Toga Tambunan 15 jam · Pagi tadi kutrima kabar berita wafatvdi Sydney Australia, bung Soemarsono pejuang patriotik revolusioner untuk Revolusi Agustus 45. Usia almarhum mencapai 97 tahun. Perpegang teguh imannya patuh mempercayai pribadi dan ajaran Tuhan Jesus. Dalam hal sikap politik bernegara beliau pasang badan berideologi komunisme. Selama karir militer pejuang beliau berperan panglima pertempuran di Surabaya yg ternukil sejarah dgn sebutan pertempuran 10 Nopember. Sempat menjabat Gubernur Militer dengan pos komando di Madiun berpangkat Mayor Jendral yg saat itu seingatku di masa itu sebagai pangkat tertinggi. Selamat pulang keharibaan Bapak Surgawi, bung.
Kenangan atas beliau selalu menampilkan ingatankanku di tahun 1954, ketika itu pembimbing Kepanduan Putra Indonesia (KPI) yg bagiku merupakan pertama kali bergabung dlm kumpulan remaja diluar persatuan pelajar di Pematang Siantar selagi SMP klas akhir tahun 1954 dikenalkan sosok kekar tegap adalah guru di Perguruan Taman Siswa Pematang Siantar itu. Sepuluh tahun kemudian, thn 1964, dan saya sdh lama tinggalkan Pematang Siantar dan kebetulan berada di ibukota, baru kutahu ternyata itulah sosok Jendral Soemarsono, panglima pertempuran di Surabaya yg disahkan jadi Hari Pahlawan RI. Dia dikenalkan oleh Finis Tanjung, seorang guru SMA Perguruan Taman Siswa, pelatih baris berbaris KPI. Dikenalkan bukan dengan panggilan Bapak Soemarsono. Serasa kuingat disebut Sutopo, tapi saya sendiri tak yakin, aku lupa. Sementara itu pak Finis Tanjung yg sangat sering mengikuti kami berlatih kepanduan, kemudian mentor serta mendidik kami riwayat kemerdekaan. Nama Soemarsono telah tercetak dlm benakku sehubungan peristiwa Madiun muncul kontroversial dlm ajang pemilu 1955 sd 1957. Lawan PKI menggunakannya meruntuhkan propaganda PKI yg menuding Hatta provokator peristiwa itu. Singkatnya peristiwa Madiun itu menarik minatku berani bertanya kpd Joseph Ajitorop Simanjuntak, yg sehari-hari dlm interaksi Batak, kupanggil "tulang" ketika tulangku itu kampanye di Kampung Kristen tempat kami berdiam. Yg kutahu ada sosok pembimbing KPI disitu. Tapi tdk kutahu ternyata disitu hadir Soemarsono. Kenangan tak tergantikan. Kututurkan itu saat kami jumpa di Jakarta. Hormat takzim, bung!
