Apa ada orang yang heran atau terkejut penghargaan tinggi diberikan "The
Banker" kepada ibu Menteri??? Herannya masih ada saja orang pintar yang tidak
melihat hubungan atau benang hitam antara duit---sang menteri---agen Bank
Dunia, IMF dan dengan sendirinya berarti juga agen Imperialis-hutang-pengurasan
sumber alam-kekerasan dan kesewenang-wenangan aparat militer dan akhirnya
keterpurukan dan kemiskinan rakyat jelata. On Friday, January 25, 2019,
12:42:15 AM GMT+1, ChanCT [email protected] [GELORA45]
<[email protected]> wrote:
Realitas Di Balik Penghargaan “Menteri Keuangan Terbaik Dunia”
http://www.berdikarionline.com/realitas-di-balik-penghargaan-menteri-keuangan-terbaik-dunia/
6 JANUARI 2019 | 9:32
Tiga hari lalu, majalah The Banker memberikan penghargaan sebagai “Best Finance
Minister of the Year 2019” kepada Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri
Mulyani Indrawati, untuk kategori Dunia dan juga Asia Pasifik.
Bila melihat alasan pemberiannya seperti dituliskan di website resmi The
Banker, kalimat pembukanya: “Di 2018, Indonesia menghadapi tragedi tetapi
negara ini cepat pulih di bawah kepemimpinan dari menteri keuangan Sri Mulyani
Indrawati.” Kemudian di kalimat yang lain, “Dalam merespon ini (bencana), Sri
Mulyani memodernisasi respon negara Indonesia terhadap bencana alam melalui
suatu strategi baru pembiayaan resiko bencana. Diumumkan di Oktober 2018,
strategi ini akan menjamin asuransi bangunan publik sejak 2019, melindungi dan
menolong mereka untuk mempercepat proses pemulihan.
Jadi The Banker memberikan penghargaan kepada Sri Mulyani karena menciptakan
model baru asuransi pembiayaan yang masih akan diterapkan untuk menangani
bencana yang akan datang. Anggaplah ini akan berguna. Tetapi pastinya, semenjak
Sri Mulyani menjadi Menteri Keuangan Pemerintahan Jokowi, dirinya sudah tiga
kali memotong anggaran badan resmi nasional yang mengurus penanganan bencana,
BNPB, hingga tinggal sepertiga dari besaran awalnya. Anggaran BNPB tahun 2017
masih sebesar Rp 1,8 triliun. Tahun 2018 dipotong Sri Mulyani tinggal menjadi
Rp 746 miliar, dan tahun 2019 anggaran BNPB dipotong lagi sehingga hanya
tinggal Rp 610 miliar.
Selain penanganan pasca terjadinya, bencana juga harus dipikirkan bagaimana
memitigasinya agar dapat meminimalisir terjadinya korban jiwa. Tapi ternyata
Sri Mulyani juga memotong anggaran badan resmi negara yang bertugas memitigasi
bencana, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Seorang anggota
DPR dari Komisi V bersaksi, bahwa anggaran BMKG yang diajukan badan tersebut
untuk tahun 2019 adalah sebesar Rp 2,7 triliun, tapi Kementerian Keuangan yang
dipimpin Sri Mulyani memotongnya hingga hanya tinggal Rp 1,7 triliun. Dengan
memotong anggaran yang diajukan BMKG, artinya Sri Mulyani telah menghambat
modernisasi teknologi mitigasi bencana yang sangat dibutuhkan untuk
menyelamatkan nyawa manusia Indonesia.
Jadi, sepertinya The Banker memberikan penghargaan bagi Sri Mulyani karena
berani melakukan pemotongan anggaran (austerity policy) untuk mitigasi dan
penanganan bencana di Indonesia. Seperti diketahui, austerity policy adalah
kebijakan memotong berbagai anggaran untuk kepentingan publik dengan
mencadangkan (tidak menyentuh) anggaran untuk pembayaran cicilan dan bunga
utang- yang tentu sangat disukai oleh The Banker. Dan yang paling penting
tentunya, tapi The Bankermungkin lupa untuk sebutkan, di tahun 2018 Sri Mulyani
kembali menarik utang sebesar Rp 15,2 triliun dari Bank Dunia -mitra dari The
Banker– untuk rekonstruksi pasca bencana di Lombok dan Palu.
Kita lanjutkan kepada paparan berikutnya dari The Banker sebagai alasannya
memberi penghargaan kepada Sri Mulyani sebagai menteri keuangan terbaik
se-Dunia dan Asia Pasifik. “Sembari menghadapi tragedi, Indonesia masih
menunjukkan pertumbuhan yang impresif. Defisit PDB untuk 2018 diproyeksikan
akan sebesar 1,86 persen, lebih kecil dari angka yang diperkirakan di APBN 2018
sebesar 2,19 persen.”
Sebenarnya pertumbuhan ekonomi 5,1 persen untuk Indonesia tidaklah impresif,
karena negara ini sangat berpotensi untuk tumbuh lebih tinggi lagi bahkan
hingga double digit. Dengan pertumbuhan PDB hanya 5,1 persen, Indonesia hanya
menduduki peringkat ke-35 di antara negara-negara Dunia. Defisit APBN bisa
lebih kecil dari target tentu karena berbagai kebijakan austerity yang
dilakukan Sri Mulyani, dan juga yang paling penting adalah bertambahnya
penerimaan negara karena “durian runtuh” kenaikan harga minyak dunia dan
pelemahan kurs Rupiah terhadap Dollar AS.
Di sisi lain, defisit yang lebih berbahaya untuk kestabilan makroekonomi,
defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) tahun 2018 malah terus
membesar hingga 3,37% dari PDB (batas aman sebenarnya di bawah 3% PDB). Di
antara negara-negara tetangga di ASEAN, defisit transaksi berjalan Indonesia
adalah yang terbesar- sehingga menjadi negara yang paling rentan kondisi
makroekonominya bila badai krisis kembali menerjang. Dari seluruh negara ASEAN,
semuanya mengalami surplus transaksi berjalan, kecuali Filipina dan Indonesia
yang defisit. Semoga dengan memuji makro ekonomi Indonesia di bawah Sri
Mulyani, The Banker tidak sedang menina-bobokan kita semua agar bila terjadi
krisis nanti Indonesia-lah yang paling hancur dan akhirnya membutuhkan bantuan
keuangan dari “sekondan” The Banker: IMF.
Dalam penutup paparannya, The Banker memuji serangkaian kebijakan perpajakan
yang diterapkan Sri Mulyani di 2018. Tidak perlu saya kutip lagi karena terlalu
panjang dan berbunga-bunga, pembaca dapat melihatnya sendiri di website resmi.
Yang terpenting, apapun pujian dari The Banker, faktanya penerimaan pajak
dibandingkan terhadap PDB atau tax ratio (dalam arti sempit, minus PNBP)
Indonesia di bawah Sri Mulyani terus menurun. Menurut INDEF, tahun 2016 tax
ratio masih di 10,4%, dan tahun 2017 turun ke 9,9%. Kemudian, tahun 2019
(berdasarkan perhitungan saya) tax ratio kembali turun ke 9,2%. Besaran tax
ratio Indonesia yang masih di kisaran ini sangat jauh di bawah dari standar tax
ratio negara-negara maju, OECD, yang sebesar 34,2% (2017).
Aneh sekali, semua poin pujian yang tertulis dalam paparan The Banker sebagai
landasan pemberian penghargaan kepada Sri Mulyani, seperti tidak sesuai dengan
realitas situasi Indonesia. Kemudian bila saya analisa lebih dalam lagi, dengan
melihat pemaparan dari The Banker dalam pemberian penghargaan kepada para
menteri keuangan di berbagai negara selama tiga tahun ke belakang, ditemukan
benang merah dari realitas di baliknya.
Pertama, menerbitkan surat utang dengan yield tinggi.
Yield surat utang Indonesia (tenor 10 tahun) di bawah Sri Mulyani saat ini
sebesar 8,08%. Yield surat utang India (tenor 10 tahun) di bawah Menteri
Keuangan India Arun Jaitley -yang menerima penghargaan yang sama tahun 2018-
adalah sebesar 7,4%. Dan yield surat utang Argentina (tenor 10 tahun) di bawah
Menteri Keuangan Argentina Alfonso Prat-Gay -yang menerima penghargaan yang
sama tahun 2017- adalah sebesar 7,5%. Kita tahu, semakin tinggi yield, maka
semakin tinggi keuntungan para investor pasar keuangan mitra The Banker.
Kedua, berhutang dalam jumlah besar ke pasar atau grup IMF-Bank Dunia
Total surat utang yang diterbitkan Sri Mulyani sepanjang 2018 adalah sebesar
USD 28,4 miliar. Menkeu Argentina Alfonso Prat-Gay dipuji The Banker karena
berhasil memperbaiki hubungan dengan vulture fund (setelah masalah renegosiasi
utang Kirchner tahun 2002) dan menerbitkan surat utang USD 16,5 miliar tahun
2016. Menteri Keuangan Sri Lanka Ravi Karunanayake -Menteri keuangan Terbaik
tahun 2017 se-Asia Pasifik versi The Banker- “sukses” menarik utang dari IMF
sebesar USD 1,5 miliar dan menerbitkan surat utang ke pasar sebesar USD 6,6
miliar.
Ketiga, menerapkan kebijakan “Austerity policy”
Sri Mulyani, Alfonso Prat-Gay, Arun Jaitley, dan Ravi Karunanayake menerapkan
kebijakan ini dalam kebijakan fiskal di negaranya.***
| | 不含病毒。www.avg.com |
#yiv5734155103 #yiv5734155103 -- #yiv5734155103ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv5734155103
#yiv5734155103ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv5734155103
#yiv5734155103ygrp-mkp #yiv5734155103hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv5734155103 #yiv5734155103ygrp-mkp #yiv5734155103ads
{margin-bottom:10px;}#yiv5734155103 #yiv5734155103ygrp-mkp .yiv5734155103ad
{padding:0 0;}#yiv5734155103 #yiv5734155103ygrp-mkp .yiv5734155103ad p
{margin:0;}#yiv5734155103 #yiv5734155103ygrp-mkp .yiv5734155103ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv5734155103 #yiv5734155103ygrp-sponsor
#yiv5734155103ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv5734155103
#yiv5734155103ygrp-sponsor #yiv5734155103ygrp-lc #yiv5734155103hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv5734155103
#yiv5734155103ygrp-sponsor #yiv5734155103ygrp-lc .yiv5734155103ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv5734155103 #yiv5734155103actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv5734155103
#yiv5734155103activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv5734155103
#yiv5734155103activity span {font-weight:700;}#yiv5734155103
#yiv5734155103activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv5734155103 #yiv5734155103activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv5734155103 #yiv5734155103activity span
span {color:#ff7900;}#yiv5734155103 #yiv5734155103activity span
.yiv5734155103underline {text-decoration:underline;}#yiv5734155103
.yiv5734155103attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv5734155103 .yiv5734155103attach div a
{text-decoration:none;}#yiv5734155103 .yiv5734155103attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv5734155103 .yiv5734155103attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv5734155103 .yiv5734155103attach label a
{text-decoration:none;}#yiv5734155103 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv5734155103 .yiv5734155103bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv5734155103
.yiv5734155103bold a {text-decoration:none;}#yiv5734155103 dd.yiv5734155103last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5734155103 dd.yiv5734155103last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5734155103
dd.yiv5734155103last p span.yiv5734155103yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv5734155103 div.yiv5734155103attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv5734155103 div.yiv5734155103attach-table
{width:400px;}#yiv5734155103 div.yiv5734155103file-title a, #yiv5734155103
div.yiv5734155103file-title a:active, #yiv5734155103
div.yiv5734155103file-title a:hover, #yiv5734155103 div.yiv5734155103file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv5734155103 div.yiv5734155103photo-title a,
#yiv5734155103 div.yiv5734155103photo-title a:active, #yiv5734155103
div.yiv5734155103photo-title a:hover, #yiv5734155103
div.yiv5734155103photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv5734155103
div#yiv5734155103ygrp-mlmsg #yiv5734155103ygrp-msg p a
span.yiv5734155103yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv5734155103
.yiv5734155103green {color:#628c2a;}#yiv5734155103 .yiv5734155103MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv5734155103 o {font-size:0;}#yiv5734155103
#yiv5734155103photos div {float:left;width:72px;}#yiv5734155103
#yiv5734155103photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv5734155103
#yiv5734155103photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv5734155103
#yiv5734155103reco-category {font-size:77%;}#yiv5734155103
#yiv5734155103reco-desc {font-size:77%;}#yiv5734155103 .yiv5734155103replbq
{margin:4px;}#yiv5734155103 #yiv5734155103ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv5734155103 #yiv5734155103ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5734155103
#yiv5734155103ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv5734155103
#yiv5734155103ygrp-mlmsg select, #yiv5734155103 input, #yiv5734155103 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5734155103
#yiv5734155103ygrp-mlmsg pre, #yiv5734155103 code {font:115%
monospace;}#yiv5734155103 #yiv5734155103ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv5734155103 #yiv5734155103ygrp-mlmsg #yiv5734155103logo
{padding-bottom:10px;}#yiv5734155103 #yiv5734155103ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv5734155103 #yiv5734155103ygrp-msg
p#yiv5734155103attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv5734155103
#yiv5734155103ygrp-reco #yiv5734155103reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv5734155103 #yiv5734155103ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv5734155103 #yiv5734155103ygrp-sponsor
#yiv5734155103ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv5734155103
#yiv5734155103ygrp-sponsor #yiv5734155103ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv5734155103
#yiv5734155103ygrp-sponsor #yiv5734155103ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv5734155103 #yiv5734155103ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv5734155103 #yiv5734155103ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv5734155103 #yiv5734155103ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv5734155103
#yiv5734155103ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv5734155103