HABIS UNINSTALL BUKALAPAK, TERBIT UNINSTALL JOKOWI DAN SHUTDOWN JOKOWI 
https://mojok.co/red/rame/kilas/habis-uninstall-bukalapak-terbit-uninstall-jokowi-dan-shutdown-jokowi/
 REDAKSI https://mojok.co/penulis/red/ 16 FEBRUARI 2019

 MOJOK.CO https://mojok.co/ – Habis uninstall Bukalapak, terbit uninstall 
Jokowi dan shutdown Jokowi. Serangan fans 01 kepada Bukalapak direspons secara 
“sama-sama” brutal oleh fans 02.
 Konon di era “Revolusi Industri 4.0” sudah tidak ada lagi yang namanya slip of 
the tongue. Kini, yang ada adalah slip of the thumb. Ya kalau ada salah-salah 
ucap dari salah satu pasangan capres/cawapres yang menyebut bahwa Indonesia 
bakal bubar di tahun sekian, anggap saja itu sedang berkelakar.
 Istilah slip of the tongue biasanya terjadi hanya satu kali. Kalau sudah 
berkali-kali, mungkin itu yang namanya hobi. Nah, kembali ke soal slip of the 
thumb.
 Jumat (14/2), timeline dan daftar trending topic Indonesia kembali diwarnai 
oleh aksi boikot manja. Setelah dulu kita akrab dengan boikot salah satu merek 
roti dan agen perjalanan, kali ini tagar uninstall Bukalapak mendominasi. 
Celakanya, naiknya tagar ini diiringi dengan naiknya tagar uninstall Jokowi dan 
shutdown Jokowi. Mumet, Rek?
 Semuanya dimulai dari cuitan CEO Bukalapak, Achmad Zaky 
https://mojok.co/apk/ulasan/pojokan/nyuruh-orang-uninstall-bukalapak-itu-biar-apa-sih/,
 soal kecilnya biaya R&D Indonesia. Zaky, lewat akun Twitter pribadinya, 
@achmadzaky, berkata:
 “Omong kosong Industri 4.0 kalau budget R&D negara kita kaya gini,” kata Zaky, 
dilanjutkan menyertakan 10 negara beserta alokasi anggaran untuk pos riset dan 
pengembangan. Zaky lantas memasukkan Indonesia di posisi paling bawah, setelah 
Amerika, Cina, Jepang, dan bahkan Singapura serta Malaysia.
 Kalimat terakhir dari cuitannya yang kemudian memicu keributan: “Mudah-mudahan 
presiden baru naikin (anggaran riset dan pengembangan).”
 Cuitan ini ditanggapi sejumlah warganet dengan menyimpulkan bahwa Zaky tengah 
“menyerang” Jokowi. Frasa “presiden baru” diartikan sebagai dukungan terhadap 
lawan Jokowi di Pilpres 2019: Prabowo dan Sandiaga Uno.
 Baca juga:  27 Juni Libur Nasional, Fahri Hamzah Lupa Pada Perantau 
https://mojok.co/red/ulasan/pojokan/27-juni-libur-nasional-fahri-hamzah-lupa-perantau/
 Sontak, Tim Kampanye Jokowi, dibantu warganet yang condong ke kubu 01, 
menyerang Zaky dan Bukalapak secara brutal. Padahal, Zaky sendiri sudah 
melakukan klarifikasi bahwa yang dimaksud dengan “presiden baru” bisa siapa 
saja, termasuk Jokowi. Ia memang salah menulis karena frasa tersebut sudah 
kadung lekat dengan kampanye 02, yaitu #2019GantiPresiden 
https://mojok.co/pea/komen/kepsuk/kebenaran-gerakan-ganti-presiden-indonesia-menurut-tagar-2019gantipresiden/.
 Tentu, bagi kita semua yang mau berpikir paham bahwa Zaky sedang slip of the 
thumb. Namun, ia sudah dihakimi begitu brutal oleh warganet mahabenar itu. 
Maka, tagar uninstall Jokowi dan shutdown Jokowi menjadi pembicaraan paling 
hangat untuk saat ini.
 Jubir TKN Jokowi-Ma’ruf, Arya Sinulingga, seperti dikutip Tirto 
https://tirto.id/uninstall-bukalapak-wajah-brutal-masyarakat-dan-politikus-dg7D,
 berkata bahwa Zaky seperti “kacang lupa pada kulitnya”. Arya mengatakan, 
selama ini Jokowi sudah begitu banyak membantu Bukalapak, sebuah produk dalam 
negeri. “Ini kan orang-orang yang tidak sadar diri. Orang-orang yang sangat 
menyedihkan,” suara Arya, suara mayoritas warganet yang menghakimi Bukalapak.
 Sayangnya, di tengah kemeriahan rundungan kepada Zaky dan Bukalapak, fans 01 
lupa bahwa ada yang namanya “serangan balik”. Bukan dari Zaky dan Bukalapak, 
melainkan dari kubu 02 beserta warganet yang mendukung mereka.
 Memandang bahwa “warganet 01” beserta TKN Jokowi seperti anti dengan kritik, 
tagar uninstall Jokowi dan shutdown Jokowi menyundul tagar unistall Bukalapak 
yang sudah menjadi trending topic sejak Kamis malam. Hingga Jumat malam, kedua 
tagar serangan ini masih menghiasai kolom daftar trending topic.
 Jubir BPN Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar menegaskan bahwa serangan yang dilakukan 
fans 01 kepada Bukalapak justru merugikan junjungan mereka sendiri.
 “Jadi, saya pikir cara-cara seperti itu justru merugikan Pak Jokowi. menurut 
saya kadang-kadang yang mendegradasikan Pak Jokowi itu bukan cuman Pak Jokowi 
sendiri, tapi juga para pendukungnya,” tegas Dahnil di Posko Pemenangan 
Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
 Baca juga:  Elektabilitas Jokowi Naik? Tunggu, Siapa Dulu yang Bikin Surveinya 
https://mojok.co/mod/esai/elektabilitas-jokowi-naik-tunggu-siapa-dulu-yang-bikin-surveinya/
 Dahnil menambakan bahwa sikap pendukung 01 yang beraksi terhadap “kritikan” 
berbasis data dari CEO Bukalapak menunjukkan bahwa petahana tidak bisa dikritik 
meski menggunakan data. “Zaky kan menyediakan data. Data research and 
development itu data loh, kok mereka memaki-maki data.”
 Soal data yang kurang akurat, Tirto melakukan penelurusan. Ditemukan bahwa 
sumber yang digunakan Zaky adalah Wikipedia. Tirto menulis demikian:
 “Namun Zaky tidak mencantumkan sumber kutipan. Dia juga mengabaikan perbedaan 
tahun rujukan yang digunakan oleh Wikipedia. Ia menyebutkan angka yang 
digunakan berdasarkan data tahun 2016, padahal hanya empat dari 10 negara yang 
ia cantumkan menggunakan data tahun tersebut. Tabel tersebut menunjukkan bahwa 
angka yang dirujuk Zaky dalam mempertanyakan komitmen pemerintah Indonesia 
untuk membangun industri 4.0 berasal dari tahun 2013, bukan 2016.”
 Kecerobohan penggunaan data ini, seharusnya, menjadi perhatian warganet. 
Sayangnya, karena pengaruh Pilpres 2019 
https://mojok.co/abm/esai/cara-menjilat-yang-baik-dan-benar-menjelang-pilpres-2019/
 yang begitu “sakit” ini, warganet malah fokus kepada slip of the thumb frasa 
“presiden baru”.
 Demikian pula dengan pendukung 02 yang menaikkan tagar unistall Jokowi dan 
shutdown Jokowi. Kepala mereka sudah terlalu suntuk dengan pengaruh buruk 
Pilpres 2019. Buta mata dan hati, mereka justru luput melihat masalah yang 
lebih penting, yaitu ketika seorang CEO market place berpengaruh ceroboh 
menggunakan data.
 Begitulah kalau isi kepala Ceby dan Kampretos sudah terlalu jenuh dengan bakal 
virus jahat Pilpres 2019. Menutup logika, yang dibuka hanya mata telanjang dan 
kebodohan saja. (yms)
 
 
 
 

 

Kirim email ke