https://tirto.id/thaib-adamy-tokoh-pki-dari-tanah-rencong-yang-terlupakan-ddgx
Thaib Adamy, Tokoh PKI dari Tanah
Rencong yang Terlupakan
Thaib Adamy, Tokoh PKI dari Tanah Recong. FOTO/Atjeh Mendakwa terbitan
Komite PKI Aceh, 1964
<https://tirto.id/thaib-adamy-tokoh-pki-dari-tanah-rencong-yang-terlupakan-ddgx>
Thaib Adamy, Tokoh PKI dari Tanah Recong. FOTO/Atjeh
Mendakwa terbitan Komite PKI Aceh, 1964
Oleh: Nanda Winar Sagita - 5 Januari 2019
Dibaca Normal 5 menit
/Thaib Adamy menolak DI/TII dan setia pada Sukarno. Tewas dalam
pembantaian 1965, tak lama setelah dibebaskan dari penjara./
tirto.id <https://tirto.id/> - Kamis, 12 September 1963, sekitar 10.000
manusia memadati Kantor Kodim 0102, alias ruang persidangan Pengadilan
Negeri Sigli. Mereka berasal dari berbagai penjuru Aceh, khususnya
Samalanga, untuk menyaksikan langsung pembacaan pledoi Thaib Adamy di
hadapan Hakim Chudari.
Setelah memaparkan isi pleidoi selama lima setengah jam tanpa diizinkan
meminum seteguk air pun, Thaib Adamy divonis penjara selama dua tahun
dan diwajibkan membayar denda.
Empat bulan kemudian, tepatnya akhir Januari 1964, naskah pidato
pembelaan itu diterbitkan sebagai buku setebal 127 halaman oleh Komite
PKI Aceh dengan judul /Atjeh Mendakwa//. /Inilah satu-satunya karya utuh
Thaib Adamy yang tersisa dan masih dapat kita baca/./
Pengadilan Thaib bermula setelah diadili setelah Wakil Sekretaris
Pertama Comite PKI Aceh ini menyampaikan sebuah pidato dalam Rapat Umum
PKI tanggal 3 Maret 1963 di Gedung Bioskop Purnama, Sigli.
Pidato tersebut membuatnya dituduh telah menyiarkan berita bohong dan
menghasut rakyat sehingga dapat menimbulkan keonaran. Atas perintah dari
Kolonel M. Jasin, selaku Panglima Kodam I Iskandar Muda, Thaib ditangkap
pada 29 Maret 1963.
Baca juga: Pembunuhan Massal 1965: Bermula dari Aceh, Diulangi selama
DOM
<https://tirto.id/pembunuhan-massal-1965-bermula-dari-aceh-diulangi-selama-dom-dczH>
Menurut Sekretaris Pertama Komite PKI Aceh M. Samidikin, pidato Thaib
memaparkan apa yang perlu dilakukan untuk menanggulangi
kesulitan-kesulitan ekonomi, menuding perbuatan kaum kapitalis birokrat
yang menggarong kekayaan negara, serta mengutuk kaum kontra-revolusi.
Oleh sebab itu, pada 5 April 1963, Komite PKI Aceh menyebarkan pamflet
berjudul “Madju Terus dengan Semangat Vivere peri coloso Mengganjang
Segala Tantangan” sebagai bentuk perlawanan dan kritik atas kejanggalan
kasus penangkapan Thaib.
Pamflet tersebut berhasil menyulut simpati dari berbagai pihak. Selama
kurun waktu enam kali persidangan, ada banyak warga yang mengirim wesel
dan membuat petisi untuk menuntut pembebasan Thaib Adamy.
Dalam Kongres Nasional Ke-VII PKI Pusat di Jakarta pada 26 Desember
1963, kasus itu menjadi pokok bahasan istimewa (hlm. 4). Sayangnya,
setelah tragedi 1965, popularitas Thaib beserta peristiwa yang
menyertainya lenyap dari ingatan masyarakat Aceh, seolah-olah tidak
pernah tercatat dalam sejarah.
Fatwa Haram Komunis
Saking minimnya sumber tertulis tentang kehidupan pribadi Thaib Adamy,
tempat dan tanggal kelahirannya tak diketahui secara pasti. Hal ini
berkaitan erat dengan pemberangusan segala atribut yang berkaitan dengan
PKI pasca-tragedi 1965.
Di Aceh sendiri, pelarangan dan gerakan anti-komunis muncul lebih awal
ketimbang daerah-daerah lain di Indonesia. Setelah PKI dinyatakan
sebagai dalang Gestapu, salah satu tokoh PNI Aceh Haji Syamaun memimpin
demonstrasi besar-besaran pada 7 Oktober 1965 di Banda Aceh untuk
menuntut pembubaran PKI. Usman Adamy, kakak kandung Thaib Adamy, turut
serta dalam aksi tersebut. Dengan tuntutan yang sama, aksi ini
mendahului aksi Tritura pada 12 Januari 1966.
Pada 17-18 Desember 1965, sekitar 56 ulama seluruh Aceh di bawah
pimpinan Teungku Abdullah Ujongrimba menggelar muktamar untuk
mendiskusikan pandangan mereka atas peristiwa 1 Oktober. Mereka
mengumumkan fatwa yang mengharamkan ideologi komunis di seluruh Aceh dan
menyatakan bahwa semua anggota PKI yang ikut serta dalam Gestapu adalah
“kafir harbi” (kafir yang memusuhi Islam) dan wajib dibasmi. Keputusan
ini mendahului Tap MPRS No. 25 Tahun 1966 yang menjadi landasan hukum
pelarangan PKI di Indonesia.
Setelah dikeluarkannya fatwa dan Tap MPRS, Kantor Komite PKI Aceh di
Neusu dibakar massa. Dokumen-dokumen penting pun musnah. Rumah Thaib
Adamy yang tidak jauh dari area stasiun kereta api Banda Aceh (sekarang
beralih menjadi Mall Barata) juga diserbu dan diobrak-abrik. Akibatnya,
catatan tentang kehidupan pribadi Thaib Adamy tidak bisa ditemukan lagi.
Saat ini, satu-satunya sumber tertulis yang cukup banyak menceritakan
Thaib Adamy adalah disertasi Jess Melvin, /The Army and the Indonesian
Genocide//://Mechanics of Mass Murder, /yang diterbitkan sebagai buku
setebal 320 halaman oleh Routledge pada Juli 2018 silam. Sejak 2008,
Melvin telah melakukan penelitian dengan mewawancarai pelaku dan
penyintas pembantaian massal, salah satunya Ramli, anak ketiga Thaib Adamy.
Baca juga: G30S/Militer: Bagaimana Soeharto Mendalangi Pembantaian 1965?
<https://tirto.id/g30s-militer-bagaimana-soeharto-mendalangi-pembantaian-1965-cSAq>
Menurut pengakuan Ramli, Thaib tewas meninggalkan seorang istri yang
sedang hamil dan dua orang anak, yakni Ramli (waktu itu berusia tujuh
tahun) dan salah seorang adiknya yang tidak disebut nama dan usianya.
Sementara itu Yusni (17 tahun) dan Yasrun (15 tahun), dua anak
tertuanya, turut menjadi korban pembantaian massal (hlm. 163).
Karier Seni dan Politik
Di tengah kesibukannya sebagai seorang politisi, Thaib Adamy sempat
menulis puisi. Dalam antologi setebal 966 halaman berjudul /Gugur Bunga:
Puisi Lekra Harian Rakjat (1950-1965)/ (2008) yang dihimpun Muhidin M.
Dahlan dan Rhoma Dwi Aria Yuliantri/,/ setidaknya ada empat puisi Thaib
Adamy yang pernah dipublikasikan, yaitu /Pasti Datang, Tak Padam, Burang
Tudjah, /dan /Tujuh Setan Desa /(hlm. 848).
Lazimnya karya seniman Lekra, puisi Thaib Adamy cenderung menonjolkan
gagasan ketimbang estetika. Dia berusaha mengobarkan semangat revolusi
melalui perjuangan kelas kaum tani dan rakyat jelata lainnya, atau
menyindir ketamakan kaum borjuis dan aristokrat. Uniknya, salah satu
puisi ditulis dalam bahasa Aceh//sebagai penegasan bahasa daerah sebagai
bahasa rakyat. Dalam sajak enam bait berjudul “Burang Tudjah”, Thaib
berusaha menggambarkan keragaman budaya Aceh dengan diksi yang lugas.
Dikutip dari Melvin, nama Thaib Adamy melesat di kancah politik setelah
diangkat menjadi satu-satunya wakil PKI di DPRD Aceh pada 11 Februari
1957 dan terpilih kembali mewakili PKI bersama Nyak Ismail sebagai
anggota DPR-GR Aceh pada 9 September 1961.
Saat itu, dia menggunakan pengaruhnya meyakinkan pemerintah daerah agar
tidak memberikan rehabilitasi dan abolisi bagi para pejabat daerah Aceh
yang pernah terlibat DI/TII. Bahkan pada 1962, dia mengritik Gubernur
Ali Hasjimy yang ingin menerapkan syariat Islam di Aceh atas permintaan
dari Kolonel M. Jasin.
Pada dasarnya, penerapan syariat Islam adalah salah satu syarat yang
diajukan oleh pemimpin DI/TII Aceh Daud Beureueh sebelum menyatakan diri
untuk menyerah. Karena itulah, Thaib Adamy menuduh Gubernur Ali Hasjimy
dan Kolonel M. Jasin mengkhianati prinsip demokrasi. Melalui enam
artikel dalam surat kabar /Harian Rakjat /sepanjang 1962-1963/, /Thaib
Adamy mengangkat isu tersebut menjadi skandal nasional, sehingga
berhasil menarik simpati massa. Di sisi lain, PKI Aceh mendapatkan musuh
baru lantaran Kolonel M. Jasin, lawan politik terberat Thaib Adamy,
diangkat sebagai Panglima Kodam I Iskandar Muda menggantikan Nyak Adam
Kamil (hlm. 78).
Melalui berbagai manuver politik, Kolonel M. Jasin akhirnya berhasil
menjebloskan Thaib Adamy ke penjara dengan tuduhan menyiarkan berita
bohong dan menghasut rakyat sehingga berpotensi menimbulkan keonaran.
Raib Karena Tragedi 1965
/Atjeh Mendakwa /adalah warisan intelektual tunggal yang ditinggalkan
oleh Thaib Adamy. Melalui buku itu, pembaca dapat menangkap
gagasan-gagasan politik Thaib secara utuh dan padu.
Di bagian awal /Atjeh Mendakwa//, /Thaib menolak semua tuntutan yang
dituduhkan kepadanya. Namun, ia juga bilang akan setia menerima apa pun
keputusan hakim demi membela kehormatan komunis dan revolusi. Sebagai
seorang komunis sejati, tulis Thaib, ia tidak bisa menggunakan kata-kata
yang samar dan berbelit-belit untuk menyatakan perasaan dan pikiran yang
benar terhadap perbuatan yang salah. Ia mengatakan harus menggunakan
kata-kata yang tegas dan keras terhadap tindakan-tindakan yang memusuhi
revolusi dan merugikan rakyat (hlm. 7). Ia juga menyerang golongan yang
disebutnya “Manipol munafik” dan menyindir Kolonel M. Jasin secara
langsung dan terbuka.
Bagi Thaib, krisis ekonomi Indonesia berakar dari wataknya yang masih
kolonialis dan diperparah lagi oleh kesewenang-wenangan kaum kapitalis
birokrat. Dasar-dasar untuk mengembangkan ekonomi negara agar independen
sebenarnya sudah ada. Sayangnya, menurut Thaib, kaum kapitalis birokrat
menghambat pelaksanaan program-program berorientasi penyediaan sandang
dan pangan dan upaya-upaya mengubah ekonomi yang masih bersifat
kolonialis tersebut (hlm. 46).
Garis besar pemikiran Thaib Adamy memang tidak bisa dilepaskan dari
tradisi intelektual kiri Dunia Ketiga yang percaya bahwa keterbelakangan
di bekas negeri-negeri jajahan bersumber dari struktur masyarakat yang
setengah kapitalis dan setengah terjajah. Di Indonesia, tradisi ini
diwakili oleh PKI dan sayap kiri PNI. Tak heran, lebih dari 50 kali
/Atjeh Mendakwa/ mengutip pernyataan Bung Karno/.
/
Baca juga: Giroth Wuntu: Eks-KNIL dan Kristen Saleh di Tubuh PKI
<https://tirto.id/giroth-wuntu-eks-knil-dan-kristen-saleh-di-tubuh-pki-dbKN>
Infografik Aceh 1965
“[S]aya ditangkap dan ditahan karena mengganyang kaum kapitalis birokrat
dan kontra-revolusi... tetapi anehnya, yang disita [oleh militer] bukan
hanya catatan yang berhubungan dengan rapat umum tersebut, tetapi mereka
juga merampas buku ilmu pengetahuan seperti brosur tentang Marxisme
karya Kawan D.N. Aidit... brosur filsafat tentang ‘Dasar dan Bangunan
Atas’, surat kabar /Harian Rakjat/, buletin dari kantor Berita Hsin Hwa,
majalah yang bersifat umum, instruksi Presiden dan instruksi Menteri
tentang pengumpulan padi secara gotong royong, putusan DPRD-GR Dista dan
Front Nasional dan banyak catatan-catatan lain milik Partai, yang sama
sekali tidak ada hubungannya dengan pidato saya di Sigli,” tulis Thaib
dalam pledoinya (hlm. 10).
Ketika peristiwa 1 Oktober terjadi, Thaib baru saja menyelesaikan masa
tahanan. Sebelum 7 Oktober 1965, istri dan kedua anak terakhirnya telah
disembunyikan oleh kerabat jauh mereka di Pidie. Thaib dan Yasrun
sendiri melarikan diri ke Takengon. Adapun Yusni tinggal seorang diri di
rumah sampai sekelompok orang datang menculiknya. Sebelum dibunuh, ia
disekap di dalam sebuah Markas Polisi Militer di daerah Keudah.
Thaib Adamy dan Yasrun meninggalkan Banda Aceh pada 6 Oktober 1965.
Tepat di tengah perjalanan, bus yang mereka tumpangi dicegat. Setelah
dikeluarkan dari bus, mereka berdua diangkut menggunakan truk ke arah
Lhoknga, sebuah situs pembunuhan yang dikendalikan oleh militer.
Konon, sebelum dibunuh, Thaib diberikan kesempatan oleh salah seorang
algojo yang merupakan sepupu jauhnya untuk melarikan diri ke hutan.
Namun, dia menolak dibunuh dengan cara dipenggal, sebagaimana korban
lainnya. Ia ingin ditembak mati. Setelah itu, si algojo mengambil arloji
emas milik Thaib Adamy dan memberikannya pada Ramli, anak ketiga Thaib
(hlm. 195).
Sejak itu ia menjadi satu dari ribuan orang yang raib selama tahun-tahun
gelap itu.
==========
/*Nanda Winar Sagita* adalah pengajar sejarah dan penulis lepas. Ia
tinggal di Takengon, Aceh Tengah./
Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA
<https://tirto.id/q/sejarah-indonesia-dwA?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Nanda Winar Sagita
<https://tirto.id/author/nandawinar?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)
Penulis: Nanda Winar Sagita
Editor: Windu Jusuf
Riwayat Thaib Adamy misterius dan dokumen-dokumen tentang kehidupannya
lenyap dalam peristiwa 1965.