/http://mediaindonesia.com/read/detail/216548-jauhi-baratayudha-politik-pilpres?utm_source=dable
/

//
//


 /*Jauhi Baratayudha Politik Pilpres*/

Penulis: *Suyatno Analis Politik Pemerintahan pada FHISIP Universitas Terbuka* Pada: Rabu, 13 Feb 2019, 05:00 WIB Opini <http://mediaindonesia.com/opini> <http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/216548-jauhi-baratayudha-politik-pilpres?utm_source=dable>  <http://twitter.com/home/?status=Jauhi Baratayudha Politik Pilpres http://mediaindonesia.com/read/detail/216548-jauhi-baratayudha-politik-pilpres?utm_source=dable via @mediaindonesia>

Jauhi Baratayudha Politik Pilpres <http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2019/02/51ee1fdd4b9801f639a6ae0a0f2220ca.jpg>

/Dok MI/

MENJAUHKAN persaingan memperebutkan kekuasaan saat ini seolah menjadi sebuah perang Baratayudha yang patut terus diupayakan. Jangan sampai terjadi habis-habisan sebagian politisi berusaha meraih kekuasaan apa pun caranya. Setidaknya hal itu harus terus dihindarkan dalam kampanye pilpres yang tengah berjalan. Tidak boleh ditempuh segala cara asal kekuasan dapat diraih sebagian pihak.

Tak selayaknya seorang kandidat haus jabatan, menjadikan kekuasaan tujuan akhir praktik semacam ini. Gagal meraih kekuasaan menjadi hal yang paling ditakuti harus dibuang jauh-jauh.

Tidak menganggap kekalahan itu patut dihindari dalam posisi kemenangan menjadi harga mati. Meraihnya juga tidak harus secara mati-matian. Bila tidak bisa dengan cara halus, ditempuh cara kasar tidak dijadikan prinsip.

Jangan terjadi kompetisi yang menjadi ajang perebutan kekuasaan yang masif. Hindarkan upaya menjatuhkan lawan gencar dilakukan dan kelemahan kompetitor menjadi sasaran bidikan mereka meski dengan kebohongan (hoaks). Tujuannya untuk diumbar kepada publik agar rasa simpati mereka hilang, bahkan dengan caci maki. Tak jarang seorang calon bisa menjadi komoditas kampanye hitam para pesaing.

Padahal, sejatinya proses pemilihan pemimpin termasuk pilpres harusnya bisa mendatangkan kebahagiaan bagi rakyat. Dalam demokrasi selayaknya pihak yang paling diuntungkan harusnya rakyat. Karena demokrasi adalah pemerintahan dari oleh dan untuk rakyat. Bukan  pemenuhan syahwat politik segelintir elite dengan membabi buta.

Menjelang Pilpres 2019 yang kian dekat, ada dua hal yang patut dicermati. Pertama, peluang terjadinya persaingan sengit dan habis-habisan dari setiap kubu kandidat capres.

Kedua, adanya upaya mengekspos secara berlebihan kebaikan calon sendiri dan mengobral kelemahan pihak lain. Bila keduanya terjadi, kondisi politik dan negara ini terancam terperosok dalam keadaan yang mengancam masa depan demokrasi yang sehat dan juga bangsa ini.

Dalam kisah Baratayudha banyak putra-putra bangsa Amarta terbaik menjadi korban. Hitungan rasional ditinggalkan. Meski akhirnya keluar sebuah kemenangan, korbannya terlalu besar.

Pihak yang rugi adalah bangsa itu sendiri. Hal ini yang perlu dihindari pihak mana pun dalam pilpres kali ini. Kedewasaan para elite dibutuhkan karena praktiknya, keadaan ini sangat berpeluang terjadi.

*Gap citra*
Salah satu pemicu terjadinya Baratayudha politik adalah kubu kandidat terkadang merasa kurang dikenal luas oleh calon pemilih dan khawatir tidak bisa meraup suara. Ibarat pepatah yang mengatakan, jika tak kenal maka tak sayang, tim kampanye berusaha sangat keras agar calonnya dikenal luas agar kemudian dipilih menjadi presiden.

Persoalannya, lantas, benarkah citra yang dibangun tim sukses seorang kandidat merupakan informasi yang dapat dipercaya? Dalam konteks wacana, politik dipahami sebagai sebuah upaya membangun image (kesan). Keberhasilan seorang politisi ditentukan kemampuannya membangun image positif di mata massa.

Kesan positif itu berupa kemampuan memimpin, kepribadian yang mantap, dan integritas moral yang tinggi, serta memiliki kapabilitas dan abilitas sehingga akan memengaruhi orang memberikan pilihannya kepada si calon. Karena namanya kesan, hal itu merupakan apa yang ditangkap atau dirasakan orang terhadap sesuatu. Artinya, dalam kesan itu melekat erat subjektivitas dari orang untuk bersikap terhadap suatu kejadian atau terhadap objek tertentu.

Jadi, kesan bisa dibuat, diubah maupun didesakkan ke arah tertentu. Sesuai dengan keinginan dan kepentingan yang membuat kesan. Bila dibutuhkan, tampak kecil sesuatu yang besar bisa seolah disusutkan. Sesuatu yang seharusnya bergerak ke satu arah bisa jadi seakan-akan bergerak sebaliknya. Dengan begitu, kesan itu bisa merupakan sesuatu yang sebenarnya atau bisa pula tidak sesuai dengan kenyataan.

Dalam pemahaman politik sebagai wacana sebagaimana Baudrillard (1981) bisa saja terjadi simulacra terhadap citra capres. Terjadi semacam gap (jarak) antara image yang diciptakan terhadap seorang kandidat dan realitas calon itu.

Apa yang dilempar ke tengah publik terkadang tidak sepenuhnya ada dalam pribadi capres. Kesenjangan tidak saja dimonopoli hal yang negatif. Kekurangan calon senantiasa ditutupi dengan informasi tentang kelebihannya. Akan tetapi, bisa jadi kebaikan atau kapabilitas tidak tersampaikan secara baik kepada massa. Si calon jauh lebih baik dari apa yang diketahui orang selama ini.

Semestinya kampanye diupayakan paling tidak mendekati kenyataan. Kita patut merujuk jingle iklan ‘seindah warna aslinya’. Kampanye akan menampilkan kesan yang tidak menyesatkan pemilih. Karena krisis kepercayaan grass root (massa) terhadap elite politik bisa berawal dari kampanye yang tidak pernah terwujud dalam realitas.

*Kenegarawanan*
Guna menghindarkan perpolitikan tereduksi menjadi Baratayudha perebutan kekuasaan, maka dibutuhkan sikap kenegarawanan dari para kandidat beserta tokoh-tokoh politik. Ada sejumlah hal yang patut dilakukan untuk mewujudkan sikap itu.

Di antaranya, negarawan menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Politik bukanlah sekadar ajang rebutan dan permainan kekuasaan. Politik selalu diarahkan pada kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan golongan, yakni kepentingan bangsa. Politik pada hakikatnya diperuntukkan demi kepentingan umum.

Selanjutnya, politik bagi politisi hendaknya menegaskan dan membuktikan apa yang mau diperbuat untuk bangsa dan negara dengan visi yang benar, penting, dan mendalam. Patut dihindarkan visi dan misi jangka pendek serta sikap pragmatis untuk meraih kekuasaan.

Kemudian, negarawan sudah selayaknya menunjukkan wawasan, integritas serta kapasitas intelektual dan emosional di atas rata-rata. Para elite politik adalah orang yang akan menerima amanah untuk mengelola kepentingan umum. Kepentingan ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Dibutuhkan kemampuan yang lebih. Tentu kepentingan umum lebih rumit dan komplek daripada kepentingan individu.

Akhirnya, kemampuan lebih dari elite ini diperlukan agar bisa wawas diri bila ia memegang kekuasaan. Demikian juga politisi yang tidak sedang memegang kekuasaan dalam memberikan kritik. Kritik yang diberikan adalah kritik yang jujur, rasional, tanpa sentimen dan sikap emosional kepada lawan politik. Kritik seharusnya tidak menjadi upaya untuk menjelekkan, menyerang, apalagi menjatuhkan lawan politik.

Di sisi lain, masyarakat perlu dewasa dalam memberikan suara dan dukungannya kepada calon pemimpin bangsa. Banyak warga yang sekadar masih terpikat popularitas yang tampak. Image yang semu dan menonjol berpengaruh besar kepada para pemilih.

Kesan di kulit luar menjadi pertimbangan memberikan dukungan. Padahal, kesan itu belum tentu merupakan inner beauty seorang tokoh. Seharusnya kinerja dan kapasitas calon pemegang mandat rakyat itulah yang menjadi pertimbangan utama. Masih ada waktu.





Kirim email ke