Sing Urub-urub, ora bakal urip.....
Yang memanas-manasi, yang membakar-bakar, tidak akan hidup (mati, kalah).
Pada tanggal Sab, 12 Jan 2019 pukul 20.39 Awind [email protected]
<mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected]
<mailto:[email protected]>> menulis:
http://mediaindonesia.com/read/detail/210087-politik-urub-urub
/*Politik Urub-Urub*/
Penulis: *Ono Sarwono * Pada: Minggu, 13 Jan 2019, 00:10 WIB Opini
<http://mediaindonesia.com/opini>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/210087-politik-urub-urub>
<http://twitter.com/home/?status=Politik%20Urub-Urub%0D%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20http://mediaindonesia..com/read/detail/210087-politik-urub-urub%0D%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20via%20@mediaindonesia>
Politik Urub-Urub
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2019/01/dc7de17262b6ad98f22bda3134d39a5a.jpg>
SEKALI lagi. Dalang wayang kulit legendaris Ki Manteb Soedharsono
kembali menampilkan sanggitan apik yang dapat dipersepsikan
sebagai sentilan terhadap dunia perpolitikan negeri ini. Ini
tampak dalam bagian lakon Antareja Racut yang ia bawakan dalam
pergelaran wayang kulit semalam suntuk pada malam Tahun Baru 1
Januari 2019 lalu di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Sesi itu ialah ketika Sri Bathara Kresna menemui Karna Basusena di
suatu tempat menjelang pecah Bharatayuda. Kresna membujuk Karna
agar bergabung dengan Pandawa. Namun, Karna dengan tegas menolaknya.
Posisinya berada di kubu Duryudana (Kurawa) ia sadari betul bahwa
itu 'langkah keliru' yang akan membuatnya mati. Namun, itu cara
yang ia tempuh agar kezaliman, yang dilambangkan Kurawa, sirna.
Karna menyebut dirinya menjadi urub-urub (pembakar) semangat
Duryudana (Kurawa) agar berani melawan Pandawa sebagai jalan
tegaknya keadilan.
*Mengkritik sesepuh*
Alkisah, Raja Astina Prabu Duryudana menggelar rapat paripurna di
sitihinggil. Hadir selain semua nayaka praja teras Astina, di
antaranya Sengkuni, Karna, dan Durna, juga dua sesepuh sekaligus
pepunden, yaitu Maharsi Bhisma serta Raja Mandaraka Prabu Salya.
Atas kehendak Duryudana, agenda rapat tunggal, membahas masa depan
Negara Astina setelah Pandawa merampungkan hukuman pembuangan di
Hutan Kamyaka selama 12 tahun dan hidup menyamar selama satu tahun.
Bhisma, ahli waris sejati takhta Astina, mengusulkan agar wilayah
Astina dibelah sigar semangka, artinya dibagi dua sama besar. Satu
bagian untuk Kurawa dan sebagian lagi untuk Pandawa. Harapannya
dua keluarga trah Abiyasa itu bisa hidup rukun selama-lamanya.
Sebaliknya Salya, mertua Duryudana, berpendapat Astina seutuhnya
dikembalikan saja kepada Pandawa. Dasarnya Pandawa ialah ahli
waris Astina setelah ayah mereka, Pandu Dewanata, meninggal.
Sebagai gantinya, Salya siap menyerahkan takhta Mandaraka kepada
Duryudana. Ia mengaku sudah sepuh dan tidak ingin berlama-lama
lagi memegang tampuk kekuasaan di Mandaraka. Ia ingin segera
menyepi mencari memanise pati, mati husnulkhatimah.
Durna, yang dimintai pendapatnya oleh Duryudana, menyatakan semua
usul para sesepuh baik. Menurutnya, Pandawa mesti juga diberi hak
atas wilayah Astina. Hal itu bertujuan menghindari perselisihan.
Kemudian, Sengkuni yang diberi waktu berbicara mengatakan dirinya
tidak setuju bila Astina dibagi atau diberikan seutuhnya kepada
Pandawa. Menurutnya, Kurawa harus mempertahankan kekuasaan atas
Astina dari pihak-pihak yang ingin mencoba mengusik, termasuk Pandawa.
Setelah mendengar ucapan Sengkuni, Duryudana tampak galau.
Bagaimana Kurawa mampu menang melawan Pandawa, pikirnya. Memang
Pandawa hanya berjumlah lima orang, sedangkan Kurawa seratus
orang. Namun, Duryudana mengaku tidak buta bahwa
Pandawa--Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan
Sadewa--semuanya sakti mandraguna.
Di tengah keraguan Duryudana, Karna menyela meminta waktu bicara.
Ia meyakinkan Duryudana (Kurawa) agar tidak takut melawan Pandawa.
Ia bersumpah dirinya siap menjadi agul-agul (tumpuan) Kurawa
memusnahkan Pandawa. Karna juga menyarankan Duryudana membuang
jauh-jauh saran para sesepuh yang ia nilai sudah takut darah.
*Tolak ajakan Kresna*
Salya tersinggung dengan perkataan Karna, yang juga ialah
menantunya sendiri. Ia meradang karena merasa diremehkan dan
menilai Karna sudah keblinger, kehilangan kiblat. Namun, sebelum
suasana semakin sengit, Karna buru-buru meninggalkan pertemuan
tanpa pamit.
Sesaat kemudian, tibalah Kresna di pertemuan tersebut. Ia
menyatakan dirinya menghadap sebagai duta Pandawa yang membawa
misi meminta kembalinya Astina. Duryudana menerima dengan
baik-baik kehadirannya dan ia memutuskan ingin segera
mengembalikan Astina kepada Pandawa.
Sesuai dengan tata krama kenegaraan, Kresna meminta perlu adanya
surat resmi yang ditandatangani Duryudana terkait dengan
keputusannya. Namun, Sengkuni yang diperintah Duryudana
mempersiapkan surat tersebut malah mengadu kepada Gendari, ibunda
Kurawa, tentang sikap Duryudana yang mengembalikan Astina kepada
Pandawa.
Tidak lama kemudian Gendari datang dan langsung meluapkan
kemarahannya. Kemudian ia mengatakan akan bunuh diri bila
Duryudana menyerahkan Astina. Ia tidak ingin melihat anak-anaknya
sengsara karena pasti akan terusir.
Setelah melihat reaksi ibunya seperti itu, Duryudana berubah
pikiran. Kepada Kresna, ia menegaskan Astina akan ia pertahankan
hingga tetes darah penghabisan. Sumpah Karna kepada dirinya
sebelumnya masih terngiang-ngiang di telinga. Duryudana yakin
Karna sangat sakti dan benar-benar bisa diandalkan.
Pertemuan kemudian bubar begitu saja. Beberapa saat kemudian,
Kresna yang belum beranjak jauh dari tempat duduknya dikeroyok
Dursasana dan adik-adiknya atas perintah Sengkuni. Kresna yang
merasa terancam nyawanya seketika bertiwikrama, beralih wujud
menjadi raksasa sebesar gunung. Ia dengan ganas mengobrak-abrik
barisan Kurawa.
Sebelum Kurawa tergilas dan Istana Astina hancur lebur, Bathara
Narada datang mengingatkan Kresna untuk tidak mengumbar marah.
Karena bila tidak, skenario jagat akan terjadinya Bharatayuda bisa
batal.
Kresna sadar dan kembali ke wujud asli. Ia kemudian mencari Karna.
Setelah berkeliling di sekitar Istana Astina, ia berhasil
menemukannya. Mereka terlibat dalam dialog panjang tentang bakal
terjadinya Bharatayuda.
Kresna menyarankan Karna agar berpihak kepada Pandawa. Alasannya
Pandawa merupakan adik-adik kandungnya sendiri lain ayah. Selain
itu, Pandawa berada pada pihak benar dan yang akan unggul dalam
peperangan.
*Di pihak zalim*
Karna menolak saran Kresna. Alasannya dirinya sudah bersumpah
berada di kubu Duryudana. Pun ia tahu Kurawa akan musnah di
Kurusetra. Ia pun sadar dirinya akan mati di tangan Arjuna. Namun,
itu semua jalan pengabdiannya yang ia pilih demi terwujudnya
keadilan jagat.
Karna mengungkapkan Duryudana sesungguhnya takut berperang melawan
Pandawa. Itu tampak setelah memperhitungkannya dari segala sisi.
Namun, karena setiap saat ia mengompori Duryudana, akhirnya sulung
Kurawa itu berani.
Dengan caranya itu, akhirnya Bharatayuda benar-benar terjadi.
Duryudana tidak ragu dan bimbang maju ke pelagan. Di sanalah
akhirnya kezaliman yang disandang Kurawa hilang di tangan Pandawa
yang melambangkan kebenaran.
Hikmah kisah itu ialah perjuangan menegakkan keadilan bukan harus
selalu berada pada pihak yang benar. Karna justru bergerak dan
berpihak dalam kelompok zalim. Ia ngurub-urubi (membakar) semangat
Duryudana yang semula ciut menjadi berani melawan Pandawa hingga
pada akhirnya mereka lenyap dari muka bumi. (M-2)
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/210087-politik-urub-urub>
<http://twitter.com/home/?status=Politik%20Urub-Urub%0D%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20http://mediaindonesia.com/read/detail/210087-politik-urub-urub%0D%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20via%20@mediaindonesia>