*Tanpa ada foundation pun bisa berlangung perdamaian. Dulu damai sekarang
dengan macam-macam ideologi akal bulus Abunawas maka perdamaian masyarakat
terganggu dan sering menelan korban jiwa manusia dan harta tidak sedikit.
Waktu dikirim laskar jihad untuk membasmi kaum nasrani di Sulawesi Tengah
dan Maluku, kaum langitan cinta Taman Firdaus membisu seribu bahasa.Begitu
pun ketika Daesh (ISIS) merajalela di Timur Tengah mereka berlagak pilon.
hehehehe*


https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4420162/mendes-indonesia-bisa-jadi-negara-maju-jika-jaga-perdamaian



Jumat, 08 Feb 2019 20:30 WIB
Mendes: Indonesia Bisa Jadi Negara Maju Jika Jaga Perdamaian

Robi Setiawan - detikFinance


Foto: kemendes PDTT


*Jakarta* - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi
(Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo mengapresiasi gerakan desa damai yang
diinisiasi oleh Wahid Foundation. Menurutnya Indonesia bisa menjadi negara
maju jika bisa menjaga perdamaian.

"Kita akan menjadi negara maju jika bisa menjaga perdamaian. Saya senang
sekali dan menyambut baik kerja keras Wahid Foundation dalam menjaga
perdamaian di desa-desa. Mudah-mudahan bisa diintegerasikan," ujar Eko
dalam keterangan tertulis, Jumat (8/2/2019).

*Baca juga: *Kemendes: Desa yang Alami Gizi Buruk Berkurang 29%
<https://news.detik.com/read/2019/02/06/145918/4416156/10/kemendes-desa-yang-alami-gizi-buruk-berkurang-29>


Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan pada kegiatan Forum
Nusantara tentang gerakan perempuan desa membangun perdamaian melalui
penguatan ekonomi dan ketahanan rakyat yang diselenggarakan oleh Wahid
Foundation di Golden Ballroom The Sultan Hotel and Residence, Jakarta.





Dalam kesempatan tersebut ia mengatakan gerakan desa damai perlu ditularkan
secara masif ke 74.957 desa yang tersebar di Indonesia, karena gerakan ini
bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi.

"Mudah-mudahan dengan pembangunan ekonomi yang sedang sangat masif
digerakkan, ditambah dengan kaidah desa damai yang bisa kita masifkan di
74.957 desa, dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi dan mengentaskan
kemiskinan di desa-desa," ujarnya.

*Baca juga: *Selama 4 Tahun, 8.983 Pasar Tercipta dari Dana Desa
<https://finance.detik.com/read/2019/02/06/212227/4416833/4/selama-4-tahun-8983-pasar-tercipta-dari-dana-desa>


Ia juga mengatakan pertumbuhan ekonomi harus dibarengi dengan pengurangan
kemiskinan dan kesenjangan yang mayoritas berada di desa. Menurutnya
pertumbuhan ekonomi yang tidak dibarengi oleh pengurangan kemiskinan dan
kesenjangan berpotensi besar menimbulkan gejolak sosial.

Lebih lanjut, Eko mengakui adanya keterbatasan pemerintah dalam menjangkau
seluruh desa di Indonesia secara bersamaan. Sehingga perlu adanya peran Non
Government Organization (NGO) seperti Wahid Foundation yang sangat penting
dalam menjaga nilai-nilai perdamaian, termasuk di desa.

"Kemampuan pemerintah sangat terbatas. Makanya penting kerja sama dengan
NGO seperti Wahid Foundation dan UN Women," ujarnya.

Terkait hal tersebut, Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid mengakui
gejala intoleransi yang mengganggu perdamaian telah menjalar hingga desa.
Hal tersebut merupakan efek dari merebaknya media sosial dan semakin
canggihnya sarana komunikasi.

Menurutnya melalui media sosial dan sarana komunikasi canggih inilah,
beragam fitnah, informasi palsu, simbol-simbol agama, hingga kasus
radikalisme berbasis kekerasan masuk ke desa.

"Tetapi, meningkatnya tantangan ini tidak membuat kita alergi terhadap
agama dan keberagaman, karena memang begitu banyak keberagaman di
Indonesia. Justru semakin banyak retorika yang memperkuat perbedaan
keberagaman termasuk perbedaan keyakinan," ujarnya.

Di sisi lain, menurut Yenny, desa merupakan jawaban dalam menangkal isu
intoleransi. Ia menemukan kearifan lokal perdesaan adalah kekuatan besar
yang dapat menangkal intoleransi di seluruh Tanah Air.

"Untuk mengatasi masalah ini (intoleransi) kita perlu cara yang lebih
kreatif, masif, komprehensif, dan kolaboratif. Makanya kita luncurkan
program desa yang mengkolaborasikan antara masyarakat sipil khususnya
perempuan, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten,
hingga sektor swasta," ujarnya.

Kirim email ke