http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1418-rasa-yang-dalam
/*Rasa yang Dalam*/
Penulis: *Minggu, 13 Januari 2019 21:52 WIB Pengirim: Syarief
Oebaidillah Uhamka Aktif Galang Kerjasama Pendidikan di Asean
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) aktif dalam
melaksanakan program kerjasama internasional di tingkat Asean. Pada awal
2019 * Pada: Senin, 14 Jan 2019, 05:30 WIB podium
<http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1418-rasa-yang-dalam>
<http://twitter.com/home/?status=Rasa yang Dalam
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1418-rasa-yang-dalam
via @mediaindonesia>
Rasa yang Dalam
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/01/966c4ad45a0d40e9502a154d728fd7c9.jpg>
BEBERAPA hari ini visi dan misi pasangan calon presiden-wakil presiden
kiranya menjadi topik perbincangan publik. Kenapa? Karena tiga hari
lagi, Kamis (17/1), debat publik yang pertama diselenggarakan KPU.
Visi dan misi merupakan bahan pokok debat publik. Visi ialah kemampuan
melihat ke depan. Visi menjawab ke mana kita sebagai bangsa dan negara
bakal dibawa sang pemimpin.
Misi ialah apa yang ingin dilakukan sang pemimpin dalam lima tahun
sampai berakhir masa jabatannya kalau terpilih sebagai presiden-wakil
presiden.
Apa yang ingin dilakukan sehingga masa depan yang dinyatakan dalam visi
dapat diwujudkan? Itulah sebabnya visi dan misi merupakan pasangan yang
tidak terpisahkan.
Dalam debat publik capres-cawapres berbagi visi dan misi atau membela
visi dan misinya dan berharap sebanyak-banyaknya orang bakal memilihnya.
Untuk bisa mencapai 'sebanyak-banyaknya' orang memilih, visi dan misi
itu haruslah disusun dan disampaikan sedemikian rupa agar 'bunyi' untuk
sebanyak-banyaknya rakyat yang berhak memilih. Siapa mereka?
Menurut data BPS, pada 2016 rata-rata lama sekolah rakyat Indonesia 7,95
tahun. Pada 2017 naik menjadi 8,10 tahun. Dengan kata lain rata-rata
SLTP kelas 2.
Profil pendidikan itu nyata dan jelas menunjukkan bahwa mereka hanya
dapat dijangkau dengan visi dan misi yang dibahasakan dengan
sederhana,disampaikan dengan sederhana, dan menyentuh 'rasa yang dalam'
sebagai rakyat.
Di situlah letak persoalan. Tidak mudah untuk membuat visi dan misi yang
sederhana dan mengomunikasikannya dengan sederhana pula sehingga mudah
dipahami 'seumumnya' rakyat yang rata-rata lama sekolah 8,10 tahun.
Terlebih tidak mudah menyentuh rasa yang dalam di sanubari mereka. Visi
dan misi memang dibuat elite terdidik. Kiranya di di situ bersarang
pula arogansi intelektual kaum perkotaan. Berkeinginan merevisi visi dan
misi yang telah menjadi dokumen resmi KPU agar lebih estetis--bukan agar
lebih komunikatif bagi kebanyakan rakyat--kiranya pertanda arogansi itu.
Ada jurang pendidikan pembuat visi dan misi dengan rakyat kebanyakan.
Pembuat visi dan misi sedikitnya lama sekolah 16 tahun (S-1), mungkin 17
tahun (S-2), bahkan 20 tahun (S-3). Bandingkan dengan rakyat yang
dituju yang rata-rata lama sekolah 8,10 tahun. Tidak mengherankan bila
visi dan misi tidak 'bunyi', lalu yang dijual isu yang menyerang capres
secara personal.
Ada substansi yang seperti abadi dari masa ke masa. Visi dan misi
pasangan presiden-wakil presiden selalu mengandung perihal mengurangi
kesenjangan.
Namun, tiada kunjung berkurang signifikan. Apa pasal?
Jurang kaya dan miskin melebar antara lain karena penyusun visi-misi dan
'kawan-kawannya', dan 'rombongannya', dan 'saudara-saudaranya', menjadi
jauh lebih kaya setelah yang dibuatkan visi dan misi itu menjadi
presiden-wakil presiden. Kekuasaan melipatgandakan kekayaan.
Karena itu penting mencermati rekam jejak calon presiden-wakil presiden,
apakah betul punya 'rasa yang dalam' terhadap rakyat. Apakah betul punya
'kekuatan dari dalam dirinya' untuk mengatasi kesenjangan dan
menyisihkan pengeruk kekayaan dari lingkaran dalam kekuasaannya.
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1418-rasa-yang-dalam>
<http://twitter.com/home/?status=Rasa yang Dalam
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1418-rasa-yang-dalam
via @mediaindonesia>