https://finance.detik.com/energi/d-4437870/sebab-musabab-alat-tambang-freeport-mulai-dikirim-ke-luar-
negeri?tag_from=wp_beritautama&_ga=2.185651753.1431368839.1550775445-1041160859.1550775445
Kamis, 21 Feb 2019 13:53 WIB
Sebab Musabab Alat Tambang Freeport
Mulai Dikirim ke Luar Negeri
Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Share *0*
<https://finance.detik.com/energi/d-4437870/sebab-musabab-alat-tambang-freeport-mulai-dikirim-ke-luar-negeri?tag_from=wp_beritautama&_ga=2.185651753.1431368839.1550775445-1041160859.1550775445#>
Tweet *0*
<https://finance.detik.com/energi/d-4437870/sebab-musabab-alat-tambang-freeport-mulai-dikirim-ke-luar-negeri?tag_from=wp_beritautama&_ga=2.185651753.1431368839.1550775445-1041160859.1550775445#>
Share *0*
<https://finance.detik.com/energi/d-4437870/sebab-musabab-alat-tambang-freeport-mulai-dikirim-ke-luar-negeri?tag_from=wp_beritautama&_ga=2.185651753.1431368839.1550775445-1041160859.1550775445#>
54 komentar
<https://finance.detik.com/energi/d-4437870/sebab-musabab-alat-tambang-freeport-mulai-dikirim-ke-luar-negeri?tag_from=wp_beritautama&_ga=2.185651753.1431368839.1550775445-1041160859.1550775445#komentar>
Foto: Ardhi Suryadhi Foto: Ardhi Suryadhi
*Jakarta* - Tambang terbuka (open pit) Grasberg yang dikelola PT
Freeport Indonesia <https://www.detik.com/tag/freeport/> (PTFI) tak lagi
sibuk. Kini Grasberg sudah menua, dan tengah menunggu hari-hari terakhirnya.
Bila ditilik sejarahnya, Gunung Grasberg ditemukan pertama kali oleh
seorang Geologis Belanda, Jean Jacques Dozy pada tahun 1936. Kisahnya,
Dozy melihat dan melaporkan adanya keganjilan tumbuhan di sebuah gunung
yang terletak kurang lebih 4 km di sebelah utara-barat Ertsberg, tambang
pertama yang dieksplorasi Freeport di Papua.
Pada tahun 1997, berdasarkan klasifikasi besar cadangan dan kadar
tembaganya, Grasberg diidentifikasi sebagai tambang tembaga tipe propiri
terbesar ketiga di dunia yang kandungan tembaganya diperkirakan lebih
dari 1 miliar ton.
Kalau berdasarkan kadar emasnya, Grasberg menjadi tambang terbuka
tunggal tipe propiri dengan kandungan emas terbesar. Bahkan, jumlahnya
pun lebih dari 55 juta ons emas.
Namun setelah bertahun-tahun terus dieksplorasi, tambang terbuka
Grasberg yang juga menjadi tumpuan terbesar penyuplai hasil tambang
utama Freeport telah mencapai titik akhirnya.
Kepala Teknik Tambang PT Freeport Indonesia (PTFI), Zulkifli Lambali
mengatakan kegiatan tambang di Grasberg bisa berakhir pada akhir tahun 2018.
"Tambang open pit kita di Grasberg merupakan tempat produksi utama saat
ini, Kita rencanakan akan berakhir di tahun ini, kita menyebutnya akan
ditutup," kata Zulkifli, seperti yang dikutip *detikFinance* saat
berbincang dengan media di Tembagapura, Papua pada tahun lalu.
Produksi harian Freeport saat ini berada di angka 240 ribu ton per hari,
dan sekitar 170-180 ribu ton di antaranya merupakan hasil dari
pengerukan di Grasberg. Sisanya dari tambang bawah tanah underground,
itupun belum maksimal eksplorasinya.
"Jadi pada tahun 2019, produksi Freeport akan turun sekitar 60%, karena
Grasberg tutup dan tambang bawah tanah belum optimal memproduksi. Ini
memang masa-masa sulit bagi kita, tetapi ini sudah kita prediksi,"
lanjutnya.
*Baca juga: *Alat Tambang Freeport Mulai Dikirim ke Luar Negeri, Kenapa?
<https://finance.detik.com/read/2019/02/21/104030/4437522/1034/alat-tambang-freeport-mulai-dikirim-ke-luar-negeri-kenapa>
Tambang Grasberg merupakan tambang open pit yang potensinya tercatat 34
juta metrik ton. Dengan konsentrat tembaga 1,29 gram per metrik ton,
kandungan emas di Grasberg Open Pit ini juga lebih besar dibandingkan
tambang lain, jumlahnya mencapai 2,64 gram per metrik ton dan untuk
perak mencapai 3,63 gram per metrik ton.
"Untuk tambang bawah tanah kita baru produksi dari DOZ dan Big Gossan.
tapi setelah Grasberg tutup tahun depan maka semuanya akan datang dari
underground, dan akan kita capai 160 ribu ton per hari, tapi setelah dua
tahun kemudian," papar Zulkifli yang sudah hampir 30 tahun bekerja di
Freeport.
Alhasil, untuk mengejar ketertinggalan pasca era Grasberg, Freeport
harus menjadi agresif membangun infrastruktur di tambang bawah tanahnya.
Tak kurang dari 600 km jalur sudah tersambung di sepanjang tambang bawah
tanahnya. Selain itu, kendali jarak jauh (MineGem) untuk mengeruk hasil
tambang pun sudah dioperasikan lantaran risiko di tambang underground
yang lebih tinggi.
Belum lagi crusher (mesin penghancur bijih) terbesar, kereta bawah tanah
yang sampai sekarang juga terus dikembangkan termasuk lift di area
tambang GBC untuk memperpendek waktu tempuh bagi pekerja dan distribusi
alat.
Harapannya, tambang bawah tanah bisa menjadi mesin produksi utama
Freeport utama usai era Grasberg open pit. Targetnya adalah, usai
produksi anjlok di 2019, masuk tahun 2020 mereka bisa memaksimalkan
tambang bawah tanah.
"Tambang bawah tanah memang sulit diprediksi. Cuma yang pasti investasi
di sini lebih tinggi, risikonya lebih tinggi, dan tantangannya juga
semakin tinggi. Cuma memang masa depan Freeport ada di sini," sambung
Zulkifli.
Dengan berkurangnya aktivitas pertambangan open pit, maka sejak 2018
mulai mengirim peralatan tambang ke sejumlah perusahaan pertambangan di
luar negeri, khususnya di wilayah Amerika Selatan dan Amerika Utara.
Beberapa di antaranya seperti 60 unit truk tambang Komatsu tipe 930 yang
dikirim ke tambang di Peru, Amerika Selatan dan selanjutnya juga
berencana mengirim beberapa truk tambang lainnya ke sejumlah perusahaan
pertambangan di wilayah Amerika Utara. *(eds/eds)
*
**