http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1573-menjaga-indonesia
/*Menjaga Indonesia*/
Penulis: *Media Indonesia* Pada: Senin, 31 Des 2018, 05:00 WIB Editorial
MI <http://mediaindonesia.com/editorials>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1573-menjaga-indonesia>
<http://twitter.com/home/?status=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1573-menjaga-indonesia>
PEMILU yang digelar pada 17 April 2019 sejatinya bertujuan memberi
kesempatan kepada rakyat untuk memilih pemimpin mereka. Pemimpin yang
terpilih itu akan sekuat tenaga menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh
rakyat. Karena itulah, pemilu hakikatnya bertujuan semakin memperkuat
fondasi rumah kita bersama yang bernama Indonesia.
Rumah bersama Indonesia itu harus dijaga dengan segenap tenaga dan
seluruh upaya agar tidak terpecah-pecah seperti pengalaman negara lain.
Jangan biarkan Indonesia menjadi negara gagal, apalagi sampai punah
hanya karena penghuninya lengah.
Menjaga keutuhan Indonesia bukan hanya tanggung jawab para elite
politik, melainkan juga kewajiban setiap warga negara. Salah satu cara
menjaganya ialah selalu menghadirkan narasi optimisme di ruang publik,
jangan sekali-kali menebar benih-benih pesimisme.
Inilah saat yang tepat, persis di hari terakhir tahun ini, untuk
merenungkan benarkah politik hadir untuk menyatukan, bukan memecah belah
masyarakat? Benarkah kampanye pemilu yang dimulai sejak 23 September
menghadirkan kegembiraan bagi rakyat dan para kontestan senantiasa
berkompetisi dalam harmoni?
Harus jujur dikatakan, dalam tensi politik yang tinggi, sering kali
kampanye pemilu muncul sebagai pemicu timbulnya gesekan-gesekan di
masyarakat yang berbahaya bagi integrasi nasional. Para elite masih saja
doyan mengumbarkan pesan-pesan yang mencemaskan, miskin imajinasi
tentang Indonesia yang gagah di masa depan.
Terus terang, kita merindukan pemimpin sejati seperti para pendiri
bangsa yang selalu meniupkan harapan. Mereka selalu menaburkan rasa
percaya diri pada masyarakat. Bung Karno, misalnya, mengobarkan semangat
rakyat dengan berkata, ”Barang siapa ingin mutiara, harus berani terjun
di lautan yang dalam.” Beda sekali dengan pemimpin sekarang yang
mengatakan kalau dirinya tidak menang, Indonesia akan punah.
Masih ada waktu 107 hari lagi menuju pemilu. Masih ada kesempatan untuk
menanggalkan pesimisme dan menghadirkan optimisme dalam masa kampanye
pemilu. Kita menantikan kampanye yang membangun kebanggaan pada
Indonesia karena itulah yang akan membuat kita semakin mencintai
Indonesia. Berbicara hanya buruk rupa negeri sesungguhnya cermin sikap
tidak mencintai Indonesia.
Tentu saja ada masalah dalam rumah bersama Indonesia. Masalah itu,
misalnya, ketidakadilan, merebaknya korupsi, dan pelanggaran hak asasi
manusia di masa lalu. Elok nian bila para kontestan berlomba-lomba
menawarkan program konkret untuk mengatasi masalah dalam rumah
Indonesia. Para kontestan itu hendaknya membawa solusi, bukan bagian
dari masalah bangsa.
Ketika memasuki masa debat pertama calon presiden dan wakil presiden
pada 17 Januari 2019, mereka diharapkan menyampaikan narasi kampanye
yang lebih substansial. Dengan begitu, masyarakat bisa lebih menyerap
visi, misi, serta program kerja yang ditawarkan setiap pasangan calon
presiden.
Pemilu sebagai perwujudan demokrasi hendaknya dapat memuliakan martabat
manusia. Dalam demokrasi, warga yang memiliki latar belakang dan
identitas berbeda terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan
ditempatkan dalam posisi setara.
Politik yang memuliakan manusia hendaknya menjadi ikhtiar bersama dalam
menyongsong 2019 sambil mengucapkan selamat tinggal politik pesimisme
2018. Menghadirkan optimisme ialah salah satu bentuk menjaga Indonesia
sebagai rumah bersama agar tetap kukuh berdiri.
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1573-menjaga-indonesia>
<http://twitter.com/home/?status=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1573-menjaga-indonesia>