https://suara-islam.com/prabowo-bukan-lagi-lawan-jokowi/

*Prabowo Bukan Lagi Lawan Jokowi*

22 Februari 2019

 3 minutes read

Cetak

Google+

Twitter

Facebook

Debat kedua antar-capres mengubah dengan cepat peta persaingan menuju
Pilpres 2019. Prabowo bukan lagi lawan utama yang harus dihadapi Jokowi.

Sebagai inkumben Jokowi menghadapi sebuah realita aneh. Data, fakta, dan
akal sehat tiba-tiba muncul menjadi lawan utama yang mengancam kelangsungan
jabatannya.

Ada tiga kluster yang kini tengah menjadi ancaman serius dan tidak boleh
dipandang sebelah mata oleh Jokowi.

*Pertama*, kekuatan masyarakat madani yang direpresentasikan oleh sejumlah
organisasi seperti Greenpeace, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi),
Konsorsium Pembaruan Agraria dll.

Kelompok ini muncul menjadi penentang ketika dalam debat kedua Jokowi
menyemburkan sejumlah data yang tidak akurat. Jokowi misalnya menyatakan
selama tiga tahun terakhir masa pemerintahannya tidak lagi terjadi
kebakaran hutan. Fakta ini salah.

Berdasarkan catatan Greenpeace, sepanjang tahun 2015-2018 tetap terjadi
kebakaran hutan. Benar angkanya pada tahun 2018 jauh menurun. Tapi klaim
tidak terjadi kebakaran selama tiga tahun terakhir tidak berdasar.

Jokowi kemudian meralat ucapannya. Dari semula “tidak terjadi kebakaran,”
menjadi “mampu mengatasi kebakaran.” Dua hal ini jelas sangat berbeda.

Hanya dua hari setelah debat, kebakaran hebat terjadi di hutan Riau.
Pemerintah Riau menetapkan kondisi darurat kebakaran hutan. Tercatat lebih
dari 800 hektar hutan terbakar. Terparah terjadi di Kabupaten Bengkalis.

Walhi juga menyebut Jokowi melakukan klaim berlebihan terhadap
keberhasilannya menangani masalah lingkungan. Jokowi dinilai mengabaikan
dampak lingkungan dari pembangunan infrastruktur.

Konsorsium Pembaruan Agraria mencatat telah terjadi 410 konflik agraria.
Luasan wilayah konflik mencapai 807 ribu hektar dan melibatkan 87 ribu
lebih kepala keluarga di berbagai provinsi di daerah.

*Kedua*, media massa yang melakukan cek fakta dan data atau *live
fact-checking *debat capres 2019. Kegiatan itu diprakarsai dan didukung
penuh oleh Google News Initiative, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI),
Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan FirstDraft.

Sejumlah media K*ompas.com <http://ompas.com>, Tempo.co, Detik.com,
Viva.co.id <http://Viva.co.id>, Liputan6.com, Merdeka.com, KBR.id, The
Jakarta Post, Kontan, suara.com <http://suara.com>, Beritasatu.com, Media
Indonesia (Medcom), Times Indonesia, The Conversation, Kabar Medan, Kabar
Makassar *dan *RiauOnline*, dan jurnalis AFP bergabung dalam program ini.

Hasilnya ditemukan puluhan klaim data yang tidak akurat. Terbanyak dari
Jokowi. Fakta-fakta tersebut ditampilkan dalam *cekfakta.com
<http://cekfakta.com>*.

Salah satu kesalahan data yang ditemukan menyangkut impor jagung. Jokowi
mengklaim pada tahun 2014 impor jagung sebesar 3.5 juta ton. Pada tahun
2018 turun menjadi hanya 180.000 ton.

Berdasarkan data dari badan Pusat Statistik (BPS) jumlah impor jagung pada
2018 sebesar 737.228 ton.

Pada hari Selasa (19/2) situs *cekfakta.com <http://cekfakta.com> *diretas
oleh *hacker*. Peretasan itu merupakan pertanda ada pihak yang tak senang
dan dirugikan dengan keberadaan situs ini. Pihak-pihak itu tak menginginkan
ketika kebenaran diungkapkan ke publik.

*Ketiga*, bantahan dari internal Jokowi, termasuk dari sejumlah pembantu
dekatnya. Kluster ketiga ini dampaknya sangat parah. Selain membongkar
borok Jokowi, juga menunjukkan adanya krisis kepercayaan.

Bantahan paling telak datang dari Wapres Jusuf Kalla soal status ribuan
hektar tanah Prabowo di Kaltim dan Aceh. Jokowi menggunakan data itu untuk
menyerang pribadi Prabowo yang mempersoalkan program bagi-bagi sertifikat
kepada warga. Target serangan Jokowi untuk merusak reputasi Prabowo.

Jusuf Kalla mengaku bahwa Prabowo mendapatkan tanah-tanah tersebut secara
sah dengan prosedur yang benar. Kalla yang “memberikan” tanah itu dengan
pertimbangan lebih baik diberikan kepada anak bangsa, ketimbang jatuh ke
tangan asing.

Prabowo, kata Kalla, membayar tunai tanah di Kaltim seluas 220.000 hektar
sebesar 150 juta dolar. Status tanah tersebut adalah kredit macet di Bank
Mandiri.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Aceh Syahrial bahkan menyebut Prabowo seorang
pahlawan. Dia menyelamatkan aset tersebut saat terjadi krisis moneter.

*Kompas.com *memaparkan fakta di lahan seluas 97.000 hektar itu juga sudah
dibangun sejumlah infrastruktur oleh pemerintah berupa bandara, gedung
perkantoran dan markas batalyon militer. Namun pajaknya lebih dari Rp1
miliar tetap dibayar oleh perusahaan Prabowo.

Bantahan berikutnya adalah pengakuan Jokowi pergi tengah malam hanya berdua
sopir, tanpa pengawalan mengunjungi kampung nelayan Tambak Lorok, Semarang.

Komandan Pasukan Pengamanan Presiden Mayjen TNI Maruli Simanjuntak
membantah Jokowi pergi tanpa pengawalan. Hal itu jelas melanggar prosedur
tetap (protap) pengamanan seorang presiden.

Maruli mengaku dia yang menjadi sopir Jokowi. Sementara Kepala Staf
Presiden (KSP) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko menjelaskan sejumlah anggota
Paspampres disebar dan “ditanam” di sejumlah titik. Tujuannya untuk
memastikan keselamatan presiden.

Pergeseran suara *undecided voters*

Banyaknya ketidak-akuratan data, *overclaim*, dan serangan pribadi yang
dilakukan Jokowi kepada Prabowo diperkirakan akan menggerus
elektabilitasnya. Selain itu yang sangat berbahaya adanya pergeseran suara
mereka yang belum menentukan pilihan *(undecided voters).*

Elektabilitas Jokowi terancam ketika pemilih yang militansinya rendah *(soft
voters) *menjadi golput atau berpindah memilih Prabowo.

Kalangan *undecided voters *sebagian besar adalah kalangan menengah ke atas
yang sangat terpapar oleh informasi. Mereka sangat independen dan
bersikap *wait
and see*.

Pemilih dalam kelompok ini secara serius mengamati program kerja apa yang
ditawarkan kandidat, dan juga jalannya perdebatan, serta pemberitaan media
dan perbincangan di media sosial.

Dengan selisih elektabilitas sangat tipis 5-9% dan yang belum menentukan
pilihan sekitar 16%, pergeseran suara pemilih mengambang ini menjadi kunci
siapa yang akan memenangkan pilpres.

Media yang selama ini sangat berpihak, atau terpaksa berpihak, mulai berani
secara terbuka memaparkan fakta yang berbeda dengan klaim Jokowi. Sangat
terasa telah terjadi pergeseran arah kebijakan redaksi.

Para pengelola media tampaknya juga mendeteksi adanya perubahan arus publik
yang kian membesar.

Indikatornya terlihat dari beberapa fakta sebagai berikut:

Pemunculan di media Prabowo-Sandi juga ternyata lebih disukai dibandingkan
dengan Jokowi.

Berdasarkan pemantauan AC Nielsen *rating *dan *share audience *(jumlah
penonton) berita maupun informasi yang menampilkan Prabowo-Sandi selalu
lebih tinggi dibanding Jokowi-Ma’ruf.

Data pada mesin pencari Google *(Google Trends) *menunjukkan sehari setelah
debat (18/2) kata kunci Prabowo jauh mengungguli Jokowi. Popularitas
rata-rata Prabowo 62,97%, Jokowi hanya 37,03%.

Pooling yang dilakukan sejumlah media maupun perorangan menunjukkan
Prabowo-Sandi selalu mengungguli Jokowi-Ma’ruf. Hal itu menunjukkan pemilih
Prabowo-Sandi lebih militan.

Sejumlah mesin pemantau percakapan medsos juga menunjukkan data pasangan
Prabowo-Sandi selalu menguasai percakapan di dunia maya pasca debat
pertama, maupun kedua.

Berbagai fakta itu merupakan ancaman nyata bagi Jokowi. Akal sehat publik
sangat terganggu dengan klaim-klaim dan pengakuan Jokowi yang tidak sesuai
dengan data dan fakta.

Mereka boleh jadi belum memutuskan untuk mendukung Prabowo. Tapi yang pasti
mereka tidak akan memilih seorang pemimpin yang ucapan dan kata-katanya
tidak bisa dipercaya. *–end–*

*Hersubeno Arief*

Kirim email ke