https://id.beritasatu.com/home/as-telah-kalah-di-afganistan/185223

*AS Telah Kalah di Afganistan?*
*Oleh Tri Winarno* | Jumat, 8 Februari 2019 | 0:04

Setelah lebih dari 17 tahun, Amerika Serikat (AS) kini menerima dua
kenyataan pahit terkait dengan perangnya di Afganistan. Pertama adalah AS
beserta sekutunya (NATO) dan termasuk pemerintah bonekanya, telah kalah
secara militer melawan Taliban.

Militer pemerintah Afganistan, walaupun lebih baik dari sebelumnya, tidak
mungkin dapat mengalahkan Taliban. Ini bukan karena semata-mata pasukan
pemerintah Afganistan tidak profesional dan tidak solid, namun Taliban jauh
lebih termotivasi dan dapat dukungan rakyat lebih luas.

Kenyataan pahit kedua adalah negosiasi damai dengan Taliban hanya pepesan
konsong; Taliban tidak mau bernegosiasi dengan AS atau AS dengan bonekanya
harus hengkang dari bumi Afganistan. Berbagai perundingan telah digelar,
baik secara terbuka maupun secara diam-diam lewat perantara, tapi tak
pernah membuahkan hasil.

Kondisi di lapangan semakin memburuk dan hanya tinggal waktu AS akan
hengkang dari Afganistan. Pemerintah Afganistan memang diperkirakan telah
mengontrol 60% penduduk Afganistan. Namun, Taliban telah menguasi hampir
setengah wilayah Afganistan. Secara sporadis Taliban mampu menyerang
wilayah yang dikuasai pemerintah, bahkan sampai di Ibu Kota Kabul.

Yang menyebabkan secara diplomatic tidak ada prospek perdamaian adalah
tekad Taliban dan kalkulasinya bahwa mereka percaya AS akan kelelahan
secara militer, energi dan dana dalam perangnya di Afganistan, seperti Uni
Soviet bubar gara-gara berperang dengan singa-singa dari Lembah Pesawar, di
mana keyakinan jihadnya adalah senjata andalan utamanya. Bayangkan setiap
tahun AS harus mengeluarkan dana sekitar US$ 45 milliar agar tetap bisa
bercokol mem-*back up *pasukan pemerintah Afganistan.

Tanda-tanda ‘kelelahan’ AS mulai terlihat. Baru-baru ini Gedung Putih telah
mengumumkan akan menarik separuh dari 14.000 pasukan AS di Afganistan.
Setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan akan menarik pasukannya dari
Syiria, diartikan oleh petinggi Taliban bahwa hanya tinggal masalah waktu
juga pasukan AS yang tersisa yaitu sekitar 7.000 dan 8.000 pasukan NATO
akan hengkang dari bumi Afganistan.

Penarikan total pasukan AS dan NATO sudah pasti akan terjadi mengingat
Trump sangat skeptis dapat memenangkan perang di Afganistan. Frustasi Trump
dapat dimengerti. Lebih dari 17.000 pasukan AS mati sia-sia di Afganistan
dan lebih dari 29.000 pasukan AS cacat permanen, bahkan banyak yang gila
sepulang dari Afganistan.

Perang Afganistan yang dimulai sejak serangan 9/11, telah menyedot biaya
perang lebih dari US$ 1 triliun. Sulit secara nalar AS akan menang perang
di Afganistan hanya dengan pasukan sebanyak 14.000 atau 7.000, sedangkan
dengan menggunakan lebih dari 100.000 pasukan gabungan AS dan NATO pada
awal perang saja tidak mampu.

Kenapa AS tidak hengkang saja langsung dari Afganistan? Alasan utamanya
adalah pemerintah Afganistan dipastikan akan tumbang dan dikhawatirkan
tempat tersebut akan berpotensi menjadi tempat pelatihan “teroris” yang
dengan mudah menyerang kepentingan AS. Atau setidak-setidaknya wilayah
tersebut akan menjadi tempat yang nyaman bagi “teroris” untuk dapat
beroperasi dengan tanpa gangguan yang berarti.

Alasan lain kenapa AS tidak cepat pulang --padahal faktanya di lapangan
pasukan AS tidak mampu bertahan menghadapi taktik gerilya Taliban-- karena
akan menimbulkan keraguan sekutunya bahwa AS tidak mampu lagi berperan
sebagai pemimpin dunia.

Sehingga citra AS sebagai *super power *akan runtuh seketika. Afganistan
adalah benar-benar ladang pembelajaran berharga bagi AS, maju kena mundur
kena. Maju terus di Afganistan enggak bisa menang, mundur *disorakin *Taliban
dan *dicuekin *sekutunya. Sehingga menjaga persepsi bahwa AS adalah negara
terkuat di jagat adalah sangat penting.

Karena itu AS tidak bisa begitu saja *ngacir *seolah-olah tanpa ada rasa
tanggung jawab. Sebab, jika AS meninggalkan Afganistan begitu saja, akan
menimbulkan keraguan bagi sekutu AS, di mana saja (baik di Timteng maupun
di Eropa dan Asia) bahwa suatu saat nanti mereka juga akan ditelantarkan
begitu saja oleh AS.

Karena itu, diperkirakan kebijakan AS di Afganistan selanjutnya adalah
menghindari risiko keluar dari Afganistan dengan cepat dan tanpa
pertimbangan yang matang tetapi dengan biaya yang minimal jika tetap
tinggal di Afganistan. Walaupun AS dan sekutu Eropa-nya tidak punya harapan
menang dengan Taliban, bahkan mendapatkan perjanjian perdamaiannya, maka
setidak-tidaknya mereka harus yakin bahwa pemerintah Afganistan tetap mampu
bertahan dan mampu menghadapi gempuran Taliban.

Kebijakan ini membutuhkan jumlah tentara yang memadai, tetap memberikan
dukungan intelijen, persenjataan dan pelatihan bagi tentara pemerintah
Afganistan; dan dalam situasi tertentu siap dan mampu melakukan campur
tangan langsung dengan target yang lebih mengecil.

Kemungkinan lain, kebijakan AS adalah melakukan reorientasi dan
meningkatkan pendekatan diplomatis. Usaha yang selalu dijajaki dan
diusahakan walaupun gagal adalah terus merayu Taliban agar mau menyepakati
perjanjian perdamaian yang langgeng dengan berbagi kekuasaan dengan
pemerintah Afganistan yang sekarang.

Dan langkah lanjutan yang paling menentukan adalah melakukan perundingan
yang melibatkan enam negara utama, yaitu Tiongkok, Iran, Pakistan dan
ditambah dengan Rusia, India, dan Uni Eropa yang sangat berkepentingan
dengan masa depan Afganistan ke depan. Tak ada dari satu negara tersebut
menginginkan Afganistan akan menjadi basis “teroris” dan produsen narkoba.

Memang strategi tersebut bukan merupakan strategi untuk mencapai kemenangan
melawan Taliban, tapi paling tidak menghindari kekalahan yang telak dan
memalukan. Tentu itu juga bukan merupakan sesuatu penyelesaian yang optimal
di Afganistan untuk semua pihak, namun mencari terobosan lain untuk
mencapai tujuan yang lebih baik bagi AS dan sekutunya di Afganistan
sekarang suatu kemustahilan.

Berkaca dari perang Afganistan tersebut, benar yang dikatakan oleh jenderal
veteran Perang Dunia II dari Inggris, yaitu Sir Montgomery bahwa kemenangan
perang bukan ditentukan oleh kecanggihan senjata dan jumlah pasukan, tetapi
sangat tergantung pada *the* *man behind the gun*.

Dan kemenangan Taliban sangat tergantung pada kualitas semangat jihad
Taliban yang menilai bahwa berperang untuk mempertahankan Tanah Airnya
adalah jihad yang hadiahnya adalah kemuliaan, kalau mati adalah syahid dan
langsung tanpa hisap menuju nirwananya Tuhan yang maha pengasih, dan kalau
masih hidup akan menjadi contoh perlawanan tergigih di abad modern yang
pernah ada dalam sejarah peradaban manusia. Karena itu, kelak akan menjadi
pembelajaran yang sangat berharga bagi semua pihak.

Semoga rakyat Afganistan segera mendapatkan perdamaian yang abadi dan maju
menuju negara yang adil berkemakmuran. *Wassalam.*

*Tri Winarno, **Penulis buku: Indonesia Responding* *The Dynamic of Global
Economy*

Kirim email ke