Ongkos Mahal Jokowi Demi Saham Mayoritas Freeport
CNN Indonesia | Jumat, 21/12/2018 19:02 WIB


Ilustrasi tambang Freeport. (Dok. PT Freeport Indonesia).Jakarta, CNN Indonesia 
-- Harga yang harus dibayar pemerintah untuk mengantongi 51,23 persen saham PT 
Freeport Indonesia (PTFI) secara utuh masih menjadi pro dan kontra.. Maklum, 
kocek yang harus dikeluarkan pemerintah cukup besar mencapai US$3,85 miliar 
atau Rp56 triliun (kurs Rp14.500).

Pengamat Hukum Sumber Daya dari Universitas Tarumanegara Ahmad Redi menuturkan 
angka itu tak sepadan dengan tanggung jawab PT Indonesia Asahan Alumunium 
(Persero) atau Inalum, sebagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang akan 
mengambilalih saham Freeport Indonesia.

"Freeport ini kan masih banyak tanggung jawab hukumnya, pembangunan smelter, 
pajak, kerusakan lingkungan yang mengakibatkan kerugian negara. Kalau nanti 
Inalum jadi pemegang saham mayoritas berarti ini jadi tanggung jawab Inalum 
juga," papar Redi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (21/12).



| 
Lihat juga:
 Bayar Rp56 triliun, RI Resmi Kuasai Mayoritas Saham Freeport |


Melihat hal itu, Redi berpendapat bahwa sebenarnya yang akan dikeluarkan Inalum 
nantinya tak hanya US$3,85 miliar, tapi bisa lebih banyak dari itu. Apalagi, 
smelter bukanlah barang murah.

"Pembangunan smelter itu bisa US$1,5 miliar. Cukup besar dana yang harus 
dikeluarkan, sampai sekarang kan pembangunan smelter tidak juga dilakukan oleh 
Freeport Indonesia," ucap Redi.

Selain itu, ia menyebut perhitungan valuasi yang harus dibayar oleh Inalum ini 
terbilang tak adil. Masalahnya, jumlah pembayaran yang harus dilunasi Inalum 
dihitung berdasarkan proyeksi keuntungan dan arus kas sampai 2041.


| 
Lihat juga:
 Transaksi Kelar, Freeport McMoran Klaim Akan Investasi US$20M |


"Harusnya sampai 2021 saja karena kan izin kontrak karya (KK) Freeport 
Indonesia juga akan berakhir 2021. Seharusnya Indonesia di atas angin, tapi 
Indonesia sepertinya tidak kuat dalam negosiasi," kata Redi.

Lagipula, jika memang harga yang harus dikeluarkan Inalum mencapai US$3,85 
miliar, Redi berpendapat lebih baik Indonesia mengambil langsung 100 persen 
saham Freeport Indonesia. Pasalnya, keuntungan yang didapat juga akan 
berkali-kali lipat.

"Kalau dihitung kepemilikan barang Freeport Indonesia itu Rp80 triliun, 
daripada hanya bayar Rp50 triliun hampir Rp60 triliun tapi hanya genggam 51 
persen, lebih baik sekalian saja habis-habisan bayar banyak," tutur Redi.


| 
Lihat juga:
 Diambil Alih Inalum, Direksi Freeport Indonesia Dirombak |


Saat ini, menurut dia, royalti yang dibayarkan Freeport Indonesia kepada 
Indonesia dinilaii tak wajar. Indonesia saat ini mendapatkan royalti emas 
sebesar 3,75 persen. Namun, itu baru berlaku sejak 2014.

"Dulunya hanya satu persen, tapi sebenarnya dinaikkan menjadi 3,75 persen itu 
juga sejak 2012 bukan 2014 kalau berdasarkan aturannya," terang Redi.

Sementara itu, Freeport-McMoran memprediksi Indonesia bisa meraup US$60-US$90 
miliar atau setara dengan Rp867-Rp1.296 triliun dari kepemilikan mayoritas pada 
Freeport Indonesia. Hanya saja, jaminan keuntungan itu diberikan oleh Freeport 
Indonesia asalkan pemerintah memperpanjang operasional Freeport Indonesia 
sampai 2041 mendatang.


| 
Lihat juga:
 Freeport Resmi Ganti Status dari Kontrak Karya Jadi IUPK |


"Harusnya makanya diambilalih saja 100 persen, untuk apa dikasih izin tambahan 
lagi sampai 2041. Indonesia mampu kok kelola tambang Freeport Indonesia," 
pungkas Redi.

Guna membiayai akuisis Freeport, Inalum telah menerbitkan obligasi global 
sebesar US$4 miliar atau sekitar Rp58 triliun (kurs Rp14.500). Obligasi global 
ini diterbitkan dalam empat seri dengan pilihan tenor dari tiga sampai 30 tahun.

Sementara, imbal hasil (yield) yang ditawarkan juga beragam. Untuk seri pertama 
dengan nilai pokok US$1 miliar memiliki tenor tiga tahun dengan yield 5,5 
persen, seri kedua dengan nilai US$1,25 miliar dan tenor lima tahun serta yield 
enam persen.


| Presiden Joko Widodo dan CEO Freeport McMoran Richard Adkerson. (CNN 
Indonesia/Christie Stefanie). |


Kemudian, Inalum menawarkan obligasi dengan nilai pokok US$1 miliar bertenor 10 
tahun dan bunga 6,87 persen. Seri terakhir atau keempat memiliki tenor sampai 
30 tahun dengan nilai pokok US$750 juta dan yield 7,37 persen.

Penerbitan obligasi itu dilakukan pada bulan lalu. Kini Inalum mengklaim sudah 
mengantongi US$4 miliar untuk dan siap menyelesaikan transaksi pengambilalihan 
51 persen saham Freeport Indonesia.

Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengakui yield yang ditawarkan oleh 
Inalum memang tinggi. Namun, jumlah yang harus dibayarkan Inalum kepada 
investor pembeli obligasi global terbilang lebih murah dibandingkan dengan 
pinjaman perbankan.


| 
Lihat juga:
 Inalum Bayar Saham Freeport Hari Ini |


"Bagaimana pun tetap lebih bagus lempar obligasi, karena kalau pinjam perbankan 
harus ada jaminan besar juga untuk pinjaman dengan nilai tinggi," ujar Edwin.

Bukannya aset Inalum tak cukup untuk menjamin utang perusahaan ke perbankan, 
tapi Edwin menyebut Inalum perlu juga menjaminkan aset perusahaan tambang 
lainnya yang berada di bawah holding pertambangan. Hal itu tentu akan memakan 
waktu lebih lama.

"Bisa mengagunkan aset PT Bukit Asam Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, dan PT Timah 
Tbk. Tapi itu juga butuh penilaian dulu, lama," sambung Edwin.


| 
Lihat juga:
 BPK: Freeport Lunasi US$1,6 Juta Kekurangan Penerimaan Negara |


Tak hanya itu, Edwin menuturkan proses raihan dana akan lebih cepat dengan 
menerbitkan obligasi dibandingkan dengan pinjaman perbankan. Maklumlah, dana 
yang dibutuhkan Inalum cukup jumbo, sehingga pinjaman tak hanya berasal dari 
satu bank melainkan harus dari sindikasi perbankan atau lebih dari satu bank.

"Kalau nilainya besar begitu (Rp55 triliun) mungkin juga tidak bisa perbankan 
nasional, mungkin internasional. Proses akan lebih lama lagi, sementara ini 
butuh cepat kan," ucap Edwin. (aud/agi) 

Kirim email ke