Beethoven dan Ahok Siap Berpadu di Washington DC 
https://www.voaindonesia.com/a/beethoven-dan-ahok-siap-berpadu-di-washington-dc-/4723037.html
 02/01/2019
 
 Eva Mazrieva https://www.voaindonesia.com/author/3948.html
 

 
Pianis Indonesia, Ananda Sukarlan tampil dalam sebuah pertunjukan. (Foto: 
courtesy) 

 Ulang tahun komposer dan pianis Jerman terkemuka Ludwig van Beethoven dan 
kebebasan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama akan sama-sama 
dirayakan di Washington DC dengan refleksi mendalam atas berbagai isu genting 
yang masih menyelimuti dunia.  “No More Moonlight Over Jakarta” karya Ananda 
Sukarlan akan menjadi salah satu yang dipentaskan.

 

 WASHINGTON DC (VOA) — 
 Perang, penindasan, ketidakadilan dan intoleransi adalah sebagian persoalan 
besar yang masih terus melilit dunia tahun 2019 ini. Dan pianis Amerika 
keturunan Israel Yael Weiss, yang dipuji banyak kalangan karena interpretasi 
musik yang unik dan pesan kuat yang kerap dihadirkan, berupaya merefleksikan 
persoalan-persoalan yang masih terus membayangi itu lewat musik.
 Terinspirasi dengan 32 sonata karya pianis dan komposer Jerman Ludwig van 
Beethoven dan niat memeriahkan ulang tahunnya yang ke 250 tahun depan dengan 
cara yang berbeda, Yael Weiss mengajak 32 komposer dari berbagai belahan dunia 
untuk menulis satu komposisi yang dikaitkan dengan salah satu karya Beethoven 
dan peristiwa yang ada di negara masing-masing.
 
 Di bawah payung “32 Bright Clouds” hadirlah 32 komposisi, antara lain dari 
Ghana, Suriah, Bhutan, Filipina, Iran, Venezuela, Turki, Yordania dan 
Indonesia. Pianis Indonesia Ananda Sukarlan yang diajak ikut serta dalam proyek 
ini menjelaskan komposisi yang ditulisnya.
 

 

 
"No More Moonlight Over Jakarta” karya Ananda Sukarlan akan menjadi salah satu 
yang dipentaskan. (Courtesy: Julie Putra) 

 “Organisasi itu meminta kepada setiap komponis untuk menghubungkan karya kami 
itu dengan salah satu salah satu karya Beethoven. Beethoven ini khan sudah 
menulis 32 karya sonata, salah satu diantaranya adalah “Moonlight Sonata” jadi 
saya menghubungkan komposisi saya dengan 'Moonlight Sonata'. Permintaan lain 
organisasi itu adalah agar karya kami menceritakan tentang kejadian atau 
hal-hal yang sedang terjadi di negara masing-masing. Waktu itu baru kejadian 
Ahok divonis, yang menurut saya sangat menyedihkan. Saya bahkan menilainya 
sebagai sejarah paling hitam di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini. 
Jadi saya menghubungkan karya saya itu dengan “Moonlight Sonata” dan judul 
karya saya adalah “No More Moonlight Over Jakarta” atau “Tiada Lagi Cahaya 
Purnama di Atas Jakarta.” Kata Cahaya Purnama adalah nama lengkap Koh Ahok,“ 
ungkap Ananda.
 Sejumlah Komposer Angkat Isu Sosial
 

Pianis dan komposer Ananda Sukarlan (Foto: courtesy).
 Selain Ananda Sukarlan, komposisi lain yang akan ditampilkan adalah “The Hunt 
for Peace” karya Malek Jandali asal Suriah, yang mendedikasikan komposisi itu 
bagi anak-anak Suriah dan perjuangan mereka meraih perdamaian. Ada pula “Hope 
for the Shackled” karya George Mensah Essilfie asal Ghana, yang menunjukkan 
keprihatinan akan gangguan psikotik dan terbelenggu, tanpa perhatian medis. 
Juga seorang komposer perempuan asal Iran, Aida Shirazi, yang menghadirkan 
“Apres” tentang persaudaraan, persatuan dan cinta.
 “Kebanyakan dari mereka mengaitkannya bukan dengan tokoh, tetapi dengan 
kejadian. Misalnya ada komponis dari Suriah yang mengaitkan karyanya dengan 
situasi perang saudara disana, juga komponis dari negara-negara lain yang 
jarang terekspos dunia internasional dan kini tampil ke muka. Musik itu khan 
bisa menceritakan sejarah dan hal-hal yang tidak bisa diceritakan dengan 
kata-kata, lebih pada perasaan kita tentang yang akan terjadi,” imbuh Ananda.
 Ulang Tahun Beethoven Dirayakan Setahun Penuh
 

Yael Weiss, pianis dan komposer yang menggagas konser ini. (Courtesy: YouTube 
screenshot)
 Pianis dan komposer Yael Weiss yang menggagas konser ini telah menampilkan “32 
Bright Clouds : Beethoven Conversations Around the World” ini di “Changwon 
International Music Festival” di Korea Selatan pada April lalu dan di Napa 
Valley California pada Agustus. Sambutan hangat publik membuat konser ini akan 
dilanjutkan pada tahun 2019, yaitu di Washington DC pada 24 Januari, di Ontario 
Kanada pada 26 Januari, Ann Arbor Michigan pada 15 Mei, di Bronxville New York 
pada 23-24 April, di St. Petersburg Florida pada 2 Juni dan di Havana Kuba pada 
11 Juni.
 Ananda Sukarlan Berharap Ahok Kembali Berjuang
 Meskipun Ananda Sukarlan melihat karya dan konser ini bukan untuk merayakan, 
tetapi lebih sebagai ekspresi kesedihan dan refleksi apa yang terjadi, ia 
berharap besar pada mantan gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, yang 
pembebasannya bertepatan dengan konser di Washington DC 24 Januari nanti.
 “Karya “No More Moonlight Over Jakarta” itu saya tulis karena kesedihan 
melihat Ahok dizolimi. Jadi ini bukan karya untuk merayakan, tetapi lebih 
sebagai ekspresi kesedihan saya... Saya berharap dengan ‘’dikalahkannya’’ Ahok, 
hal ini tidak sia-sia. Saya inginnya ia menjadi lambang dan pahlawan. Saya 
sangat berharap Ahok akan kembali ke dunia politik, atau sebagaimana yang 
disampaikannya ketika saya menjenguknya, di mana ia bilang “Konfusius 
mengatakan jika kita cinta negara, maka ketika negara memanggil dan 
membutuhkan, maka bukti cinta kita adalah memenuhi panggilan itu.’’ Menurut 
saya sih negara sangat membutuhkan Ahok, juga rakyatnya. Saya berharap selepas 
dari penjara ia akan berjuang lagi. Saya gak tahu apakah di luar politik beliau 
dapat berjuang seperti waktu itu, tapi saya yakin seyakin-yakinnya kalau ia 
tidak akan tinggal diam,” kata Ananda lagi.
 Dinilai Menodai Agama, Ahok Divonis Dua Tahun pada 2017
 

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tiba di pengadilan 
untuk mendengarkan keputusan hakim atas kasus penistaan agama di Jakarta, 
Selasa (9/5).
 ​Basuki Tjahaya Purnama, atau yang akrab dikenal luas sebagai Ahok, divonis 
hukuman dua tahun penjara pada 9 Mei 2017 atas kasus penodaan agama. Sejumlah 
organisasi internasional menyampaikan keprihatinan terhadap vonis itu, antara 
lain Dewan HAM PBB, Amnesty International dan ASEAN Parliamentarians for Human 
Rights. Departemen Luar Negeri Amerika bahkan secara tegas menyatakan “meskipun 
menghormati institusi demokrasi Indonesia, Amerika menentang penggunaan 
undang-undang penistaan agama di mana pun juga karena membahayakan kebebasan 
fundamental, termasuk kebebasan beragama dan mengemukakan pendapat.” Sementara 
delegasi Uni Eropa untuk Indonesia menyerukan kepada pemerintah dan rakyat 
Indonesia untuk tetap mempertahankan tradisi toleransi dan pluralisme yang 
selama ini dikagumi dunia.
 
 Yael Weiss dalam video yang dibuat khusus  
https://www.youtube.com/watch?v=wPLPDUAoeh0untuk memperkenalkan karya Ananda 
Sukarlan “No More Moonlight Over Jakarta” mengatakan “karya itu sangat kaya 
karena tidak saja menghadirkan rhythm populer “Moonlight Sonata” karya 
Beethoven tetapi juga kontemplasi yang dilakukan Ananda atas suatu isu.” 
Ditambahkannya, ia tidak sabar mempertunjukkan karya ini dalam konser-konser 
mendatang. (em)

Kirim email ke