Dinastitokrasi dan Oligarki Politik

6 February 2009 2,415 Views
[image: Hanta Yuda AR. Peneliti Bidang Politik The Indonesian Institute]
<http://www.theindonesianinstitute.com/wp-content/uploads/2015/05/hanta_yuda.gif>

Hanta Yuda AR. Peneliti Bidang Politik The Indonesian Institute

Oleh: Hanta Yuda AR. Peneliti Bidang Politik The Indonesian Institute

Opini KOMPAS. Jumat, 6 Februari 2009
*http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/06/0027238/dinastitokrasi.dan.oligarki.politik*
<http://web.archive.org/web/20091001000401/http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/06/0027238/dinastitokrasi.dan.oligarki.politik>

Kronisme dan nepotisme masih menjadi isu sentral politik era reformasi. Hal
itu terlihat dari menguatnya kecenderungan para petinggi partai dalam
menempatkan keluarganya pada posisi strategis dalam daftar calon anggota
legislatif (caleg) Pemilu 2009. Fenomena politik keluarga ini tidak hanya
terjadi di pusat, tetapi juga di daerah (caleg DPRD provinsi dan DPRD
kabupaten/kota).

Cengkeraman elite

Fenomena politik keluarga ini setidaknya disebabkan empat hal. Pertama,
imbas dari sistem pemilu dan persaingan yang kian liberal. Karena itu, nama
besar dan ketokohan sejumlah keluarga petinggi parpol diyakini dapat
menjadi modal meraup suara.

Kedua, potret kegagalan parpol dalam mengikat konstituennya. Karena itu,
elite parpol cenderung mencari siasat untuk menarik konstituennya dengan
menempatkan caleg yang layak jual. Cara instan yang digunakan adalah
melirik figur terkenal dari kalangan keluarga elite partai.

Ketiga, lemahnya sistem kaderisasi dan pola rekrutmen di internal parpol,
terutama mekanisme dalam penentuan caleg.

Keempat, terlalu besarnya daya cengkeram kekuasaan para elite parpol,
terutama elite di tingkat pusat.

Dari keempat faktor itu, yang paling dominan menyuburbiakkan politik
keluarga adalah faktor keempat, kuatnya daya cengkeram kekuasaan elite.

Maraknya politik keluarga di tubuh parpol akan mengarah pada dinastitokrasi
politik. Pada saat itu, suatu partai dikuasai dan dikelola sebuah keluarga
besar. Parpol seolah menjadi kerajaan keluarga yang dikuasai dan dikelola
turun-temurun. Kondisi ini akan membahayakan proses demokrasi yang dibangun
karena akan memengaruhi kelembagaan politik internal partai. Parpol pun
tidak akan kunjung terlembaga sebagai organisasi modern dan demokratis.

Dinastitokrasi politik tidak hanya akan menutup peluang kader atau aktivis
partai yang benar-benar berjuang meniti karier politik dari bawah, tetapi
juga mendorong berkembangnya personalisasi kekuasaan dan menyuburkan
kepemimpinan oligarkis partai. Pada tahap itulah akan bertambah subur
oligarki elite dan dinastitokrasi politik di internal parpol. Realitas
politik itu seolah menguatkan tesis Robert Michels tentang Hukum Besi
Oligarki (The Iron Law of Oligarchy) bahwa di setiap organisasi partai
politik, pada hakikatnya hanya dikuasai segelintir elite.

Memutus rantai

Selain diperlukan perbaikan sistem kaderisasi dan meritokrasi internal
partai, agenda demokratisasi untuk menyelamatkan parpol dari bencana
dinastitokrasi politik adalah memutus mata rantai oligarki elite di tubuh
partai. Ini terutama rantai proses kebijakan penentuan caleg, baik
kekuasaan untuk menyusun daftar caleg (hulu proses rekrutmen) maupun
kekuasaan dalam menentukan caleg terpilih (hilir proses rekrutmen).

Mekanisme penetapan caleg terpilih yang sebelumnya masih menggunakan nomor
urut berkontribusi dalam menyuburkan praktik oligarki elite di tubuh
parpol. Namun, hal itu terselamatkan oleh keputusan Mahkamah Konstitusi
tentang suara terbanyak. Untuk jangka panjang, keputusan MK ini akan
memutus mata rantai oligarki elite parpol meski tidak serta-merta
memberantas semuanya. Kewenangan elite partai yang semula cukup besar dalam
penentuan caleg terpilih otomatis akan berkurang.

Namun, cengkeraman kekuasaan elite partai masih cukup kuat dalam proses
menyusun daftar caleg yang merupakan bagian hulu dari rantai kebijakan
dalam proses rekrutmen caleg. Untuk memutus mata rantai oligarki yang kedua
ini, penyusunan daftar caleg di parpol seharusnya dipilih lewat proses
internal yang transparan, bukan lagi kewenangan penuh elite partai. Karena
itu, ke depan, diperlukan sistem pemilu internal yang melibatkan kader dan
konstituen partai untuk memilih bakal caleg atau pejabat publik dari suatu
partai.

Pemilu 2009 kemungkinan besar menjadi kesempatan terakhir bagi sejumlah
tokoh karismatik dan elite oligarki yang selama ini menjadi patron di
sejumlah parpol. Sebelum takhta kekuasaan partai itu diserahkan kepada
dinasti keluarganya, demokratisasi parpol merupakan agenda mendesak bagi
masa depan kepartaian di Indonesia, setidaknya untuk menyelamatkan parpol
dari bencana dinastitokrasi dan oligarki politik.

HANTA YUDA AR Analis Politik dan Peneliti The Indonesian Institute, Jakarta

https://www.theindonesianinstitute.com/dinastitokrasi-dan-oligarki-politik/

Kirim email ke