide kreatif, 
berinovasi, dan mengembangkan ide tersebut ke dalam sebuah karya. Sayangnya, 
tidak semua coworking space dapat berjalan sebagaimana mestinya. Ternyata ada 
juga sisi gelap yang menyelimuti berdirinya bisnis coworking space.  
 Ricarda B. Bouncken dkk (2018) menulis The Dark Side of Entrepreneurship in 
Coworking-Spaces dalam sebuah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh University of 
Bayreuth, Jerman. Tulisan tersebut berkesimpulan, setidaknya ada tiga poin 
tentang implikasi negatif dari bisnis coworking space. Yakni, social isolation 
and stress, eksploitasi, serta konflik dan distrust. 
 Isolasi Sosial dan Stres
 
 Desain coworking space sebagai ruang kerja sama mensyaratkan adanya kolaborasi 
dan berjejaring, Namun, pada praktiknya tidak semua komunitas mau dan 
berinisiatif untuk berinteraksi dengan komunitas lain yang tergabung dalam 
suatu coworking space. Kebanyakan dari komunitas berjalan dengan 
sendiri-sendiri. 
 Kita akan sulit menemukan komunitas yang telah berkembang dengan proyeknya 
akan berkolaborasi dengan komunitas yang baru saja merencanakan ide-ide 
kreatifnya. Walhasil, komunitas yang baru saja dalam tahap "ideation" rentan 
mengalami isolasi sosial dan stres lantaran tidak punya akses berkolaborasi dan 
membuat projeknya layu sebelum menjadi lebih berkembang. 
 Di sisi lain coworking space juga membuat tidak nyaman, khususnya bagi 
komunitas yang cenderung mempunyai cara bekerja yang menekankan pada tingkat 
fokus dan keseriusan tertentu. Lingkungan komunal dapat menjadi tantangan, 
terutama ketika kebisingan dan aktivitas dari penyewa lain menjadi terlalu 
mengganggu. Bagi mereka, bekerja di coworking space hanya akan menambah tingkat 
stres lantaran membuat mereka rawan terganggu oleh kompetisi yang tidak sehat, 
rekan kerja yang menjengjelkan, hingga tingkat kebisingan yang tidak bisa 
mereka tolerir keberadaanya. 
 Eksploitasi
 
 Coworking space memang menyediakan lingkungan yang inovatif untuk 
kewirausahaan yang baru lahir, usaha baru, dan start-up. Namun, pengusaha di 
coworking space harus menghadapi tantangan seperti konflik, ketidakpercayaan, 
atau profit yang tidak seimbang yang dapat merusak keseluruhan ide dari 
coworking space.
 
 Pohler (2012) menyoroti risiko eksploitasi dalam coworking space karena 
hubungan kekuasaan yang asimetris antara komunitas wirausaha yang baru lahir 
dan yang sudah mapan. Coworking space menyediakan peluang untuk kolaborasi dan 
interaksi yang dapat mengarah pada kesepakatan bisnis. Seringkali atas dalih 
kolaborasi, komunitas wirausaha yang sudah mapan mensubkontrakkan sebagian dari 
keterlibatan mereka kepada para komunitas wirausaha yang baru lahir di suatu 
coworking space. Mau tidak mau, komunitas wirausaha baru harus bernegosiasi 
untuk mendapatkan benefit yang masuk akal. 
 Selama fase awal, para komunitas wirausahawa baru sering kekurangan sumber 
daya dan klien. Untuk mengatasi kekurangan sumber daya itu, mereka acap 
bergantung pada proyek dari komunitas wirausaha yang sudah mapan untuk membuat 
keuntungan. Proyek-proyek ini datang dengan tenggat waktu yang singkat, 
sehingga tidak ada waktu untuk mengevaluasi menguntungkan untuk bisnis mereka 
sendiri. Alih-alih mengembangkan bisnis mereka sendiri, komunitas wirasuaha 
baru malah semakin bergantung pada mitra. 
 
 Walhasil, meskipun lingkungan coworking space konon dapat membantu mengatasi 
hambatan keterbatasan sumber daya dan keterampilan, tetapi pada kenyataanya 
dapat memaparkan para komunitas wirausahawan baru pada risiko eksploitasi. 
 Konflik dan Distrust
 
 Dalam dunia bisnis, sebenarnya konflik adalah suatu hal yang biasa, 
lebih-lebih jika suatu bisnis itu digarap oleh sebuah tim atau komunitas. 
Konflik dianggap positif ketika mereka mengarah pada pembuatan keputusan 
strategis yang efektif untuk bisnis kita. Konflik yang produktif diperlukan 
agar bisnis yang ada dapat bergerak lebih maju. Sayangnya, tidak semua konflik 
yang hadir itu bersifat produktif.  
 Dalam pola kerja dalam suatu bisnis usaha rintisan kerap ditemukan konflik 
personal antaranggota tim. Biasanya mereka berebut posisi strategis di sebuah 
proyek bisnis (Sapienza, 2015). Pola kerja yang masih terjebak pada pola 
hierarkis ini juga rentan membuat usaha rintisan layu sebelum berkembang. Di 
sisi lain bekerja di coworking space cenderung rawan mengalami distrust 
antarkomunitas wirausaha. Alih-alih berkolaborasi sepertia apa yang 
dicita-citakan hadir dalam coworking space, mereka saling khawatir "business 
plan" atawa "business valuation"-nya dapat ditiru oleh komunitas wirausaha 
lainnya. 
 Berkaca pada tiga sisi gelap yang barangkali akan dihadapi baik oleh pebisnis 
coworking-space maupun komunitas wirausaha rintisan atawa kreatif tersebut, 
sudah seyogianya menjadi bahan refleksi sekaligus evaluasi agar coworking space 
yang ada senantiasa dapat memfasilitasi tumbuh-kembangnya ide-ide kreatif nan 
inovatif. 
 Badrul Arifin alumnus S1 Manajemen dan Kebijakan Publik FISIPOL UGM. Saat ini 
bekerja sebagai Knowledge Manager di Creative Hub FISIPOL UGM 
 (mmu/mmu)  Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di 
luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini 
sekarang!   coworking space 
  
   

Kirim email ke