https://x.detik.com/detail/investigasi/20181221/Saat-Jokowi-Terlena-Politik-Genderuwo/index.php
 
https://x.detik.com/detail/investigasi/20181221/Saat-Jokowi-Terlena-Politik-Genderuwo/index.php

 Setengah Babak Pilpres
 Rugi Jokowi Terlena ‘Politik Genderuwo’ "Pada bulan-bulan ke depan itu ada 
peresmian-peresmian tol dan lain-lain. Nah, kita pikir itu juga bisa 
meningkatkan elektoral."





 Foto: Rengga Sancaya/detikcom
Jumat, 21 Desember 2018



 Sebuah rapat digelar Jusuf Kalla, Ketua Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional 
(TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin 
https://x.detik.com/detail/investigasi/20181220/Dilarang-Tidur-demi-Ma%E2%80%99ruf-Amin/index.php,
 di kediamannya, Jalan Wijaya, Jakarta Selatan, Senin, 17 Desember 2018, malam. 
Rapat yang dihadiri anggota Dewan Pengarah, Ketua TKN Erick Thohir, dan ketua 
umum parpol pengusung Jokowi-Ma’ruf beserta sekretaris jenderal itu membahas 
evaluasi kampanye yang telah dijalankan tim pasangan calon nomor urut 01 sejak 
23 September 2018.
 Dari rapat evaluasi itu, JK mengatakan sudah beberapa daerah yang diyakini 
bakal dikuasai Jokowi-Ma’ruf pada pilpres 17 April 2019. Namun ada juga wilayah 
yang perlu perhatian khusus karena masih kecilnya dukungan. Hanya, Wakil 
Presiden RI itu enggan mengungkapkannya secara detail.
 Wakil Ketua TKN, Abdul Kadir Karding, kepada detikX mengatakan Jokowi-Ma’ruf 
https://x.detik.com/detail/investigasi/20181220/Dilarang-Tidur-demi-Ma%E2%80%99ruf-Amin/index.php
 unggul atas capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di 
wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Sedangkan di Provinsi Banten, 
yang merupakan daerah asal Ma’ruf, suara Jokowi-Ma’ruf diakui kurang gereget 
https://x.detik.com/detail/investigasi/20181220/Dilarang-Tidur-demi-Ma%E2%80%99ruf-Amin/index.php.
 Daerah tersebut, juga DKI Jakarta, menurut Karding, menjadi fokus utama dan 
akan digeber supaya menang mutlak.



 
 Minimal orang yang menstigma Pak Jokowi anti-ulama itu tidak bertambah 
jumlahnya."
Usman Kansong, Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Nasional Joko 
Widodo-Ma'ruf Amin



 
 Deklarasi dukungan terhadap pasangan calon presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
 Baca Juga : Dilarang Tidur Demi Ma'ruf Amin 
https://x.detik.com/detail/investigasi/20181220/Dilarang-Tidur-demi-Ma%E2%80%99ruf-Amin/index.php


 
 Sedangkan di luar Jawa, Karding mengakui Pulau Sumatera menjadi tantangan yang 
masih berat pula lantaran elektabilitas Jokowi-Ma’ruf tertinggal dibanding 
lawan. Di Provinsi Sumatera Barat, misalnya, Jokowi-Ma’ruf kalah oleh 
Prabowo-Sandi. Di provinsi lain, seperti Riau dan Jambi, harga-harga komoditas 
perkebunan yang menjadi tumpuan hidup masyarakatnya, yaitu sawit dan kopra, 
sedang turun drastis.
 “Masyarakat di daerah-daerah itu tidak mau mengerti bahwa harga komoditas 
sawit dan kopra bergantung pada pasar internasional, sehingga wajar hal itu 
akan berpengaruh terhadap elektabilitas Pak Jokowi,” ujar Karding kepada 
detikX, Selasa, 18 Desember.
 Kendati begitu, dilihat secara nasional, menurut Karding, elektabilitas 
Jokowi-Ma’ruf masih cukup baik, berada di angka 53 persen. “Itu menurut saya 
masih baik dan jaraknya dengan Prabowo masih 20 persenan,” ujar mantan 
Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa itu.
 Namun, dari temuan sejumlah lembaga survei, angka 53 persen itu menunjukkan 
tidak adanya peningkatan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf meski sudah berkampanye ke 
mana-mana. Seperti survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny 
JA) pada 10-19 November 2018, yang menunjukkan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf 53,2 
persen, unggul atas pasangan Prabowo-Sandiaga di angka 31,2 persen. Sedangkan 
15,6 persen responden tidak menjawab survei.
 Bila menengok target perolehan suara yang ditetapkan TKN, suara Jokowi-Ma’ruf 
terbilang masih jauh. Direktur Komunikasi Politik TKN, Usman Kansong, menyebut 
Jokowi-Ma’ruf menargetkan perolehan suara 70 persen pada pilpres tahun depan. 
“Kalau target kita 70 persen. Nah, kita masih punya waktu tiga bulan ke depan. 
Kita masih optimistis bisa mendekati angka itu,” tutur Usman kepada detikX, 
Selasa, 18 Desember.



 
 Presiden Jokowi bersama Ibu Negara Iriana berfoto di Jembatan Kali Kuto, 
Batang, Jawa Tengah, Kamis (20/12), yang menjadi ikon jalan tol Trans Jawa 
Semarang-Batang.
Foto: Grandyos Zafna/detikcom
 

 Menurut Usman, selama dua bulan kampanye ini, isu-isu lama mengenai Jokowi 
muncul kembali, seperti Jokowi disebut sebagai kader Partai Komunis Indonesia, 
anti-Islam, dan orang tuanya yang tidak jelas. Namun isu itu tidak semasif saat 
berembus pada Pemilu 2014, sehingga tidak terlalu berdampak pada Jokowi. Jokowi 
kini menggandeng Ma’ruf, yang merupakan ulama berpengaruh.
 “Minimal orang yang menstigma Pak Jokowi anti-ulama itu tidak bertambah 
jumlahnya. Sekarang justru kritiknya ke sektor ekonomi. Misalnya masalah harga, 
lapangan pekerjaan, dan lain-lain,” kata Usman.
 Menurut Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun, kritik 
atau serangan terkait kondisi ekonomi yang dilontarkan kubu Prabowo-Sandi 
sejauh ini cukup ampuh menahan laju elektabilitas capres petahana. Isu-isu 
seperti kenaikan harga, daya beli masyarakat yang melemah, utang luar negeri, 
dan sulitnya lapangan pekerjaan masih menjadi persepsi umum masyarakat terhadap 
performa pemerintahan Jokowi.
 Sayangnya, menurut pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Siti 
Zuhro, yang dihubungi detikX secara terpisah, kritik-kritik ekonomi itu kurang 
ditanggapi secara elegan oleh Jokowi. Strategi yang ditunjukkan Jokowi lebih 
banyak bertahan menghadapi serangan itu (defence mechanism). Contoh paling 
nyata adalah pemunculan istilah ‘politik genderuwo’ oleh Jokowi untuk menyebut 
kubu Prabowo hanya menakut-nakuti rakyat terkait kondisi ekonomi saat ini.



 
 Peneliti LIPI, Siti Zuhro 
Foto: Ari Saputra/detikcom Sedangkan sebagai seorang capres petahana, Jokowi 
memiliki 1.001 peluru yang seharusnya bisa dilontarkan untuk merebut hati 
pemilih. Peluru tersebut maksudnya adalah keberhasilan-keberhasilan yang 
dicapai dalam pemerintahannya selama ini, termasuk dalam program ekonomi. “Dia 
bisa mengatakan, dari sembilan program atau Nawacita itu, ini lo hasil kerja 
saya. Katakan dia ditembak masalah ekonomi atau hukum, ya dia harus memberikan 
tidak hanya pertanggungjawaban dan klarifikasi, tapi juga argumentasi yang 
jelas,” kata Siti kepada detikX, Jumat, 21 Desember. Jokowi seharusnya tak 
perlu lagi menanggapi isu-isu bermuatan fitnah, seperti PKI. “Kan 2014 sudah 
menang,” tutur Siti.
 LSI sebenarnya juga berpendapat sama. Elektabilitas Jokowi sebagian disumbang 
dari keberhasilan enam program dalam pemerintahannya yang dikenal luas di atas 
50 persen responden. Namun memang selama dua bulan ini, baik Jokowi maupun 
Prabowo masih lebih asyik bermain pada isu-isu sensasional, bukan program. "Dua 
bulan masa kampanye program kalah oleh isu sensasional yang tak berpengaruh 
pada kenaikan elektabilitas," kata Denny.
 Usman mengatakan program-program Jokowi akan menjadi menu kampanye mulai 
Januari 2019, termasuk berbagai proyek besar yang telah diselesaikan Jokowi. 
“Pada bulan-bulan ke depan itu ada peresmian-peresmian tol dan lain-lain. Nah, 
kita pikir itu juga bisa meningkatkan elektoral,” kata Usman.



Kirim email ke