*Apakah karena mayoritas penduduk NKRI takut kepada Allah maka sepatutnya
diberlakukan hukum syariat di NKRI? Bagi yang mau lebih tahu tentang
syariat silahkan berbungan dengan Capers dan wapres NKRI.*

https://suara-islam.com/kalau-takut-kepada-allah-swt-harusnya-taat-syariat/

*Kalau Takut Kepada Allah SWT Harusnya Taat Syariat*

20 Februari 2019

 3 minutes read

Cetak

Google+

Twitter

Facebook

Pasca debat pilpres kedua kemarin, sebagian masyarakat telah dibuai oleh
capres nomor 01 sekaligus presiden saat ini dengan pernyataanya: “Kita
ingin negara ini semakin baik dan saya akan pergunakan seluruh tenaga yang
saya miliki, kewenangan yang saya miliki. Tidak ada yang saya takuti untuk
kepentingan nasional, rakyat, bangsa negara. Tidak ada yang saya takuti
kecuali Allah SWT untuk Indonesia maju”. Sejatinya hal ini adalah sebuah
pernyataan yang sangat manis dan elok untuk didengar.

Namun, apakah benar hal ini sesuai dengan fakta yang ada? Mari kita amati
bersama di sini. Ketika Manusia dituntut takut kepada Allah SWT, sejatinya
diperintahkan untuk taat kepada syariat Allah SWT saja. Karena rasa takut
adalah implementasi dari “takwa” kepada Allah SWT. Arti takwa sendiri
adalah upaya untuk menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi
segala larangan dari Allah SWT.

Dengan demikian, jika memang hanya takut kepada Allah SWT kenapa tetap
membangun negeri ini dengan hutang riba dan lebih memihak kepada para
investor asing daripada kepada rakyat? Padahal siapa saja yang memakan riba
diibaratkan telah menantang azab Allah SWT. Dan Allah SWT telah mengancam
dengan keras para pemakan riba dengan ancaman sebagai dosa yang sangat
besar. Dan Bapak telah mengukir sejarah sebagai presiden yang telah
“menambah” hutang ribawi terbanyak Indonesia sebagaimana Bank Indonesia
(BI) telah merilis utang luar negeri Indonesia pada akhir triwulan IV-2018
mencapai US$ 376,8 miliar atau Rp 5.312,8 triliun. Sungguh angka yang
fantastis sekaligus mengerikan jika kita mengingat besarnya dosa riba.

Jika memang hanya takut kepada Allah SWT, tidak seharusnya memberikan
kebebasan kepada golongan yang melanggar syariat Islam dan membiarkan
perzinaan dimana-mana. Sungguh negeri ini marak perzinaan, bahkan
prostitusi atas dasar suka sama suka tidak dianggap sebagai kriminal. LGBT
juga dilindungi atas nama hak asasi manusia, padahal LGBT telah nyata
membuat kerusakan demi kerusakan di masyarakat. Gerakan ini juga mengancam
keberlangsungan dari generasi, dan terbukti semakin meningkatkan prevalensi
HIV/AIDS. Di dalam syariat Islam, Allah melaknat perilaku kaum nabi Luth
a.s. Rasulullah SAW bersabda: “*Allah telah melaknat siapa saja yang
berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth.”*(HR Ahmad). Allah SWT juga telah
menetapkan hudud bagi perilaku ini. Tapi apakah mau pemimpin negeri ini
melaksanakan hukum Allah SWT ini?

Jika memang seorang pemimpin yang hanya takut kepada Allah SWT harusnya
tidak takut dengan ancaman dan intimidasi manusia “siapa pun” itu. Namun
coba kita ambil salah satu contoh fakta bagaimana keputusan pak presiden
nyatanya sangat mudah berubah karena intimidasi dari orang sekitar. Saat
Bapak mengutus Yusril untuk membebaskan Ust. Abu Bakar Ba’asyir, beliau
juga akhirnya membatalkan karena diintervensi kementrian di bawahnya. Ada
juga analisa Karena takut dengan ancaman Australia. Jika beliau hanya takut
kepada Allah SWT, tentulah dirinya tidak akan membatalkan rencana
membebaskan Ust Abu Bakar Ba’asyir, seorang pengemban dakwah korban fitnah
dan tuduhan narasi perang melawan terorisme. Bahkan, beliau menjilat ludah
dengan menyatakan pembebasan harus memenuhi persyaratan dan prosedur.
Padahal, sebelumnya pembebasan disebut tanpa syarat, murni hanya karena
faktor kemanusiaan.

Seorang pemimpin yang takut hanya kepada Allah SWT, maka akan sangat senang
hati ketika mendapatkan kritik dan nasihat dari rakyatnya. Karena nasihat
dari rakyat adalah dalam rangka untuk kemaslahatan umat dan negeri ini.
Namun nyatanya selama pemerintahan beliau, banyak aktifis yang ditangkap
karena telah mengkritik penguasa. Bukannya meng-evaluasi, tapi justru
menyerang fihak yang berseberangan dengan beliau. Bahkan rezim ini begitu
bangga telah sukses membubarkan gerakan yang memperjuangkan syariat Allah
SWT. Padahal dakwah untuk terikat kepada syariat Allah SWT adalah bentuk
ketakwaan kita kepada Allah SWT atau hal ini adalah bentuk rasa takut kita
kepada Allah SWT. Lalu, apakah ini menjadi indikasi bahwa yang dikatakan
hanya takut kepada Allah SWT adalah suatu kebenaran?.

Sungguh, rasa takut kepada Allah bukanlah hanya sekedar ucapan, namun hal
ini harusnya terimplikasi di dalam setiap perbuatan. Terlebih seorang
pemimpin suatu negeri yang memiliki rasa takut, akan berupaya melaksanakan
perintah Allah SWT untuk taat kepada syariat-Nya. Mereka akan sangat takut
jika mendholimi rakyat-Nya. Sangat takut jika membuat rakyat sengsara
dengan kebijakan yang telah ditetapkankannya. Bahkan mereka akan senantiasa
tidak merasa aman karena takutnya dengan adzab Allah SWT.

Jangan sampai ungkapan rasa takut kepada Allah SWT hanya sebatas pemanis
bibir saja untuk meraup suara dan melanggengkan kekuasaan. Sungguh ini
adalah kemungkaran yang sangat besar. Janganlah merasa aman seolah sudah
berbuat banyak amal, sudah banyak berbuat baik, bahkan merasa tidak punya
beban, sehingga sampai merasa Allah tidak akan mungkin mengadzabnya.
Sungguh justru ini adalah indikasi tidak ada rasa takut itu kepada Allah
SWT. Allah berfirman tentang manusia yang demikian (yang artinya): *“Apakah
kalian merasa aman dari makar Allah? Tidaklah ada orang yang merasa aman
dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.*” (QS. Al A’raf: 99).

Takut kepada Allah adalah sifat orang yang bertaqwa, dan hal ini juga
merupakan bukti keimanan kepada Allah. Maka takut kepada Allah adalah salah
satu bentuk ibadah yang semestinya diperhatikan oleh setiap mukmin.
Sebagaimana Allah berfirman (yang artinya) : *“..Karena itu janganlah kamu
takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku*.” (QS. Al Ma’idah: 44).
Dan konsekuensi dari rasa takut kepada Allah SWT adalah taat kepada
syari’at Allah SWT, bukan justru mengriminalisasi syariat Allah SWT..
*Wallahua’lam
bish showab*.

*Ifa Mufida *
*(Pemerhati Masalah Sosial)*
*Sebarkan yuk...*

Kirim email ke