http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1433-berita-kecil-dari-sebuah-dusun
/*Berita Kecil dari Sebuah Dusun*/
Penulis: *Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group* Pada: Kamis, 31 Jan
2019, 05:30 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1433-berita-kecil-dari-sebuah-dusun>
<http://twitter.com/home/?status=Berita Kecil dari Sebuah Dusun
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1433-berita-kecil-dari-sebuah-dusun
via @mediaindonesia>
Berita Kecil dari Sebuah Dusun
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/01/b4fd1725e206ff6aec7544b8305855bc.jpg>
SETIAP demokrat sejati kiranya percaya oposisi merupakan syarat yang
perlu bagi tegaknya demokrasi. Juga kiranya percaya oposisi yang
terlembagakan merupakan manifestasi kemajuan demokrasi.
Akan tetapi, kian memanas suhu Pilpres 2019, sepertinya kian terbukti
pula pandangan Robert Dahl bahwa oposisi terlembagakan hanya eksis di
dalam sistem dua partai dan tidak di dalam sistem multipartai. Yang kini
terjadi oposisi hantam kromo.
Hantam kromo itu juga merasuk kaum cerdik pandai yang tidak jelas
partainya, tetapi mengambil posisi sebagai oposisi seperti partai oposisi.
Pemilu serentak ditengarai dapat membuat keterbelahan di tingkat warga
menjadi menonjol karena parpol yang dipilih tidak lurus sejalan dengan
pilihan capres yang diusung partai. Dalam hal ini rasanya partai tidak
mampu mengelola konflik di tingkat warga bila konflik itu terjadi
gara-gara split-ticket voting.
Dalam perspektif itulah kiranya larangan memasang atribut partai dalam
bentuk apa pun yang terjadi di Dusun Rowosari, Desa Manggong, Kecamatan
Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, perlu dilihat dengan kaca
pembesar.
Larangan memasang atribut parpol itu muncul sebagai sebuah berita kecil.
Judul berita kecil itu mengekspresikan perkara besar, 'Cegah Konflik,
Warga Tolak Spanduk Parpol'. Yang memberitakannya salah satu koran besar
(Kompas, 30/1).
Larangan memasang atribut partai dalam bentuk apa pun itu diumumkan
melalui spanduk. Dalam berita diinformasikan secara singkat bahwa di
dusun tetangga ada empat calon anggota legislatif dari sejumlah parpol.
Yang menjadi sumber berita ialah Ketua Karang Taruna Dusun Rowosari.
Karang Taruna organisasi orang muda. Organisasi orang muda itu membuat
dusunnya tertutup terhadap sosialisasi parpol. Karang Taruna organisasi
nonpartisan, tetapi melarang dusunnya tersosialisasikan parpol kiranya
perbuatan melawan hak warga untuk mendapatkan informasi.
Tentu saja persoalan perlu ditegakkan dalam konteks lokal. Di dusun
tetangga ada empat calon anggota legislatif dari sejumlah parpol.
Bayangkanlah terjadi persaingan merebut suara warga di dusun tetangga
itu yang rupanya dikhawatirkan dapat menimbulkan konflik dan berimbas ke
Dusun Rowosari. Untuk mencegah efek domino di level dusun itu, warga
Dusun Rowosari melarang pemasangan atribut partai dalam bentuk apa pun.
Sebuah tindakan yang selintas terkesan antipartai.
Tindakan itu lokal sekali, tetapi sepertinya perlu dibaca dalam konteks
besar. Kita sudah 20 tahun berdemokrasi multipartai secara nasional.
Bahkan, demokrasi langsung di dusun lebih tua lagi. Pemilihan kepala
desa lazimnya diikuti multicalon. Kenapa sekarang timbul kekhawatiran
akan pecah konflik di tingkat dusun dan untuk menghindarinya warga
melarang pemasangan atribut partai dalam bentuk apa pun?
Mungkin jawabannya karena dalam atribut partai bukan hanya ada potret
diri caleg, melainkan juga ada atribut pasangan calon presiden-wakil
presiden. Padahal secara umum atmosfer nasional sedang disesaki tajamnya
kompetisi Jokowi-Ma'ruf Amin versus Prabowo-Sandiaga Uno, yang seakan
membuat warga yang satu berada 'di sini' dan yang lain berada 'di sana'.
Bahkan, terjadi kekonyolan, katanya timbul konflik dalam rumah tangga
karena perbedaan pilihan capres. Pilihan personal dapat merusak harmoni
kebersamaan di tingkat ikatan yang paling kuat, yaitu keluarga.
Di sisi lain dalam pilpres, partai berkelakuan faksi, yaitu bagian yang
melawan keseluruhan. Bukan bagian dari keseluruhan. Meminjam pandangan
ahli partai Giovanni Sartori, kita masih berada di jalan panjang
transisi dari 'part' ke 'party', dari 'bagian' ke 'keseluruhan'.
Hantam kromo dengan berita bohong demi memenangkan paslon presiden-wakil
presiden, misalnya, bisa membuat bagian dari kita copot atau mencopotkan
diri dari keseluruhan.
Rasanya kini perlu merasakan kembali suasana kebatinan nasional ketika
Liberty Manik menciptakan lagu Satu Nusa Satu Bangsa yang pertama kali
disiarkan radio pada 1947. 'Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Kita.
Tanah air pasti jaya untuk selama-lamanya.'
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1433-berita-kecil-dari-sebuah-dusun>
<http://twitter.com/home/?status=Berita Kecil dari Sebuah Dusun
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1433-berita-kecil-dari-sebuah-dusun
via @mediaindonesia>