*Bukankah kalau rugi dan membebankan keuangan negara bisa diatasi, yaitu
dengan diadakan pinjaman untuk menutup kekuarangan yang dialami ataukah ada
cara lain yang mantap? Jadi tidak perlu panik.*

https://republika.co.id/berita/ekonomi/keuangan/19/02/12/pmrsne377-lrt-palembang-merugi-menhub-kita-akan-tetap-subsidi


*BPN: LRT Palembang Kuras Keuangan Negara*

*Senin 11 Feb 2019 22:24 WIB*

*Red: Andi Nur Aminah*


[image: Kereta Api Ringan atau Light Rapid Transit (LRT) melintas memasuki
Depo Jakabaring di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (28/8).]



*Operasional LRT per bulan mencapai Rp 10 miliar sedangkan pendapatanya Rp
1,1 miliar.*

*REPUBLIKA.CO.ID <http://REPUBLIKA.CO.ID>, JAKARTA -- Juru Bicara Badan
Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga, Suhendra Ratu
Prawiranegara menyoroti pembangunan Light Rail Transit (LRT) Palembang. Dia
menilai pembangunan LRT Palembang merugikan negara. Tingginya biaya
operasional LRT per bulan yang mencapai Rp 10 miliar tidak sebanding dengan
pendapatannya yang hanya Rp 1,1 miliar per bulan*

*"Artinya ada minus lebih kurang Rp 8,9 miliar yang harus disubsidi negara.
Ini bukti kesalahan perencanaan Jokowi dalam bangun infrastruktur," kata
Suhendra dalam keterangan tertulisnya yang diterima **Republika.co.id
<http://Republika.co.id>**, Senin (11/2).*

*Suhendra mengatakan, pembangunan LRT Palembang yang tidak terencana dengan
baik bahkan juga pernah disampaikan oleh wakil presiden Jusuf Kalla.
Palembang yang hanya berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa dinilai belum perlu
LRT. Fakta semakin menguatkan kesan bahwa pembangunan infrastruktur hanya
demi pencitraan.*

*Apalagi, kata Suhendra, sekarang pembangunan LRT Palembang menuai protes
dari rakyat. Bahkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan beserta Pemerintah
Kota Palembang menolak menanggung minus beban operasional LRT yang mencapai
Rp 8,9 miliar per bulan. "Beberapa waktu lalu Wakil Gubernur Sumsel Mawardi
Yahya menyatakan dengan tegas menolak menanggung minus operasional LRT
Palembang," tambahnya.*

*Mengingat, lanjut Suhendra, LRT bukanlah aset milik daerah melainkan aset
milik negara. Sehingga sudah seharusnya seluruh biaya baik operasional
maupun pemeliharaan dan lainnya menjadi tanggungjawab pemerintah pusat.
"Jangan ketika rugi, dilempar ke pemerintah daerah yang disuruh bayar,"
tegas Mantan Staf Khusus Menteri PUPR ini.*

*Kemudian daripada hamburkan uang rakyat untuk subsidi operasional LRT
Palembang, Suhendra mendorong agar anggaran negara digunakan untuk bangun
infrastruktur dasar yang langsung bisa dirasakan masyarakat. "Sedari awal
proyek LRT Palembang ini dilaksanakan, saya dalam posisi yang
mempertanyakan kelayakan bisnisnya. Dan ternyata kekhawatiran saya tersebut
terjawab saat ini. Tentang biaya operasional yang defisit," keluhnya.*

*Justru menurut Suhendra, lebih bermanfaat uang untuk tutupi biaya
operasional LRT tersebut dibuat untuk membangun perumahan murah, jaringan
air minum/ air bersih, bangun puskesmas, atau bangun gedung-gedung sekolah
yang sudah rusak. "Jadi jelas, uang pajak rakyat kembali ke rakyat," kaya
Suhendra.*

*Sumber : Antara*




   -

   26
   
<https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/19/02/11/pmrpgn384-bpn-lrt-palembang-kuras-keuangan-negara#>
   -

   3
   
<https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/19/02/11/pmrpgn384-bpn-lrt-palembang-kuras-keuangan-negara#comment-list>
   -




*Kereta Api Ringan atau Light Rapid Transit (LRT) melintas memasuki Depo
Jakabaring di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (28/8).*
*Foto: Septianda Perdana/Antara/INASGOC*

*Operasional LRT per bulan mencapai Rp 10 miliar sedangkan pendapatanya Rp
1,1 miliar.*

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN)
Prabowo Subianto-Sandiaga, Suhendra Ratu Prawiranegara menyoroti
pembangunan Light Rail Transit (LRT) Palembang. Dia menilai pembangunan LRT
Palembang merugikan negara. Tingginya biaya operasional LRT per bulan yang
mencapai Rp 10 miliar tidak sebanding dengan pendapatannya yang hanya Rp
1,1 miliar per bulan.

"Artinya ada minus lebih kurang Rp 8,9 miliar yang harus disubsidi negara.
Ini bukti kesalahan perencanaan Jokowi dalam bangun infrastruktur," kata
Suhendra dalam keterangan tertulisnya yang diterima *Republika.co.id
<http://Republika.co.id>*, Senin (11/2).

Suhendra mengatakan, pembangunan LRT Palembang yang tidak terencana dengan
baik bahkan juga pernah disampaikan oleh wakil presiden Jusuf Kalla.
Palembang yang hanya berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa dinilai belum perlu
LRT. Fakta semakin menguatkan kesan bahwa pembangunan infrastruktur hanya
demi pencitraan.

Apalagi, kata Suhendra, sekarang pembangunan LRT Palembang menuai protes
dari rakyat. Bahkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan beserta Pemerintah
Kota Palembang menolak menanggung minus beban operasional LRT yang mencapai
Rp 8,9 miliar per bulan. "Beberapa waktu lalu Wakil Gubernur Sumsel Mawardi
Yahya menyatakan dengan tegas menolak menanggung minus operasional LRT
Palembang," tambahnya.

Mengingat, lanjut Suhendra, LRT bukanlah aset milik daerah melainkan aset
milik negara. Sehingga sudah seharusnya seluruh biaya baik operasional
maupun pemeliharaan dan lainnya menjadi tanggungjawab pemerintah pusat.
"Jangan ketika rugi, dilempar ke pemerintah daerah yang disuruh bayar,"
tegas Mantan Staf Khusus Menteri PUPR ini.

Kemudian daripada hamburkan uang rakyat untuk subsidi operasional LRT
Palembang, Suhendra mendorong agar anggaran negara digunakan untuk bangun
infrastruktur dasar yang langsung bisa dirasakan masyarakat. "Sedari awal
proyek LRT Palembang ini dilaksanakan, saya dalam posisi yang
mempertanyakan kelayakan bisnisnya. Dan ternyata kekhawatiran saya tersebut
terjawab saat ini. Tentang biaya operasional yang defisit," keluhnya.

Justru menurut Suhendra, lebih bermanfaat uang untuk tutupi biaya
operasional LRT tersebut dibuat untuk membangun perumahan murah, jaringan
air minum/ air bersih, bangun puskesmas, atau bangun gedung-gedung sekolah
yang sudah rusak. "Jadi jelas, uang pajak rakyat kembali ke rakyat," kaya
Suhendra.

Kirim email ke