Disaat Jendral Suharto mengambil kekuasaan Negara R.I. dengan menteror sebanyak 
Tiga Juta warganegara R.I.(Marshal Green - Duta Besar USA ketika itu di Jakarta 
dan John Stockwel petugas CIA di Indonesia ambilbagian sangat aktif dalam 
proses Perebutan kekuasaan Negara dari Presiden Soekarno,) di Washington dengan 
sangat gembira di Komentari oleh para Anggota Kongres USA "Kita (USA) 
kehilangan Vietnam, tetapi Kita (USA) memperoleh Indonesia" => inilah 
jawabannya. "Siapa Dalangnya". ABRI/TNI dan seluruh Partai dan ORMAS Islam 
(Koalisi Terorisme ABRI/TNI) adalah pelaksana.
--------------------------------------------
Pada Sel, 1/1/19, ChanCT [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]> menulis:

 Judul: [GELORA45] Mulai Terkuak Siapa Dalang Pembunuhan G30S
 Kepada: "GELORA_In" <[email protected]>
 Tanggal: Selasa, 1 Januari, 2019, 3:24 AM
 
 
  
 
 
 
   
 
 
     
       
       
       
   
   
     
https://m.facebook.com/photo.php?fbid=754014638324848&id=100011489570980&set=gm.1028051934062802&source=57&refid=18&__tn__=EH-R
 
     
     
 
     Mulai Terkuak Siapa
 Dalang Pembunuhan G30S
       
         
 
           
         Citra
               Dewi
         
 
           
         *Sekarang
             mayoritas sedikit demi sedikit sudah mulai
 terkuak siapa
             dalang pembunuhan G 30 S/PKI  1 Oktober 1965
 tsb*.
         *Kasihan
             PKI yang dijadikan kambing hitam sebagai tumbal
 penguasa
             orba*.
         
 
           
         *"MENEPUK
 AIR DIDULANG,
           TERPERCIK MUKA SENDIRI".* 
         
 
           
         Berkacalah
             dengan fakta Sejarah, jangan terus menerus
 sembarangan
             Ngomong ! 
         
 
           
         *MENGAPA
             BUNG KARNO DILENGSERKAN DENGAN CARA FITNAH YANG
 SANGAT KEJI
             , DAN MENGAPA JOKOWI JUGA DIPERLAKUKAN SAMA
 DENGAN
             FITNAH-FITNAH YANG SANGAT KEJI JUGA
 ?*
         
 
           
         Ini
             Jawabannya:
         
 
           
         BUNG KARNO
             dilengserkan dengan fitnah yang sangat keji
 untuk
             mengkorupsi/merampok kekayaan alam
 Indonesia,sedangkan
             JOKOWI diserang dengan fitnah-fitnah keji juga
 harus
             dilengserkan dengan segala cara untuk
 mengamankan hasil
             korupsi/rampokannya selama ini, sebab JOKOWI
 adalah orang
             yang bersih dan bukan bagian dari kejahatan masa
 lalu dan
             masa sekarang.
         
 
           
         Ini
             Penjelasan Fakta Sejarahnya:
         
 
           
         Soeharto
             yang telah sukses mengkudeta Bung Karno,
 mengirim satu tim
             ekonomi yang terdiri dari Prof.Dr Soemitro
             Djojohadikusumo(Ayah Prabowo), Prof. Dr Sadli
 dan sejumlah
             profesor ekonomi lulusan Berkeley University AS.
 Karena itu
             tim ekonomi ini juga disebut sebagai ‘Berkeley
 Mafia’ ke
             Swiss. Mereka hendak menggelar pertemuan dengan
 sejumlah
             konglomerat penguasa dunia, yang dipimpin David
 Rockefeller.
         
 
           
         Di Swiss,
             tim ekonomi suruhan Soeharto ini menggadaikan
 seluruh
             kekayaan alam negeri ini ke hadapan David
 Rockefeler cs.
             Dengan seenak perutnya, mereka
 mengkavling-kavling Bumi
             Nusantara dan memberikannya kepada
 pengusaha-pengusaha asing
             tersebut. 
         
 
           
         Gunung
 Emas
             di Papua diserahkan kepada Freeport, Ladang
 Minyak dan Gas
             di Riau kepada Chevron, Ladang Minyak dan Gas di
 Aceh kepada
             Exxon, dan sebagainya masih banyak lagi yang
 lainnya.
             Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA)
 tahun 1967 pun
             dibuat dan dirancang di Swiss, untuk menuruti
 apapun
             kehendak para pengusaha asing
 tersebut. 
         
 
           
         Sampai
             detik ini, perampokan atas seluruh kekayaan alam
 negeri ini
             masih saja terus berjalan dan dikerjakan dengan
 sangat
             leluasa oleh berbagai Korporasi Penguasa Dunia.
 Silahkan
             telusuri semua dengan fakta-fakta tak
 terbantahkan
             sebagaimana yang telah dilakukan George
 Aditjondro bahwa
             negeri ini tengah meluncur ke jurang kehancuran,
 dimana
             Soeharto dan Sumitro Djojohadikusumo adalah
 dalang dari
             semua ini. 
         
 
           
         Sudah
             banyak sekali buku-buku ilmiah yang ditulis para
 cendekiawan
             baik dari dalam maupun luar negeri tentang
 betapa bobroknya
             kinerja pemerintahan di saat rezim Soeharto
 berkuasa selama
             lebih kurang 32 tahun itu, dengan jutaan fakta
 dan dokumen
             yang tak terbantahkan.
         
 
           
         Sebab itu,
             tulisan ini memaparkan fakta apa adanya tentang
 Soeharto.
             Agar setidaknya, mereka yang selama ini
 menganggap Soeharto
             pahlawan, harus bisa bermuhasabah dan melakukan
 renungan
             yang lebih dalam, apakah sudah benarkah tindakan
 tersebut. 
         
 
           
         Fakta
             sejarah harus ditegakkan, siapa sebenarnya
 Soeharto sebelum
             dan sesudah menjadi presiden?. Soeharto lahir di
 Kemusuk,
             Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921, dari
 keluarga petani,
             karirnya diawali sebagai karyawan di sebuah bank
 pedesaan,
             walau tidak lama.
         
 
           
         Dia sempat
             juga menjadi buruh dan kemudian menempuh karir
 militer
             pertama kali sebagai prajurit KNIL yang berada
 di bawah
             kesatuan tentara penjajah Belanda. Saat Jepang
 masuk di
             tahun 1942, Soeharto bergabung dengan PETA.
 Ketika Soekarno
             memproklamirkan kemerdekaan, Soeharto bergabung
 dengan TKR.
         
 
           
         Salah satu
             ‘prestasi’ kemiliteran Soeharto yang sering
             digembar-gemborkannya semasa dia berkuasa adalah
 Serangan
             Umum 1 Maret 1949 atas Yogyakarta. Bahkan
 ‘prestasi’ ini
             sengaja difilmkan dengan judul ‘Janur
 Kuning’ (1979) yang
             memperlihatkan jika serangan umum itu
 diprakarsai dan
             dipimpin langsung oleh Soeharto. 
         
 
           
         Padahal,
             sesungguhnya serangan umum itu diprakarsai
 sendiri Sri
             Sultan Hamengkubuwono IX.  Sri Sultan
 Hamengkubuwono IX lah
             yang memimpin serangan umum melawan Belanda itu.
 Sri Sultan
             Hamengkubuwono IX adalah seorang nasionalis yang
 memiliki
             perhatian terhadap nasib rakyatnya, karena itu
 ia tidak mau
             untuk di jajah. (lihat biografi Sri Sultan
 Hamengkubuwono
             IX).
         
 
           
         Kemudian
             pada 1959, Soeharto yang kala itu menjabat
 sebagai Pangdam
             Diponegoro dipecat oleh A.H.Nasution dengan
 tidak hormat
             karena Soeharto telah menggunakan institusi
 militernya untuk
             mengumpulkan uang dari perusahaan-perusahaan di
 Jawa Tengah.
             Soeharto kala itu juga ketahuan ikut kegiatan
 ilegal berupa
             penyelundupan gula dan kapuk bersama Bob Hasan
 dan Liem Sioe
             Liong.
         
 
           
         Untuk
             memperlancar penyelundupan ini, didirikan
 perusahaan
             perkapalan yang dikendalikan Bob Hasan. Konon,
 dalam
             menjalankan bisnis haramnya ini, Bob Hasan
 menggunakan
             kapal-kapal ‘Indonesian Overseas’ milik C.M.
 Chow. 
         
 
           
         Siapa C.M.
             Chow ini?.Dia adalah agen ganda. Pada 1950 dia
 menjadi agen
             rahasia militer Jepang di Shanghai. Tapi dia pun
 kepanjangan
             tangan Mao Tse Tung dalam merekrut Cina
 perantauan dari
             orang Jepang ke dalam jaringan komunis
 Asia.
         
 
           
         Pada 1943,
             Chow ditugasi Jepang ke Jakarta. Ketika Jepang
 hengkang dari
             Indonesia, Chow tetap di Jakarta dan membuka
 usaha
             perkapalan pertama di negeri ini. Chow bukan
 saja membina
             WNI Cina di Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun
 juga di
             Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan
 Papua. 
         
 
           
         Salah satu
             binaannya adalah ayah Eddy Tansil dan Hendra
 Rahardja yang
             bermarga Tan. Tan yang ini merupakan sleeping
 agent Mao di
             Indonesia Timur. Pada pertengahan 1980-an,
 Hendra Rahardja
             dan Liem Sioe Liong mendirikan sejumlah pabrik
 di Fujian,
             Cina.
         
 
           
         A.H.Nasution
             kala itu sudah sangat marah sehingga ingin
 memecat Soeharto
             dari AD dan menyeretnya ke Mahkamah Militer,
 namun atas
             desakan Gatot Subroto, Soeharto dibebaskan dan
 akhirnya
             dikirim ke SSKAD (Sekolah Staf dan Komando
 Angkatan Darat). 
         
 
           
         Selain
             A.H.Nasution, A. Yani juga marah atas ulah
 Soeharto dan
             dikemudian hari mencoret nama Soeharto dari
 daftar peserta
             pelatihan di SSKAD, yang mana hal ini membuat
 Soeharto
             dendam sekali terhadap A. Yani. Terlebih Yani
 adalah anak
             kesayangan Bung Karno.
         
 
           
         Kolonel
             Pranoto Rekso Samoedro diangkat sebagai Pangdam
 Diponegoro
             menggantikan Soeharto. Pranoto, sang perwira
 'santri',
             menarik kembali semua fasilitas milik Kodam
 Diponegoro yang
             dipinjamkan Soeharto kepada para pengusaha Cina
 untuk
             kepentingan pribadinya. 
         
 
           
         Di SSKAD,
             Soeharto dicalonkan untuk menjadi Ketua Senat,
 namun
             D.I.Panjaitan menolak keras dengan menyatakan
 dirinya tidak
             percaya dengan Soeharto yang dinilainya tidak
 bisa dipercaya
             karena mempunyai banyak catatan kotor dalam
 karir
             militernya, antara lain penyelundupan bersama
 para pengusaha
             Cina dengan dalih untuk membangun kesatuannya,
 namun yang
             terjadi adalah untuk memperkaya
 dirinya.
         
 
           
         Atas semua
             kejadian itu Soeharto sangat sakit hati dan
 dendam.
             Bertambah lagi dendam Soeharto, selain kepada
 A.H.Nasution,
             Ahmad Yani dan D.I. Panjaitan. Aneh tapi nyata,
 dalam
             peristiwa G30S/PKI/1965, musuh-musuh Soeharto,
 yaitu
             A.H.Nasution, Ahmad Yani, dan D.I.Panjaitan,
 menjadi target
             pembunuhan, sedangkan Soeharto sendiri yang
 merupakan orang
             kedua di AD tidak masuk dalam daftar kematian
 peristiwa G30S
             1965.
         
 
           
         Dan ketika
             A. Yani terbunuh, Bung Karno mengangkat Pranoto
 Rekso
             Samudro sebagai Kepala Staf AD, namun Pranoto
 dijegal oleh
             Soeharto sehingga Soeharto yang mengambil-alih
 kepemimpinan
             AD, kemudian untuk menghindari pertumpahan darah
 dan perang
             saudara karena Siliwangi di Jawa Barat (Ibrahim
 Adjie) dan
             KKO (Marinir) di Jawa Timur, dimana telah
 bersumpah selalu
             berada di belakang Soekarno dan jika Soekarno
 memerintahkan
             untuk ‘menyapu’ bersih semua kekuatan
 Soeharto di Jakarta,
             maka mereka menyatakan siap untuk
 berperang. 
         
 
           
         Namun
 untuk
             menghindari perang saudara serta jatuhnya korban
 lebih
             banyak lagi, Bung Karno tidak memerintahkan,
 jadilah
             Soeharto sebagai KSAD.
         
 
           
         Pasca
             Perang Dunia II, AS melihat Uni Soviet sebagai
 satu-satunya
             pihak yang bisa menghalangi hegemoninya atas
 dunia.
             Diluncurkanlah Marshall Plan sebagai upaya
 membendung
             pengaruh komunisme yang kian lama kian meluas,
 dari Eropa
             Timur ke arah Asia Tenggara, sebuah wilayah yang
 sangat
             strategis dari sisi perdagangan dunia dan
 geopolitik, juga
             sangat kaya raya dengan sumber daya alam dan
 juga
             manusianya. 
         
 
           
         AS sangat
             cemas jika wilayah tersebut dikuasai Uni Soviet.
 Dari semua
             negeri di wilayah itu, Indonesia lah negara yang
 paling
             strategis dan paling kaya raya. AS sangat paham
 akan hal
             ini, sebab itu di wilayah Indonesia merupakan
 satu-satunya
             wilayah yang disebut dalam Marshall
 Plan.
         
 
           
         Namun
 untuk
             menundukkan Indonesia, AS jelas kesulitan karena
 negeri ini
             tengah dipimpin oleh seorang yang sukar diatur,
 cerdas, dan
             dicintai rakyatnya, dialah Bung Karno. Tiada
 jalan lain,
             orang ini harus ditumbangkan, dengan berbagai
 cara. 
         
 
           
         Sejarah
             telah mencatat dengan baik bagaimana badan agen
 rahasia AS
             yaitu CIA ikut terlibat langsung berbagai aksi
 pemberontakan
             bersenjata di Indonesia, diantaranya PRRI,
 PERMESTA dan
             pemberontakan yang lainnya. CIA juga membina
 kader-kadernya
             di bidang pendidikan (yang nantinya melahirkan
 Mafia
             Berkeley), mendekati dan menunggangi partai
 politik demi
             kepentingannya, membina sel-sel binaannya di
 ketentaraan
             (local army friend) dan
 sebagainya. 
         
 
           
         Setelah
             berkali-kali gagal menjatuhkan Bung Karno dan
 bahkan sampai
             hendak membunuhnya, akhirnya pada paruh akhir
 1965, Bung
             Karno berhasil disingkirkan CIA lewat Soeharto
 dengan
             Gerakan 30 September/PKI 1965 yang terjadi di
 tubuh Angkatan
             Bersenjata Republik Indonesia, yang mana dalang
 sebenarnya
             adalah Soeharto dengan bantuan
 CIA. 
         
 
           
         Setelah
             peristiwa 1 Oktober 1965, secara de facto,
 Soeharto melalui
             kudeta merangkaknya mulai mengendalikan negeri
 ini. Pada
             pekan ketiga Oktober 1965, Soeharto menugaskan
 para kaki
             tangannya membantai mungkin jumlahnya mencapai
 jutaan
             orang. 
         
 
           
         Mereka
 yang
             dibunuh adalah orang-orang yang dituduh sebagai
 kader atau
             simpatisan komunis (PKI), tanpa melewati proses
 pengadilan
             yang fair. Media internasional bungkam terhadap
 semua
             kejahatan kemanusiaan yang luar biasa itu,
 karena memang AS
             sangat diuntungkan.
         
 
           
         Jatuhnya
             Bung Karno dan naiknya Soeharto dirayakan dengan
 penuh suka
             cita oleh Washington. Bahkan Presiden Nixon
 menyebutnya
             sebagai “Hadiah terbesar dari Asia
 Tenggara”. Satu negeri
             dengan wilayah yang sangat strategis, kaya raya
 dengan
             sumber daya alam, segenap bahan tambang, dan
 sebagainya ini
             telah berhasil dikuasai dan dalam waktu singkat
 akan
             dijadikan ‘sapi perahan’ bagi kejayaan
 imperialisme Barat.
         
 
           
         Benar
 saja,
             November 1967, Soeharto menugaskan satu tim
 ekonom pro-AS
             menemui para 'bos' Pengusaha
 Internasional di Swiss. Dalam
             bulan November 1967 menyusul tertangkapnya
 ‘hadiah terbesar’
             (istilah pemerintah AS untuk Indonesia setelah
 Bung Karno
             jatuh dan digantikan oleh Soeharto), maka hasil
 tangkapannya
             itu dibagi-bagi. 
         
 
           
         The Time
             Life Corporation mensponsori konferensi istimewa
 di Jenewa,
             Swiss, yang dalam waktu tiga hari membahas
 strategi
             pengambilalihan Indonesia.
         
 
           
         Para
             pesertanya terdiri dari seluruh kapitalis yang
 paling
             berpengaruh di dunia, orang-orang seperti David
 Rockefeller,
             termasuk Raksasa Korporasi Barat yang diwakili
             perusahaan-perusahaan Minyak dan Bank, Freeport,
 Chevron,
             Exxon, General Motors, Imperial Chemical
 Industries, British
             Leyland, British American Tobacco, American
 Express,
             Siemens, Goodyear, The International Paper
 Corporation, US
             Steel, ICI, Leman Brothers, Asian Development
 Bank, Chase
             Manhattan, dan sebagainya.”
         
 
           
         Di
 seberang
             meja perundingan, duduk orang-orang Soeharto
 yang oleh
             Rockefeller dan pengusaha-pengusaha
 international lainnya
             disebut sebagai ‘ekonom-ekonom Indonesia yang
 korup’.
         
 
           
         “Di
 Jenewa,
             Tim Indonesia terkenal dengan sebutan ‘The
 Berkeley Mafia’
             karena beberapa di antaranya pernah menikmati
 beasiswa dari
             pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di
 Universitas
             California di Berkeley. Mereka datang sebagai
 peminta-minta
             yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh
 para
             majikannya yang hadir. 
         
 
           
         Menyodorkan
             butir-butir perundingan yang dijual dari negara
 dan
             bangsanya. Tim Ekonomi Indonesia menawarkan
 tenaga buruh
             yang banyak dan murah, cadangan dan sumber daya
 alam yang
             melimpah dan pasar yang besar.” 
         
 
           
         Ekonomi
             Indonesia telah dibagi sektor demi sektor.”
 Prof. Jeffrey
             Winters menyebutnya, “Ini dilakukan dengan
 cara yang amat
             spektakuler.”
         
 
           
         “Mereka
             membaginya dalam lima seksi: Sektor pertambangan
 di satu
             kamar, Jasa-Jasa di kamar lain, Industri ringan
 di kamar
             satunya, Perbankan dan Keuangan di kamar yang
 lain lagi,
             yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan
 sebuah
             delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan
 yang dapat
             diterima oleh mereka dan para investor
 lainnya. 
         
 
           
         Kita
             saksikan para pemimpin korporasi besar ini
 berkeliling dari
             satu meja ke meja lainnya, mengatakan, ‘Ini
 yang kami
             inginkan, itu yang kami inginkan, ini, ini, dan
 ini.’ Dan
             mereka pada dasarnya merancang infrastruktur
 hukum untuk
             berinvestasi. Tentunya produk hukum yang sangat
             menguntungkan mereka. 
         
 
           
         Belum
             pernah terdengar situasi seperti itu sebelumnya,
 dimana
             pemodal global duduk dengan wakil dari negara
 yang
             diasumsikan sebagai negara berdaulat dan
 merancang
             persyaratan buat masuknya investasi mereka ke
 dalam
             negaranya sendiri.
         
 
           
         Freeport
             mendapatkan Gunung Emas di Papua (Henry
 Kissinger, pengusaha
             Yahudi AS, duduk dalam Dewan Komisaris). Exxon
 mendapatkan
             Minyak dan Gas di Aceh, Chevron mendapatkan
 Minyak dan Gas
             di Riau, sebuah konsorsium Eropa mendapatkan
 Nikel di Papua
             Barat. Sang raksasa Alcoa mendapatkan bagian
 terbesar dari
             bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan
 Amerika, Jepang,
             dan Perancis mendapatkan hutan-hutan tropis di
 Kalimantan,
             Sumatera, Sulawesi dan Papua.
         
 
           
         Demikian
             juga sebuah undang-undang tentang penanaman
 modal asing yang
             dirancang oleh Sumitro Djojohadikusumo (Ayah
 Prabowo)dan
             disetujui langsung oleh Soeharto, membuat
 strategi jitu
             perampokan negara yang direstui pemerintahan
 Soeharto. 
         
 
           
         Oleh
             Soeharto, rakyat dijejali dengan propaganda
 pembangunan,
             Pancasila, dan trickle down effect terhadap
 peningkatan
             kesejahteraannya, tapi fakta yang terjadi di
 lapangan
             sesungguhnya adalah proses pemiskinan bangsa
 secara
             sistematis yang dilakukan oleh rezim
 Soeharto.
         
 
           
         Pada 12
             Maret 1967, Soeharto dilantik sebagai Presiden
 RI ke-2. Tiga
             bulan kemudian, dia membentuk Tim Ahli Ekonomi
 Kepresidenan
             yang terdiri dari Prof. Dr. Soemitro
 Djojohadikusumo, Prof
             Dr. Widjojo Nitisastro, Prof. Dr. Ali Wardhana,
 Prof Dr.
             Moh. Sadli, Prof Dr. Subroto, Dr. Emil Salim,
 Drs. Frans
             Seda, dan Drs. Radius Prawiro. Seluruhnya pro
 kapitalisme.
         
 
           
         Nopember
             1967, Soeharto mengirim tim ekonomi ini ke Swiss
 menemui
             para CEO Pengusaha  Internasional. Lahirlah UU
 PMA 1967 yang
             sangat menguntungkan imperialis Barat. Prinsip
 kemandirian
             ekonomi Indonesia yang dijaga mati-matian oleh
 Bung Karno,
             oleh Soeharto ini dihabisi dengan menjadikan
 Indonesia
             sebagai negara yang sangat tergantung pada barat
 sebagai
             kekuatan kapitalis dunia.
         Bahkan
             dijaman Soeharto ini,Soemitro Djojohadikusumo
 itu
             digaung2kan sebagai Begawan Ekonomi untuk
 mengelabui rakyat.
         
 
           
         David
             Ransom dalam artikelnya yang populer berjudul
 “Mafia
             Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia,
 Kuda Troya Baru
             dari Universitas-Universitas AS Masuk ke
 Indonesia”
             (Ramparts, 1970), memaparkan jika AS menggunakan
 dua
             strategi untuk menaklukkan Indonesia, tentu saja
 dimulai
             dengan menyingkirkan Bung Karno. 
         
 
           
         Pertama,
             membangun satu kelompok intelektual yang
 berpikiran Barat.
             Dan Kedua, membangun satu sel dalam tubuh
 ketentaraan yang
             selalu siap bekerjasama dengan AS.
         
 
           
         Yang
             pertama didalangi oleh berbagai yayasan beasiswa
 seperti
             Ford Foundation dan Rockeffeler Foundation, juga
 berbagai
             universitas ternama AS seperti Berkeley,
 Harvard, Cornell,
             dan juga MIT. 
         
 
           
         David
             Ransom menulis, dua tokoh Partai Sosialis
 Indonesia, sebuah
             partai kecil yang berhaluan sosialis-kanan,
 yakni Sumitro
             Djojohadikusumo dan Soedjatmoko menjadi ujung
 tombak
             pembentukan jaringan intelektuil pro-Barat di
 Indonesia,
             mereka dibina oleh AS sejak akhir tahun
 1949-an.
         
 
           
         Sedang
             tugas kedua dilimpahkan kepada CIA. Salah satu
 agennya
             bernama Guy Pauker yang bergabung dengan RAND
 Corporation
             mendekati sejumlah perwira tinggi lewat salah
 seorang yang
             dikatakan berhasil direkrut CIA, yakni Deputi
 Dan Seskoad
             Kol. Soewarto. Dan Intel Achmad Soekendro juga
 dikenal dekat
             dengan CIA. 
         
 
           
         Lewat
 orang
             inilah, komplotan AS, mendekati militer.
 Soeharto adalah
             murid dari Soewarto di Seskoad. Di Seskoad
 inilah para
             intelektuil binaan AS diberi kesempatan mengajar
 para
             perwira. Terbentuklah jalinan kerjasama antara
 sipil-militer
             yang pro-AS. 
         
 
           
         Paska
             tragedi 1965 dan pembantaian  rakyat Indonesia,
 yang dituduh
             komunis, dan  kelompok ini mulai membangun
 ‘Indonesia Baru’.
             Para doktor ekonomi yang mendapat binaan dari
 Ford kembali
             ke Indonesia dan segera bergabung dengan
 kelompok ini, di
             antaranya Emil Salim.
         
 
           
         Soeharto
             kemudian membentuk Trium-Virat (pemerintahan
 bersama tiga
             kaki) dengan Adam Malik dan Sri Sultan
 Hamengkubuwono IX.
             Ransom menulis, “Pada 12 April 1967, Sultan
 mengumumkan satu
             pernyataan politik yang amat penting  yakni
 garis besar 
             program ekonomi rezim baru itu yang intinya
 menegaskan
             mereka akan membawa Indonesia kembali ke
 pangkuan
             Imperialis.  Kebijakan  tersebut  ditulis 
 oleh  Widjojo 
             dan Sadli.”
         
 
           
         Ransom
             melanjutkan, “Dalam merinci lebih lanjut
 program ekonomi
             yang baru saja digariskan Sultan, para teknokrat
 dibimbing
             oleh AS. Kemudian saat Widjojo kebingungan dalam
 menyusun 
             program stabilisasi ekonomi, AID mendatangkan
 David Cole,
             ekonom Harvard yang baru saja membuat regulasi
 perbankan di
             Korea Selatan untuk membantu
 Widjojo. 
         
 
           
         Sadli juga
             sama, meski sudah doktor, tapi masih memerlukan
 “bimbingan”.
             Menurut seorang pegawai Kedubes AS, “Sadli
 benar-benar tidak
             tahu bagaimana seharusnya membuat suatu regulasi
 Penanaman
             Modal Asing. Dia harus belajar banyak dari
 Kedutaan Besar
             Amerika Serikat.
         
 
           
         Ini
             merupakan tahap awal dari program Rancangan
 Pembangunan Lima
             Tahunan (Repelita) Soeharto, yang disusun oleh
 para ekonom
             Indonesia didikan AS, yang masih secara langsung
 dibimbing
             oleh para ekonom AS sendiri dengan kerjasama
 dari berbagai
             yayasan yang ada.
         
 
           
         Juni 1968,
             Soeharto secara diam-diam dan mendadak
 mengadakan reuni
             dengan orang-orang binaan Ford, yang dikenal
 sebagai “Mafia
             Berkeley” (untuk merancangkan susunan Kabinet
 Pembangunan
             dan badan-badan penting tingkat tinggi
 lainnya). 
         
 
           
         Sebagai
             Menteri Perdagangan ditunjuk Dekan FEUI Prof.Dr.
 Soemitro
             Djojohadikusumo (Doctor of Philosophy dari
 Rotterdam), Ketua
             BPPN ditunjuk Widjojo Nitisastro (Doctor of
 Philosophy
             Berkeley, 1961), Wakil  Ketua BPN ditunjuk Emil
 Salim
             (Doctor of Philosophy, Berkeley, 1964 ), Dirjen
 Pemasaran
             dan Perdagangan ditunjuk Subroto (Doctor of
 Philosophy dari
             Harvard, 1964), Menteri Keuangan ditunjuk Ali
 Wardhana
             (Doctor of Philosophy, Berkeley, 1962), Ketua
 Team PMA Moh.
             Sadli (Master of Science, MIT, 1956), Sekjen
 Departemen 
             Perindustrian ditunjuk Barli Halim (MBA
 Berkeley, 1959),
             sedang Sudjatmoko, penasehat Adam Malik,
 diangkat jadi Duta
             Besar di Washington, posisi kunci poros
 Jakarta-Washington.
         
 
           
         Tim
 ekonomi
             “Indonesia Baru” ini bekerja dengan arahan
 langsung dari Tim
             Studi Pembangunan Harvard (Development Advisory
 Service,
             DAS) yang dibiayai Ford Foundation. “Kami
 bekerja di
             belakang layar,” ujar Wakil Direktur DAS
 Lister Gordon. 
         
 
           
         AS segera
             membackup penguasa baru ini dengan segenap daya
 sehingga
             stabilitas ekonomi Indonesia yang sengaja
 dirusak oleh AS
             pada masa sebelum 1965 bisa sedikit demi sedikit
 dipulihkan.
             Mereka inilah yang berada dibelakang REPELITA
 yang mulai
             dijalankan pada awal 1969, dengan mengutamakan
 penanaman
             modal asing dan swasembada hasil
 pertanian. 
         
 
           
         Dalam
             banyak kasus, pejabat birokrasi pusat
 mengandalkan pejabat
             militer di daerah-daerah untuk mengawasi
 kelancaran program
             Ford ini. Mereka bekerjasama dengan para tokoh
 daerah yang
             terdiri dari para tuan tanah dan pejabat
 administratif.
             Terbentuklah kelompok baru di daerah-daerah yang
 bekerja
             untuk memperkaya diri dan keluarganya. Mereka,
 kelompok
             pusat dan kelompok daerah,
 bersimbiosis-mutualisme. Mereka
             juga menindas para petani yang bekerja di
 lapangan.
         Itulah
             jaman keemasan
 KKN(Korupsi,Kolusi,Nepotisme).
         
 
           
         Benih Orde
             Baru tumbuh di atas genangan darah dan tetesan
 air mata
             rakyatnya. Arah pembangunan (Repelita) didesain
 sesuai
             dengan keinginan Washington dengan mengutamakan
 eksploitasi
             segenap kekayaan alam bumi Indonesia yang
 dikeruk
             habis-habisan dan diangkut ke luar negeri guna
 memperkaya
             negeri-negeri Barat.
         
 
           
         Inti
             pergantian kekuasaan dari Bung Karno ke Soeharto
 adalah
             berubahnya prinsip pembangunan ekonomi Indonesia
 dari
             kemandirian menjadi ketergantungan. Mei 1966,
 Soeharto
             mengumumkan kita Indonesia menggandeng IMF.
 Padahal Bung
             Karno pernah mengusir mereka dengan kalimatnya
 yang
             terkenal: “Go to hell with your
 aid!”
         
 
           
         *Semoga
             Fakta Sejarah ini jadi Pencerahan bagi generasi
 kita!*
         *JANGAN
             SALAH PILIH*
       
     
   
  不含病毒。www.avg.com              
  
 
 
 
     
      
 
     
     
 
 
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965 --
   #yiv4614908965ygrp-mkp {
 border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
 0;padding:0 10px;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-mkp hr {
 border:1px solid #d8d8d8;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-mkp #yiv4614908965hd {
 color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
 0;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-mkp #yiv4614908965ads {
 margin-bottom:10px;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-mkp .yiv4614908965ad {
 padding:0 0;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-mkp .yiv4614908965ad p {
 margin:0;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-mkp .yiv4614908965ad a {
 color:#0000ff;text-decoration:none;}
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-sponsor
 #yiv4614908965ygrp-lc {
 font-family:Arial;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-sponsor
 #yiv4614908965ygrp-lc #yiv4614908965hd {
 margin:10px
 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-sponsor
 #yiv4614908965ygrp-lc .yiv4614908965ad {
 margin-bottom:10px;padding:0 0;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965actions {
 font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965activity {
 
background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965activity span {
 font-weight:700;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965activity span:first-child {
 text-transform:uppercase;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965activity span a {
 color:#5085b6;text-decoration:none;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965activity span span {
 color:#ff7900;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965activity span
 .yiv4614908965underline {
 text-decoration:underline;}
 
 #yiv4614908965 .yiv4614908965attach {
 clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
 0;width:400px;}
 
 #yiv4614908965 .yiv4614908965attach div a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv4614908965 .yiv4614908965attach img {
 border:none;padding-right:5px;}
 
 #yiv4614908965 .yiv4614908965attach label {
 display:block;margin-bottom:5px;}
 
 #yiv4614908965 .yiv4614908965attach label a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv4614908965 blockquote {
 margin:0 0 0 4px;}
 
 #yiv4614908965 .yiv4614908965bold {
 font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}
 
 #yiv4614908965 .yiv4614908965bold a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv4614908965 dd.yiv4614908965last p a {
 font-family:Verdana;font-weight:700;}
 
 #yiv4614908965 dd.yiv4614908965last p span {
 margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}
 
 #yiv4614908965 dd.yiv4614908965last p
 span.yiv4614908965yshortcuts {
 margin-right:0;}
 
 #yiv4614908965 div.yiv4614908965attach-table div div a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv4614908965 div.yiv4614908965attach-table {
 width:400px;}
 
 #yiv4614908965 div.yiv4614908965file-title a, #yiv4614908965
 div.yiv4614908965file-title a:active, #yiv4614908965
 div.yiv4614908965file-title a:hover, #yiv4614908965
 div.yiv4614908965file-title a:visited {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv4614908965 div.yiv4614908965photo-title a,
 #yiv4614908965 div.yiv4614908965photo-title a:active,
 #yiv4614908965 div.yiv4614908965photo-title a:hover,
 #yiv4614908965 div.yiv4614908965photo-title a:visited {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv4614908965 div#yiv4614908965ygrp-mlmsg
 #yiv4614908965ygrp-msg p a span.yiv4614908965yshortcuts {
 font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}
 
 #yiv4614908965 .yiv4614908965green {
 color:#628c2a;}
 
 #yiv4614908965 .yiv4614908965MsoNormal {
 margin:0 0 0 0;}
 
 #yiv4614908965 o {
 font-size:0;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965photos div {
 float:left;width:72px;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965photos div div {
 border:1px solid
 #666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965photos div label {
 
color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965reco-category {
 font-size:77%;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965reco-desc {
 font-size:77%;}
 
 #yiv4614908965 .yiv4614908965replbq {
 margin:4px;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-actbar div a:first-child {
 margin-right:2px;padding-right:5px;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-mlmsg {
 font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean,
 sans-serif;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-mlmsg table {
 font-size:inherit;font:100%;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-mlmsg select,
 #yiv4614908965 input, #yiv4614908965 textarea {
 font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-mlmsg pre, #yiv4614908965
 code {
 font:115% monospace;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-mlmsg * {
 line-height:1.22em;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-mlmsg #yiv4614908965logo {
 padding-bottom:10px;}
 
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-msg p a {
 font-family:Verdana;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-msg
 p#yiv4614908965attach-count span {
 color:#1E66AE;font-weight:700;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-reco
 #yiv4614908965reco-head {
 color:#ff7900;font-weight:700;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-reco {
 margin-bottom:20px;padding:0px;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-sponsor #yiv4614908965ov
 li a {
 font-size:130%;text-decoration:none;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-sponsor #yiv4614908965ov
 li {
 font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-sponsor #yiv4614908965ov
 ul {
 margin:0;padding:0 0 0 8px;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-text {
 font-family:Georgia;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-text p {
 margin:0 0 1em 0;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-text tt {
 font-size:120%;}
 
 #yiv4614908965 #yiv4614908965ygrp-vital ul li:last-child {
 border-right:none !important;
 }
 #yiv4614908965 
 

Kirim email ke