https://nasional.kompas.com/read/2019/02/04/21520911/pilpres-terjebak-isu-recehan#utm_source=insider&utm_medium=web_push&utm_campaign=pilpresrecehan_22.15&webPushId=NDM0OA
==





https://nasional.kompas.com/read/2019/02/04/21520911/pilpres-terjebak-isu-recehan#utm_source=insider&utm_medium=web_push&utm_campaign=pilpresrecehan_22.15&webPushId=NDM0OA
==


*Pilpres Terjebak Isu Recehan *

HERYADI SILVIANTO

Kompas.com - 04/02/2019, 21:52 WIB
Editor : Amir Sodikin



HINGGA berlalunya debat sesi pertama calon presiden dan wakil presiden pada
tanggal 17 Januari 2019, secara jujur kita tidak menemukan adanya diskursus
yang sengit terkait sejumlah isu pokok yang sebenarnya layak diuji oleh
masing-masing kandidat. Debat malah urung menjadi forum yang menguliti visi
dan misi kandidat, namun jadi semacam etalase kisi-kisi dan presentasi
basa-basi.


Padahal panggung debat berbiaya hampir 250 juta tersebut, tadinya
diharapkan mampu menjadi sarana menggali cara berpikir (way of thinking)
capres untuk mengelola hampir 250 juta jiwa rakyat Indonesia.


Hak azasi manusia (HAM) sebagai tema awal saja tidak tereksplorasi dengan
maksimal. Kita berharap tema strategis akan jauh lebih dominan hari-hari
kedepan seperti ketahanan pangan, kemiskinan, importasi, pengelolaan sumber
daya alam (SDA), reformasi birokrasi, korupsi dan sejenisnya Kampanye sudah
dimulai sejak tanggal 23 September 2018 hingga nanti tanggal 13 April 2019
untuk memilih calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR
RI), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD) serta pasangan calon presiden dan wakil presiden.


Baca juga: 4 Kasus Pelanggaran Kampanye Pileg 2019 yang Berujung Penjara
Ironisnya lima bulan terakhir isu yang banyak menyeruak di publik justru
isu sampiran sekelas infotainment seperti kandidat yang memakai petai di
kepala, ungkapan tempe setipis anjungan tunai mandiri (ATM), uji tes ngaji,
keberanian jadi imam shalat, ungkapan sontoloyo, genderuwo, kehidupan
keluarga, tampang boyolali, dan sejenisnya. Isu remeh, subtansi receh
Terhitung kurang dari delapan puluh hari waktu yang masih tersisa bagi
seluruh kontestan politik untuk menarik simpati pemilih.


Sejatinya kita mendorong demokrasi rasional, namun secara faktual terlalu
banyak program kampanye yang dibangun dengan pendekatan irasional. Berbagai
macam cara yang ditempuh dan sejumlah gaya digunakan untuk kesekian kali
nampak belum menyentuh persoalan subtansial. Ironisnya beragam isu recehan
seperti sengaja “dikembangbiakan” oleh masing-masing tim sukses,
“dikipas-kipasi” oleh media dan “diobral” oleh para pegiat media sosial.


Ibaratnya ruang publik kita kini hancur di darat, tenggelam di laut dan
porak poranda di udara. Sungguh lelah mengikuti dan seringkali berhenti
mengamati, namun setiap hari isu-isu remeh subtansi receh datang silih
berganti memapar publik. Tidak terkendali dan membabi buta, ruang publik
“diperkosa” oleh para aktor politik. Baca juga: Masyarakat Harus Kritis dan
Proaktif jika Ada Iklan Kampanye di Luar Jadwal   Berdebat di ruang kaca,
bertengkar di warung kopi, berseteru di aplikasi. Hoaks dijadikan senjata,
pun ujaran kebencian jadi penghias.


Mencegah prilaku hoaks dan ujaran kebencian sambil menghabisi lawan bicara
dengan ‘meme’ sejenis, melarang diskusi politik dalam platform sambil
mendorong aktor politik lain menjadi prilaku lazim sejumlah obrolan media
sosial. Standar ganda tidak hanya ada di atas roda dua, namun juga di balik
kemudi smartphone.


Dalam titik tertentu kita seringkali bertanya, jangan-jangan isu recehan
tersebut sengaja dibuat dan dipabrikasi untuk menenggelamkan isu-isu pokok,
karena tujuan dari kontestasi politik sesungguhnya yaitu saling mengalahkan
dan menjelekkan satu sama lain (zero sum game). Bukan sibuk dan fokus
menumbuhkan gagasan brilian, hadirkan terobosan kebijakan yang mendasar dan
dorong program strategis yang membumi.



Mereka menganggap bahwa semua hal baik cukup ada di visi dan misi, sisanya
bertempur sampai hancur. Terpelanting agenda setting Kita sering mendengar
tentang istilah agenda setting yaitu upaya media untuk membuat
pemberitaannya tidak semata-mata menjadi saluran isu dan peristiwa. Ada
strategi, ada kerangka yang dimainkan media sehingga pemberitaan mempunyai
nilai lebih terhadap persoalan yang muncul. Maxwell McCombs dan


Donald Shaw menjelaskan agenda setting dibangun dengan tiga pilar utama:
media agenda, public agenda, dan policy agenda. Sejatinya antara satu
agenda dengan lainnya saling memengaruhi. Dalam membaca siklus agenda
setting sesungguhnya tidak mesti didominasi dan diawali kepentingan media
semata (issues discussed in the media).


Bisa jadi sebuah isu di inisiasi oleh publik (issues discussed and
personally relevant to the public) maupun pemegang kebijakan (issues that
policy makers consider important). Repotnya kita menduga proses merumuskan
agenda yang dilakukan oleh para pelaku agenda setting dilakukan dengan
metodologi dan pendekatan yang salah sejak awal. Setiap hari para tim
sukses memperhatikan angka-angka elektabilitas dari balik layar, persis
seperti pialang saham di bursa.


Setiap angka yang menunjukan tanda negatif menjadi kabar buruk yang membuat
mereka ‘blingsatan’ dan berpikir siasat baru untuk menaikan kandidat lewat
strategi menjatuhkan kompetitor. Lalu di sepanjang waktu melakukan
monitoring dan social media audit memperhatikan ucapan, teks, tindakan dan
sikap kandidat lain untuk dicari ‘borok’ dan cela. Salah sedikit langsung
di-bully. Pola luka yang dicari-cari dan dibiarkan basah terus menerus.


Kita juga menyesal dengan apa yang terjadi dengan media, meski tidak
seluruhnya. Ada saja wartawan yang malas turun ke lapangan, menyelami
aslinya pertarungan politik langsung dari sumbernya, yang bisa mengujinya
dengan realitas empirik, hingga akhirnya mendapatkan sintesis baru cara
menghasilkan berita. Mereka lebih senang memantau narasumber dari twit dan
vlog. Menuliskannya melewati meja redaksi, jadilah produk berita
‘asal-asalan’ dibagi dan dialihpesankan oleh warganet (viral).


‘Kicauan dan ocehan’ jadi berita, sedikit balut sana sini dari mulai judul
berita yang bersifat clickbait hingga isi yang menggoda pembaca lakukan
clicking monkey. Dalam lirih, dari balik ‘jendela rumah’ saat menengok
keluar ternyata situasi serupa terjadi di banyak negara, bahkan dalam satu
titik tertentu hingga jadi konflik dan berkepanjangan. U-turn Melihat
seluruh fenomena ini, ada baiknya kita mulai mengambil arah balik (U-turn)
terhadap semua sengkarut tema kampanye yang ada saat ini, mengambil posisi
lebih tenang dan menjaga jarak.


Mau tidak mau harus dimulai dari para ator politik dan pegiat media.
Mulailah bicara yang benar terkait hal-hal yang subtansial. Dalam proses
mediasi informasi itu melelahkan, namun setidaknya kita bisa merasakan
dengan mudah ada kekacauan yang sedang terjadi. Proses U-turn memang tidak
bisa dilakukan secara tergesa-gesa dan cepat, sebagaimana kita akan memutar
balik di jalan raya. Kemauan berdialog dan saling membuka diri adalah cara
awal untuk memulai.


Meski berat situasi untuk berbalik mutlak dilakukan, daripada kita terus
memaksakan kompetisi yang jalan dan arah tujuan tidak jelas. Sebelum kita
terlalu jauh tersesat dan tidak menemukan ‘jalan pulang’. (Heryadi
Silvianto, Dosen Fikom Universitas Multimedia Nusantara)


Video Pilihan


Editor : Amir Sodikin

HERYADI SILVIANTO

Kompas.com - 04/02/2019, 21:52 WIB
Editor : Amir Sodikin



HINGGA berlalunya debat sesi pertama calon presiden dan wakil presiden pada
tanggal 17 Januari 2019, secara jujur kita tidak menemukan adanya diskursus
yang sengit terkait sejumlah isu pokok yang sebenarnya layak diuji oleh
masing-masing kandidat. Debat malah urung menjadi forum yang menguliti visi
dan misi kandidat, namun jadi semacam etalase kisi-kisi dan presentasi
basa-basi.


Padahal panggung debat berbiaya hampir 250 juta tersebut, tadinya
diharapkan mampu menjadi sarana menggali cara berpikir (way of thinking)
capres untuk mengelola hampir 250 juta jiwa rakyat Indonesia.


Hak azasi manusia (HAM) sebagai tema awal saja tidak tereksplorasi dengan
maksimal. Kita berharap tema strategis akan jauh lebih dominan hari-hari
kedepan seperti ketahanan pangan, kemiskinan, importasi, pengelolaan sumber
daya alam (SDA), reformasi birokrasi, korupsi dan sejenisnya Kampanye sudah
dimulai sejak tanggal 23 September 2018 hingga nanti tanggal 13 April 2019
untuk memilih calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR
RI), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD) serta pasangan calon presiden dan wakil presiden.


Baca juga: 4 Kasus Pelanggaran Kampanye Pileg 2019 yang Berujung Penjara
Ironisnya lima bulan terakhir isu yang banyak menyeruak di publik justru
isu sampiran sekelas infotainment seperti kandidat yang memakai petai di
kepala, ungkapan tempe setipis anjungan tunai mandiri (ATM), uji tes ngaji,
keberanian jadi imam shalat, ungkapan sontoloyo, genderuwo, kehidupan
keluarga, tampang boyolali, dan sejenisnya. Isu remeh, subtansi receh
Terhitung kurang dari delapan puluh hari waktu yang masih tersisa bagi
seluruh kontestan politik untuk menarik simpati pemilih.


Sejatinya kita mendorong demokrasi rasional, namun secara faktual terlalu
banyak program kampanye yang dibangun dengan pendekatan irasional. Berbagai
macam cara yang ditempuh dan sejumlah gaya digunakan untuk kesekian kali
nampak belum menyentuh persoalan subtansial. Ironisnya beragam isu recehan
seperti sengaja “dikembangbiakan” oleh masing-masing tim sukses,
“dikipas-kipasi” oleh media dan “diobral” oleh para pegiat media sosial.


Ibaratnya ruang publik kita kini hancur di darat, tenggelam di laut dan
porak poranda di udara. Sungguh lelah mengikuti dan seringkali berhenti
mengamati, namun setiap hari isu-isu remeh subtansi receh datang silih
berganti memapar publik. Tidak terkendali dan membabi buta, ruang publik
“diperkosa” oleh para aktor politik. Baca juga: Masyarakat Harus Kritis dan
Proaktif jika Ada Iklan Kampanye di Luar Jadwal   Berdebat di ruang kaca,
bertengkar di warung kopi, berseteru di aplikasi. Hoaks dijadikan senjata,
pun ujaran kebencian jadi penghias.


Mencegah prilaku hoaks dan ujaran kebencian sambil menghabisi lawan bicara
dengan ‘meme’ sejenis, melarang diskusi politik dalam platform sambil
mendorong aktor politik lain menjadi prilaku lazim sejumlah obrolan media
sosial. Standar ganda tidak hanya ada di atas roda dua, namun juga di balik
kemudi smartphone.


Dalam titik tertentu kita seringkali bertanya, jangan-jangan isu recehan
tersebut sengaja dibuat dan dipabrikasi untuk menenggelamkan isu-isu pokok,
karena tujuan dari kontestasi politik sesungguhnya yaitu saling mengalahkan
dan menjelekkan satu sama lain (zero sum game). Bukan sibuk dan fokus
menumbuhkan gagasan brilian, hadirkan terobosan kebijakan yang mendasar dan
dorong program strategis yang membumi.



Mereka menganggap bahwa semua hal baik cukup ada di visi dan misi, sisanya
bertempur sampai hancur. Terpelanting agenda setting Kita sering mendengar
tentang istilah agenda setting yaitu upaya media untuk membuat
pemberitaannya tidak semata-mata menjadi saluran isu dan peristiwa. Ada
strategi, ada kerangka yang dimainkan media sehingga pemberitaan mempunyai
nilai lebih terhadap persoalan yang muncul. Maxwell McCombs dan


Donald Shaw menjelaskan agenda setting dibangun dengan tiga pilar utama:
media agenda, public agenda, dan policy agenda. Sejatinya antara satu
agenda dengan lainnya saling memengaruhi. Dalam membaca siklus agenda
setting sesungguhnya tidak mesti didominasi dan diawali kepentingan media
semata (issues discussed in the media).


Bisa jadi sebuah isu di inisiasi oleh publik (issues discussed and
personally relevant to the public) maupun pemegang kebijakan (issues that
policy makers consider important). Repotnya kita menduga proses merumuskan
agenda yang dilakukan oleh para pelaku agenda setting dilakukan dengan
metodologi dan pendekatan yang salah sejak awal. Setiap hari para tim
sukses memperhatikan angka-angka elektabilitas dari balik layar, persis
seperti pialang saham di bursa.


Setiap angka yang menunjukan tanda negatif menjadi kabar buruk yang membuat
mereka ‘blingsatan’ dan berpikir siasat baru untuk menaikan kandidat lewat
strategi menjatuhkan kompetitor. Lalu di sepanjang waktu melakukan
monitoring dan social media audit memperhatikan ucapan, teks, tindakan dan
sikap kandidat lain untuk dicari ‘borok’ dan cela. Salah sedikit langsung
di-bully. Pola luka yang dicari-cari dan dibiarkan basah terus menerus.


Kita juga menyesal dengan apa yang terjadi dengan media, meski tidak
seluruhnya. Ada saja wartawan yang malas turun ke lapangan, menyelami
aslinya pertarungan politik langsung dari sumbernya, yang bisa mengujinya
dengan realitas empirik, hingga akhirnya mendapatkan sintesis baru cara
menghasilkan berita. Mereka lebih senang memantau narasumber dari twit dan
vlog. Menuliskannya melewati meja redaksi, jadilah produk berita
‘asal-asalan’ dibagi dan dialihpesankan oleh warganet (viral).


‘Kicauan dan ocehan’ jadi berita, sedikit balut sana sini dari mulai judul
berita yang bersifat clickbait hingga isi yang menggoda pembaca lakukan
clicking monkey. Dalam lirih, dari balik ‘jendela rumah’ saat menengok
keluar ternyata situasi serupa terjadi di banyak negara, bahkan dalam satu
titik tertentu hingga jadi konflik dan berkepanjangan. U-turn Melihat
seluruh fenomena ini, ada baiknya kita mulai mengambil arah balik (U-turn)
terhadap semua sengkarut tema kampanye yang ada saat ini, mengambil posisi
lebih tenang dan menjaga jarak.


Mau tidak mau harus dimulai dari para ator politik dan pegiat media.
Mulailah bicara yang benar terkait hal-hal yang subtansial. Dalam proses
mediasi informasi itu melelahkan, namun setidaknya kita bisa merasakan
dengan mudah ada kekacauan yang sedang terjadi. Proses U-turn memang tidak
bisa dilakukan secara tergesa-gesa dan cepat, sebagaimana kita akan memutar
balik di jalan raya. Kemauan berdialog dan saling membuka diri adalah cara
awal untuk memulai.


Meski berat situasi untuk berbalik mutlak dilakukan, daripada kita terus
memaksakan kompetisi yang jalan dan arah tujuan tidak jelas. Sebelum kita
terlalu jauh tersesat dan tidak menemukan ‘jalan pulang’. (Heryadi
Silvianto, Dosen Fikom Universitas Multimedia Nusantara)


Video Pilihan


Editor : Amir Sodikin

Kirim email ke