https://news.detik.com/kolom/d-4370892/resiliensi-dunia-usaha-pascabencana?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.92588637.1304285782.1546636040-611019898.1546636040
Jumat 04 Januari 2019, 14:08 WIB
Kolom
Resiliensi Dunia Usaha Pascabencana
Kun Wahyu Wardana - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4370892/resiliensi-dunia-usaha-pascabencana?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.92588637.1304285782.1546636040-611019898.1546636040#>
Kun Wahyu Wardana
<https://news.detik.com/kolom/d-4370892/resiliensi-dunia-usaha-pascabencana?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.92588637.1304285782.1546636040-611019898.1546636040#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4370892/resiliensi-dunia-usaha-pascabencana?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.92588637.1304285782.1546636040-611019898.1546636040#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4370892/resiliensi-dunia-usaha-pascabencana?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.92588637.1304285782.1546636040-611019898.1546636040#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4370892/resiliensi-dunia-usaha-pascabencana?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.92588637.1304285782.1546636040-611019898.1546636040#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4370892/resiliensi-dunia-usaha-pascabencana?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.92588637.1304285782.1546636040-611019898.1546636040#>
Resiliensi Dunia Usaha Pascabencana Evakuasi korban dan pembersihan
puing kerusakan pasca-tsunami Selat Sunda (Foto: Istimewa/AGP)
*Jakarta* - Belum hilang kesedihan pascabencana melanda Palu, Sigi dan
Donggala di Sulawesi Tengah, bencana kembali terjadi. Tsunami Selat
Sunda menyapu sebagian Lampung dan Banten yang mengakibatkan 426 orang
meninggal dunia dan 1.296 bangunan rusak.
Peristiwa beruntun ini menjadi pengingat kembali bahwa posisi Indonesia
berada di lingkaran rawan bencana (/Ring of Fire/). Berada di antara dua
benua, dua samudera, dan puluhan gunung berapi aktif adalah kondisi
objektif yang mensahihkan kerawanan posisi Indonesia terhadap bencana
alam. Area yang secara frekuensi sangat mungkin terjadi dengan tingkat
/severity/ yang masif. Oleh karena itu, manajemen bencana menjadi mutlak
dimiliki bangsa ini. Untuk memitigasi dampak yang ditimbulkan bencana
baik kerugian material maupun imaterial terutama korban jiwa.
Dunia usaha pun tak luput terpapar. Ketika bencana terjadi, seketika itu
pula dunia usaha menjadi lumpuh dibuatnya. Padahal peran dunia usaha
merupakan elemen yang tidak bisa diabaikan dari inisiatif pemulihan
ekonomi pascabencana. Peran tersebut dapat dilakukan jika perusahaan
mampu memulihkan dirinya lebih awal agar segera beroperasi. Dari proses
pemulihan ini dapat dinilai tingkat resiliensi (kemampuan untuk
beradaptasi dan tetap kuat dalam situasi sulit) perusahaan dari dampak
gangguan atau bencana. Sejatinya, ini merupakan /shareholder value/
dalam menjaga kepercayaan (/trust/) dari para pemangku kepentingan suatu
organisasi.
Jika demikian halnya, seberapa antisipatif dunia usaha merespons
terjadinya darurat bencana yang meliputi mitigasi risiko bencana,
penanganan tanggap darurat, pemulihan, dan rekonstruksi bagi
operasionalisasi bisnisnya?
University of Minnesota pernah melakukan penelitian bahwa 90% perusahaan
yang mengalami kerusakan pada/critical system/, setelah 10 hari
mengalami kebangkrutan. Studi lain memaparkan, 90% dari organisasi yang
mengalami katastropik kehilangan data dan peralatan, tanpa perencanaan
bisnis berkelanjutan, dalam rentang waktu 24 bulan setelah bencana tidak
dapat lagi melanjutkan bisnisnya. Dari studi tersebut menunjukkan bahwa
memiliki perencanaan mutlak dimiliki oleh setiap organisasi.
Apalagi disrupsi dalam dunia bisnis merupakan bagian yang inheren, baik
sebagai dampak dari bencana alam (/natural disaster/) misalnya gempa,
banjir, atau erupsi maupun bencana akibat ulah manusia (/man made
disaster/) seperti sabotase atau aksi terorisme. Oleh karena itu,
penerapan /Business Continuity Management/ (BCM) tidak hanya sebagai
pemenuhan kepatuhan (/compliance/), tetapi akan jauh lebih bernilai jika
dimaknai juga sebagai kebutuhan yang mutlak adanya untuk memastikan
resiliensi dari organisasi.
Menurut Business Continuity Institute (BCI), secara bisnis kemanfaatan
dari BCM antara lain; pertama, BCM dapat membedakan resiliensi dari
/service-delivery/ atau /product-delivery/ sebuah perusahaan kepada
pelanggan potensialnya. Kedua, kesaksamaan dalam melakukan /Business
Impact Analyses/ (BIA) maupun /Business Continuity Monitoring/ akan
mampu menyingkap ketidakefisienan dalam proses bisnis. Ketiga,
mempertahankan pelanggan setelah terjadinya bencana tidak semahal
dibandingkan mendapatkan atau mencari pelanggan baru. Keempat,
keberhasilan dalam mengatasi dampak bencana dengan manajemen krisis akan
meningkatkan moral atau kepercayaan dari pegawai terhadap perusahaan dan
meminimalisasi /turnover/ pegawai pascabencana.
*Implementasi*
Ketika disadari bahwa BCM merupakan sebuah kemutlakan dalam menjaga
kelangsungan bisnis, maka menjadi penting untuk mengetahui /key success
factors/ dari penerapan BCM. Faktor penentu suksesnya implementasi BMC
antara lain; pertama, perencanaan. BCM sejatinya merupakan manajemen
dengan strategi /post-event/ atau pascabencana. Strategi ini yang
menjadi pembeda dengan manajemen risiko yang bersifat /pre-event/.
Namun demikian, keandalan dalam perencanaan tetap merupakan unsur
terpenting. Sehingga tidak dimaknai sebagai tindakan reaktif semata.
Oleh karena itu, jabaran dari BCM adalah /Business Continuity Plan/
(BCP), yaitu sebuah proses yang mencakup di dalamnya asesmen, penentuan
tujuan, identifikasi, //BIA, strategi tanggap berkelanjutan, termasuk di
dalamnya /monitoring/, pengujian, dan pengembangan yang berkelanjutan
dari semua tahapan tersebut. Prinsip dasarnya tetap sama, /failing/ /to
plan is planning to fail/.
Kedua, /tone at the top/. Memiliki pedoman BCM dan infrastruktur
pendukungnya barulah merupakan tahapan /hard side/ yang bersifat
elementer. Internalisasi BCM dalam proses bisnis akan dapat berfungsi
dengan optimal tatkala perusahaan telah melengkapinya dengan /soft
side/, yaitu budaya. Faktor inilah yang menentukan dan membentuk BCM
tidak hanya menjadi sebuah kumpulan dokumen dan perangkat lunak. Tetapi,
membangun kesadaran di semua lini mulai dari pucuk pimpinan hingga unit
pendukung terkecil perusahaan akan pentingnya menjalankan BCM.
/Tone at the top/ merupakan langkah strategis peran kepemimpinan dari
/top management/. Dengan kata lain, perubahan budaya dari budaya abai
bencana menjadi antisipatif dan responsif terhadap bencana dengan BCM
hanya dapat berjalan efektif jika/top management/ menunjukkan komitmen,
memberikan arah yang jelas (/clear direction/), dan kepemimpinan dengan
keteladanan (/lead by example/).
Menakar resiliensi suatu perusahaan secara sederhana dapat terlihat dari
proses pemulihan yang dilakukannya pascabencana. Implementasi BCM yang
terinteralisasi dalam perusahaan menjadi budaya tak perlu ditawar lagi.
Pada capaian ini perusahaan akan mampu mempercepat proses pemulihan dan
mengurangi dampak bencana terhadap perusahaan.
Menapaki Tahun Baru 2019, tentunya kita berharap yang terbaik. Namun,
perlu mempersiapkan kemungkinan terburuk yang bakal terjadi. /Hope for
the best, prepare for the worst/.
*Kun Wahyu Wardana* /Kepala Divisi Manajemen Risiko PT Jasa Raharja
(Persero)/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*