https://industri.kontan.co.id/news/lahan-sudah-bebas-80-ini-kabar-terbaru-proyek-kereta-cepat-jakarta-bandung
Lahan sudah bebas 80%, ini kabar terbaru proyek kereta cepat Jakarta-Bandung

Selasa, 30 Oktober 2018 / 19:52 WIB

[image: Lahan sudah bebas 80%, ini kabar terbaru proyek kereta cepat
Jakarta-Bandung]

ILUSTRASI. Chandra Dwiputra, Presdir PT. Kereta Cepat Indonesia China (KCIC)



* KONTAN.CO.ID <http://KONTAN.CO.ID> - JAKARTA*. Meski berjalan lambat,
proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung bukannya jalan di tempat. Proyek yang
digarap PT Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC) tersebut masih terus digenjot
setelah pinjaman pendanaan dari China Development Bank (CDB) cair secara
bertahap sejak April 2018 lalu.

Hingga saat ini, KCIC telah mendapatkan pencairan pinjaman sebesar US$
810,4 juta yang diperoleh pada April, Agustus, dan Oktober 2018. Pada
Desember mendatang, KCIC akan mendapatkan pencairan pinjaman yang keempat
sekitar US$ 365 juta lagi. Pinjaman yang sudah diterima tersebut digunakan
membayar kontraktor, konsultan, pembebasan lahan, dan lain-lain.



BACA JUGA
·        Wijaya Karya (WIKA) pastikan pendanaan kereta cepat aman
<https://industri.kontan.co.id/news/wijaya-karya-wika-pastikan-pendanaan-kereta-cepat-aman>


·        Tak hanya garap konstruksi, ini rencana bisnis Wijaya Karya (WIKA)
<https://industri.kontan.co.id/news/tak-hanya-garap-konstruksi-ini-rencana-bisnis-wijaya-karya-wika>

Saat bertandang ke KONTAN, Chandra Dwiputra, Direktur Utama KCIC
mengungkapkan, progres pembebasan lahan kereta cepat sepanjang 142,3
kilometer (km) tersebut sudah mencapai 80% dari total kebutuhan lahan atau
sepanjang 113 km. Sisanya akan dikejar rampung pada akhir tahun ini.

"Adapun 20% yang belum bebas tersebut tersebar di banyak titik. Kebanyak
yang bermasalah ini adalah fasilitas sosial (fasos)/fasilitas umum (fasum)
seperti jalan, masjid dan lain-lain. Kami harus terlebih dahulu membangun
penggantinya baru itu bisa dan itu sedang proses saat ini." kata Chandra,
Selasa (30/10).

Sementara untuk pembebasan lahan yang bersinggungan dengan kawasan industri
di Karawang juga tengah dalam proses penyelesaian di pengadilan. Seperti
diketahui, ada lima pabrik yang terkena dampak dari proyek kereta api cepat
tersebut.

Adapun total dana pembebasan lahan yang sudah digelontorkan KCIC dalam
membebaskan lahan sudah mencapai Rp 4,5 triliun sampai sekarang. Seluruh
pembebasan lahan untuk proyek kereta cepat tersebut merupakan beban KCIC
dan sudah masuk dalam total nilai investasi proyek itu yakni US$ 6,071
miliar.

Sedangkan progres konstruksinya saat ini masih kecil yakni 3,2% dan bahkan
sampai akhir tahun KCIC hanya menargetkan konstruksi sampai 8% saja.
Menurut Chandra, pihaknya ingin fokus membereskan lahan-lahan yang sudah
mereka akuisisi tersebut sehingga saat sudah mulai kontruksi tidak ada
gangguan lagi.

KCIC baru akan menggeber pekerjaan konstruksi kereta cepat itu di 2019.
KCIC menargetkan progres konstruksinya akan mencapai 60% pada akhir tahun
depan. Sementara keseluruhan proyek ditargetkan akan beroperasi pada
pertengahan 2021.

Pekerjaan fisik yang dilakukan saat ini ada di 34 titik. Konstruksi
terutama difokuskan pada titik-titik kritis seperti struktur, tunnel,
jembatan, dan *subgrade*. Disebut titik kritis karena nantinya akan
bersinggungan dengan fasilitas dan penunjang infastruktur yang sudah ada
sebelumnya.

Sebagian jalur kereta cepat ini akan dibangun di terowongan alias tunnel
sepanjang 16,8 km. Nantinya, akan ada total 13 tunnel yang akan dibangun
yang sebagian besar ada di wilayah Purwakarta dan satu terletak di wilayah
Halim karena disana sudah ada proyek LRT dengan panjang 1,4 km. Tunnel
terpanjang nanti akan mencapai 4,47 km di wilayah Walini.

Selain melewati terowongan, sepanjang 82,6 km lintasan kereta cepat ini
akan dibuat melayang atau *elevated*. Lalu 19,2 km akan membelah bukit dan
23,58 km berupa *embankment *atau pematang.

Proyek ini dibangun oleh konsorsium tujuh perusahaan dengan nilai kontrak
US$ 4,07 miliar dimana hanya satu kontraktor yang berasal dari Indonesia
yakni PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dengan porsi 30%. Selebihnya adalah
perusahaan China. Dengan porsi lokal tersebut maka minimal 30% material
proyek tersebut menggunakan produk WIKA.

*Bangun TOD dengan nilai Rp 362 triliun*

Disamping membangun infrastruktur kereta cepat tersebut, KCIC juga akan
mengembangkan kawasan *transit oriented development* (TOD) di empat titik
stasiun proyek kereta cepat tersebut yakni Halim, Karawang, Walini, dan
Tegalluar.

Kawasan TOD tersebut ditargetkan akan menjadi kota-kota baru yang
didalamnya akan dibangun kawasan bisnis berkelas internanasional,
MICE, *medical
district,*pusat riset dan pengembangan, kawasan pendidikan, dan
lain-lain. Total
lahan yang akan dikembangkan menjadi TOD sekitar 1.800 hektare (ha).
Rinciannya, 250 ha di Karawang, 1.278 ha di Walini, di Halim 18,6 ha dan
sisanya di Tegalluar.

Menurut Vianda M Mangan, GM Project Development KCIC, total nilai valuasi
keempat kawasan TOD tersebut akan mencapai Rp 362 triliun. Sementara
kalkulasi laba yang akan diperoleh dari pengembangan kota-kota baru
tersebut akan mencapai sekitar Rp 95 triliun- Rp 100 triliun.

Sementara Chandra mengatakan, dalam mengembangkan kawasan TOD tersebut,
KCIC akan menggarap *master plan*-nya saja. Nantinya, mereka akan
menggandeng banyak investor atau *developer *dalam membangun kawasan
tersebut. "Jadi kami akan pasarkan lahan kavling paling kecil 3,8 ha untuk
dikerjasamakan dengan skema *build and operated* (BOT)," jelasnya.

Keempat kawasan TOD tersebut nantinya akan dikembangkan secara
bersamaan. Sedangkan
untuk pembangunan infrastrukturnya sudah masuk dalam paket kontrak
kontruksi pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung. Invetasinya
sekitar US$ 40 juta.

Kirim email ke