Menanti Debat Capres Berkualitas
Selasa, 8 Januari 2019 07:00 WIB
Dari kanan: pasangan capres inkumben, Joko Widodo alias Jokowi - Ma'ruf
Amin, Ketua KPU Arief Budiman, dan pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga
Uno saat pengundian nomor urut capres 2019 di Gedung KPU, Jakarta,
Jumat, 21 September 2018. Nomor urut tersebut digunakan sebagai citra
diri untuk kampanye dan dasar penyiapan logistik pilpres dan sosialisasi
kepada masyarakat. TEMPO/Subekti.Dari kanan: pasangan capres inkumben,
Joko Widodo alias Jokowi - Ma'ruf Amin, Ketua KPU Arief Budiman, dan
pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno saat pengundian nomor urut
capres 2019 di Gedung KPU, Jakarta, Jumat, 21 September 2018. Nomor urut
tersebut digunakan sebagai citra diri untuk kampanye dan dasar penyiapan
logistik pilpres dan sosialisasi kepada masyarakat. TEMPO/Subekti.
Keputusan Komisi Pemilihan Umum untuk menggunakan format debat setengah
tertutup bagi calon presiden dan wakil presiden dalam pemilihan presiden
2019 bisa menjadi angin segar. Meski ada unsur orisinalitas yang bisa
hilang, model ini berpotensi menjadi format yang lebih bermanfaat bagi
calon pemilih.
Debat pertama akan dilaksanakan pada 17 Januari 2019 dengan tema hukum,
hak asasi manusia, korupsi, dan terorisme. Teknisnya, KPU akan lebih
dulu mengirim kisikisi 20 pertanyaan kepada kedua pasangan kandidat.
Pada saat pelaksanaan debat, akan dipilih tiga pertanyaan untuk setiap
calon.
Metode ini berbeda dari debat pemilihan presiden sebelumnya yang
sepenuhnya dilakukan secara tertutup. Tentu ada kerugian dari metode
ini, yaitu berkurangnya aspek orisinalitas jawaban kandidat. Debat pun
bisa berjalan seperti diskusi normatif dengan jawabanjawaban yang
bersifat tempelan, tidak lagi mengejutkan, dan cenderung seperti hafalan.
Tapi semestinya banyak manfaat yang bisa dipetik dari metode ini. Perlu
dicatat, debat calon presiden dan wakilnya bukanlah acara kuis ataupun
reality show yang penuh tebaktebakan. Juga bukan ajang menguji
pengetahuan seorang kandidat seperti dalam tes masuk pegawai negeri.
Debat calon pemimpin negara merupakan salah satu sarana untuk membuka
mata masyarakat ihwal program kerja yang ditawarkan jika mereka terpilih.
Dengan metode debat tertutup, pemahaman akan program yang komprehensif
itu kerap sulit didapat. Masyarakat sangat mungkin hanya memperoleh
pemahaman yang sepotongsepotong, karena para kandidat tidak siap
menghadapi pertanyaan yang mendalam. Substansi program kemudian kerap
terabaikan, dan publik hanya terpesona karena seorang calon presiden
atau wakilnya tampan, berwibawa, jago berpidato, menguasai panggung, dan
seterusnya.
Dengan mendapatkan kisikisi pertanyaan, pasangan calon diharapkan bisa
menyiapkan jawaban yang lebih mendalam. Memang ada orisinalitas calon
yang hilang. Tapi hal itu sesungguhnya masih bisa diukur dalam segmen
tertutup, ketika masingmasing pasangan calon mengajukan pertanyaan
kepada satu sama lain. Lagi pula harus diingat bahwa calon presiden dan
calon wakil presiden pada akhirnya akan bekerja dalam kelembagaan.
Mereka tak akan bergerak sendirian. Ada jajaran staf dan para pemikir
yang akhirnya memberi masukan saat mereka membuat kebijakan.
ADVERTISEMENT
Dengan sistem ini, para calon dipacu untuk menyajikan program yang
menarik, bukan debat kusir dengan tujuan untuk saling menjatuhkan.
Dengan dapat mengantisipasi jawaban lawan, setiap calon juga akan
terdorong menyajikan sesuatu yang inovatif. Ini semua menguntungkan
karena pada akhirnya, bila mereka terpilih, rakyat bisa menagih janji
tersebut.
Tentu saja sisi positif dan negatif metode debat ini juga akan
dipengaruhi oleh kualitas panelis. Mereka harus punya kemampuan
menyajikan pertanyaan yang tajam sehingga bisa menggali kadar kemampuan
yang sebenarnya dari masingmasing calon.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com