China klaim pemusik Uighur masih hidup
Selasa, 12 Februari 2019 09:36 WIB
China klaim pemusik Uighur masih hidup
Para peserta di kamp pendidikan vokasi etnis Uighur mengikuti kelas
melukis di Moyu, Daerah Otonomi Xinjiang, Sabtu (5/1). Di Xinjiang
terdapat sedikitnya 19 kamp yang disorot PBB karena pola pendidikan
tersebut dinilai melanggar HAM, namun China menyangkalnya dan menyebut
sebagai upaya mencetak tenaga terampil. ANTARA FOTO/M. Irfan Ilmie/nz.
Beijing, 12/2 (ANTARA News) - Pemerintah China mengklaim pemusik dan
penyair beretnins Uighur, Abdurehim Heyit, masih hidup dan dalam keadaan
sehat.
Klaim tersebut sekaligus membantah tuduhan juru bicara Kementerian Luar
Negeri Turki Hami Aksoy atas kematian Heyit di dalam penjara China.
"Turki telah membuat tuduhan yang tidak berdasar dan tidak masuk akal.
Semuanya tidak benar dan tidak bisa dipertanggungjawabkan," tegas jubir
Kemlu China Hua Chunying di Beijing, Senin (11/2).
Kedutaan China di Turki, Minggu (10/2), menyatakan bahwa Heyit yang kini
berusia 57 tahun itu ditangkap atas tuduhan mengancam stabilitas
keamanan nasional.
*Baca juga:Pertemuan pimpinan parlemen China-Indonesia singgung isu
Uighur
<https://www.antaranews.com/berita/790962/pertemuan-pimpinan-parlemen-china-indonesia-singgung-isu-uighur>*
"Yang terpenting dari hak seseorang harus berdasarkan hak asasi manusia.
Terorisme dan ekstremisme sangat mengancam hak asasi manusia dan
keamanaan semua orang di Xinjiang (daerah otonomi yang mayoritas
penduduknya beretnis Uighur)," demikian pernyataan Kedubes seperti
dikutip Global Times.
China dan Turki sama-sama sedang berupaya mengatasi terorisme di
negaranya masing-masing, menurut pemberitaan Reuters.
"Kami menentang standar ganda mengenai antiterorisme dan berharap Turki
bisa memahami tindakan terorisme dan deekstremisme yang telah diambil
oleh China," kata pernyataan tersebut.
Jubir Aksoy pada Minggu (10/2) mendesak China agar menutup kamp-kamp
pendidikan vokasi yang menampung kaum etnis Uighur di beberapa daerah di
Xinjiang karena dianggap mencederai asas kemanusiaan.
Kamp-kamp yang dibangun pada 2017 tersebut juga mendapatkan sorotan dari
berbagai negara di dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa atas dugaan
pelanggaran HAM.
Namun Kedubes China menyatakan bahwa kamp tersebut bukan tempat
pengasingan dan terbuka bagi siapa pun karena baru saja kamp-kamp itu
juga dikunjungi sejumlah diplomat dan jurnalis dari 12 negara, termasuk
Turki.
*Baca juga:Menyibak gelap lorong Kamp Vokasi Uighur Xinjiang (bagian 1)
<https://www.antaranews.com/berita/784645/menyibak-gelap-lorong-kamp-vokasi-uighur-xinjiang-bagian-1>*
Sementara Prof Zan Tao dari Peking University menganggap bahwa membawa
isu Xinjiang akan membantu pemerintahan Erdogan dalam pemilu di Turki
pada Maret mendatang.
"Isu Xinjiang sebenarnya bukan persoalan utama hubungan China-Turki,"
kata Ketua Jurusan Asia Tengah Lanzhou University Yang Shu.
M. Irfan Ilmie/Maria D. Andriana
Pewarta:M. Irfan Ilmie
Editor: Maria Dian A
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com