Refleksi : Tes baca Alquran mengapa harus di lakukan oleh para calon Presiden 
NKRI ? Kalau ini yang terjadi, maka persoalannya adalah: Bbagaimana jika jalon 
Presiden NKRI itu bukan orang yang memeluk agama Islam?. Padahal dalam UUD 45 
tidak mengharuskan bahwa Presiden NKRI harus orang yang beragama Islam. Dan 
juga Pancasila 1  Juni 1945 tidak melarang pencalonan seseorang warga Indonesia 
 yang tidak memeluk agama Islam untuk mencalonkan diri sebagai Presiden NKRI.

Kesimpulannya adalah betul apa yang dikatakan oleh Sandiaga Uno bahwa Tes Baca 
Alquran adalah Permainan Politik Identitas; dalam kontekas ini saya berpendapat 
bahwa,  Politik Identitas dalam konteks ini penuh bermuatan Jakarta charter, 
yang hendak menambahkan 7 kata-kata  yang mengusulkan adanya amandemen yang 
diajukan agar supaya sesudah sila pertama Pancasila, yaitu sesudah Ketuhanan 
Yang Maha Esa, ditambahkan 7 kata-kata. Dan 7 kata-kata itu jalah berbunyi : 
Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya; dalam 
konteks Sila pertama Pancasia  1945, yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Tujuh kata-kata ini timbul dari apa yang dinamakan Piagam Jakarta, atau 
Jakarta-Charter, suatu Dokumen-historis, yang dibuat pada tanggal 22 Juni 1945, 
ditanda tangani oleh 9 tokoh pemimpin Bangsa kita yaitu:  Soekarno, Moh. Hatta, 
A.A Maramis, Abikusno, A.K. Muzakir, H.A. Salim, Mr.A, Subardjo, K. Wahid 
Hasjim dan Moh.Yamin.

Kemudian pada saat-saat menjulangnya Api-Revolusi kita, yaitu pada tanggal 18 
Agustus 1945, perumusan ini dihilangkan dari U.U.D, 45, yang dengan resmi dan 
sah disususn pada hari itu juga; Yang dihapuskan adalah syarat, bahwa Presiden 
Republik Indonesia harus beragama Islam.

Sebab apa sampai dihilangkan ?

Menurut notulen autentiek, yaitu catan-catan resmi dari Sidang Pembuat U.U.D. 
pada tanggal 18 Agustus 1945 itu, maka  alasan menghilangkan 7 kata-kata 
perumusan Jakarta-charter tersebut yalah untuk memjaga keutuhan- seluruh 
–banagsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Menurut notulen autentiek, yaitu catan-catan resmi dari Sidang Pembuat U.U.D. 
pada tanggal 18 Agustus 1945 itu, maka  alasan menghilangkan 7 kata-kata 
perumusan Jakarta-charter tersebut yalah untuk memjaga keutuhan- seluruh 
–banagsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Bung Hatta sendiri, yang pada waktu itu mengetuai Sidang Panitia persiapan 
Kemerdekaan, dapa tanggal 18 Agustus 1945 itu a-l. berkata:

„Dengan membuang 7 kata-kata ini  syarat bahwa Presiden yalah orang Indonesia 
–asli, yang harus beragana Islam, maka inilah merupakan perobahan yang maha 
penting, yang menyatukan seluruh Bangsa. Syarat-syarat itu menyinggung 
perasaan, sadangkan membuang ini maka seluruh hukum U.U.D. dapat diterima oleh 
daerah Indonesia yang tidak beragama Islam, umpamanya yang pada waktu itu 
diperintah oleh Kaigum.  Persetujuan dalam hal ini juga sudah didapat antara 
berbagai golongan, sehingga memudahkan pekrejaan kita pada waktu sekarang ini.

Demikianlah apa yang dapat kita baca dari notulen-aithentiek dari Sidang 
panitia Persiapan Kemerdekaan tanggal 18 Agustus 1945 itu, yang di ucapkan oleh 
ketuanya, yairu Bung Hatta. Dikutip dari  TUJU BAHAN 2 POKOK INDOKTRINASI 
(TUBAPI)

 

Kesimpulan akhir : Secara hakekat permainan Politik Identitas itu adalah 
bermuatan suatu kehendak seperti yang tertuang dalam Jakarta Charter, dalam 
bentuk 7 kata-kata yang sudah dihaps dalam UUD 45.

 

Roeslan.

 

 

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Samstag, 5. Januar 2019 04:58
An: [email protected]
Betreff: [GELORA45] Tanggapi soal Tes Baca Alquran, Sandiaga Uno: Ini adalah 
Permainan Politik Identitas

 

  

 

 <https://youtu.be/p068bVrdzt4> https://youtu.be/p068bVrdzt4


Tanggapi soal Tes Baca Alquran, Sandiaga Uno: Ini adalah Permainan Politik 
Identitas 
<http://video.tribunnews.com/view/70569/tanggapi-soal-tes-baca-alquran-sandiaga-uno-ini-adalah-permainan-politik-identitas>
 


Selasa, 1 Januari 2019 16:35 WIB

 

 

TRIBUN-VIDEO.COM - Calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno, 
mengatakan, tes baca Al-Quran untuk pasangan calon presiden dan wakil presiden 
dinilai sebagai permainan politik identitas.

Ia kemudian menyarankan lebih baik berdiskusi tentang ekonomi dibandingkan 
polemik soal keislaman di antara capres-cawapres.

"Ini adalah permainan politik identitas. Lebih baik isu ekonomi saja, luangkan 
waktu untuk diskusi bagaimana negeri yang kaya raya ini dengan sumber daya 
manusia melimpah bisa lebih diprioritaskan," kata Sandiaga di media center 
Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya, Jakarta, Senin (31/12/2018).

Sandiaga menjelaskan, dirinya bersama Prabowo ingin fokus saja pada 
pemberdayaan masyarakat, khususnya untuk mengangkat ekonomi rakyat lewat 
peluang usaha yang terbuka.

"Peluang usaha kemudian mendapatkan pekerjaan, nah itu yang jadi fokus kita.. 
Jadi saya sikapi ini dengan tentunya ya dalam kontestasi politik," ucapnya 
kemudian.

Sebelumnya, Dewan  <http://www.tribunnews.com/tag/ikatan-dai-aceh/> Ikatan Dai 
Aceh mengusulkan supaya digelar tes baca Al-Quran untuk paslon pilpres 2019.

Menurut Ketua Dewan Pimpinan Ikatan Dai Aceh, Tgk Marsyuddin Ishak, tes itu 
bertujuan untuk mengakhiri polemik keislaman di antara capres-cawapres.

Namun, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ilham Saputra mengatakan, tes 
baca Al-Quran untuk pasangan calon presiden dan wakil presiden tidak menjadi 
syarat pencalonan pilpres.

Hal itu juga tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Ilham menambahkan, suatu organisasi bisa saja menggelar suatu tes untuk 
pasangan calon.

Namun, paslon tidak wajib menghadiri tes tersebut. (Kompas.com/Christoforus 
Ristianto)



Kirim email ke