PBB: ISIS Masih Berbahaya https://sp.beritasatu.com/home/pbb-isis-masih-berbahaya/128622 U-5 | Kamis, 14 Februari 2019 | 6:17 Pasukan Demokrat Suriah yang didukung AS memandang asap yang membumbung tinggi dari serangan yang menargetkan kelompok milisi ISIS, di desa Baghouz, Deir El-Zour, Suriah timur, Selasa (12/2). [AP]
[NEW YORK] Kepala Anti-terorisme Amerika Serikat (AS) Vladimir Voronkov memperingatkan kekalahan yang dialami para ekstremis Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) seharusnya tidak mengarah pada kepuasan pada tingkat apa pun. Kelompok ekstremis itu tetap menjadi ancaman global yang berbahaya dengan 18.000 milisi di Irak dan Suriah. Kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), pada Senin (11/2), Vladimir Voronkov juga mengatakanbahwa ISIS dilaporkan telah menciptakan jaringan sel di berbagai kota di Afghanistan, termasuk ibu kota Kabul, dan terkait erat dengan para pemimpinnya di Suriah dan Irak. Voronkov mengatakan "pusat gravitasi" ISIS masih tetap di Irak dan Suriah, dengan kekuatan gerilyawan antara 14.000 dan 18.000 orang. Kepemimpinan pusat ISIS mempertahankan "niat untuk menghasilkan serangan yang diarahkan secara internasional." Pengarahan Voronkov sebagai laporan terbaru AS tentang ancaman ekstremis ISIS dan al-Qaeda disampaikan ketika Presiden Donald Trump telah memerintahkan penarikan pasukan AS di Suriah. Trump mengatakan ISIS telah dikalahkan, dan pemerintah AS akan melakukan penarikan pasukan di Afghanistan. Voronkov, wakil jenderal dari Kantor Kontraterorisme di Amerika Serikat, mengatakan ancaman dari ISIS telah meningkat karena milisi yang bertempur dengan kelompok ISIS telah kembali ke rumah, pindah atau dibebaskan. Michele Coninsx, Kepala Direktorat Eksekutif Komite Anti Terorisme AS, mengatakan, hilangnya wilayah ISIS secara dramatis telah mendorong evolusinya menjadi jaringan rahasia dan lebih terfokus secara lokal di Irak, Suriah, dan di tempat lain. ISIS bertujuan untuk merusak stabilisasi dan pembangunan kembali di bekas bentengnya di Irak dan Suriah. “Kelompok ekstremis tetap menjadi salah satu kelompok teroris internasional yang paling mungkin melakukan serangan berskala besar dan kompleks di masa depan,” kata Coninsx. [AP/U-5]
