Rhttps://m.facebook.com/photo.php?fbid=754014638324848&id=100011489570980&set=gm.1028051934062802&source=57&refid=18&__tn__=EH-R


 
Citra Dewi > Ranah Minang MendukungPemerintahan Republik Indonesia . 30 nov.. 
2018 


 
Mohon dibaca sampai selesai, semoga kita dapat hikmahnya di Hari Jum'at 
YangPenuh Berkah Ini.


 
MUNAFIK . . . !


 
"Isu utama di Indonesia sekarang adalahmaraknya korupsi, yang menurut saya 
sudah seperti kanker stadium 4," sebutprabowo.


 
"MENEPUK AIR DIDULANG, TERPERCIK MUKASENDIRI".


 
Berkacalah Dengan Fakta Sejarah, Jangan TerusMenerus Sembarangan Ngomong !


 
MENGAPA BUNG KARNO DILENGSERKAN DENGAN CARAFITNAH YANG SANGAT KEJI, DAN MENGAPA 
JOKOWI JUGA DIPERLAKUKAN SAMA DENGANFITNAH-FITNAH YANG SANGAT KEJI JUGA ?


 
Ini Jawabannya:


 
Bung Karno dilengserkan dengan fitnah yangsangat keji untuk 
mengkorupsi/merampok kekayaan alam Indonesia, Jokowi diserangdengan 
fitna-fitnah keji juga harus dilengserkan dengan segala cara untukmengamankan 
hasil korupsi/rampokan, sebab Jokowi adalah orang yang bersih danbukan bagian 
dari kejahatan masa lalu dan sekarang.


 
Ini Penjelasan Fakta Sejarahnya:


 
Suharto yang telah sukses mengkudeta BungKarno, mengirim satu tim ekonomi yang 
terdiri dari Prof.Dr SoemitroDjojohadikusumo, Prof. Dr Sadli dan sejumlah 
profesor ekonomi lulusan Berkeley UniversityAS. Sebab itu tim ekonomi ini juga 
disebut sebagai ‘Berkeley Mafia’ ke Swiss.Mereka hendak menggelar pertemuan 
dengan sejumlah konglomerat Yahudi dunia,yang dipimpin David Rockefeller.


 
Di Swiss, tim ekonomi suruhan Suharto inimenggadaikan seluruh kekayaan alam 
negeri ini ke hadapan David Rockefeler cs.Dengan seenak perutnya, mereka 
mengkavling-kavling Bumi Nusantara danmemberikannya kepada pengusaha-pengusaha 
Yahudi tersebut. Gunung Emas di Papua diserahkankepada Freeport, Ladang Minyak 
dan Gas di Riau kepada Chevron, Ladang MinyakdanGas di Aceh kepada Exxon, dan 
sebagainya masih banyak lagi yang lainnya.Undang-Undang Penanaman Modal Asing 
(UU PMA) tahun 1967 pun dirancang di Swiss,menuruti kehendak para pengusaha 
Yahudi tersebut.


 
Sampai detik ini, perampokan atas seluruhkekayaan alam negeri ini masih saja 
terus berjalan dan dikerjakan dengan sangatleluasa oleh berbagai Korporasi 
Yahudi Dunia. Hasilnya bisa kita lihat di mana-manadengan fakta-fakta tak 
terbantahkan jika negeri ini tengah meluncur ke jurang kehancuran,Suharto dan 
Sumitro Djojohadikusumo lah dalang dari semua ini.


 
Sudah banyak sekali buku-buku ilmiah yangditulis para cendekia dari dalam dan 
luar negeri tentang betapa bobroknyakinerja pemerintahan di saat Suharto 
berkuasa selama lebih kurang 32 tahun, denganjutaan fakta dan dokumen yang tak 
terbantahkan.


 
Sebab itu, tulisan ini memaparkan fakta apaadanya tentang Suharto. Agar 
setidaknya, mereka yang menganggap Suharto pahlawan,harus bisa bermuhasabah dan 
melakukan renungan yang lebih dalam, sudah benarkahtindakan tersebut.


 
Fakta sejarah harus ditegakkan, siapasebenarnya Suharto sebelum dan sesudah 
menjadi presiden? Suharto lahir diKemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921, 
dari keluarga petani, karirnyadiawali

sebagai karyawan di sebuah bank pedesaan,walau tidak lama.


 
Dia sempat juga menjadi buruh dan kemudianmenempuh karir militer pertama kali 
sebagai prajurit

KNIL yang berada di bawah kesatuan tentarapenjajah Belanda. Saat Jepang masuk 
di tahun 1942, Suharto bergabung denganPETA. Ketika Soekarno memproklamirkan 
kemerdekaan, Soeharto bergabung denganTKR.


 
Salah satu ‘prestasi’ kemiliteran Suhartoyang sering digembar-gemborkannya 
semasa dia berkuasa adalah Serangan Umum 1Maret 1949 atas Yogyakarta. Bahkan 
‘prestasi’ ini sengaja difilmkan dengan judul‘Janur Kuning’ (1979) yang 
memperlihatkan jika serangan umum itu diprakarsaidan dipimpin langsung oleh 
Suharto. Padahal, sesungguhnya serangan umum itudiprakarsai Sri Sultan 
Hamengkubuwono IX. Sri Sultan Hamengkubuwono IX lah yangmemimpin serangan umum 
melawan Belanda. Sri Sultan Hamengkubuwono IX adalahseorang nasionalis yang 
memiliki perhatian terhadap nasib rakyatnya, karena ituia tidak mau untuk di 
jajah. (lihat biografi Sri Sultan Hamengkubuwono IX).


 
Pada 1959, Suharto yang kala itu menjabatsebagai Pangdam Diponegoro dipecat 
oleh A.H.Nasution dengan tidak hormat karenaSuharto telah menggunakan institusi 
militernya untuk mengumpulkan uang dariperusahaan-perusahaan di Jawa Tengah. 
Suharto kala itu juga ketahuan ikutkegiatan ilegal berupa penyelundupan gula 
dan kapuk bersama Bob Hasan dan LiemSioe Liong.


 
Untuk memperlancar penyelundupan ini,didirikan perusahaan perkapalan yang 
dikendalikan Bob Hasan. Konon, dalammenjalankan bisnis haramnya ini, Bob Hasan 
menggunakan kapal-kapal ‘IndonesianOverseas’ milik C.M. Chow. Siapa C.M. Chow 
ini? Dia adalah agen ganda. Pada1950 dia menjadi agen rahasia militer Jepang di 
Shanghai. Tapi dia punkepanjangan tangan Mao Tse Tung, dalam merekrut Cina 
perantauan dari orangJepang ke dalam jaringan komunis Asia. Pada 1943, Chow 
ditugasi Jepang keJakarta. Ketika Jepang hengkang dari Indonesia, Chow tetap di 
Jakarta danmembuka usaha perkapalan pertama di negeri ini. Chow bukan saja 
membina WNICina di Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun juga di Sumatera, 
Kalimantan,Sulawesi dan Papua. Salah satu binaannya adalah ayah Eddy Tansil dan 
HendraRahardja yang bermarga Tan. Tan merupakan sleeping agent Mao di 
IndonesiaTimur. Pada pertengahan 1980-an, Hendra Rahardja dan Liem Sioe Liong 
mendirikansejumlah pabrik di Fujian, Cina.


 
A.H.Nasution kala itu sangat marah sehinggaingin memecat Suharto dari AD dan 
menyeretnya ke Mahkamah Militer, namun atasdesakan Gatot Subroto, Suharto 
dibebaskan dan akhirnya dikirim ke SSKAD(Sekolah Staf dan Komando Angkatan 
Darat). Selain A.H.Nasution, Yani juga marahatas ulah Suharto dan di kemudian 
hari mencoret nama Suharto dari daftar pesertapelatihan di SSKAD, yang mana hal 
ini membuat Suharto dendam sekali terhadapYani. Terlebih Yani adalah anak 
kesayangan Bung Karno.


 
Kolonel Pranoto Rekso Samoedro diangkatsebagai Pangdam Diponegoro menggantikan 
Suharto. Pranoto, sang perwira'santri', menarik kembali semua fasilitas milik 
Kodam Diponegoro yang  dipinjamkan Suharto kepada para pengusahaCina untuk 
kepentingan pribadinya. Di SSKAD, Suharto dicalonkan untuk menjadiKetua Senat, 
namun D.I.Panjaitan menolak keras dengan menyatakan dirinya tidakpercaya dengan 
Suharto yang dinilainya tidak bisa dipercaya karena mempunyaibanyak catatan 
kotor dalam karir militernya, antara lain penyelundupan bersamapara pengusaha 
Cina dengan dalih untuk membangun kesatuannya, namun yangterjadi adalah untuk 
memperkaya dirinya.


 
Atas kejadian itu Suharto sangat sakit hatidan dendam. Bertambah lagi dendam 
Suharto, selain kepada A.H.Nasution, AhmadYani, kini D.I. Panjaitan. Aneh tapi 
nyata, dalam peristiwa G30S 1965, musuh-musuhSuharto > A.H.Nasution, Ahmad 
Yani, dan D.I.Panjaitan, menjadi targetpembunuhan, sedangkan Suharto sendiri 
yang merupakan orang kedua di AD tidakmasuk dalam daftar kematian.


 
Dan ketika Yani terbunuh, Bung Karnomengangkat Pranoto Rekso Samudro sebagai 
Kepala Staf AD, namun Pranoto dijegaloleh Suharto sehingga Suhartolah yang 
mengambil-alih kepemimpinan AD, sehinggauntuk menghindari pertumpahan darah dan 
perang saudara karena Siliwangi di JawaBarat

(Ibrahim Adjie) dan KKO (Marinir) di JawaTimur telah bersumpah untuk berada di 
belakang Soekarno dan jika Soekarnomemerintahkan untuk ‘menyapu’ bersih semua 
kekuatan Suharto di Jakarta, maka merekamenyatakan siap untuk berperang. Namun 
untuk menghindari perang saudara danjatuhnya korban lebih banyak lagi Bung 
Karno tidak memerintahkan, jadilahSuharto sebagai KSAD.


 
Pasca Perang Dunia II, AS melihat Uni Sovietsebagai satu-satunya pihak yang 
bisa menghalangi hegemoninya atas dunia.Diluncurkanlah Marshall Plan sebagai 
upaya membendung pengaruh komunisme yangkian lama kian meluas, dari Eropa Timur 
ke arah Asia Tenggara, sebuah wilayah yangsangat strategis dari sisi 
perdagangan dunia dan geopolitik, juga sangat kayaraya dengan sumber daya alam 
dan juga manusianya. AS sangat cemas jika wilayahtersebut dikuasai Uni Soviet. 
Dari semua negeri di wilayah itu, Indonesia lahnegara yang paling strategis dan 
paling kaya raya. AS sangat paham akan halini, sebab itu di wilayah ini 
Indonesia merupakan satu-satunya wilayah yang disebutdalam Marshall Plan.


 
Namun untuk menundukkan Indonesia, AS jelaskesulitan karena negeri ini tengah 
dipimpin oleh seorang yang sukar diatur,cerdas, dan dicintai rakyatnya, dialah 
Bung Karno. Tiada jalan lain, orang ini harusditumbangkan, dengan berbagai 
cara. Sejarah telah mencatat dengan baikbagaimana CIA ikut terlibat langsung 
berbagai pemberontakan di Indonesia>PRRI, PKI dan pemberontakan yang lainnya. 
CIA juga membina kader-kadernya dibidang pendidikan (yang nantinya melahirkan 
Mafia Berkeley), mendekati danmenunggangi partai politik demi kepentingannya, 
membina sel binaannya di ketentaraan(local army friend) dan sebagainya. Setelah 
berkali-kali gagal menjatuhkan BungKarno dan bahkan sampai hendak membunuhnya, 
akhirnya pada paruh akhir 1965,Bung Karno berhasil disingkirkan CIA lewat 
Suharto dengan Gerakan 30 September1965 yang terjadi di tubuh Angkatan 
Bersenjata Republik Indonesia, yang manadalangnya adalah Suharto dengan bantuan 
CIA. Setelah peristiwa 1 Oktober 1965,secara de facto, Suharto mengendalikan 
negeri ini. Pada pekan ketiga oktober1965, Suharto menugaskan para kaki 
tangannya membantai mungkin jumlahnyamencapai jutaan orang. Mereka yang dibunuh 
adalah orang-orang yang dituduhkader atau simpatisan komunis (PKI), tanpa 
melewati proses pengadilan yangfair. Media internasional bungkam terhadap 
kejahatan kemanusiaan yang luarbiasa itu, karena memang AS sangat diuntungkan.


 
Jatuhnya Bung Karno dan naiknya Suhartodirayakan dengan penuh suka cita oleh 
Washington. Bahkan Presiden Nixonmenyebutnya sebagai “Hadiah terbesar dari Asia 
Tenggara”. Satu negeri denganwilayah yang sangat strategis, kaya raya dengan 
sumber daya alam, segenap bahantambang, dan sebagainya ini telah berhasil 
dikuasai dan dalam waktu singkatakan dijadikan ‘sapi perahan’ bagi kejayaan 
imperialisme Barat.


 
Benar saja, Nopember 1967, Suharto menugaskansatu tim ekonom pro-AS menemui 
para 'bos' Yahudi Internasional di Swiss. Dalambulan November 1967 menyusul 
tertangkapnya ‘hadiah terbesar’ (istilahpemerintah AS untuk Indonesia setelah 
Bung Karno jatuh dan digantikan olehSoeharto), maka hasil tangkapannya itu 
dibagi-bagi. The Time Life Corporationmensponsori konferensi istimewa di 
Jenewa, Swiss, yang dalam waktu tiga harimembahas strategi pengambilalihan 
Indonesia.


 
Para pesertanya terdiri dari seluruhkapitalis yang paling berpengaruh di dunia, 
orang-orang seperti

David Rockefeller. Semua Raksasa KorporasiBarat diwakili perusahaan-perusahaan 
minyak dan bank, Freeport, Chevron, Exxon,General Motors, Imperial Chemical 
Industries, British Leyland, British AmericanTobacco, American Express, 
Siemens, Goodyear, The International PaperCorporation, US Steel, ICI, Leman 
Brothers, Asian Development Bank, ChaseManhattan, dan sebagainya.”


 
Di seberang meja, duduk orang-orang Soehartoyang oleh Rockefeller dan 
pengusaha-pengusaha Yahudi lainnya disebut sebagai ‘ekonom-ekonomIndonesia yang 
korup’. 


 
“Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengansebutan ‘The Berkeley Mafia’ karena 
beberapa di antaranya pernah menikmatibeasiswa dari pemerintah Amerika Serikat 
untuk belajar di Universitas Californiadi Berkeley. Mereka datang sebagai 
peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkanoleh para majikannya yang 
hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual darinegara dan bangsanya. Tim 
Ekonomi Indonesia menawarkan tenaga buruh yang banyakdan murah, cadangan dan 
sumber daya alam yang melimpah, dan pasar yang besar.”Ekonomi Indonesia telah 
dibagi sektor demi sektor.” Prof. Jeffrey Wintersmenyebutnya, “Ini dilakukan 
dengan cara yang amat spektakuler.”


 
“Mereka membaginya dalam lima seksi:pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di 
kamar lain, industri ringan di kamarsatunya, perbankan dan keuangan di kamar 
yang lain lagi, yang dilakukan olehChase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi 
yang mendiktekan kebijakan-kebijakanyang dapat diterima oleh mereka dan para 
investor lainnya. Kita saksikan parapemimpin korporasi besar ini berkeliling 
dari satu meja ke meja lainnya,mengatakan, ‘Ini yang kami inginkan, itu yang 
kami inginkan, ini, ini, dan ini.’Dan mereka pada dasarnya merancang 
infrastruktur hukum untuk berinvestasi.Tentunya produk hukum yang sangat 
menguntungkan mereka. Saya tidak pernah mendengarsituasi seperti itu 
sebelumnya, di mana modal global duduk dengan wakil darinegara yang diasumsikan 
sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buatmasuknya investasi 
mereka ke dalam negaranya sendiri.


 
Freeport mendapatkan Gunung Emas di Papua(Henry Kissinger, pengusaha Yahudi AS, 
duduk dalam

Dewan Komisaris). Exxon mendapatkan Minyakdan Gas di Aceh, Chevron mendapatkan 
Minyak dan

Gas di Riau, sebuah konsorsium Eropamendapatkan Nikel di Papua Barat. Sang 
raksasa Alcoa mendapatkan bagianterbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok 
perusahaan Amerika, Jepang, dan

Perancis mendapatkan hutan-hutan tropis diKalimantan, Sumatera, Sulawesi dan 
Papua.


 
Sebuah undang-undang tentang penanaman modalasing yang dirancang oleh Sumitro 
Djojohadikusumo dan disetujui langsung olehSoeharto, membuat perampokan negara 
yang direstui pemerintahan Suharto. OlehSuharto, rakyat dijejali dengan 
propaganda pembangunan, Pancasila, dan trickledown effect terhadap peningkatan 
kesejahteraannya, tapi fakta yang terjadi dilapangan sesungguhnya adalah proses 
pemiskinan bangsa secara sistematis yangdilakukan rezim Suharto. Pada 12 Maret 
1967, Soeharto dilantik sebagai PresidenRI ke-2. Tiga bulan kemudian, dia 
membentuk Tim Ahli Ekonomi Kepresidenan yangterdiri dari Prof. Dr. Soemitro 
Djojohadikusumo, Prof Dr. Widjojo Nitisastro,Prof. Dr. Ali Wardhana, Prof Dr. 
Moh. Sadli, Prof Dr. Subroto, Dr. Emil Salim,Drs. Frans Seda, dan Drs. Radius 
Prawiro. Seluruhnya pro kapitalisme. 


 
Nopember 1967, Suharto mengirim tim ekonomiini ke Swiss menemui para CEO Yahudi 
Internasional. Lahirlah UU PMA 1967 yangsangat menguntungkan imperialis Barat. 
Prinsip kemandirian ekonomi Indonesiayang dijaga mati-matian oleh Bung Karno, 
oleh Suharto dihabisi denganmenjadikan Indonesia sebagai negara yang sangat 
tergantung pada barat sebagaikekuatan kapitalis dunia.


 
David Ransom dalam artikelnya yang populerberjudul “Mafia Berkeley dan 
Pembunuhan Massal di Indonesia, Kuda Troya Barudari Universitas-Universitas AS 
Masuk ke Indonesia” (Ramparts, 1970) memaparkanjika AS menggunakan dua strategi 
untuk menaklukkan Indonesia, tentu saja denganmenyingkirkan Bung Karno. 
Pertama, membangun satu kelompok intelektual yangberpikiran Barat. Dan kedua, 
membangun satu sel dalam tubuh ketentaraan yangsiap bekerjasama dengan AS.


 
Yang pertama didalangi oleh berbagai yayasanbeasiswa seperti Ford Foundation 
dan Rockeffeler Foundation, juga berbagaiuniversitas ternama AS seperti 
Berkeley, Harvard, Cornell, dan juga MIT. DavidRansom menulis, dua tokoh Partai 
Sosialis Indonesia, sebuah partai kecil yangberhaluan sosialis-kanan, yakni 
Sumitro Djojohadikusumo dan Soedjatmoko menjadiujung tombak pembentukan 
jaringan intelektuil pro-Barat di Indonesia, merekadibina oleh AS sejak akhir 
tahun 1949-an.


 
Sedang tugas kedua dilimpahkan kepada CIA.Salah satu agennya bernama Guy Pauker 
yang bergabung dengan RAND Corporationmendekati sejumlah perwira tinggi lewat 
salah seorang yang dikatakan berhasildirekrut CIA, yakni Deputi Dan Seskoad 
Kol. Soewarto. Dan Intel Achmad Soekendrojuga dikenal dekat dengan CIA. Lewat 
orang inilah, komplotan AS, mendekatimiliter. Suharto adalah murid dari 
Soewarto di Seskoad.


 
Di Seskoad inilah para intelektuil binaan ASdiberi kesempatan mengajar para 
perwira. Terbentuklah jalinan kerjasama antarasipil-militer yang pro-AS. Paska 
tragedi 1965 dan pembantaian rakyat Indonesia,yang dituduh komunis, dan 
kelompok ini mulai membangun ‘Indonesia Baru’. Paradoktor

ekonomi yang mendapat binaan dari Fordkembali ke Indonesia dan segera bergabung 
dengan kelompok ini, di antaranyaEmil Salim.


 
Suharto membentuk Trium-Virat (pemerintahanbersama tiga kaki) dengan Adam Malik 
dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Ransommenulis, “Pada 12 April 1967, Sultan 
mengumumkan satu pernyataan politik yangamat penting yakni garis besar program 
ekonomi rezim baru itu yang menegaskanmereka akan membawa Indonesia kembali ke 
pangkuan Imperialis. Kebijakan tersebutditulis oleh Widjojo dan Sadli.”


 
Ransom melanjutkan, “Dalam merinci lebihlanjut program ekonomi yang baru saja 
digariskan Sultan, para teknokratdibimbing oleh AS. Saat Widjojo kebingungan 
menyusun program stabilisasiekonomi, AID mendatangkan David Cole, ekonom 
Harvard yang baru saja membuatregulasi perbankan di Korea Selatan untuk 
membantu Widjojo. Sadli juga sama,meski sudah doktor, tapi masih memerlukan 
“bimbingan”. Menurut seorang pegawaiKedubes AS, “Sadli benar-benar tidak tahu 
bagaimana seharusnya membuat suaturegulasi Penanaman Modal Asing. Dia harus 
mendapatkan banyak dari KedutaanBesar Amerika Serikat.


 
Ini merupakan tahap awal dari programRancangan Pembangunan Lima Tahunan 
(Repelita) Suharto, yang disusun oleh paraekonom Indonesia didikan AS, yang 
masih secara langsung dibimbing oleh paraekonom AS sendiri dengan kerjasama 
dari berbagai yayasan yang ada.


 
Juni 1968, Suharto secara diam-diam danmendadak mengadakan reuni dengan 
orang-orang binaan Ford, yang dikenal sebagai “MafiaBerkeley” (untuk 
merancangkan susunan Kabinet Pembangunan dan badan-badan pentingtingkat tinggi 
lainnya). Sebagai Menteri Perdagangan ditunjuk Dekan FEUI Prof.Dr.Sumitro 
Djojohadikusumo (Doctor of Philosophy dari Rotterdam), Ketua BPPNditunjuk 
Widjojo Nitisastro (Doctor of Philosophy Berkeley, 1961), Wakil KetuaBPN 
ditunjuk Emil Salim (Doctor of Philosophy, Berkeley, 1964 ), DirjenPemasaran 
dan Perdagangan ditunjuk Subroto (Doctor of Philosophy dari Harvard,1964), 
Menteri Keuangan ditunjuk Ali Wardhana (Doctor of Philosophy, Berkeley,1962), 
Ketua Team PMA Moh. Sadli (Master of Science, MIT, 1956), SekjenDepartemen 
Perindustrian ditunjuk Barli Halim (MBA Berkeley, 1959), sedang 
Sudjatmoko,penasehat Adam Malik, diangkat jadi Duta Besar di Washington, posisi 
kunciporos Jakarta-Washington. 


 
Tim ekonomi “Indonesia Baru” ini bekerjadengan arahan langsung dari Tim Studi 
Pembangunan Harvard (Development AdvisoryService, DAS) yang dibiayai Ford 
Foundation. “Kita bekerja di belakang layar,”aku Wakil Direktur DAS Lister 
Gordon. AS segera membackup penguasa baru ini dengansegenap daya sehingga 
stabilitas ekonomi Indonesia yang sengaja dirusak oleh ASpada masa sebelum 1965 
bisa sedikit demi sedikit dipulihkan.


 
Mereka inilah yang berada dibelakang Repelitayang mulai dijalankan pada awal 
1969, dengan mengutamakan penanaman modal asingdan swasembada hasil pertanian. 
Dalam banyak kasus,pejabat birokrasi pusatmengandalkan pejabat militer di 
daerah-daerah untuk mengawasi kelancaran programFord ini.


 
Mereka bekerjasama dengan para tokoh daerahyang terdiri dari para tuan tanah 
dan pejabat administratif. Terbentuklahkelompok baru di daerah-daerah yang 
bekerja untuk memperkaya diri dan keluarganya.Mereka, kelompok pusat dan 
kelompok daerah, bersimbiosis-mutualisme. Merekajuga menindas para petani yang 
bekerja di lapangan.


 
Benih Orde Baru tumbuh di atas genangan darahdan tetesan air mata rakyatnya.. 
Arah pembangunan (Repelita) didesain sesuaidengan keinginan Washington dengan 
mengutamakan eksploitasi segenap kekayaanalam bumi Indonesia yang dikeruk 
habis-habisan dan diangkut ke luar guna memperkayanegeri-negeri Barat. Inti 
pergantian kekuasaan dari Bung Karno ke Suhartoadalah berubahnya prinsip 
pembangunan ekonomi Indonesia, dari kemandirianmenjadi ketergantungan. Mei 
1966, Suharto mengumumkan kita Indonesiamenggandeng IMF. Padahal Bung Karno 
pernah mengusir mereka dengan kalimatnyayang terkenal: “Go to hell with your 
aid!”


 
Jika Anda Suka Like, Lebih Suka Lagi Share. Semoga FaktaSejarah Ini Jadi 
Pencerahan Bagi Kita!

Kirim email ke