Silahkan Jokowi membaca berita ini!!
Proyek Infrastruktur di Flores: Hanya Memakmurkan yang Kaya?
21 Februari 2019
Bisakah proyek-proyek infrastruktur pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla 
mengeluarkan warga Flores dari jerat kemiskinan? Selama tak mengurai 
sebab-sebab ketimpangan, proyek infrastruktur hanya membuat yang kaya makin 
kaya dan yang miskin tetap miskin. Termasuk di Flores.

Kepemilikan tanah di Flores dewasa ini mulai terkonsentrasi pada golongan 
aristokrat dan kaum bermodal.

| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Penjajahan dan Land Grabbing Sebagai Akumulasi Melalui Perampasan di Flores

POTRET kemiskinan merupakan pandangan keseharian di Flores. Soalnya, bagaimana 
menjelaskannya? Beberapa pihak be...
 |

 |

 |



 Pada 2011, misalnya, ekspedisi jurnalistik Kompasmelaporkan seorang petani di 
kecamatan Boawae, kabupaten Nagekeo, Flores, yang hanya memiliki 0,12 hektar 
tanah pertanian. Untuk mempertahankan hidup keluarganya, si petani bernama 
Flori Seda itu harus bekerja dengan sistem bagi hasil dengan tuan tanah pada 
tanah pertanian seluas 0,7 hektar.

Ada banyak petani yang bernasib seperti Flori Seda di Flores, terutama di 
daerah persawahan seperti Mbay dan Lembor yang penetrasi kapitalnya cukup kuat 
jika dibandingkan dengan daerah pertanian non-persawahan di Flores. Demi 
bertahan hidup, mereka bekerja dalam sistem bagi hasil 6:4 atau 5:5. Sekitar 
40-50% dari penghasilan harus diserahkan kepada tuan tanah. Jika para petani 
berlahan kecil (1/4-1/2 ha) dan tuna kisma tidak memperoleh lahan garapan dalam 
sistem bagi hasil—seperti yang terjadi di persawahan Mbay—maka mereka akan 
bekerja sebagai pekerjaan harian lepas dengan upah harian.

Namun, sejak maraknya mekanisasi pertanian di Flores terutama di tanah 
pertanian persawahan, banyak petani di Flores memutuskan merantau ke Malaysia 
sebagai buruh migran. Sebelum berangkat ke negeri jiran, para petani penggarap 
yang bisa digolongkan sebagai proletariat dan semi-proletariat ini memiliki 
tanah rata-rata 0-0,5 ha.

Baca juga: Lingkaran Setan Ketimpangan Sosial di Indonesia
Pada 2013, jumlah buruh migran asal NTT (terutama Flores) di Malaysia tercatat 
sebanyak 75 ribu (yang berstatus ilegal) dan 32 ribu (berstatus legal). Lima 
tahun kemudian, jumlah TKI NTT di Malaysia meningkat menjadi sekitar 200 ribu. 
Tiap tahun, NTT mengirim 2.000-4.000 TKI legal dan ilegal ke Malaysia. Banyak 
dari mereka yang menjadi korban penyelundupan manusia.

Di luar buruh migran, tak sedikit pula massa rakyat Flores yang terlempar dari 
sektor agraria dan akhirnya menganggur atau bekerja pada sektor informal. Pada 
2014, jumlah pengangguran di NTT sebanyak 73,2 ribu orang, yang meningkat 
menjadi 74,7 ribu orang di tahun 2018. Dari total 2,24 juta angkatan kerja di 
NTT, 78,91 persennya bekerja di sektor informal. 

Di tengah ketimpangan agraria inilah proyek infrastruktur pemerintah hadir di 
Flores. Banyak pihak yang optimis berpendapat bahwa proyek infrastruktur 
Jokowi-JK mampu mengeluarkan masyarakat Flores dari kemiskinan. Namun, 
kemiskinan yang berakar pada ketimpangan ekonomi politik—termasuk ketimpangan 
agraria—rupanya mustahil diselesaikan dengan intervensi teknis semata seperti 
yang telah dipraktikkan dalam proyek-proyek pembangunan infrastruktur.

Sebaliknya, kehendak untuk memperbaiki—seperti yang dimaksudkan Tania Murray Li 
dalam bukunya The Will to Improve (2007)—melalui intervensi teknis pembangunan 
proyek infrastruktur ala Jokowi-JK di tengah ketimpangan agraria di Flores 
justru gagal mengatasi kesenjangan ekonomi.

Di bidang pertanian, pembangunan persawahan baru dan pemberian alat-alat 
pertanian (alsintan) kepada para petani di Flores malah memperumit persoalan 
ketimpangan agraria di pedesaan. Sebab, tidak jarang alat-alat pertanian yang 
diberikan itu seperti yang terjadi di Ngada, Flores, dikuasai segelintir petani 
kaya yang menjadi ketua dan pengurus organisasi masyarakat. Posisi kelas mereka 
dalam struktur produksi adalah petani kapitalis yang menguasai lahan yang 
sangat luas.

Para birokrat Flores yang koruptif juga cenderung memanfaatkan proyek-proyek 
pertanian ini untuk kepentingan kelompok dan keluarganya sendiri. Hal inilah 
yang menambah ketegangan dan konflik agraria baik vertikal maupun horizontal.

Selain itu, proyek infrastruktur selama pemerintahan Jokowi-JK kerap 
menyebabkan kasus-kasus perampasan tanah (land grabbing) di Flores. Contohnya 
bisa dilihat dalam kasus pembangunan bendungan Napung Gete di Maumere Flores. 
Pembangunan bendungan ini sempat mendapat mendapat perlawanan dari pemilik 
lahan. Mereka menutup akses ke bendungan yang sedang dibangun akibat ganti rugi 
yang dijanjikan pemerintah tak kunjung turun. Di Nagekeo, pembangunan Bendungan 
Lambo yang direncanakan oleh Jokowi-JK masih tersendat akibat masalah 
pembebasan lahan dan relokasi penduduk yang prosesnya cenderung melibatkan 
kekerasan aparat. 


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Mengapa Pembangunan Waduk Lambo Ditolak Masyarakat di Tiga Desa Adat. Ap...

Senin pagi (17/10) masyarakat tiga desa, Rendu Butowe Kecamatann Aesesa, 
Labolewa Kecamatan Aesesa Selatan dan ...
 |

 |

 |





| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Terjadi Aksi Saling Dorong Saat Survei Waduk Lambo, Nagekeo - Pos Kupang

Survey lokasi Waduk Lambo di Rendu Butowe, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten 
Nagekeo, Selasa (7/6/2016), kemba...
 |

 |

 |





Siapa yang Diuntungkan?
Tanpa menyentuh isu ketimpangan agraria, sulit melihat pembangunan 
infrastruktur di Flores sebagai upaya untuk membantu mengeluarkan masyarakat 
Flores dari kemiskinan. Upaya ini justru sekadar mempercepat proses 
komodifikasi sumber daya alam dan manusia di Flores. Pasalnya, semakin 
membaiknya infrastruktur publik yang menghubungkan desa dan kota, orang kota 
berbondong-bondong berinvestasi dengan membeli tanah di desa-desa Flores.

Pembangunan infrastruktur di pedesaan di Flores tanpa perubahan relasi 
kepemilikan tanah di tingkat desa hanya akan menambah ketimpangan ekonomi 
politik setempat. Yang diuntungkan oleh peningkatan kualitas jalan adalah 
mereka yang menguasai aset-aset produktif, misalnya pengusaha dan tuan tanah di 
pedesaan.

Di sektor lain, pembangunan infrastruktur pariwisata di Flores juga berdampak 
pada peningkatan komodifikasi tanah dan sumber daya pariwisata lainnya. Di 
Labuan Bajo, misalnya, sepetak demi sepetak tanah strategis dikuasai para 
pemilik modal baik dari Bali, Jakarta, maupun luar negeri.

Baca juga: KPA: Proyek Infrastruktur Lebih Untungkan Pengusaha, Bukan Publik
Berdasarkan data BPS September 2018, kemiskinan di NTT masih berada di atas 
20%—tepatnya 21,03%—bersama tiga propinsi lainnya, yakni Papua Barat (22,6%) 
dan Papua (27,43%). Angka kemiskinan ini dua kali lebih tinggi dari angka 
kemiskinan nasional (9,66%) yang terus dibanggakan pemerintah menjelang 
pemilihan umum 2019.

Dilihat dari data ini, kemiskinan di NTT dalam kurun waktu hampir satu dekade 
(2010-2018) belum mengalami penurunan yang signifikan. Kemiskinan hanya menurun 
0,2%, dari 21,23% (2010) menjadi 21,03% (2018). Pembangunan infrastruktur yang 
digencarkan oleh pemerintah Jokowi-JK di periode pertama tidak berdampak 
signifikan terhadap penurunan kemiskinan di NTT dan Flores.

Masalahnya memang pembangunan tersebut belum menyentuh persoalan ekonomi 
politik yang terkait dengan ketimpangan agraria. Berdasarkan data yang dirilis 
BPS pada Januari 2019, gini ratio di pedesaan (termasuk di di Indonesia Timur) 
meningkat menjadi 0,324 (2018) dari 0,320 (2017) di tengah peningkatan kucuran 
dana desa setiap tahun—yang umumnya dipergunakan untuk pembangunan 
infrastruktur desa—yakni dari Rp20,67 triliun (2015), Rp46,98 triliun (2016), 
Rp60 triliun (2017 dan 2018), dan Rp70 triliun (2019).

Jika nanti Jokowi meraup suara terbanyak di Flores untuk Pilpres 2019, 
kemungkinan pembangunan infrastruktur di Indonesia Timur tak menjadi faktor 
penting di balik kemenangan tersebut. Dengan mayoritas penduduk Flores yang 
beragama Katolik, efek maraknya politisasi agama oleh kaum Islamis pendukung 
Prabowo yang berhasil menjerumuskan Ahok ke penjara nampaknya akan membuat 
masyarakat Flores menjatuhkan pilihan politiknya ke Jokowi-Ma’ruf Amin, 
pasangan calon yang selama ini dipercaya lebih moderat dan ramah terhadap 
kelompok minoritas.

    On Friday, February 22, 2019, 6:29:41 AM GMT+1, Chalik Hamid 
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:  
 
     


Bambang Djalisnetra membagikan kiriman.
Kemarin pukul 06.17 · Presiden Joko WidodoSukai HalamanKemarin pukul 05.17 · 
Selamat pagi. Selama empat tahun ke belakang, dana desa yang dikucurkan untuk 
sekitar 74.900 desa di seluruh Indonesia, telah menghasilkan sejumlah 
infrastruktur desa. Di antaranya: jalan desa sepanjang 191.000 kilometer, 
58.000 unit irigasi, 8.900 pasar desa, hingga 24.000 posyandu.

Bagaimana selanjutnya? Di depan para penyelenggara pemerintahan desa di Ancol, 
Jakarta, kemarin saya sampaikan bahwa setelah fisik infrastruktur kita 
jalankan, Program Dana Desa ke depan akan digeser sedikit ke pemberdayaan 
ekonomi desa.

Program yang dijalankan nanti disesuaikan dengan keunggulan suatu desa. Desa 
yang memiliki pemandangan alam maupun objek wisata yang indah, dapat menggarap 
keunggulan itu untuk penghasilan desa itu sendiri.
  #yiv9563882678 #yiv9563882678 -- #yiv9563882678ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv9563882678 
#yiv9563882678ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv9563882678 
#yiv9563882678ygrp-mkp #yiv9563882678hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv9563882678 #yiv9563882678ygrp-mkp #yiv9563882678ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv9563882678 #yiv9563882678ygrp-mkp .yiv9563882678ad 
{padding:0 0;}#yiv9563882678 #yiv9563882678ygrp-mkp .yiv9563882678ad p 
{margin:0;}#yiv9563882678 #yiv9563882678ygrp-mkp .yiv9563882678ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9563882678 #yiv9563882678ygrp-sponsor 
#yiv9563882678ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9563882678 
#yiv9563882678ygrp-sponsor #yiv9563882678ygrp-lc #yiv9563882678hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9563882678 
#yiv9563882678ygrp-sponsor #yiv9563882678ygrp-lc .yiv9563882678ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9563882678 #yiv9563882678actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9563882678 
#yiv9563882678activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9563882678
 #yiv9563882678activity span {font-weight:700;}#yiv9563882678 
#yiv9563882678activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv9563882678 #yiv9563882678activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9563882678 #yiv9563882678activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv9563882678 #yiv9563882678activity span 
.yiv9563882678underline {text-decoration:underline;}#yiv9563882678 
.yiv9563882678attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv9563882678 .yiv9563882678attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv9563882678 .yiv9563882678attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9563882678 .yiv9563882678attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9563882678 .yiv9563882678attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv9563882678 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv9563882678 .yiv9563882678bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9563882678 
.yiv9563882678bold a {text-decoration:none;}#yiv9563882678 dd.yiv9563882678last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9563882678 dd.yiv9563882678last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9563882678 
dd.yiv9563882678last p span.yiv9563882678yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv9563882678 div.yiv9563882678attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv9563882678 div.yiv9563882678attach-table 
{width:400px;}#yiv9563882678 div.yiv9563882678file-title a, #yiv9563882678 
div.yiv9563882678file-title a:active, #yiv9563882678 
div.yiv9563882678file-title a:hover, #yiv9563882678 div.yiv9563882678file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9563882678 div.yiv9563882678photo-title a, 
#yiv9563882678 div.yiv9563882678photo-title a:active, #yiv9563882678 
div.yiv9563882678photo-title a:hover, #yiv9563882678 
div.yiv9563882678photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9563882678 
div#yiv9563882678ygrp-mlmsg #yiv9563882678ygrp-msg p a 
span.yiv9563882678yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9563882678 
.yiv9563882678green {color:#628c2a;}#yiv9563882678 .yiv9563882678MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv9563882678 o {font-size:0;}#yiv9563882678 
#yiv9563882678photos div {float:left;width:72px;}#yiv9563882678 
#yiv9563882678photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9563882678 
#yiv9563882678photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9563882678
 #yiv9563882678reco-category {font-size:77%;}#yiv9563882678 
#yiv9563882678reco-desc {font-size:77%;}#yiv9563882678 .yiv9563882678replbq 
{margin:4px;}#yiv9563882678 #yiv9563882678ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9563882678 #yiv9563882678ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9563882678 
#yiv9563882678ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9563882678 
#yiv9563882678ygrp-mlmsg select, #yiv9563882678 input, #yiv9563882678 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9563882678 
#yiv9563882678ygrp-mlmsg pre, #yiv9563882678 code {font:115% 
monospace;}#yiv9563882678 #yiv9563882678ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv9563882678 #yiv9563882678ygrp-mlmsg #yiv9563882678logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv9563882678 #yiv9563882678ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv9563882678 #yiv9563882678ygrp-msg 
p#yiv9563882678attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9563882678 
#yiv9563882678ygrp-reco #yiv9563882678reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9563882678 #yiv9563882678ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9563882678 #yiv9563882678ygrp-sponsor 
#yiv9563882678ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9563882678 
#yiv9563882678ygrp-sponsor #yiv9563882678ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9563882678 
#yiv9563882678ygrp-sponsor #yiv9563882678ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv9563882678 #yiv9563882678ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv9563882678 #yiv9563882678ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv9563882678 #yiv9563882678ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9563882678 
#yiv9563882678ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv9563882678   

Kirim email ke