*Biasanya pertemuan diberitakan, tetapi apa yang dibicarakan atau apa yang
diputuskan dalam pertemuan dirahasiakan kepada umum.*

https://kumparan.com/@kumparanbisnis/sudirman-said-klarifikasi-tak-ada-pertemuan-rahasia-jokowi-moffett-1550746266632233667



21 Februari 2019 12:11 WIB


*Sudirman Said: Saya Tak Menyebut Pertemuan Sembunyi*


Sudirman Said saat mengisi Talkshow Bedah Program Capres-Cawapres di
Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (21/2). Foto: Arfiansyah Panji
Purnandaru/kumparan

Mantan Menteri ESDM Sudirman Said
<https://kumparan.com/topic/sudirman-said>kembali
bersuara soal akuisisi saham 51 persen PT Freeport Indonesia (PTFI).
Sudirman Said menyebut apa yang ia katakan sebelumnya merupakan
pengalamannya saat berada di bawah kabinet kerja Presiden Jokowi.

“Saya hanya menjelaskan soal kebijakan publik yang saya alami karena harus
menjawab apa yang ditulis dari buku pak Simon sendiri,” ujar Sudirman
ditemui wartawan usai Talkshow Bedah Program Capres-Cawapres di Fisipol
Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (21/2).

Menurut Sudirman, dia hanya menceritakan kronologis tanpa ada yang
ditambahkan maupun dikurangi.

“Saya hanya menceritakan kronologis saja tidak ada hal yang saya tambahkan,
tidak ada yang saya kurangi. Kemarin ada bedah buku, di buku ditulis bahwa
dalam buku pak Simon Sembiring di situ ditulis bahwa surat Menteri ESDM
tanggal 7 Oktober 2015 itu ditulis melampaui kewenangan dan dianggap
melemahkan posisi pemerintah Indonesia dalam bernegosiasi dengan Freeport
ke depan,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Sudirman Said
<https://kumparan.com/topic/sudirman-said> meluruskan soal tudingan
sebelumnya. Ia menegaskan tak ada pertemuan rahasia antara Presiden Jokowi
dan CEO Freeport McMoran Inc, James R. Moffett, pada 6 Oktober 2015 silam
di Istana Negara.

“Saya juga tidak menyebut pertemuan sembunyi. Saya menyebut ada pertemuan
dan saya tadi menceritakan kronologi menjelang masuk, saya diberitahu oleh
salah satu asistennya bahwa pertemuan ini tidak ada, jadi saya tidak pernah
menyebut pertemuan rahasia. Saya menjelaskan seluruh tahapan pertemuan
itu,” kata dia.

*Sudirman Said Ungkap Pertemuan Rahasia Jokowi - Bos Freeport*

Sebelumnya, Sudirman Said mengungkap, pertemuan rahasia antara Presiden
Jokowi dengan bos Freeport McMoran Inc, James R. Moffett, pada 6 Oktober
2015 silam. Dari pertemuan yang juga dihadiri Sudirman ini, kemudian
mencuat kasus 'Papa Minta Saham.'

Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Materi dan Debat Badan Pemenangan
Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ini menyampaikan, latar
belakang terbitnya surat tertanggal 7 Oktober 2015 kepada Freeport McMoran
Inc (FCX), yang dia tanda tangani. Surat itulah yang menimbulkan
kontroversi di publik, karena menyiratkan pemerintah saat itu telah
memberikan perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia hingga 2041.

Padahal sesuai aturan, perpanjangan kontrak tidak boleh diberikan sebelum
2019 atau dua tahun menjelang izin kontrak perusahaan habis pada 2021.
Tapi, Sudirman menegaskan, isi surat yang ditujukan ke Chairman FCX, James
R. Moffett, bukanlah perpanjangan kontrak.

Direktur Materi dan Debat BPN Prabowo-Sandi, Sudirman Said (tengah), saat
di konferensi pers BPN Prabowo-Sandi di Media Center BPN, Jakarta, Senin
(18/2). Foto: Nugroho Sejati/kumparan

"Mengenai surat 7 Oktober 2015 itu seolah-olah saya yang memberikan
perpanjangan izin. Itu persepsi publik," kata dia dalam acara peluncuran
buku Satu Dekade Nasionalisme Pertambangan karya Simon Felix Sembiring di
Melawai, Jakarta, Rabu (20/2).

Sudirman membeberkan kronologi terbitnya surat tersebut. Menurut dia,
sehari sebelum surat itu terbit, yakni pada 6 Oktober 2015, sekitar pukul
08.00 WIB, dirinya ditelepon oleh ajudan Presiden Joko Widodo.

Saat itu, ajudan meminta Sudirman Said datang ke Istana Negara. Sesampainya
di sana sekitar pukul 08.30 WIB, Sudirman diminta masuk ke ruangan. Yang
membuatnya heran, oleh asisten pribadi Jokowi pertemuan dadakan ini tidak
boleh diketahui alias tidak masuk dalam agenda kegiatan presiden.

Menurutnya, PT Freeport Indonesia (PTFI) bahkan tidak mengetahui pertemuan
James Moffett dengan Jokowi.

"Kan ada Sekretaris Negara dan Sekretaris Kabinet. Tapi dibilang pertemuan
ini tidak ada. Duduklah saya di sebelah presiden. Saya kaget di ruangan itu
ternyata ada James Moffett. Dan tidak panjang lebar, Presiden mengatakan
'tolong siapkan surat seperti apa yang diperlukan. Kira-kira kita ini
menjaga kelangsungan investasi, nanti dibicarakan setelah pertemuan ini'.
Baik," tutur Sudirman mengingat perintah Jokowi.

Jadi, lanjut dia, dalam pertemuan tersebut Moffett sudah menyiapkan draf
perpanjangan kontrak yang diinginkan FCX. Setelah itu, lanjut dia, dirinya
keluar ruangan dengan James Moffett.

Sebagai pejabat kala itu, Sudirman mengaku kecewa atas pertemuan tersebut.
Kepada Moffett, dia menegaskan, bukan seperti itu caranya meminta
perpajangan kontrak PTFI di Indonesia (yang dilakukan sebelum waktunya
alias melangkahi aturan).

"Saya bilang ke Moffett, bukan begini cara saya kerja. Kalau saya ikuti
draf-mu, maka akan ada preseden negara didikte oleh korporasi. Saya
sampaikan itu," jelasnya.

Tapi, akhirnya Sudirman tetap membuat draf yang diinginkan, sesuai
permintaan Jokowi langsung. Meski begitu, dia mengatakan, isi draf itu
mempertimbangkan beberapa hal yang menjaga kepentingan Indonesia sebagai
negara.

Isi draf tersebut di antaranya negara komitmen meneruskan investasi, negara
juga tengah menata regulasi. Karena waktu itu pemerintah sedang menyiapkan
revisi aturan (dari Kontrak Karya ke Izin Usaha Pertambangan Khsusus
(IUPK).

"Jam 4 sore saya temui Pak Presiden untuk menunjukan draf itu. Saya
dapatkan itu dari Sekjen dan Biro Hukum Kementerian ESDM. Saya katakan (ke
Presiden) drafnya seperti ini dan saya belum tanda tangan. Bapak dan ibu
tahu komentar presiden apa? Presiden mengatakan, 'Lho begini saja sudah
mau. Kalau mau lebih kuat yang diberi saja. Jadi draf yang saya punya ini
aman tidak merusak," kata dia.

Sudirman menambahkan, kalau surat itu menjadi kontroversi karena dianggap
melemahkan posisi Indonesia di hadapan FCX, dia mengatakan, itu terjadi
karena diperintah oleh presiden.

"Jadi kalau ada yang menyalahkan saya akibat surat itu, maka salahkan yang
merintahkan saya membuat surat itu," katanya.

Kirim email ke