http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1419-mundur
/*Mundur (?)*/
Penulis: *Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group* Pada: Selasa, 15
Jan 2019, 05:30 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1419-mundur>
<http://twitter.com/home/?status=Mundur (?)
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1419-mundur via
@mediaindonesia>
Mundur (?)
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/01/1a2f81895720169f0bf8455b2d4488e1.jpg>
INI sungguh kabar mengejutkan. Kabar bahwa calon presiden Prabowo
Subianto akan mundur jika potensi kecurangan dalam pemilihan presiden
tak bisa dibendung. Wacana itu muncul justru ketika hari H pemungutan
Pemilu 2019 kian dekat, tiga bulan lagi.
Yang pertama meniupkan kabar itu ialah Ketua Badan Pemenangan Nasional
(BPN) Prabowo-Sandiaga, Jenderal (Purn) Djoko Santoso. Ia katakan hal
itu saat bertemu Gerakan Milenial Indonesia Malang Raya, Ahad silam.
Ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan dalam menanggapi hal itu.
Pertama, adakah potensi kecurangan memang sudah tercium dan kian nyata
baunya sehingga pihak Prabowo perlu mengucapkannya secara terbuka?
Kedua, adakah tanda-tanda kekalahan Prabowo-Sandi sudah di depan mata
sehingga berat untuk bersaing melawan Joko Widodo-Ma'ruf Amin?
Prabowo kerap dipersepsikan para pendukungnya sebagai kesatria,
pemberani, kenapa sang pemberani seperti memilih kalah sebelum
bertanding? Ketiga, apakah Prabowo tak memikirkan risiko hukumnya?
Undang-Undang No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu melarang dan akan memberi
sanksi.
Pasal 552 ayat (1) menyebutkan, 'Setiap calon Presiden atau Wakil
Presiden yang dengan sengaja mengundurkan diri setelah penetapan calon
Presiden dan Wakil Presiden sampai dengan pelaksanaan pemungutan suara
putaran pertama, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)
tahun dan denda paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar
rupiah)'.
Jika menyebut potensi kecurangan pemilu, pastilah pihak pertama
dicurigai ialah KPU, sang penyelenggara. Lembaga ini selama reformasi
telah menyelenggarakan lima kali pemilu legislatif, empat kali pemilihan
presiden, dan ratusan kali pemilihan kepala daerah. Memang ada beberapa
kali dugaan kecurangan, tetapi proses hukum juga dilakukan. Secara umum
pemilu kita selalu dipuji banyak pihak, bahwa pemilu di Indonesia
memberikan harapan dan inspirasi bagi demokrasi.
Ucapan selamat pun kerap mengalir dari banyak pihak, terutama dari
negara-negara demokrasi yang sudah mapan. "Bangsa Indonesia juga pantas
diberi ucapan selamat karena menjalani transisi demokrasi secara luar
biasa dan atas penyelenggaraan Pemilu yang lancar," puji Perdana Menteri
Australia ketika itu, Tony Abbott, pada Pemilu 2014.
Tahun lalu ketika Indonesia menyelenggarakan pilkada serentak yang
digelar di 171 daerah, peneliti pemilu dari Filipina yang tergabung di
Asian Network for Free Elections (Anfrel), Damaso Maqbual, menilai
pemilu Indonesia terbaik di Asia Tenggara dan ketiga di Asia setelah
Korea Selatan dan India.
Kita sepakat, seprofesional apa pun KPU harus terus dikritisi.
Penyelenggara pemilu negara sebesar Indonesia pastilah godaannya juga
besar. Namun, apakah wacana mundur Prabowo sebagai warning agar KPU
serius tak berlebihan?
Beberapa bulan terakhir KPU memang diterpa beberapa isu. Misalnya isu 31
juta penduduk sebagai data siluman yang berpotensi menggelembungkan
daftar pemilih tetap Pemilu 2019, isu orang menderita gangguan jiwa yang
bisa memilih, isu surat suara dari kardus/kotak yang rentan rusak, dan
isu tujuh kontainer surat suara dari Tiongkok yang telah dicoblos untuk
pasangan nomor urut 01. Meski telah diklarifikasi KPU, masih banyak
masyarakat yang memercayainya.
Meskipun ada yang pernah mendesak Prabowo mundur dari status calon
presiden setelah hoaks Ratna Sarumpaet, wacana mundur kali ini pastilah
jadi warta lebih buruk: seorang jenderal mundur sebelum bertempur. Sebab
dalam negera demokrasi seperti Indponesia, KPU bekerja dengan
berlapis-lapis pengawasan.
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1419-mundur>
<http://twitter.com/home/?status=Mundur (?)
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1419-mundur via
@mediaindonesia>