Sejarah Panjang Rumah Sakit Gatot Subroto

Gedung RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad. FOTO/rspadgs.net
Oleh: Petrik Matanasi - 1 Februari 2019Dibaca Normal 3 menitRSPAD Gatot Subroto 
adalah rumah sakit tua di Indonesia yang sudah ada sejak zaman 
Belanda..tirto.id - Pada September 1965, usia Hutomo Mandala Putra baru 3 tahun 
3 bulan. Seingat Probosutedjo, dalam Memoar Romantika Probosutedjo: Saya dan 
Mas Harto(2013), hari itu tanggal 27 September 1965, Bob Hasan baru saja kirim 
daging menjangan. Di dapur, ada Siti Hartinah, perempuan yang dipanggil Mbakyu 
oleh Probo, sedang mengolah daging menjangan menjadi sup. Tommy sedang 
bermain-main dengan adiknya, Mamiek. Dua bocah kecil itu lalu berlari-lari ke 
dapur.

“Saat Mbakyu Harto sedang mengangkat panci berisi sup panas itu, dia tak 
melihat Tommy berlarian bersama Mamiek. Tommy berlari menabrak Mbakyu Harto. 
Terjadilah musibah itu. Panci sup lepas dari tangan Mbakyu Harto dan isinya 
mengguyur tubuh Tommy,” tulis Probo.

Tommy kecil lalu dibawa ke rumah sakit Gatot Subroto di bilangan Kwini, rumah 
sakitnya Angkatan Darat, karena suami Siti Hartinah adalah Mayor Jenderal 
Soeharto, waktu itu masih Pangkostrad. Di rumah sakit itulah Tommy dirawat. Di 
malam jahanam 30 September 1965 (G30S) Soeharto sempat berada di situ sebelum 
pulang ke rumah.

Beberapa malam kemudian, Soeharto ada di rumah sakit itu lagi. Kali ini bukan 
cuma urus Tommy. Pada malam 4 Oktober 1965, ada beberapa jenazah jenderal yang 
diotopsi—setelah ditemukan di sumur tua Lubang Buaya akibat jadi korban dari 
kelompok G30S pimpinan Letnan Kolonel Untung. Salah satunya atasan Soeharto, 
Letnan Jenderal Ahmad Yani.

Baca juga: Di Mana Mereka di Malam Jahanam Itu?
Rumah sakit ini terkait juga dengan sejarah kedokteran di Indonesia. Pada 
pertengahan abad 19, rumah sakit militer ini berperan besar bagi kelahiran 
pendidikan dokter di Indonesia. Saat itu dimulai pada 2 Januari 1849, rumah 
sakit ini jadi tempat kursus bagi 12 orang pemuda untuk dijadikan semacam 
mantri. Belakangan kursus itu berkembang menjadi sekolah dokter Jawa (STOVIA), 
yang lokasinya sekarang hanya bersebelahan dengan RS Gatot Subroto. STOVIA 
belakangan menjadi Geneeskundige Hoogeschool (sekolah tinggi kedokteran) dan 
akhirnya jadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Baca juga: Bapak Bangsa Lahir di Kwitang

Dulu KNIL Yang Punya
Seperti dicatat Adolf Heuken dalam Tempat-tempat Bersejarah di 
Jakarta(2016:385&425), tanah di kawasan Gambir dan sekitarnya dulu dimiliki 
oleh Cornelis Chastelien. Setelah Chastelien meninggal dunia, di bekas tanahnya 
itulah berdiri berdiri Landhuis Waltevreden yang didirikan oleh Gubernur 
Jenderal Jacob Mossel pada 1761.

Kawasan yang sekarang terbentang di antara Lapangan Banteng dan Senen itu 
adalah kawasan pemerintahan dan militer sejak awal abad 19. Tak hanya 
kantor-kantor, pemukiman, atau tangsi-tangsi, kawasan itu mau tidak mau harus 
punya rumah sakit. Rumah sakit ini selesai dibangun pada 1836 dan kemudian 
dikenal sebagai: Groot Militair Hospitaal Weltevreden (rumah sakit militer 
besar Jakarta).

Rumah sakit ini menjadi salah satu bangunan penting, baik bagi Belanda maupun 
bagi Jepang yang kemudian bergantian menjajah. Ketika Jepang datang, rumah 
sakit ini jadi milik Tentara ke-16, alias Rikugun Byoin. Sayangnya, setelah 
Jepang kalah, pihak Republik Indonesia yang baru berdiri belum bisa 
memaksimalkan rumah sakit ini demi kepentingan republik. Ibukota keburu 
dipindah ke Yogyakarta karena tidak aman dari gangguan tentara Belanda yang 
akhirnya bikin markas di bekas tangsi Batalyon X KNIL di Lapangan Banteng.

Hingga 1950, militer Belanda di Indonesia memanfaatkan rumah sakit ini hingga 
datangnya pengakuan Kedaulatan 27 Desember 1949 dan angkat kakinya tentara 
Belanda pada 1950. Pemilik rumah sakit pun berganti pada 1950. Saat itu 
pemimpin RS adalah Kolonel dokter van Bommel. 

Menurut dr. Satrio dalam Perjuangan dan Pengabdian: Mosaik Kenangan Prof. Dr. 
Satrio, 1916-1986 (1986:132), di bawah van Bommel ada 60 dokter, di antaranya 
10 spesialis. Nyaris semua berstatus militer. Salah seorah ahli bedah, Borgers, 
berstatus sipil di sana. Selain itu ada 300 perawat yang semuanya perempuan 
Belanda. 

Acara serah terima diadakan di bawah pohon beringin pada 26 Juli 1950. Sejak 
pagi Kolonel dokter Satrio sudah siap. Namun, Kolonel dokter Bommel berhalangan 
karena dipanggil pulang, sehingga diwakilkan kepada Letnan Kolonel dokter 
Scheffers. Saat itu Satrio didampingi Letnan Kolonel dr. Marsetio, Letnan 
Kolonel dr. Senduk, dan 20 perawat. 


Jadi Rumah Sakit Mentereng
Groot Militaire Hospitaal di Jakarta tidak hanya ganti kepemilikan, tapi ikut 
ganti nama juga. Ada banyak Rumah Sakit Tentara (RST) di Indonesia setelah 
1950, biasanya diambil-alih dari KNIL. Tapi RST ini adalah pusatnya, maka 
namanya dikenal sebagai Rumah Sakit Tentara Pusat (RSTP). Rumah sakit militer 
ini berada di bawah Djawatan Kesehatan Tentara Angkatan Darat (DKTAD), yang 
kelak berganti nama jadi Djawatan Kesehatan Angkatan Darat (DKAD) pada 1953. 
Karena itu pula, nama rumah sakit pun berganti jadi Rumah Sakit Pusat Angkatan 
Darat (RUMKIT PUS-AD).

Pada 1957, Gatot Subroto yang saat itu menjabat sebagai Wakil Kepala Staf 
Angkatan Darat punya prakarsa membangun sarana bengkel ortopedi, fisioterapi, 
lapangan olah raga (basket), asrama. Itu alasan kemudian nama rumah sakit ini 
sesuai namanya: Gatot Subroto.



Baca juga: Gatot Subroto, Sersan "Gila" yang Cinta Damai
Seperti dirilis Antara (18/02/1988), “Sejak tahun 1950 hingga sekarang rumah 
sakit itu terus berkembang sehingga sekarang dapat digolongkan rumah sakit yang 
memiliki fasilitas paling lengkap.” Fungsi-fungsinya sebagai rumah sakit 
militer tidak berubah: sebagai rumah sakit rujukan tertinggi di lingkungan 
Angkatan Darat, meski terbuka juga bagi masyarakat umum.

Pemerintah juga berkali-kali merogoh kantong untuk membangun berbagai fasilitas 
rumah sakit ini. Pada 1988, telah diselesaikan pembangunan lanjutan berupa 
gedung enam tingkat untuk poliklinik tahap II dan administrasi pusat, yang 
dilakukan di atas tanah 5.426 meter persegi. Biayanya tidak kecil, Rp12,55 
miliar. Setelahnya, Ibu Negara Tien Soeharto yang menggunting pita 
peresmiannya. 

Kini rumah sakit elite ini dikenal dengan nama Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat 
(RSPAD) Gatot Subroto. Rumah sakit ini menjadi saksi kematian Tien Soeharto 
pada 28 April 1996, begitupun suami tercintanya, Soeharto. Berhari-hari sebelum 
meninggal dunia pada 27 Januari 2008, Soeharto sempat dirawat di sini.

Lagi-lagi, keluarga Soeharto punya pertautan erat dengan rumah sakit bersejarah 
ini.
Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik 
Matanasi
(tirto.id - Humaniora) 


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nuran Wibisono

Kirim email ke