Penggunaan minyak kelapa sawit sebagai campuran sebanyak 5 %, 10 %, 20%
dalam minyak diesel untuk mengurangi ketergantungan minyak kelapa sawit
pada export, yang sewaktu-waktu bisa dirusak oleh kekuatan dari luar.
Tergantung hanya dari export sangat berbahaya. Ekonomi Indonesia bisa
dirusak dari luar.Jadi sebagian minyak kelapa sawit perlu dialihkan untuk
bikin produk biodiesel  untuk keperluan dalam negeri.
Kalau ini sudah ada, dan dapat dengan mudah diperoleh di tank station, ada
kemungkinan orang perlahan lahan akan beralih ke mesin diesel, atau yang
sudah pakai mesin diesel, akan beralih dari minyak 100 % diesel ke campuran
B5, B10, B20, kalau harganya dihitung untuk per km lebih murah. Kalau ini
dapat terlaksana,
import BBM dapat berkurang.
Untuk membuat B100, minyak kelapa sawitnya harus melalui proses kimia,
diesterifikasi dulu dengan ethanol. Baik B5, B10, B20 maupun B100 hanya
bisa dipakai untuk mesin diesel. Pada pemakaian B100, perlu dipasang tangki
pemanas, dan juga packing dari karet harus diganti dengan bukan dari karet.
Untuk motor bensin, bisa dipakai seperti di Eropa, campuran ethanol dan
bensin.
Ethanolnya dibuat dari fermentasi melasse, ketela pohon (cassace), dan
jagung.
Sudah ada usul untuk membatasi, menyetop perluasan kebun  kelapa sawit, dan
mengoptimalisasinya hingga meskipun luasnya terbatas, tetapi hasil per ha
nya naik.
Perkebunan kelapa sawit yang terlantar harus dicabut ijinnya, yang habis
HGUnya bisa dihutankan kembali, bisa dijadikan areal transmigrasi dll.
Sementara itu proyek energi tenaga angin, air terjun, geothermal, gas,
tenaga surya (solar cell) perlu cepat ditingkatkan untuk mengurangi import
BBM.

Kirim email ke