--- jonathangoeij@... wrote:
Para bunglon dan benalu itu
Apakah kita bisa bilang beliau menemukan habitat baru atau kembali kehabitatnya
--- ajegilelu@... wrote :
Divide et impera itu nyata sejak Jokowi turun dari "Esemka" (proyek mobil
imajinatif) yang dia tunggangi untuk ke balaikota DKI. Hasilnya, terciptalah
kumpulan penyesap tebu, habis manis sepah dibuang..
Nggak sabar lihat Jokowi dilantik lalu dikerumuni para sahabat tercintanya.
para sahabat tercintanya.
--- jonathangoeij@... wrote:
La Nyalla, Politik Belah Bambu Jokowi?
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
La Nyalla, Politik Belah Bambu Jokowi?
Rakyat Merdeka Online
Dalam batas-batas tertentu Jokowi sudah berhasil menerapkan prinsip maha guru
strategi perang Sun Tzu.
|
|
|
MINGGU, 16 DESEMBER 2018 , 10:12:00 WIB | OLEH: HERSUBENO ARIEF
Presiden Joko Widodo dan La Nyalla Mahmud Mattalitti/Net
BILA kita cermati strategi politik Jokowi dalam menghadapi lawan, ada satu
benang merah yang konsisten.Akuisisi lawan politik, setelah itu gunakan mereka
untuk serangan balik. Biarkan kubu musuh bertengkar sendiri. Ketika mereka
sudah lemah, tinggal ditundukkan.
Dalam batas-batas tertentu Jokowi sudah berhasil menerapkan prinsip maha guru
strategi perang Sun Tzu. "Letihkan mereka dengan jalan berputar-putar. Bikin
mereka bertengkar sendiri. Haluslah agar kau tidak terlihat.. Misteriuslah agar
kau tak teraba. Maka, kau akan menguasai nasib lawanmu."
Sayangnya tidak semua prinsip itu berhasil diterapkan dengan baik. Kelemahan
identifikasi, kesalahan pemilihan figur yang akan dijadikan proxy, serta
lemahnya leadership Jokowi, membuat semuanya menjadi berantakan.
Semua senjata yang digunakan Jokowi tumpul, dan malah berbalik menyerang.
Senjata rekrutan terbaru yang kini tengah digunakan adalah La Nyalla Matalitti.
Mari kita inventarisir siapa saja lawan politik yang berhasil direkrut Jokowi?
Yang paling awal direkrut Jokowi adalah Ali Mochtar Ngabalin. Mantan politisi
PBB yang kemudian menyeberang ke Partai Golkar ini hanya dalam waktu sekejap
menjadi senjata yang sangat ampuh bagi Jokowi. Imbalan nya cukup sederhana.
Dijadikan sebagai seorang staf di Kantor Staf Kepresidenan (KSP) dan komisaris
Angkasa Pura I.
Setiap hari Ali, mantan tim sukses Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014 ini tampil
menyerang di televisi dan media massa. Namun lama-lama senjata makan tuan. Ali
justru menjadi titik lemah Jokowi. Gayanya yang konfrontatif tidak disukai
publik, menimbulkan antipati. Ali secara perlahan mulai ditarik. Kemunculannya
di publik mulai dibatasi.
Rekrutan berikutnya adalah Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang
Zainul Majdi. Tom P Power seorang peneliti dari Australian National University
menyebut TGB ditundukkan melalui kasus divestasi Newmont.
Artikel penelitian Power berjudul Jokowi’s authoritarian turn and Indonesia’s
democratic decline, saat ini format pdf-nya menyebar luas di medsos.
Pada awal rekrutmen, TGB juga menjadi senjata yang cukup ampuh bagi Jokowi.
Latar belakangnya sebagai tokoh agama, gubernur yang sukses, dan bahkan pernah
dijagokan sebagai salah satu kandidat capres oleh Alumni 212, cukup meyakinkan.
Namun seiring waktu, TGB juga tak lagi efektif untuk menyerang Prabowo. TGB
bahkan tidak masuk dalam timses Jokowi.
Akuisisi politik terbesar Jokowi adalah Ma’ruf Amin. Ketua Majelis Ulama
Indonesia dan Rais Aam PBNU itu dipilih sebagai cawapres Jokowi. Ma’ruf juga
tokoh sentral GNPF MUI. Sebagai Ketua Umum MUI, Ma’ruf mengeluarkan fatwa Ahok
sebagai penista agama.
Diharapkan pemilihan Ma’ruf sebagai cawapres selain membuat solid dukungan NU,
juga memecah soliditas pendukung Aksi 212. Gerakan Islam perkotaan itu saat ini
menjadi musuh yang paling ditakuti dan tidak bisa ditundukkan Jokowi.
Namun seiring waktu ternyata Ma’ruf malah ditinggalkan umat. Reuni 212 berjalan
sukses. Jutaan kaum muslim dan umat beragama lain tetap hadir menyemut di
Monas. Mereka tidak menghiraukan keberatan Ma’ruf. "Untuk apa. Urusannya sudah
selesai," kata Ma’ruf.
Di internal timses keberadaan Ma’ruf mulai dipersoalkan. Dia menjadi titik
lemah dan tidak memberi kontribusi positif terhadap elektabilitas Jokowi. Yang
terjadi elektabilitas Jokowi-Ma’ruf malah turun. Dalam bahasa timses stagnan.
Ketua timses Erick Thohir dan Luhut Panjaitan mulai mempersoalkan sakitnya
Ma’ruf yang berkepanjangan. Hampir sebulan terakhir Ma’ruf absen kampanye,
karena kakinya 'terkilir.'
Da’i kondang Yusuf Mansur (YM) juga menjadi target akuisisi politik Jokowi. YM
diketahui terbelit kasus investasi. Salah satu kasusnya akhirnya dihentikan
oleh Polda Jatim. Berbeda rekrutan lainnya, YM terkesan malu-malu dan mencoba
menutup-nutupinya. Dia misalnya pernah bertemu dengan cawapres Sandiaga Uno.
Meskipun tidak secara terbuka menyatakan dukungan, nasib YM juga sama. Dia
mulai ditinggalkan umat. Banyak yang uninstall Paytren, metode pembayaran
online yang sedang dikembangkannya.
Kubu yang berada dalam lingkaran Pemimpin Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib
Rizieq Shihab (HRS) juga menjadi sasaran akuisisi. Adalah Kapitra Ampera salah
satu pengacara HRS yang 'direkrut' melalui akusisi menjadi caleg PDIP.
Khusus untuk Kapitra kasusnya agak berbeda. Dia diduga justru merupakan figur
kubu seberang yang ditempatkan di lingkaran HRS. Jadi untuk Kapitra barangkali
tidak terlalu tepat bila disebut sebagai akuisisi politik. Kapitra ditarik
kembali setelah tugasnya dianggap selesai. Hanya saja penarikan Kapitra
tampaknya terlalu cepat. Misi belum selesai.
Rekrutmen lain yang cukup fenomenal adalah Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra
(YIM). Dengan cover direkrut sebagai pengacara Jokowi-Ma’ruf, YIM langsung
ofensif. Dia menyerang sisi kepribadian Prabowo. Tidak seperti pernyataan
semula, hanya akan menangani masalah hukum, YIM lebih banyak bertindak sebagai
politisi pendukung inkumben.
Keputusan YIM membuat internal PBB gonjang-ganjing. Banyak pendukungnya,
termasuk para caleg PBB yang menentang keputusan YIM. Diam-diam ada
penggalangan dukungan untuk mendongkel YIM. Sudah hampir dapat diperkirakan
seperti apa nasib PBB pada Pileg 2019. Secara tradisional pemilih PBB adalah
penentang Jokowi.
Nah sekarang Jokowi sedang memanfaatkan akusisi politik terbarunya, yakni Ketua
Pemuda Pancasila Jawa Timur La Nyalla Matalitti. Beberapa hari terakhir Nyalla
aktif menyerang pribadi Prabowo. Dia misalnya menantang Prabowo menjadi imam
salat seperti Jokowi. Nyalla juga berani bertaruh potong leher, bila sampai
Prabowo-Sandi menang di Madura.
Strategi offensif Nyalla ini diperkirakan tidak akan memberi manfaat elektoral
bagi Jokowi. Yang terjadi malah sebaliknya. Reputasi Nyalla yang kurang baik di
Jatim, justru berdampak negatif. Jokowi bakal mendapat imbas buruk.. Peribahasa
berlaku 'Kalau mau melihat seseorang, lihat siapa kawannya.'
Tetap dimanfaatkannya Nyalla menunjukkan kekuatan politik Jokowi dalam
melakukan akuisisi mulai menurun. Dia tidak lagi selektif. Sudah mulai asal
comot.
Di luar para tokoh di atas, Jokowi dan timnya juga berhasil melakukan akuisisi
politik yang fenomenal terhadap Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibyo.
Sebagai pendukung Prabowo pada Pilpres 2014, Hary Tanoe menyerah dan
menyeberang menjadi pendukung Jokowi setelah kasus restitusi pajak Mobil 8
diusut Kejaksaan Agung.
Hary tidak aktif menyerang Prabowo-Sandi, namun jaringan medianya (MNC Group)
digunakan menjadi alat kampanye yang efektif bagi inkumben.
Pola Yang Sudah Baku
Banyaknya figur kubu seberang yang ditarik, menunjukkan Jokowi dan timnya
sedang mencoba menerapkan strategi Sun Tzu. Namun sayang tidak cukup
komprehensif. Mereka mencoba membuat musuh letih, dan bertengkar sendiri, namun
caranya kurang halus, tidak cukup misterius, dan mudah teraba.
Pola yang dimainkan kubu Jokowi sangat mudah terbaca. Sasaran utamanya adalah
figur yang mempunyai latar belakang Islam, atau punya basis ketokohan yang
kuat. Kecuali Kapitra dan Nyalla kasusnya berbeda.
Satu lagi benang merahnya, semua figur lemah dalam prinsip. Sangat mudah
ditaklukkan dengan iming-iming politik, atau tekanan hukum.
Akibatnya malah berbalik. Figur publik yang dijadikan senjata politik, menjadi
senjata yang tumpul. Mereka ditinggalkan para pendukungnya. Yang terjadi lawan
malah semakin solid. Keberhasilan Reuni 212 adalah contoh nyata.
Penggalangan publik opini, stigma, bahkan teror bom handphone tidak berhasil
mencegah jutaan massa berkumpul di Monas. Ketidak hadiran tokoh ulama penting
seperti Aa Gym, Ustad Arifin Ilham, termasuk Habib Rizieq tetap membuat umat
berbondong-bondong menuju Monas.
Kegagalan berbagai operasi politik Jokowi ini tampaknya membuat Jokowi dan para
pendukungnya bingung dan panik. Jokowi menyerukan para pendukungnya untuk
membuat aksi tandingan. Dia misalnya berkali-kali mempertanyakan mengapa tidak
ada aksi demonstrasi mendukungnya?
Keyakinan Jokowi terhadap soliditas pendukungnya tampaknya mulai goyah.
Kabarnya ada rencana para pendukung Jokowi menggelar pengumpulan massa
besar-besaran pada tanggal 20 Januari 2019 (Aksi 201 di Jakarta dan beberapa
kota besar lainnya. Dengan aksi ini diharapkan elektabilitas Jokowi bisa
rebound..
Belajar dari pengalaman aksi Parade Kebudayaan Indonesia (412) yang digelar
oleh parpol pendukung Ahok, tak lama setelah Aksi 212 -bayang-bayang kegagalan
tampak nyata. Tanpa satu ideologi, dan perasaan senasib sepenanggungan yang
kuat, mengumpulkan jutaan orang seperti Aksi 212 atau Reuni 212 adalah sebuah
kemustahilan.
Kekuasaan dan kekuatan dana bukan jawabannya. [***]
_
#yiv7160903122 #yiv7160903122 -- #yiv7160903122ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7160903122
#yiv7160903122ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7160903122
#yiv7160903122ygrp-mkp #yiv7160903122hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv7160903122 #yiv7160903122ygrp-mkp #yiv7160903122ads
{margin-bottom:10px;}#yiv7160903122 #yiv7160903122ygrp-mkp .yiv7160903122ad
{padding:0 0;}#yiv7160903122 #yiv7160903122ygrp-mkp .yiv7160903122ad p
{margin:0;}#yiv7160903122 #yiv7160903122ygrp-mkp .yiv7160903122ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7160903122 #yiv7160903122ygrp-sponsor
#yiv7160903122ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7160903122
#yiv7160903122ygrp-sponsor #yiv7160903122ygrp-lc #yiv7160903122hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7160903122
#yiv7160903122ygrp-sponsor #yiv7160903122ygrp-lc .yiv7160903122ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7160903122 #yiv7160903122actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7160903122
#yiv7160903122activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7160903122
#yiv7160903122activity span {font-weight:700;}#yiv7160903122
#yiv7160903122activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv7160903122 #yiv7160903122activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7160903122 #yiv7160903122activity span
span {color:#ff7900;}#yiv7160903122 #yiv7160903122activity span
.yiv7160903122underline {text-decoration:underline;}#yiv7160903122
.yiv7160903122attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv7160903122 .yiv7160903122attach div a
{text-decoration:none;}#yiv7160903122 .yiv7160903122attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7160903122 .yiv7160903122attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7160903122 .yiv7160903122attach label a
{text-decoration:none;}#yiv7160903122 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv7160903122 .yiv7160903122bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7160903122
.yiv7160903122bold a {text-decoration:none;}#yiv7160903122 dd.yiv7160903122last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7160903122 dd.yiv7160903122last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7160903122
dd.yiv7160903122last p span.yiv7160903122yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv7160903122 div.yiv7160903122attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv7160903122 div.yiv7160903122attach-table
{width:400px;}#yiv7160903122 div.yiv7160903122file-title a, #yiv7160903122
div.yiv7160903122file-title a:active, #yiv7160903122
div.yiv7160903122file-title a:hover, #yiv7160903122 div.yiv7160903122file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7160903122 div.yiv7160903122photo-title a,
#yiv7160903122 div.yiv7160903122photo-title a:active, #yiv7160903122
div.yiv7160903122photo-title a:hover, #yiv7160903122
div.yiv7160903122photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7160903122
div#yiv7160903122ygrp-mlmsg #yiv7160903122ygrp-msg p a
span.yiv7160903122yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7160903122
.yiv7160903122green {color:#628c2a;}#yiv7160903122 .yiv7160903122MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv7160903122 o {font-size:0;}#yiv7160903122
#yiv7160903122photos div {float:left;width:72px;}#yiv7160903122
#yiv7160903122photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7160903122
#yiv7160903122photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7160903122
#yiv7160903122reco-category {font-size:77%;}#yiv7160903122
#yiv7160903122reco-desc {font-size:77%;}#yiv7160903122 .yiv7160903122replbq
{margin:4px;}#yiv7160903122 #yiv7160903122ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7160903122 #yiv7160903122ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7160903122
#yiv7160903122ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7160903122
#yiv7160903122ygrp-mlmsg select, #yiv7160903122 input, #yiv7160903122 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7160903122
#yiv7160903122ygrp-mlmsg pre, #yiv7160903122 code {font:115%
monospace;}#yiv7160903122 #yiv7160903122ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv7160903122 #yiv7160903122ygrp-mlmsg #yiv7160903122logo
{padding-bottom:10px;}#yiv7160903122 #yiv7160903122ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv7160903122 #yiv7160903122ygrp-msg
p#yiv7160903122attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7160903122
#yiv7160903122ygrp-reco #yiv7160903122reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7160903122 #yiv7160903122ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7160903122 #yiv7160903122ygrp-sponsor
#yiv7160903122ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7160903122
#yiv7160903122ygrp-sponsor #yiv7160903122ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7160903122
#yiv7160903122ygrp-sponsor #yiv7160903122ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv7160903122 #yiv7160903122ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv7160903122 #yiv7160903122ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv7160903122 #yiv7160903122ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7160903122
#yiv7160903122ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv7160903122
Bls: Re: [GELORA45] La Nyalla, Politik Belah Bambu Jokowi?
ajeg [email protected] [GELORA45] Thu, 20 Dec 2018 19:06:14 -0800
- [GELORA45] La Nyalla, Po... Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45]
- Re: [GELORA45] La N... ajeg [email protected] [GELORA45]
- Re: [GELORA45] La N... Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45]
- Bls: Re: [GELOR... ajeg [email protected] [GELORA45]
- Re: [GELORA... ajeg [email protected] [GELORA45]
