RRC / XJP butuh pijakan di Indonesia untuk meronce rangkaian OBOR lautnya 
(string of pearls). Mereka mengincar beberapa proyek kawasan ekonomi khusus 
(KEK) untuk dijadikan simpul-simpul OBOR antara LCS dan Samudra Indonesia. 
Kereta cepat JKT-BDG itu mah cuma semacam "mahar" atau signature bonusnya.

Nah, Jokowi-Luhut sudah menendang Jepang dari rel kereta. Sudah pula 
menyerahkan 3 KEK, plus Morowali, plus Mandalika, Danau Toba, Bali dll untuk 
dimodali RRC. Lalu mana "mahar"nya kok nggak dibayar-bayar...??? Padahal para 
pengembang sudah kebelet pengin keruk keuntungan dari pengembangan kawasan 
(TOD) di sepanjang rel kereta cepat (semoga mantu tidak ikut-ikut).
Entah sengaja atau bagaimana, tiba-tiba KPK grebek Meikarta (yang disebut-sebut 
sebagai salahsatu TOD). Luhut pun kalangkabut, Tjahjo Kumolo bingung, presiden 
mulai nyembur-nyembur "sontoloyo"; "genderuwo" dsb. sambil kampanye "Saya bukan 
PKI" - sekarang ditambah "propanganda Rusia" segala. 

Pendeknya semakin panjanglah puisi yang harus ditulis neng Sri untuk menjawab 
'sekedar bertanya', hehe...
--- jonathangoeij@... wrote:

memang begitu, rencananya khan selesai dan operasi 2019 awal sebelum pilpres.

--- bhjo@... wrote :
Tentunya buat Jokowi projek high speed train Jakarta-Bandung adalah penting 
dalam rangka pemilihan umum. 
Projek ini tidak penting utk XJP secara pribadi sebab XJP mempunyai tugas yg 
lebih penting dan cuma ikut campur dalam masalah yg lebih penting dalam masalah 
geo-economics dan geopolitics seperti perang dagang dgn AS. XJP tidak ikut 
campur dalam urusan seperti HPT Jakarta-Bandung.

Kirim email ke