/http://mediaindonesia.com/read/detail/216816-pengkhianatan-pikiran-kepada-publik
/
//
//
/*Pengkhianatan Pikiran kepada Publik*/
Penulis: *Donny Gahral Adian Dosen Filsafat Universitas Indonesia* Pada:
Kamis, 14 Feb 2019, 03:30 WIB Opini <http://mediaindonesia.com/opini>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/216816-pengkhianatan-pikiran-kepada-publik>
<http://twitter.com/home/?status=Pengkhianatan Pikiran kepada Publik
http://mediaindonesia.com/read/detail/216816-pengkhianatan-pikiran-kepada-publik
via @mediaindonesia>
Pengkhianatan Pikiran kepada Publik
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2019/02/27ae799a6f78ac7dbe7aa2fdd189b894.jpg>
/MI/Seno/
PEMILIHAN Presiden 2019 ini sungguh mengentalkan polarisasi yang
bersemayam sejak 2014 dan mendapatkan amplifikasi di pilkada DKI
kemarin. Polarisasi antara kelompok konservatif yang dikotomistik dalam
melihat segala hal dengan kelompok yang melihat peluang kemajuan
terletak pada kebinekaan dan keterbukaan.
Benturan ini bukan kisah baru. Di berbagai belahan bumi lainnya,
pertarungan politik semacam ini terjadi. Namun, berbeda dengan negara
lainnya, polarisasi yang sangat tajam saya kira terjadi di tubuh politik
bangsa ini. Polarisasi yang bukan hanya membelah politik, melainkan juga
segala sesuatu yang bukan politik. Keyakinan terbelah. Profesi terbelah.
Kampus terbelah. Semua terbelah.
Dalam pekatnya polarisasi semacam ini, semua hal menjadi politik. Kita
tidak bisa berbicara apa pun tanpa disangkutkan ke politik. Semua
menghamba pada politik. Seolah, politik adalah hidup mati kita semua.
Alhasil, ruang publik kita saat ini disesaki fitnah, kampanye hitam dan
asasinasi karakter.
Ruang publik bukan tempat pikiran dipertukarkan, melainkan sebaliknya,
tempat kebencian dipropagandakan dan akal sehat diselewengkan.
Bayangkan, orang sibuk berdebat tentang kriminalisasi tanpa tahu apa
artinya ‘kriminalisasi’ sesungguhnya. Orang berdebat dengan kebencian
sehingga melupakan kejernihan pikiran.
Kekeruhan ruang publik kita ditambah lagi dengan kehadiran cendekia-semu
macam Rocky Gerung yang pandai meramu kata tetapi tidak menjelaskan
apa-apa. Cendekia-semu ini, alih-alih menerangi publik dengan
konsep-konsep yang jernih malahan berbuat sebaliknya.
Dia mengedarkan retorika bukan logika, hasutan bukan keterangan.
Retorika cendekia-semu ini enak didengar, renyah diucapkan tapi tidak
menambah apa-apa terhadap kualitas diskusi publik atau lebih jauh lagi:
demokrasi kita. Publik tidak belajar apa-apa, tetapi hanya membeo apa
pun yang dilontarkan cendekia-semu tersebut tanpa banyak tanya.
Kita semua patut curiga apa sebenarnya yang dipertaruhkan. Apakah itu
kekuasaan? Ataukah uang? Apa pun itu yang pasti bukan kebenaran.
Cendekia-semu selalu mengatasnamakan akal sehat. Namun, di sisi lain,
rajin membombardir publik dengan hasutan, agitasi, atau propaganda yang
tak berdasar.
Orang dibuat kagum dengan sofistikasi kata dan menjadi umat yang ikut
kesana kemari. Mereka tidak sadar tengah menjadi korban agitasi yang
dibungkus rapi dengan filsafat. Padahal, filsafat bukan bungkus, ia
ialah isi. Filsafat bukan celotehan. Dia pikiran.
Pengedar pikiran-pikiran palsu di ruang publik ini yang merusak
demokrasi. Dia membuat orang beropini tanpa tahu apa yang diopinikannya.
Kebebasan berpendapat menjadi kesemenaan berpendapat. Ini diperparah
lagi dengan media sosial kita yang membunuh kecendekiaan.
Semua orang bisa ahli semua hal di media sosial. Tidak ada lagi pakar.
Semua pakar. Netizen sibuk berdebat dengan pengetahuan ensiklopedis:
tahu banyak cuma sedikit-sedikit. Dalam situasi seperti itulah, pengedar
pikiran palsu macam Rocky Gerung mendapatkan tempat terhormat.
Demokrasi kita harusnya bisa lebih baik lagi dengan kehadiran
intelektual publik macam Rocky Gerung. Sayangnya, apa yang beliau
lontarkan adalah pikiran partisan bukan konsep yang jernih dan membuka
percakapan. Bolak-balik dia menghantam kebijakan pemerintah dan mengunci
penentangnya dengan kata ‘dungu’.
Anehnya, dia tidak pernah mendungukan posisi politik tempatnya berdiri.
Memang, pilihan politik adalah hak semua orang. Namun, pikiran jangan
sampai diringkus sedemikian rupa oleh politik sehingga menurunkan mutu
percakapan.
Rocky Gerung disebut sebagai profesor akal sehat. Dia berfilsafat di
berbagai kesempatan. Saya setuju betapa pikiran berat macam filsafat
harus urun rembuk membincang perkara-perkara publik. Pikiran filsafati
harus mampu menjadi lampu penerang ide-ide sumir dan membangkitkan daya
kritis publik.
Ketidaksetujuan filsafat terhadap posisi politik tertentu tidak
diharamkan. Yang diharamkan ialah serangan intelektual tanpa basis
pikiran yang solid. Demokrasi bukan basa-basi. Dia ialah proses
pengambilan keputusan publik melalui akal sehat banyak orang. Untuk itu,
filsafat tentu saja dibutuhkan supaya demokrasi bukan pertarungan opini
belaka, apalagi opini bayaran atau sewaan.
Saya sendiri memandang demokrasi dengan ringan dan sederhana. Demokrasi
hanya antrean ide untuk secara bergilir menjelma kekuasaan dan mengabdi
pada orang banyak. Semua bisa keliru. Namun, saat pikiran menghianati
publik secara brutal demi kekuasaan, saya takjub betapa kekuasaan
ternyata disyahwati dengan sangat serius. Saat pikiran menghianati
publik, inkonsistensi, retorika, kesemrawutan berpikir menjadi sebuah
peluang kemenangan. Selamat tinggal kebenaran. Selamat datang kekuasaan.
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/216816-pengkhianatan-pikiran-kepada-publik>
<http://twitter.com/home/?status=Pengkhianatan Pikiran kepada Publik
http://mediaindonesia.com/read/detail/216816-pengkhianatan-pikiran-kepada-publik
via @mediaindonesia>