https://fokus.tempo.co/read/1160541/elizabeth-warren-jadi-penantang-baru-
donald-trump-dari-demokrat/full&view=ok
<https://fokus.tempo.co/read/1160541/elizabeth-warren-jadi-penantang-baru-donald-trump-dari-demokrat/full&view=ok>
Elizabeth Warren Jadi Penantang Baru Donald
Trump dari Demokrat
Reporter:
Non Koresponden
Editor:
Eka Yudha Saputra
Selasa, 1 Januari 2019 11:56 WIB
Presiden AS, Donald Trump (kiri) dan Senator Elizabeth Warren (kanan).
AP via Syracus
<https://statik.tempo.co/data/2018/10/18/id_743248/743248_720.jpg>
Presiden AS, Donald Trump (kiri) dan Senator Elizabeth Warren (kanan).
AP via Syracus
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Pada Senin kemarin, Elizabeth Warren
<https://www.tempo.co/tag/elizabeth-warren> mengumumkan siap berkontes
dalam pilpres 2020 untuk menantang Donald Trump.
Senator Massahchussetts dari Demokrat itu adalah pengkritik tajam Donald
Trump, mulai dari kampanye hingga menjabat presiden dan bahkan
menyerukan pemakzulannya.
Menurut laporan New York Times, yang dikutip pada 1 Januari 2018, Warren
adalah pejuang kelas menengah Amerika, pengkritik kapitalisme tanpa
regulasi, dan pengkritik bank-bank besar.
Baca: Elizabeth Warren Siap Maju untuk Pilpres Amerika Serikat 2020
<https://dunia.tempo.co/read/1160511/elizabeth-warren-siap-maju-untuk-pilpres-amerika-serikat-2020>
Di bawah panji Demokrat, Warren muncul dan kemunculan Warren bisa
menjadi bayang-bayang Hillary Clinton semasa pilpres 2016 lalu.
Sejak 1992, Demokrat tidak memiliki pemimpin tunggal, belum ada yang
memiliki kans kuat untuk capres 2020 dan kandidat yang betul-betul
mempersatukan identitas Demokrat, selain dominasi Barack Obama dan
Hillary Clinton.
Elizabeth Warren [REUTERS]
Hasil pemilu sela memperlihatkan bagaimana perempuan-perempuan Demokrat,
liberal, minoritas dan generasi muda Demokrat menang.
Keberagaman kandidat tentu menjadi kesulitan Demokrat untuk menimbang,
siapa calon yang paling cocok menantang Trump, calon yang bisa merangkul
semua kalangan, Selatan dan Utara, dari bentang demografi metropolitan
sampai pedalaman Amerika.
Sebetulnya ada dua calon kuat dari Demokrat untuk pesaing Trump, yakni
mantan wapres Joseph R. Biden Jr., dan Senator Bernie Sanders, yang
digadang akan mengungkapkan niat pencalonan capresnya akhir musim dingin
ini. Namun Demokrat melihat keduanya sebagai generasi lama, dan begitu
juga para simpatisan Demokrat.
Baca: Penanganan Kasus Jamal Khashoggi, Senator Amerika Kritik Trump
<https://dunia.tempo.co/read/1137483/penanganan-kasus-jamal-khashoggi-senator-amerika-kritik-trump>
Kedua politikus potensial tersebut bukan hanya faktor penyisih Warren.
Editorial The Boston Globe pernah menyarankan agar Warren urungkan niat
untuk pencapresan dengan alasan dia akan menjadi figur pemecah, dan ia
dianggap kehilangan kesempatan untuk capres ketika menantang Hillary
pada 2016 lalu.
Kali ini, untuk kontestasi 2020, Warren mengambil ancang-ancang lebih
awal. The Washington Post melaporkan dia menyebarkan pesan video
berantai yang mempromosikan diri sebagai penantang Trump dan menyebar
slogan: "bergabunglah dalam perjuangan!"
"Dia adalah advokat yang kuat, sensitif, dan apakah sosok itu yang
dicari orang di era Trump? Apakah kita melawan orang tempramen dengan
orang tempramen?" tutur David Axelrod, kepala strategis tim sukses
Barack Obama, kepada Washington Post.
12
<https://fokus.tempo.co/read/1160541/elizabeth-warren-jadi-penantang-baru-donald-trump-dari-demokrat?page_num=2>
Selanjutnya
<https://fokus.tempo.co/read/1160541/elizabeth-warren-jadi-penantang-baru-donald-trump-dari-demokrat?page_num=2>
Elizabeth Warren Jadi Penantang Baru Donald
Trump dari Demokrat
Reporter:
Non Koresponden
Editor:
Eka Yudha Saputra
Selasa, 1 Januari 2019 11:56 WIB
Presiden AS, Donald Trump (kiri) dan Senator Elizabeth Warren (kanan).
AP via Syracus
<https://statik.tempo.co/data/2018/10/18/id_743248/743248_720.jpg>
Presiden AS, Donald Trump (kiri) dan Senator Elizabeth Warren (kanan).
AP via Syracus
Senator Warren adalah orang yang paling vokal menyuarakan pemakzulan
Trump. Pada 6 September 2018, Warren dengan tegas mengatakan ini saatnya
untuk menggeser Donald Trump dari kursinya.
"Jika pejabat pemerintah senior berpikir Presiden AS tidak bisa
menunaikan tugasnya, maka kita harus menggunakan amandemen ke-25.
Konstitusi mengizinkan prosedur hukum ketika wakil presiden dan pejabat
tinggi menilai presiden tidak bisa melakukan tugasnya," kata Warren
kepada CNN.
Sejak itu, Warren dipandang sebagai kandidat presiden yang mungkin
melawan Trump, yang tidak pernah sekalipun menahan diri mengkritik
Warren, mengejeknya dengan sebutan "Pocahontas" karena dia telah
mengklaim sebagai penduduk asli Amerika selama karirnya sebagai profesor
hukum yang memicu kontroversi.
Namun akhir pekan lalu, The Boston Globe menerbitkan artikel investigasi
yang menunjukkan bahwa etnisitasnya bukan merupakan faktor dalam
profesinya di Harvard.
"Keluarga saya adalah keluarga saya, tetapi The Boston Globe melakukan
penyelidikan yang sangat teliti dan menetapkan bahwa latar belakang
keluarga saya tidak ada hubungannya dengan saya dipekerjakan di mana
pun," katanya.
"Saya pertama kali menjadi kandidat politikus pada tahun 2012 dan terus
terang saya bahkan tidak memiliki informasi dasar ini. Jadi, kumpulkan
semuanya, serahkan ke pers, dan berkata, itu dia," beber Warren ketika
ditanya apakah dia menyesal terkait latar belakang etnisnya.
Senator AS Elizabeth Warren menyampaikan sambutan di Center for American
Progress di Washington 13 Juli 2016.[REUTERS / Gary Cameron]
Sepak terjang Warren membuat oposisinya di kubu Demokrat mengeluh bahwa
Elizabeth Warren sebagai orang yang terlalu liberal dan terlalu memecah
belah, ungkap laporan POLITICO. Dalam wawancara dengan POLITICO,
sejumlah penasihat dan mantan penasihat Warren serta koleganya
mengatakan Warren menciptakan narasinya sendiri tentang dirinya sebagai
anti-Wall Street dan pro kelas menengah.
Namun penasihat Warren yang lain tidak sepakat. Penulis biografi Warren,
Antonia Felix, mengatakan Warren bukan hanya kandidat yang layak tetapi
kandidat yang bisa menang.
Baca: Hillary Clinton Pastikan Tak Maju Pemilu Presiden Amerika 2020
<https://dunia.tempo.co/read/1141087/hillary-clinton-pastikan-tak-maju-pemilu-presiden-amerika-2020>
Melalui videonya, Warren bukan hanya memberikan wacana melawan Donald
Trump, tapi juga menyampaikan fokus kerja pada perlindungan konsumen,
kesenjangan kesejahteraan, biaya pendidikan, isu LGBT+, dan gerakan hak
perjuangan perempuan, seperti dikutip dari The Independent.
Dalam pesan email yang dikirim kepada pendukungnya, Warren akan memulai
kampanye pada awal 2019.
Sejauh ini Donald Trump belum berkomentar atas pencalonan Elizabeth
Warren, tetapi Ketua Komisi Nasional Republik Ronna McDaniel menyebut
Warren adalah ekstrimis sayap kiri lain dan pengacau.
Apapun tanggapan Partai Republik, atau komentar Trump nantinya tentang
Elizabeh Warren, Trump masih berada dalam posisi yang sulit. Sebut saja
investigasi campur tangan Rusia dalam pilpres 2016, rencana ambisius
tembok perbatasan sampai ditinggal oleh orang-orang di sekeliling.
Carut-marut tersebut tidak hanya membuat Trump fokus menyelesaikan
masalah internal pemerintahan, tetapi juga harus waspada taktik
Elizabeth Warren <https://www.tempo.co/tag/elizabeth-warren> merebut
dukungan rakyat Amerika Serikat, yang bisa membuat kejutan pada pilpres
2020 mendatang.