Politikus PPP: Doa Neno Warisman berpotensi pecah belah masyarakat

 * PILPRES <https://pemilu.antaranews.com/pilpres>
 * 23 Februari 2019 22:44

Pendukung Jokowi di Surabaya sambut kedatangan PrabowoJubir Pasangan Jokowi-Ma'ruf Lena Maryana Mukti (kedua kanan), Moderator Ichan Loulembah (kedua kiri), Mantan Komisioner KPU Sigit Pamungkas (kiri), dan Peneliti Senior Populi Center Afrimadona (kanan) menjadi pembicara dalam diskusi bertema Debat Belum Hebat di Jakarta, Sabtu (19/1/2019). Diskusi tersebut membahas seputar debat pertama presiden serta masukan untuk penyelenggaraan debat selanjutnya. ANTARA FOTO/Putra Haryo Kurniawan/foc.


Jakarta (ANTARA News) - Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Lena Maryana menilai doa Neno Warisman pada acara Munajat 212 terkesan memihak calon tertentu dan berpotensi memecah belah masyarakat.

"Saya sangat menyayangkan doa yang dibacakan Neno Warisman pada acara Munajat 212 dan saat ini viral di media sosial karena kontroversial," kata Lena Maryana melalui pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu malam.

Menurut Lena, doa yang dibacakan Neno Warisman sarat nuansa politis dukungan pada capres-cawares 02, dan berpotensi membuat keretakan di masyarakat.

"Sebagai figur publik, Neno Warisman hendaknya  menyampaikan doa yang menyejukkan. Mendoakan bangsa agar terus maju, kokoh, dan bukannya malah menyulut keretakan," kata anggota DPR RI ini.

Alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengutip firman Allah dalam QS Al-A'raf:55,  yang artinya bahwa salah satu adab dalam berdoa adalah berdoa dengan merendahkan diri dan  melafalkan dengan suara yang lembut, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Lena berharap semua tokoh masyarakat berperan untuk menciptakan suasana kondusif menjelang pemilu serentak tahun 2019, yang akan berlangsung pada 17 April mendatang.

"Mari kita jaga persatuan bangsa ini. Jangan sampai perbedaan pilihan politik membuat masyarakat terpecah. Kontestasi politik ini merupakan proses demokrasi  lima tahunan, sementara persatuan bangsa Indonesia, harus tetap langgeng selamanya," ujar Lena.

Sebelumnya, Neno Warisman saat hadir di acara Munajat 212 di Lapangan Monas, Jakarta,  Kamis (21/2) malam, Neno menyebut jika pihaknya kalah dalam pilpres 2019, dia khawatir tidak ada lagi yang menyembah Allah SWT.

Dalam doanya, Neno menyebut, "Jangan, jangan Engkau tinggalkan kami, dan menangkan kami. Karena jika Engkau tidak menangkan. Kami khawatir ya Allah, Kami khawatir ya Allah, Tak ada lagi yang menyembah-Mu".

*Baca juga:PBNU ingatkan Neno Warisman tak mengandaikan pilpres sebagai perang <https://www.antaranews.com/berita/801751/pbnu-ingatkan-neno-warisman-tak-mengandaikan-pilpres-sebagai-perang>

Baca juga:TKN: Neno tidak fanatik agama, dia terjerat fanatisme politik <https://www.antaranews.com/berita/801808/tkn-neno-tidak-fanatik-agama-dia-terjerat-fanatisme-politik>*
Pewarta:Riza Harahap
Editor: Sigit Pinardi

*Berikut ini isi lengkap puisi Neno Warisman yang viral tersebut.*

/Allahu Akbar/
/Puisi munajat kuhantarkan padamu wahai berjuta-juta hati yang ada di sini/
/Engkau semua bersaudara dan kita bersaudara tersambung, terekat, tergabung bagai kalung lentera di semesta/
/Sorot-sorot mata kalian bersinar, wahai saudara/
/Mencabik-cabik keraguan/
/Meluluhlantakkan kesombongan/

/Karena mata-mata kalian nan jernih mengabarkan pesan kemenangan yang dirindukan, Insyaallah, pasti datang/
/Allahu Akbar/
/Kemenangan kalbu yang bersih/
/Kemenangan akal sehat yang jernih/

/Kemenangan gerakan-gerakan yang berkiprah tanpa pamrih/
/Dari dada ini telah bulat tekad baja/
/Kita adalah penolong-penolong agama Allah/

/Jangan halangi/
/Jangan sanggah/
/Jangan politisasi/
/Sebab ini adalah hati nurani/

/Dari mulut-mulut kita telah terlantun salawat, zikir, dan doa bergulir/
/Mengalir searah putaran bintang-bintang bertriliun banyaknya/
/Tersatukan dalam munajat 212/

/Miliaran matahari itu saudaraku/
/Merekatkan diri menjadi gumpalan kabut cahaya raksasa di semesta/
/Bukti kebesaran Allah Azza Wa Jalla/
/Begitulah kita saudaraku/
/Harusnya kita saling merekat/

/Wahai para pejuang fisabilillah di dalamnya/
/Ayo munajat/
/Ayo rekatkan umat/

/Jadikan barisanmu kuat dan saling rekat/
/Rekatkan Indonesiamu/
/Rekatkan jiwa-jiwamu/
/Rekatkan langkah dan tindakanmu/

/Ya Allah/
/Berjuta tangan para pejuang agamamu ini mengepalkan tinju mereka/
/Berseru-seru mereka/
/Menderu-deru mereka/

/Di setiap jengkal udara hingga terlahir takbir kemenangan/
/Kemenangan di ujung lelah menggema takbir bersahut-sahutan/
/Berjuta sajadah akan kita hamparkan sebentar lagi, kawan/

/Berjuta kepala menangis bersujud bersyukur/
/Basah air mata dalam bahagia kemenangan sebentar lagi tiba/
/Allahumma inni a'uzubika min jahdil bala'i wa darkisy syaqa'i wa su'il qada'i wa syamatatil a'da'i/

/Jauhkan kami dari bala musibah yang tak dapat kami atasi/
/Lindungkan kami dari kegembiraan orang-orang yang membenci kami/
/Rekatkan jiwa-jiwa patriot kami dalam keikhlasan/

/Di nadi-nadi kami/
/Di jantung-jantung kami/
/Di pundak-pundak kami/
/Di jari-jari kami/

/Yang telah memilih untuk hanya selalu berdua/
/Kita dan Allah Azza Wa Jalla/
/Selalu berdua/

/Kita dan Rasulullah kekasih semesta/
/Selalu berdua/
/Kita dan saudara mukmin saling menjaga/
/Selalu berdua/

/Kita dan pemimpin yang membela hak-hak umat seutuhnya/
/Duhai Allah Rabb/
/Jangan kau jadikan hati kami bagai si penakut pengecut/
/Sebab kami terlahir di tanah para pahlawan pemberani/

/Yang rela mengorbankan jiwa raga harta dan segalanya/
/Jangan jadikan hati kami lalai dan gentar/
/Karena kami lahir dan besar dibimbing para ulama kami yang sabar/

/Menetap jantung-jantung kami untuk menjadi pendekar/
/Yang berani berpihak pada yang benar/

/Duhai Allah/
/Jangan kau jadikan hati kami dari tertutup/
/Dari cahaya terang kebenaran yang menyala di malam-malam munajat/

/Saat Engkau turun ke jagat dunia/
/Telah Engkau bersaksikan/
/Kami tegak berdiri, ya Allah/

/Kami meminta menangis hingga basah sekujur diri kepada-Mu/
/Seluruh harapan kami dambakan/
/Akan Kau tolong atau Engkau binasakan/
/Akan Kau menangkan atau Engkau lantakkan/
/Itu hak-Mu/

/Namun kami mohon jangan serahkan kami pada mereka/
/Yang tak memiliki kasih sayang pada kami dan anak cucu kami/
/Dan jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan menangkan kami/

/Karena jika Engkau tidak menangkan/

/Kami khawatir ya Allah/

/Kami khawatir ya Allah/
/Tak ada lagi yang menyembah-Mu/

/Ya Allah/
/Izinkan kami memiliki generasi yang dipimpin/
/Oleh pemimpin terbaik/
/Dengan pasukan terbaik/
/Untuk negeri adil dan makmur terbaik/
/Takdirkanlah bagi kami/

/Generasi yang dapat kami andalkan/
/Untuk mengejar nubuwwah kedua/
/Wujud dan nyata/

/Dan lahirnya sejuta Al Fatih di Bumi Indonesia/
/Allah Rabb/
/Puisi munajat ini kubaca bersama saudara-saudaraku/
/Mujahid mujahidah yang datang berbondong-bondong dari segala arah/
/Maka inilah puisi munajat/

/Mengetuk-ngetuk pintu langit-Mu/
/Bersimpuh di pelataran keprihatinan/
/Atas ketidakadilan/

/Atas kesewenang-wenangan/
/Atas kebohongan demi kebohongan/
/Atas ketakutan dan ancaman yang ditebar-tebarkan/
/Atas kepongahan dalam kezaliman yang dipamer-pamerkan/

/Dalam pertunjukan kekuasaan/
/Yang mengkerdilkan Tuhan/
/Yang menantang kuasa Tuhan/
/Yang tidak percaya bahwa Tuhan pembalas sempurna/

Acara bertajuk Malam Munajat 212 <http://wartakota.tribunnews.com/tag/malam-munajat-212> yang berlangsung di Monas ini berlangsung pada Kamis (21/2/2019) mulai pukul 18.00 WIB sampai 23.00 WIB.



Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Ini Isi Puisi Lengkap Neno Warisman di Malam Munajat 212 yang Dinilai Kampanye Terselubung,

http://wartakota.tribunnews.com/2019/02/23/ini-isi-puisi-lengkap-neno-warisman-di-malam-munajat-212-yang-dinilai-kampanye-terselubung?page=4.

Editor: Yaspen Martinus



---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke