http://www.balipost.com/news/2019/02/23/69471/Kualitas-Pendidikan-Kunci-Hadapi-Revolusi...html
Kualitas Pendidikan Kunci Hadapi
Revolusi Industri
Sabtu, 23 Februari 2019 | 20:24:54
Berbagi di Facebook
<https://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.balipost.com%2Fnews%2F2019%2F02%2F23%2F69471%2FKualitas-Pendidikan-Kunci-Hadapi-Revolusi...html>
Tweet di Twitter
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Kualitas+Pendidikan+Kunci+Hadapi+Revolusi+Industri&url=http%3A%2F%2Fwww.balipost.com%2Fnews%2F2019%2F02%2F23%2F69471%2FKualitas-Pendidikan-Kunci-Hadapi-Revolusi...html&via=balipostcom>
*
*
JAKARTA, BALIPOST.com – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut
Binsar Pandjaitan mengatakan perkembangan teknologi ke depan akan
banyak menggeser pekerjaan-pekerjaan manusia. Apalagi ke depan robot
akan dibekali artificial intelegencia (kecerdasan buatan) sehingga
perannya makin sangat dibutuhkan untuk mengerjakan banyak pekerjaan
manusia.
Belum lagi, menurut Luhut, ada sisi positif dari robot yaitu robot tidak
memiliki sikap emosi dan berpikir sesuai dengan perintah yang
diinginkan. “Sekarang orang bicara robotic, tidak ada pensiunnya, tidak
minta cuti Nyepi, cuti Natal. Dia kerja aja terus. Tidak pernah mau demo
lagi,” ucap Luhut dalam pidato pada Sarasehan Nasional Perayaan Nyepi
Tahun Baru Saka 1941/Tahun 2019 dan Angayubhagya 60 tahun PHDI di Gedung
Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (23/2).
Sarasehan yang diselenggarakan dalam rangkaian Perayaan Nyepi itu
mengangkat tema ‘Refleksi Catur Brata Penyepian dalam Penguatan
Kedaulatan Berbangsa dan Bernegara’. Selain Luhut, hadir pembicara
diskusi Menteri Keuangan Sri Mulyani, Ketua Umum Parisada Hindu Dharma
Indonesia (PHDI) Wisnu Bawa Tenaya, Staf Khusus Presiden RI, AAGN Ari
Dwipayana, dan Praktisi Teknologi Industri 4.0 Yohanes Kurnia Widjaja.
Sebanyak 750 tamu undangan dari tokoh umat Hindu dan tamu undangan juga
hadir antara lain Ketua Umum Panitia Nasional Perayaan Nyepi 2019,
Samudera Gina Antara (Wayan Gigin), para pandita, mantan Ketua Umum PHDI
Pusat/Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kemenkeu I
Made Gde Erata, Penasihat PHDI Sang Nyoman Suwisma, Putra Astaman, Ketut
Untung Yoga Ana, I Ketut Wiardana, Ida Bagus Alit Wiratmadja, mantan
KSAU Marsekal Purn. Ida Bagus Putu Dunia, dan sejumlah undangan lainnya.
Lebih jauh, Luhut mengatakan Amerika Serikat dan China tercatat menjadi
negara yang telah sukses melakukan robotisasi. Robot telah mengambil
alih fungsi pekerjaan yang selama bertahun-tahun dilakukan oleh manusia.
“Akibat dari robotic tadi, di Amerika terjadi produktifitas tinggi
tetapi penambahan lapangan kerja tidak seperti itu,” ujarnya.
Mantan Menteri Perindutrian dan Perdagangan (Menperindag) di era
Presiden Abdurrahman Wahid ini mengatakan revolusi industri dalam
peradaban manusia merupakan keniscayaan. Oleh karena itu, pemerintah
terus berupaya menyiapkan generasi muda berkualitas untuk menyogsongnya
melalui peningkatan kualitas pendidikan. “Jadi untuk tahun-tahun ke
depan kita lihat. Harapan kita ke depan seperti itu. Jangan sampai
ketinggalan,” imbuhnya.
Luhut juga menyinggung keberhasilan pemerintah saat ini dalam berbagai
bidang. Ia mencontoh kebijakan paling fenomenal dan berani yang
dilakukan pemerintah saat ini yaitu kebijakan BBM satu harga yang akan
juga diikuti kebijakan satu harga untuk komoditas lainnya.
“Jadi kami diundang untuk menjelaskan kepada sekitar 750 orang lebih
yang hadir di sini, apa perspektif Indonesia dari sisi maritim, dari
global, ekonomi, keamanan, politik, kemudian apa-apa kemajuan yang telah
dicapai oleh presiden atau pemerintah sekarang ini,” terangnya.
Baca juga: Dosen STP Ditemukan Tewas, Ini Hasil Penyelidikan Polisi
<http://www.balipost.com/news/2017/04/25/6599/Dosen-STP-Ditemukan-Tewas,Ini...html>
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan dari
sisi kebijakan ekonomi pemerintah. “Bagaimana APBN yang merupakan
instrumen untuk membangun dan menyongsong perlu didorong oleh teknologi
agar mampu mengikuti revolusi industri 4.0,” kata Sri Mulyani.
Dalam kaitan itu, Sri Mulyani mengakui fokus anggaran yang dialokasikan
salah satunya adalah untuk kegiatan vokasi (pendidikan pada penguasaan
keahlian terapan tertentu/pendidikan kejuruan). Tetapi, ia menyindir
banyak kementerian dan lembaga negara yang kerap meminta anggaran kepada
kementeriannya dengan embel-embel vokasi. “Sekarang ini, banyak yang
mengajukan anggaran ke kami dengan sedikit-sedikit vokasi. Saya tanya
ini vokasi yang mana. Karena semua yang mengajukan selalu menggunakan
kata vokasi,” sindirnya.
Pada sarasehan tersebut, Sri Mulyani mengucapkan terima kasihnya kepada
masyarakat Bali yang sukses menjadi tuan rumah pada perhelatan akbar
internasional Annual Meeting IMF-world Bank tahun 2018 lalu. “Sedikit
refleksi ke belakang, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada
masyarakat Bali yang telah sukses menjadi tuan rumah Annual Meeting
IMF-Bank Dunia. Juga Asian Games. Jadi tahun 2018 bukanlah tahun yang
biasa karena kita bisa mengelola dan menyukseskan semua event
internasional,” ujarnya.
Pada pidatonya, Sri Mulyani juga meluruskan nada miring sejumlah pihak
yang menuding utang luar negeri Indonesia yang makin menumpuk akibat
pemerintah yang mudah sekali berutang. Menurut Sri Mulyani, sebenarnya
utang Indonesia di mata dunia internasional masih masuk dalam kategori
tidak mengkhawatirkan dan utang masih sangat aman.
Dalam kebijakan pengelolaan utang, pemerintah tetap memedomani batasan
aman sesuai ketentuan Undang-Undang Keuangan Negara nomor 17/2003. Yaitu
defisit anggaran dibatasi maksimal 3 persen dari produk Domestik Bruto
(PDB). Sedangkan jumlah pinjaman dibatasi maksimal 60 persen dari PDB.
Dengan demikian, dengan total utang Rp 4.418,3 triliun, maka rasio utang
sebesar 29,98 persen dari total PDB yang berdasarkan data sementara
sebesar Rp 14.735,85 triliun masih sesuai dengan yang diamanatkan UU.
(Hardianto/balipost)