*https://sains.kompas.com/read/2019/02/17/222108323/dua-klaim-lingkungan-jokowi-dalam-debat-capres-yang-bikin-blunder
<https://sains.kompas.com/read/2019/02/17/222108323/dua-klaim-lingkungan-jokowi-dalam-debat-capres-yang-bikin-blunder>*

*Dua Klaim Lingkungan Jokowi dalam Debat Capres yang Bikin Blunder*
YUNANTO WIJI UTOMO Kompas.com - 17/02/2019, 22:21 WIB


KOMPAS.com - Tampil dalam debat calon presiden kedua pada Minggu
(17/2/2019), Presiden Joko Widodo memberikan sejumlah klaim tentang
keberhasilan dalam pemerintahannya. Dua dari sekian klaim Jokowi adalah
soal penanganan kebakaran hutan dan konflik karena pembangunan
infrastruktur.

Tak seperti lawannya, Prabowo, dalam debat Jokowi memaparkan
sejumlah data. Dalam soal penanganan pembalakan liar misalnya, Jokowi
menyatakan bahwa 11 perusahaan telah diberi sanksi denda sebesar total 18,3
triliun.

Sementara dalam pembangunan infrastruktur, Jokowi mengklaim bahwa
pembangunan itu tak menimbulkan konflik. Sayangnya, data Jokowi dalam dua
hal itu kurang tepat. Adhityani Putri dario yayasan Indonesia Cerah
mengungkapkan, kenyataan di lapangan berlawanan dengan klaim Jokowi.

 Pembangunan infrastruktur menyisakan banyak konflik. Salah satu yang
disebutnya adalah program liustrim 35.000 MW yang salah satunya dibangun di
Batang, Jawa Tengah. "Pembebasan lahan untuk pembangunan infrastruktur
energi khususnya PLTU batubara menimbulkan konflik hebat di masyarakat."
Kasus PLTU Batang berujung pada gugatan masyarakat di pengadilan.

Hingga 2016, 71 orang menolak pindah karena pembangunan itu. Namun,
akhirnya semua dipindahpaksakan. Konflik itu belum terselesaikan. Sementara
itu peneliti Auriga Iqbal Damanik mengungkapkan, tahun 2017 pembangunan
infrastruktur sebenarnya menempati urutan ketiga sebagai penyebab konflik
agraria, yaitu sebanyak 94 konflik.

Sementara, selama tahun 2018, terjadi sebanyak 16 konflik akibat
poembangunan infrastruktur. Klaim Jokowi bahwa pemerintahannya telah tegas
dalam penindak pembalakan liar juga masih kurang tepat. Selama pemerintahan
Jokowi, memang pemerintah telah lebih tegas dalam menindak pembalakan liar
tetapi belum maksimal.
"Belum ada putusan yang dieksekusi pengadilan,"kata Adhityani. Iqbal
mengungkaopkan hal yang sama. ia menambahkan, di Papua, kjerugian karena
poembalakan liar mencapai Rp 1,6 triliun. Dalam isu yang lain, yaitu
pencemaran, Jokowi juga masih belum berhasil karena hanya 13 kasus yang
tertangani dalam 3 tahun.

Sementara itu, Prabowoi dalam debat tidak banyak mengungkapkan data.
Pernyataannya lebih bersifat kualitatif, seperti menyatakan bahwa masih
banyak perusahaan kelapa sawit yang belum taat pajak.

Penulis : Yunanto Wiji Utomo
Editor : Yunanto Wiji Utomo

Kirim email ke