Kalau baca keluhan pengusaha truck yang lebih memilih jalan biasa kelihatannya
rugi banyak, saya kira hourly cost supir di Indo masih terhitung kecil..
Seperti posting saya yg lain, pendapatan (mungkin) paling kecil tetapi tarif
tol paling mahal di Asia Tenggara. Tarif tol yang mahal pada akhirnya hanya
akan dibebankan ke konsumen.
Di California seperti yg anda tahu freeway gratis, mengendarai mobil dari Chico
di Northern California ke Los Angeles misalnya dengan jarak sekitar 760 km
hanya ditempuh sekitar 7.5 jam. Boleh dibilang sepanjang jalan tidak macet dan
bisa menikmati pemandangan sapi2 disepanjang jalan.
Freeway di area Los Angeles memang masih macet, tetapi saya kira tidak semacet
jalan tol di Jakarta. Di Jakarta naik mobil sampai ketiduran saking panas dan
macetnya hampir tidak bergerak, terbangun juga masih di tol.
On Tuesday, February 12, 2019, 9:13:51 AM PST, [email protected] [GELORA45]
<[email protected]> wrote:
Saya kira kalau bisa dibandingkan dgn kalau antara lewat jalan tol versus
lewat jalan biasa. Apakah dgn membayar Rp 650,500 rugi banyak setelah di
kalkulasi kehilangan waktu (waktu supir akan lebih banyak, pemakaian bensin
akan lebih banyak karena macet di jalan biasa, perdagangan kurang lancar dll).
Seperti di daerah anda, California terutama Los Angeles, dimana kemacetan
highways merugikan ekonomi banyak sekali selain juga polusi lebih banyak.