Sebelum masuk ke sana, kita perlu mencermati fenomena ganjil di pemilu kali 
ini. Dari empat pilpres langsung, 3 sudah digelar dan 1 baru akan dilaksanakan, 
hanya di pemilu ini yang makin mendekat hari H justru undecided voters justru 
makin bertambah.

 ...
 Tambahan yang lain adalah dari pihak pendukung petahana yang sudah memutuskan 
mendukung lagi petahana, namun kecewa dengan berbagai manuver petahana. 
Termutakhir yang mudah dijadikan contoh adalah kebijakan Jokowi membebaskan Abu 
Bakar Baasyir.

 

 
 
 KENAPA YANG MENYERANG GOLPUT HANYA DARI SATU KUBU CAPRES SAJA? 
https://mojok.co/pea/komen/kepsuk/kenapa-yang-menyerang-golput-hanya-dari-satu-kubu-capres-saja/
 PUTHUT EA https://mojok.co/penulis/pea/ 21 JANUARI 2019

 

 Pertanyaan di atas sempat dilontarkan oleh seorang mantan aktivis ‘98. 
Pertanyaan semacam ini sebetulnya sudah menyeruak sebulan ini, ketika 
suara-suara golput makin membesar. Saya tertarik untuk membahasnya.
 Pertanyaan itu tidak langsung bisa dijawab tanpa mencoba mencari tahu: apa 
watak atau karakter golput di tahun 2019? Sama atau berbeda mereka dengan 
golput di era sebelumnya—dalam konteks pasca-Reformasi 
https://mojok.co/hkw/esai/membaca-krismon-dan-reformasi-era-soeharto-dari-lagu-anak-anak-90-an/?
 Secara teoritis, setiap petahana punya keuntungan dan kekurangan dalam ranah 
dukungan politik.
 Keuntungannya banyak, saya contohkan satu saja: menguasai semua peranti 
kekuasaan untuk bisa mengendalikan dukungan politik.
 Dan kekurangannya: pasti akan ada barisan kecewa. Setiap petahana 
https://mojok.co/red/rame/moknyus/ada-jokowi-dan-erick-thohir-andi-arief-sebut-kubu-petahana-penuh-superstar/
 yang bertanding lagi, selalu menyisakan dua musuh baru. Pertama, mereka yang 
tidak terakomodasi secara ekonomi. Kedua, mereka yang tidak terakomodasi secara 
politik.
 Mereka yang tidak terakomodasi secara ekonomi, biasanya terkait soal bisnis. 
Apakah bisnis mereka makin sulit, tidak dapat cantolan ke kekuasaan, tersingkir 
oleh pebisnis lain yang diakomodasi oleh kekuasaan, dll.
 Sedangkan mereka yang tidak diakomodasi secara politik, adalah kelompok yang 
“menitipkan” agenda-agenda politik mereka kepada petahana di pemilu sebelumnya. 
Agenda lazimnya terkait soal: HAM, korupsi, lingkungan, budaya, dll.
 Dari dua kelompok besar itu, yang paling berbahaya bagi petahana adalah 
kelompok kedua. Karena sebagian besar mereka bukan hanya melek politik 
melainkan juga punya kapasitas politik (wawasan, otoritas, intervensi sosial, 
dll), bahkan memiliki peranti politik (organisasi, komunitas, pergaulan sosial, 
dll).
 Golput yang akhir-akhir ini diperbincangkan banyak orang utamanya di media 
sosial, adalah golongan kedua. Dan golongan ini mendapatkan tambahan energi 
baru yang tak kalah kuatnya. Siapakah mereka?
 Sebelum masuk ke sana, kita perlu mencermati fenomena ganjil di pemilu kali 
ini. Dari empat pilpres langsung, 3 sudah digelar dan 1 baru akan dilaksanakan, 
hanya di pemilu ini yang makin mendekat hari H justru undecided voters justru 
makin bertambah.
 Baca juga:  Mari Memilih Sandiaga, Demi Indonesia yang Lebih Jenaka 
https://mojok.co/agm/ulasan/pojokan/mari-memilih-sandiaga-demi-indonesia-yang-lebih-jenaka/
 Secara teoritis, di pemilu mana pun, makin mendekati pelaksanaan hajatan, 
undecided voters mestinya makin mengecil. Hal itu seiring dengan makin yakin 
dan menguatnya preferensi politik hasil dari durasi kampanye 
https://mojok.co/pks/esai/masa-kampanye-di-flores-rivalitas-caled-dan-pegawai-koperasi/.
 Tapi kali ini tidak.
 Lalu kira-kira apa sebabnya?
 Sebabnya tentu banyak yang tahu, karena hal ini sudah banyak dinyatakan oleh 
para pengamat politik: isu dalam pilpres kali ini tidak produktif, dan 
cenderung menghina kewarasan serta akal sehat.
 Kelompok ini yang makin membesar, punya potensi besar pula untuk makin 
bergabung dalam golput. Sebab begitu sampai batas waktu dan psikologis 
tertentu, para undecided voters ini memutuskan memilih untuk tidak memilih.
 Tambahan yang lain adalah dari pihak pendukung petahana yang sudah memutuskan 
mendukung lagi petahana, namun kecewa dengan berbagai manuver petahana. 
Termutakhir yang mudah dijadikan contoh adalah kebijakan Jokowi membebaskan Abu 
Bakar Baasyir.
 Ini bukan soal kebijakan benar atau salah. Tapi bahwa kebijakan ini ternyata 
mendulang risiko 1-2 persen pendukung petahana memutuskan untuk golput.
 Jadi, kekuatan golput makin membesar dan kuat karena tiga kelompok itu: agenda 
politik mereka tidak diakomodasi oleh petahana selama memerintah; kecewa dengan 
dinamika pilpres yang tidak produktif; dan kecewa dengan manuver petahana.
 Beberapa lembaga sedang mensurvei berapa peningkatan golput. Saya sendiri 
memperkirakan dari angka golput yang rerata 25-30 persen, mengalami lompatan 5 
persen per akhir Januari ini. Dan bisa jadi sampai April makin bertambah. 
Apalagi jika mereka dilawan.
 Sebab karakter golput ini sebetulnya, awalnya, tidak aktif. Tapi kalau mereka 
dipersalahkan, didesak, dipojokkan, maka semua instrumen politik mereka akan 
dipasang, dan memukul balik para penyerangnya. Itulah yang tidak dipahami para 
relawan dan politikus.
 Baca juga:  Koalisi Indonesia Kerja Berusaha Menarik Mahfud MD dan TGB 
Bergabung di Tim Pemenangan 
https://mojok.co/red/rame/moknyus/koalisi-indonesia-kerja-berusaha-menarik-mahfud-md-tgb-bergabung-tim-pemenangan/
 Sekarang saatnya menjawab, kenapa hanya kubu petahana saja yang memojokkan dan 
menyerang golput?
 Jelas, irisan terbesar mereka mestinya ada pada klaster petahana. Makanya para 
relawan dan politikusnya memojokkan mereka. Sebab yang tergembosi adalah kubu 
petahana.
 Kubu sebelah lebih rileks memandang hal ini, bisa jadi karena mereka tahu 
bahwa kue golput ini dipotong di petahana, atau mereka punya pandangan 
pragmatis: tidak kuat menahan gempuran golput jika diserang.
 Artinya, ada dua musuh yang harus mereka hadapi. Barisan pendukung petahana 
dan golput. Tentu ini berat bagi kubu sebelah.
 Saya akan menambah bobot politik dari persoalan golput ini. Benarkah aksi 
golput tidak ada gunanya?
 Itu pandangan yang keliru besar. Saya mau mengingatkan ilmu dasar politik: 
politik bukan melulu persoalan elektoral. Dalam konteks elektoral, tentu golput 
bisa sangat merugikan petahana, terlebih jika pendukungnya gagal memahami 
karakter golput dan terus menyerang serta memojokkan mereka.
 Politik itu dimensinya luas. Ada banyak isu yang terus bisa dikawal, siapa pun 
yang memenangi pemilu. Karena pengalaman elektoral menyatakan bahwa tidak 
mungkin memasrahkan agenda-agenda strategis kepada siapapun selain diri dan 
organisasi serta masyarakat yang terlibat di masing-masing isu.
 
 Artinya, justru dalam proses ini akan memunculkan dinamika politik baru yang 
menarik dan dinamis. Politik yang bukan hanya soal coblos-mencoblos. Politik 
yang ingin memastikan agenda politik berbagai kelompok bisa dikawal dan 
didesakkan kepada siapapun yang kelak memenangi pilpres.

Kirim email ke