NT$150 per jam (sekitar Rp70.000 per jam).Gaji yg ber-kali lipat dibanding di 
Indonesia, apakah ada kemungkinan para mahasiswa itu sengaja kerja yg panjang? 
Sambil kuliah kelebihan uang bisa dikirim ke Indonesia.
 ---
 Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan WNI di Kantor Dagang dan Ekonomi 
Indonesia (KDEI) di Taipei, Fajar Nuradi, menyatakan bahwa dalam 
penelusurannya, tak ada unsur kerja paksa terhadap para mahasiswa magang.
 
 "Kerja magang itu diatur oleh pihak universitas dan perusahaan. Tidak ada 
masalah tentang pembayaran gaji, mereka (peserta magang) digaji sesuai aturan 
ketenagakerjaan, yaitu NT$150 per jam (sekitar Rp70.000 per jam)," ungkap Fajar 
kepada koresponden BBC, di Taiwan Cindy Sui (3/1).
 ...
 "Saya mewawancara beberapa mahasiswa. Mereka memang disediakan makanan yang 
mungkin mengandung babi, tapi mereka tidak dipaksa untuk memakannya. Mereka 
punya pilihan sayur dan makanan vegetarian," pungkasnya.

 ...
 Seperti apa program kuliah-magang mahasiswa Indonesia yang diduga kerja paksa 
di Taiwan? https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46746332 2 jam lalu

 Bagikan artikel ini dengan Facebook 
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46746332#  Bagikan artikel ini dengan 
Messenger https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46746332#  Bagikan artikel 
ini dengan Twitter https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46746332#  Bagikan 
artikel ini dengan Email 
mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=https%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Findonesia-46746332
  Kirim https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46746332#share-tools




 
 Hak atas fotoEPAImage captionMahasiswa Indonesia di Taiwan diperkirakan 
berjumlah 6.000 orang. Program kuliah magang ratusan mahasiswa Indonesia di 
Taiwan yang diduga ada unsur kerja paksa disebut organisasi untuk pekerja 
migran, Migrant Care memiliki modus perdagangan manusia.
 Praktik kuliah-magang di Taiwan yang melibatkan ratusan mahasiswa Indonesia 
ini telah berjalan selama sekitar satu tahun mulai tahun ajaran 2017/2018.
 Skema bernama Industry-Academia Collaboration digagas Kementerian Pendidikan 
Taiwan dan dapat diikuti siswa SMA dan sederajat di Indonesia dan sejumlah 
negara di Asia Tenggara dan Australia.
 Para mahasiswa sebagian diberangkatkan ke Taiwan melalui para agen dan melalui 
modus seperti inilah yang dicurigai Migrant Care ada unsur perdagangan manusia.
 "Kita melihat ini trafficking ya, tapi dengan modus pengiriman mahasiswa 
magang. Sebenarnya, ini sudah lama sekali modus seperti ini," ungkap Anis 
Hidayah, ketua pusat studi migrasi Migrant Care, kepada wartawan BBC News 
Indonesia, Rivan Dwiastono, Kamis (3/1).
 Ratusan mahasiswa Indonesia diduga 'kerja paksa', visa kuliah magang di Taiwan 
diminta dihentikan https://www.bbc.com/indonesia/dunia-46741997 Apakah polisi 
dan paramedis Taiwan biarkan pekerja migran meninggal? 
https://www.bbc.com/indonesia/majalah-41306804 Magang ke luar negeri, pelajar 
SMK rentan jadi korban perdagangan manusia 
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43630085 Anis mengatakan yakin praktik 
ini perdagangan manusia karena terjadinya overtime alias jam kerja melewati 
peraturan dan gaji yang tidak standar.
Hak atas fotoHSING WU UNIVERSITY INDONESIA ASSOCIATIONImage captionTerdapat 
sekitar 300 pelajar Indonesia di Universitas Hsing Wu. "Ketiga, unsur 
eksploitasinya masuk, kemudian yang keempat, bahwa ada penipuan di banyak 
proses. Yang kelima, tentu keuntungan besar oleh para pemainnya," paparnya.
 Menurut Anis, kasus serupa pernah terjadi beberapa tahun yang lalu di Malaysia 
dengan tawaran edukatif dijadikan kedok perdagangan manusia.
 "Itu dimanfaatkan, karena ini dilihat reguler, potensinya ada, jaringan 
trafficking itu kan melihat supply dan demand juga," tutur Anis.
Hak atas fotoBBC NEWS INDONESIAImage captionKepala Pusat Studi Migrasi Migrant 
Care, Anis Hidayah, menilai program kuliah-magang yang dibuat Kementerian 
Pendidikan Taiwan sarat praktik perdagangan manusia. Kuliah dengan biaya 
sendiri sambil magang Sementara itu Sutarnis, ketua Perhimpunan Pelajar 
Indonesia (PPI) Taiwan mengatakan mereka sudah lama mengamati program 
kuliah-magang tersebut setelah mendapat sejumlah keluhan dari peserta program.
 "Jadi ini adalah program mandiri, program ini tanpa beasiswa, walaupun ada 1-2 
universitas yang menyediakan beasiswa terbatas," tutur Sutarsis,
 "Mereka harus membiayai biayanya sendiri dengan bekerja atau magang. Jadi ini 
adalah kuliah S1 (sarjana) di mana skema pembiayaannya adalah mandiri, dengan 
cara siswa itu bekerja di industri."
 "Yang kami tahu bahwa detil mengenai biaya hidup, biaya kuliah, kemungkinan 
mereka akan bekerja, berapa jam (kerja), setiap jamnya itu penghasilannya 
berapa, itu, di awal mereka datang tidak banyak yang paham, bahkan mayoritas 
tidak paham," jelas Sutarsis terkait hasil temuannya sejauh ini.
 Aspek finansial banyak dikeluhkan peserta program, yang sebagian besarnya 
berasal dari kalangan kurang mampu.
 Selain ketidaksiapan finansial, menurutnya, keluhan lain yang diungkapkan 
antara lain ketidaksesuaian industri perusahaan tempat magang dengan program 
studi yang diambil, kelebihan jam kerja, serta skema gaji yang diberikan 
perusahaan.
 "Karena mereka mayoritas melalui agen (perantara), dan agen ini kami lihat 
banyak yang tidak kredibel, artinya banyak janji-janji dari mereka itu kadang 
kala tidak sesuai," ungkap Sutarsis yang tengah menempuh studi doktoral di 
National Central University, Taiwan.
 Sayangnya, sebagian besar mahasiswa tak membuat perjanjian hitam di atas putih 
dengan agen-agen pendidikan yang menjadi perantara.
 "Tidak ada kesepahaman yang tertulis atau perjanjian, item-item ketentuan apa 
saja yang detil mengenai pelaksanaan program magang-kuliah dan kerja ini," 
katanya. "Sehingga ya itu tadi, mudah untuk 'dimainkan' untuk kepentingan yang 
menguntungkan pihak tertentu."
 Mahasiswa Indonesia di Hsing Wu membantah kerja paksa Sebelumnya, seperti 
dilaporkan China Times, anggota parlemen Taiwan dari Partai Kuomintang, Ko 
Chih-en, menyebutkan sejumlah universitas mempekerjakan secara paksa ratusan 
mahasiswa Indonesia ke pabrik-pabrik dalam program magang, termasuk mahasiswa 
Universitas Hsing Wu, universitas swasta yang terletak di Distrik Linkou, New 
Taipei.
Hak atas fotoPPI TAIWANImage captionPara pengurus PPI Taiwan Sementara itu, 
Kepala Bidang Perlindungan WNI di Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di 
Taipei, Fajar Nuradi, menyatakan bahwa dalam penelusurannya, tak ada unsur 
kerja paksa terhadap para mahasiswa magang.
 "Kerja magang itu diatur oleh pihak universitas dan perusahaan. Tidak ada 
masalah tentang pembayaran gaji, mereka (peserta magang) digaji sesuai aturan 
ketenagakerjaan, yaitu NT$150 per jam (sekitar Rp70.000 per jam)," ungkap Fajar 
kepada koresponden BBC, di Taiwan Cindy Sui (3/1).
 Ia menegaskan bahwa para peserta tak dipaksa bekerja dan disiksa. Ia juga 
membantah bahwa mereka diberi makanan mengandung babi, padahal sebagian 
besarnya adalah Muslim.
 "Saya mewawancara beberapa mahasiswa. Mereka memang disediakan makanan yang 
mungkin mengandung babi, tapi mereka tidak dipaksa untuk memakannya. Mereka 
punya pilihan sayur dan makanan vegetarian," pungkasnya.
 Saat orang Madiun yang lama tinggal di Malang bertemu dengan 'orang Solo' 
https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-42822228 Ketika orang-orang Inggris 
'pulang kampung' ke Solo: 'Sangat emosional' 
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-45183601 Orang-orang Inggris yang cinta 
gamelan ke Indonesia, 'perjalanan yang memperkaya hidup' 
https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-40815825 Lebih dari 200 mahasiswa 
Indonesia yang mengikuti kuliah magang di Universitas Hsing Wu menandatangani 
petisi Rabu (02/01) dan menyanggah terjadinya kerja paksa.
 "Pihak universitas tidak memaksa kami kerja dan kami tak pernah diberikan 
makanan mengandung babi," kata para mahasiwa dalam petisinya.
 Sementara itu Universitas Hsing Wu juga mengeluarkan pernyataan resmi 
memprotes tuduhan itu dengan mengatakan isu ini merusak reputasi 
perusahaan-perusahaan yang ikut dalam skema magang untuk memberikan pengalaman 
kerja kepada para mahasiswa.
 "Para mahasiswa tak pernah dieksploitasi," kata universitas dalam satu 
pernyataan.
 Langkah berikutnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy 
memastikan bahwa kerja sama yang ada bukan dalam tatanan antar pemerintah 
karena kebijakan Indonesia yang mengakui satu Cina.
 "Kalau SMK itu kita hanya magang di beberapa negara, dan itu resmi, ke Jerman, 
Belanda, Korea, Jepang, Cina. Tetapi Taiwan enggak, karena kan kita terikat 
dengan kebijakan One China Policy," ujar Muhajir kepada BBC, Kamis (3/1).
Hak atas fotoKOMPAS.COMImage captionMenteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir 
Effendy One China Policy adalah kebijakan yang diterapkan pemerintah Cina, yang 
tidak mengakui Taiwan sebagai negara yang merdeka dan berdaulat dari Cina. 
Sejauh ini, Indonesia hanya menjalin kerjasama ekonomi dengan Taiwan.
 "Ya itu berarti kan nggak resmi," lanjut Muhajir saat ditanya terkait adanya 
pemerintah daerah yang menjalin kerjasama dengan kampus-kampus di Taiwan.
 Menurut Anis, langkah pemerintah yang meminta agar perwakilan Taiwan 
menghentikan pemberian visa untuk program kuliah magang tidaklah cukup. 
Menurutnya, harus ada investigasi kolaboratif untuk mengusut modus perdagangan 
manusia.
 "Jadi siapa sesungguhnya broker, jaringan trafficking di balik itu, gitu. Di 
sini, di Taiwan, juga jaringan-jaringan internasional yang lain, juga 
keterlibatan universitas, karena selama ini mereka berlindung di balik program 
pendidikan," kata Anis.
Hak atas fotoHSING WU UNIVERSITY INDONESIA ASSOCIATIONImage captionPara 
mahasiswa dari Universitas Hsing Wu yang tergabung dalam Asosiasi Mahasiswa 
Indonesia. Sementara itu, saat ini PPI dan KDEI Taiwan masih menelusuri kasus 
tersebut.
 "Terutama KDEI sedang melakukan pendalaman dengan pihak Minister of Education 
dan universitas, bahkan kami di PPI sedang mendetilkan untuk (data) korban 
langsung," ungkap Sutarsis.
 Xi Jinping: Taiwan 'harus dan akan' bergabung, dan 'Cina punya hak gunakan 
kekuatan' https://www.bbc.com/indonesia/majalah-43194545 "Saya diperkosa lima 
kali seminggu": cerita seorang pekerja Indonesia di Taiwan 
https://www.bbc.com/indonesia/majalah-38551691 Lebih jauh dari itu, ia 
berpandangan bahwa diperlukan pejabat sekelas atase di Taiwan, untuk mengatur 
masalah pendidikan. Hal tersebut mengingat jumlah mahasiswa Indonesia yang 
belajar di Taiwan cukup besar, yakni sekitar 6.000 orang.
 "Kami berharap memang ada perwakilan Indonesia di Taiwan ini, terutama dari 
bidang pendidikan, dari Diknas maupun dari Ristekdikti, semacam selevel atase 
pendidikan, yang nantinya membantu pengelolaan kerjasama ini agar lebih bagus," 
pungkasnya.

Kirim email ke