https://seword.com/politik/kekejian-jokowi-memberangus-lawan-politik-dan-manuver-cari-selamat-prabowo-yang-bikin-ngilu-lKAAfNZ-n
*Kekejian’ Jokowi Memberangus Lawan Politik dan Manuver Cari Selamat Prabowo yang Bikin Ngilu!* *Ahmad Maulana S . 4 hours ago . 7 min read . 0* [image: ‘Kekejian’ Jokowi Memberangus Lawan Politik dan Manuver Cari Selamat Prabowo yang Bikin Ngilu!]*Borok politik Prabowo dan Sandi yang kian terbongkar hari ke hari pada akhirnya membuat masyarakat bertanya-tanya, mengapa Prabowo dan Sandi, yang secara amat telanjang terlihat kualitas agamanya yang buruk menurut standar ulama, justru menjadi pasangan yang dipilih serta diagung-agungkan oleh begitu banyak ulama FPI serta PKS dan PAN yang mendaku sebagai partai Islam?* *Telah sedemikian munafiknyakah mereka? Sebab untuk menduga sosok-sosok yang terkenal paling religius tersebut ‘salah lihat’ akan kualitas agama Prabowo dan Sandi jelas amat tak mungkin kecuali jika jumlah mereka cuma terdiri dari segelintir kecil!* *Tapi bukankah jumlah mereka ribuan?* *Bahkan katanya belasan juta?* *Yang ditambah dengan kepiawaian mereka dalam mencacat spiritualitas Jokowi dengan berbagai tuduhan yang intinya men-shahih-kan Jokowi sebagai penganut Islam yang buruk, maka dengan cara yang sama mereka tentu saja harusnya akan dengan amat mudah mampu menilai pula kualitas agama seperti apa dan bagaimana yang dimiliki oleh Prabowo dan Sandi!* *Tapi nyatanya?* *Untuk menyibak segala kejanggalan tersebut memang ada baiknya untuk tamasya sejarah sejenak ke masa 3 tahun berselang.* *Tak sampai genap satu tahun pasca kemenangan Jokowi-JK, pada 13 Mei 2015 Jokowi membubarkan Pertamina Energy Trading Ltd atau Petral sebagai pintu masuk pengimpor minyak Pertamina.* *Pembubaran Petral yang dilakukan Jokowi ternyata menjadi sebuah langkah yang dirasakan paling keji oleh musuh-musuh politiknya hingga membuat mereka langsung luluh-lantak tak berdaya!* *Dalam teori militer, hal paling dasar yang harus dilakukan untuk mengalahkan musuh adalah melumpuhkan sumber logistiknya.* *Hal itulah yang dilakukan oleh Jokowi: Menghancurkan Petral, yang memang menjadi sarang mafia yang merugikan Negara dengan nilai kerugian maha dahsyat sekaligus juga ditengarai sebagai salah satu sumber logistik dari politikus busuk dalam men-cukongi kegiatan perpolitikan mereka.* *Mengutif unggahan sebuah media online, untuk mencari ‘tersangka’ yang menjadi cukong politik di Indonesia sebenarnya bukan sesuatu yang amat sukar, walau memang juga tak sangat mudah.* *Carilah bisnis yang besar dan kaya tapi bukan karena keunggulan produk atau komoditas.* *Bisnis itu adalah bisnis perantara dalam skala masif dan terproteksi di bawah lindungan regulasi.* *Sampai tiga tahun lalu, hanya ada satu tipikal bisnis ini. Ia adalah Petral. Pekerjaannya mudah. Petral hanya menjadi perantara dari pemilik kilang yang ingin menjual minyaknya kepada Pertamina.* *Dari jasa makelar ini, Petral dikabarkan mengantongi hampir Rp250 miliar per hari. Artinya, dalam setahun, Petral bisa mendulang dana Rp91,2 triliun. Itu dana yang sungguh-sungguh jumbo.* *Angka tersebut tak jauh berbeda dari temuan Kordha Mentha, sebuah lembaga auditor forensik yang dikontrak oleh pemerintah.* *Laporan Kordha Mentha menyebut selama kurun 2012-2014, Petral mengeruk uang negara Rp. 250 triliun. Artinya, hampir Rp. 85 triliun per tahun.* *Dengan uang segede itu, membiayai hajatan politik yang berisiko kehilangan sangat tinggi, bukanlah hal sulit dilakukannya.* *Pertanyaan selanjutnya, siapa pengendali Petral?* *Laporan majalah Tempo mensinyalir sosok itu adalah Muhammad Riza Chalid; seorang yang tak tersentuh pada zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.* *Tentu bukan kebetulan jika Riza kemudian dekat dengan Hatta Rajasa, besan SBY yang juga Menteri Perekonomian.* *Pada 2014, Hatta mencalonkan diri sebagai cawapres dari Prabowo Subianto. Riza saat itu menjadi salah satu donatur utama pasangan tersebut.* *Pada 02 Desember 2015, dugaan atas donatur Pilpres 2014 itu terkuak secara tak sengaja berkat rekaman suara antara Setya Novanto (Ketua DPR 2014–2017), Riza Chalid, dan Direktur Utama PT Freeport McMoran Indonesia Maroef Sjamsoeddin. Momennya saat persidangan soal makelar saham Freeport oleh Mahkamah Kehormatan Dewan DPR di Jakarta. Petikan rekaman tersebut:* *Setya Novanto: **“Nasib, duit keluar banyak. Duit, Pak. Itu saya lihat kasihan. Ngapain itu? Udah. 50 M, 30 M. Begitu kita hitungin, udah 500 M. Ngapain? Hahahaa... .”* *Riza Chalid: **“Padahal, duit kalau kita bagi dua Pak, happy, Pak. 250 M ke Jokowi-JK, 250 M ke Prabowo-Hatta, kita duduk aja. Ke Singapura, main golf, aman. Hahahaa. Itu kan temen, temen semualah, Pak. Susahlah. Kita hubungan bukan baru kemarin. Masak kita tinggal, nggak baik. Tapi, kan sekarang udah nggak ada masalah. Sudah normal. Gitu.”* *Dalam petikan rekaman itu, Riza mengakui menyokong Rp. 500 miliar untuk pasangan Prabowo-Hatta, yang akhirnya kalah oleh Joko Widodo–Jusuf Kalla pada Pilpres 2014. Setelah kalah, Riza merasa bahwa kehilangan uang sebanyak itu adalah hal yang enteng.* *Dan seperti yang telah diketahui bersama. Pada akhirnya Jokowi membubarkan Petral. Dan celah logistik paling utama yang potensial dapat digunakan lawan tersebut secara keji diberangus habis tanpa celah sedikitpun oleh Jokowi!* *Hal tersebut langsung atau tidak langsung membawa dampak yang cukup signifikan di kubu lawan.* *Pada 15 April 2018, media Hong Kong Asia Times menggambarkan Prabowo tak lagi seenerjik empat tahun silam. Respons dan pembawaannya cenderung dingin. Banyak yang mengartikan, ini karena ia tak lagi memiliki cukup dana untuk bertarung di kancah politik seperti pilpres.* *Logistik pilpres di Indonesia memang relatif besar. Hal tersebut pernah dihitung oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI), untuk mengikuti pilpres tahun 2014 saja seorang capres setidaknya menyiapkan logistik senilai Rp. 7 triliun. Sebuah angka yang cukup fantastis.* *Dan Prabowo yang memang memiliki riwayat kekalahan amat mengenaskan di dua pilpres sebelumnya membuat banyak pihak meragukan kemampuan finansial yang masih tersisa.* *Hashim Djojohadikusumo sebagai adik kandung Prabowo turun tangan meredam isu bokeknya Prabowo. Namun walaupun masih tercatat sebagai barisan tajir versi majalah Forbes, pengalaman merugi saat menopang dana untuk Prabowo sebagai kakaknya pada tahun kemarin membuat Hashim turut diragukan. Terutama karena Hashim sendiri pernah mengatakan secara terang-terangan, "Kalau cawapresnya nanti ada akses ke logistik, itu alhamdulillah, puji Tuhan."* *Lagi-lagi masalah menghadang. Cukong-cukong politik yang semula mudah Prabowo dapatkan pada 2014, tak lagi bisa ditemukan saat ini. Tak ada yang siap menjadi kongsi dana di tahun depan. ‘Dibunuhnya’ Petral cukup membawa pesan bagi cukong-cukong politik untuk berpikir panjang sebelum memutuskan kepada siapa dana sumbangan akan mereka limpahkan.* *Yang tersisa tinggal minta-minta donasi kepada masyarakat.* “*Saudara-saudara saya merancang suatu program pencari dana dari rakyat langsung dari pendukung saya dan Gerindra, saya namakan program ini Galang Perjuangan.”* *Kembali langkah Prabowo tersebut gagal total karena dana yang masuk amat kecil bila dibandingkan dengan kebutuhan logistik pencalonan dirinya.* *Buntu sudah.* *Semua hal tersebut mau tak mau memaksa Prabowo untuk sadar akan batas maksimal yang dimiliki dirinya.* *Keengganan Prabowo untuk mundur dari bursa pilpres setelah semua yang menjadi komsumsi publik bertabrakan dengan kerenya logistik yang dimiliki, seketika menghasilkan sebuah rumusan terdahsyat yang memang hanya bisa tercipta dari sosok-sosok seperti Prabowo.* *Prabowo langsung banting stir dan melakukan manuver cari selamat diri sendiri yang bikin ngilu!* *Uang menjelma panglima yang amat berkuasa!* *Dipilihlah Sandiaga Uno sebagai pasangan cawapres dirinya, tak peduli walau untuk itu Prabowo pada akhirnya ‘wajib tega’ untuk mengabaikan segala macam kekuatan lain yang sebelumnya mati-matian berusaha dirangkul erat, termasuk juga kekuatan sebagian kelompok Islam yang sejak mula intens ia dekati dan setia mendukungnya.* *Keputusan tersebut tentu saja mengundah begitu banyak keriuhan berbalut geram dari kubu yang tengah di dekatinya untuk bergabung. Termasuk juga yang paling riuh saat Andi Arief dengan penuh emosi melempar wacana suap kardus tak kurang dari Rp. 500 milyar bagi semasing partai Islamnya PKS dan PAN.* *Namun, bagaimanapun, uang telah kadung menjelma panglima yang amat penuh kekuasaan!* *Benar bahwa Prabowo tak memberi alasan tegas tentang mengapa dirinya memilih Sandiaga, selain hanya mengatakan bahwa Sandiaga adalah "calon terbaik dari yang ada saat ini."* *Namun catatan Komisi Pemberantasan Korupsi yang menyebutkan bahwa Sandi memiliki harta senilai Rp. 5,1 triliun, setidaknya cukup mewakilkan penjelasan tentang ‘calon terbaik’ yang dimaksud oleh Prabowo tersebut.* *Apakah stereotif yang mengatakan bahwa ‘politik itu kotor’ adalah sebuah kenyataan yang benar-benar merupakan sebuah keniscayaan?* *Jawabannya amat tergantung ke pihak siapa ditujukannya. Sebab bila ditujukan kepada pihak Jokowi, politik jelas tak kotor. Bahkan seketika justru menjelma ibadah jama’I bagi masyarakat negeri ini dengan segala kebermanfaatan yang berhasil beliau buat bagi rakyat di seluruh penjuru negeri.* *Yang jelas, dari rangkaian kejadian tersebut masyarakat kemudian kian paham, bahwa terpilihnya Prabowo-Sandi tidaklah seperti kemasan yang terus digaungkan yang katanya berdasarkan kebaikan agama atau berdasarkan kebaikan yang lainnya.* *Karena bila ditilik dari riwayatnya, semuanya tak lebih dari sekedar ‘politik keterlanjuran’: Terlanjur merangkai jalur agamis sebagai narasi pemilihan mereka, sehingga saat kadung terjadi maka wajib terus dipertahankan ‘keagamisan’ duo tersebut, walau dengan pemaksaan yang amat tertatih buah bohong demi bohong penutup melencengnya skenario awal yang amat religius.* *Benar-benar rekayasa berbalut agama yang amat bikin ngilu saat boroknya tersingkap!* *Jokowi 2 periode?* *Absolutely yes!* *Buat apa pilih asal-asalan ga jelas yang cuma katanya doang agamis katanya religius katanya pro rakyat, bila memang masih ada Jokowi… yang memang telah terbukti secara nyata memiliki semuanya tersebut, yang bukan sekedar katanya doang!* *Sumber gambar: Tribun Kaltim.*
