https://pemilu.antaranews.com/berita/799030/isu-lingkungan-yang-diprediksi-tenggelam-dalam-debat-capres
Isu lingkungan yang diprediksi "tenggelam"
dalam Debat Capres
* Pilpres <https://pemilu.antaranews.com/pilpres>
* 16 Februari 2019 20:21
Ketua KPU Kota Kupang mengundurkan diri Sejumlah petugas dan kru
televisi bersiap melakukan gladi bersih Debat Capres 2019 Putaran Kedua
di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (16/2/2019). Debat yang akan digelar
pada Minggu 17 Februari pukul 20.00 WIB dengan diikuti calon presiden
nomor urut 01 Joko Widodo dan calon presiden nomor urut 02 Prabowo
Subianto tersebut akan mengangkat tema energi, pangan, infrastruktur,
sumber daya alam dan lingkungan hidup. (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)
Jakarta (ANTARA News) - Bak sebuah pertandingan sepak bola, prediksi
soal debat calon presiden (capres) 2019 putaran kedua yang bakal digelar
Minggu (17/2), sudah berseliweran.
Energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam dan lingkungan hidup
menjadi topik yang menjadi berdebatan.
Berbeda dengan isu energi dan pangan yang diprediksi akan panas dalam
perdebatan, isu lingkungan justru mendapat prediksi dingin dari kalangan
pemerhati, akademisi maupun aktivis lingkungan.
Pada debat capres putaran kedua nanti, Minggu (17/2), bahkan pengamat
komunikasi politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio
mengkhawatirkan isu-isu terkait dengan lingkungan akan “/tenggelam/”,
kalah pamor dengan pangan serta energi.
Persoalan lingkungan bukannya tidak banyak di negeri ini. Masalahnya,
bahkan dalam visi dan misi kedua capres-cawapres yang bertanding pada
Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, arah kebijakan yang akan diambil
nantinya tidak ”/terbaca jelas/”.
“Jadi tidak bisa kita berharap banyak,” kata Direktur Eksekutif Yayasan
Madani Berkelanjutan Teguh Surya.
Sementara Manajer Kampanye Keadilan Iklim Eksekutif Nasional Wahana
Lingkungan Hidup (Walhi) Yuyun Harmono justru mengatakan belum bisa
memperkirakan bagaimana isu lingkungan akan bergulir dalam perdebatan
capres mendatang.
Terhadap petahana, tentu masyarakat lebih bertanya,”Selanjutnya apa?”.
Namun jauh-jauh hari ternyata para aktivis dan pemerhati lingkungan pun
sudah menyayangkan visi-misi Joko Widodo (Jokowi) --yang pada Pilpres
2019 berpasangan dengan Ma’ruf Amin-- yang terlalu umum dibanding 2014,
kata Yuyun.
Sementara Prabowo Subianto, yang berpasangan dengan Sandiaga Uno pada
Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, juga tidak menjabarkan secara jelas
di dalam visi-misinya, hanya menyebut pemerintahan yang berwawasan
lingkungan.
Capres dengan nomor urut 2 ini belum sampai berbicara soal
mengintegrasikan isu lingkungan pada rencana pembangunan nasional, kata
Yuyun. Padahal Prabowo justru punya kesempatan lebih menjabarkan inovasi
apa yang dimiliki untuk menyelesaikan persoalan lingkungan dibanding
petahana.
*Potensi diperdebatkan*
Keberhasilan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mungkin
akan menjadi salah satu isu yang akan diangkat oleh Jokowi. Hal ini
berkaca pada keberhasilan menurunkan jumlah titik api dalam empat tahun
terakhir pascakarhutla besar 2015 yang menghanguskan kawasan hutan dan
lahan seluas 2,6 juta hektare (ha).
Jika melihat dari luasannya, karhutla di era 1990-an mungkin jauh lebih
besar dibanding yang terjadi di 2015. Pada 1994 karhutla menghanguskan
5-11 juta ha dan pada 1997-1998 menghanguskan 10-11 juta ha area kawasan
hutan dan lahan.
Namun apa yang terjadi di 2015 dampaknya menimbulkan kerugian Rp221
triliun dari sisi ekonomi, serta menyebabkan 24 orang meninggal dunia,
600 ribu lainnya terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Keberhasilan upaya pencegahan dan pemadaman karhutla sejak 2016, hingga
akhirnya menurunkan secara drastis jumlah titik api sampai 90 persen,
menurut Teguh, yang bakal jadi andalan Capres Jokowi.
Topik lain yang mungkin juga akan disebutkan yakni terkait Perhutanan
Sosial. Meski demikian, Teguh merasa tidak yakin isu ini akan menjadi
bahan debat karena populis.
Program Perhutanan Sosial pada masa Pemerintahan Jokowi yang melanjutkan
era pemerintahan sebelumnya memang bergulir lebih cepat. Dalam dua tahun
terakhir pemberian izin kelola untuk kelompok masyarakat melalui
Perhutanan Sosial mencapai sekitar 2,53 juta ha dari 12,7 juta ha
kawasan hutan yang dialokasikan.
Namun ada pula kemungkinan Capres nomor urut 02 mempunyai ide yang sama,
mengingat jelas isu Perhutanan Sosial sangat populis, ujar Teguh.
*Nobar debat capres*
Debat capres putaran kedua yang akan dilaksanakan di Hotel Sultan,
Jakarta, Minggu (17/2), pukul 20.00 WIB, menghadirkan delapan panelis
yang beberapa di antaranya memang ahli di bidang lingkungan hidup.
Mereka adalah Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Joni
Hermana, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria, Direktur
Eksekutif Walhi Nur Hidayati, ahli pertambangan Institut Teknologi
Bandung (ITB) Irwandy Arif, pakar energi terbarukan Universitas Gadjah
Mada (UGM) Ahmad Agus Setiawan, mantan rektor Universitas Diponegoro
(Undip) Sudharto P Hadi, Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Dewi
Kartika dan akademisi Universitas Airlangga (Unair) Suparto Wijoyo.
Meski banyak aktivis dan pemerhati memprediksi isu lingkungan pada
debat capres putaran kedua akan “/landai/”, namun mereka cukup semanggat
menantikan malam perdebatan tersebut.
Koalisi Golongan Hutan yang terdiri dari Walhi, Madani Berkelanjutan,
Greenpeace Indonesia, Koaksi Indonesia, Kemitraan, HuMa, Change.org,
Rekam Nusantara dan Econusa telah menyebar undangan Nonton Bareng
(Nobar) Debat Capres II di markas Walhi.
Menurut Koordinator Desk Politik Walhi Khalisah Khalid, pilihan politik
masing-masing aktivis maupun pemerhati lingkungan juga cukup berwarna.
Sehingga dirinya memperkirakan suasana nobar nantinya cukup meriah.
*Baca juga: Debat kedua jadi kesempatan menilai komitmen capres
tuntaskan masalah lingkungan
<https://www.antaranews.com/berita/798736/debat-kedua-jadi-kesempatan-menilai-komitmen-capres-tuntaskan-masalah-lingkungan>
Baca juga: Koalisi Golongan Hutan tantang capres-cawapres lanjutkan
moratorium
<https://www.antaranews.com/berita/798802/koalisi-golongan-hutan-tantang-capres-cawapres-lanjutkan-moratorium>*
Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Dewanti Lestari
Copyright © ANTARA 2019